Serendipity Next Door {Lee Jeno}

Serendipity Next Door {Lee Jeno}
Difficult Case


__ADS_3

"Dia perempuan." Bisik Yuka.


"Ngeri sekali melihatnya." Tambah Chenle.


Sela mempercepat langkahnya namun tetap memasang telinga untuk mendengarkan teman-temannya.


Seorang mayat wanita baru saja di serahkan dari petugas kepolisian Seoul. Mayat itu sudah membusuk dan di temukan tersangkut di saluran air.


"Ketua Lee sudah memeriksanya?"


"Dia belum datang. Kakak masih selamat."


Sela bernafas lega. Hari ini dia terlambat 10 menit. Jisung dan Chenle sudah menunggunya di lobby depan karena takut menunggui mayat sendirian. Yuka datang 5 menit lebih dulu dari Sela dan akhirnya turut menunggu gadis itu.


"Jisung..."


"Hmm?" Lelaki jangkung itu menatapnya.


"Sudah ketemu ruh nya ??"


Jisung hanya mengedikkan bahu, tanda bahwa ruh wanita itu tidak menyertai jasadnya.


"Kenapa malah ngobrol disini? " Lee Taeyong secara mengejutkan berada di belakang mereka berempat. Lelaki itu sudah bersiap dengan pakaian prakteknya.


"Cepat pergi sebelum aku menyuruh kalian tidur dengan mayat."


Tidak ada yang menjawab ancaman Taeyong. Mereka langsung berlari ke kamar mayat dan bersiap.


Sela membantu Taeyong memasang apron khusus agar pakaiannya tidak kotor. Lalu menyiapkan dirinya sendiri dengan masker berlapis, apron dan sarung tangan double.


Jisung dan Chenle melihat jalannya pemeriksaan fisik dan mereka mencatat di buku mereka. Berbagai macam bekas luka di tubuh mayat perempuan itu benar-benar membuat Chenle ngeri.


Seolah bisa merasakan rasa sakit yang telah di alami tubuh itu sebelum meninggal, Chenle menghela nafasnya berulang kali karena tidak tega.


Sela pun demikian. Dia terus mendesah setiap menemukan bekas luka dari tubuh tak bernyawa itu.


"Ada bekas jeratan di leher dan banyak bekas tusukan jarum suntik. "

__ADS_1


"Tunggu." Yuka memotong. Tangannya bergerak cepat menyayat kulit pinggang mayat itu dan betapa terkejutnya mereka ketika menemukan banyak jarum suntik tertanam disana.


"Apa ini praktek ilmu hitam??" Tebak Jisung.


"Tunggu, bukannya ini mirip seperti yang di alami mayat bayi kemarin??" Sambung Chenle.


"Iya, Chenle benar. Kita akan periksa apakah mayat ini berhubungan dengan bayi yang kemarin." Taeyong membuka kaki mayat itu. Memeriksa area genitalnya.


Dan benar saja, ditemukan luka robekan di bibir vaginanya. Seperti baru saja ada sesuatu yang di paksa keluar dari sana.


Tim Taeyong mulai membedah area rahim. Sementara Jisung dan Chenle tetap mengawasi dengan buku catatan mereka.


Ada organ tubuh mungil yang tertinggal disana. Sela mengamatinya lekat-lekat dan mengambil benda itu.


"Ini seperti tangan bayi." Dia bertukar pandang dengan Lee Taeyong.


Wajah lelaki itu sangat serius, dengan keringat yang menetes dari pelipisnya.


"Kita bawa ke lab dan cocokkan DNA nya dengan mayat bayi kemarin." Taeyong kembali memeriksa bagian dalam mayat.


"Jika dugaanku benar, mayat Bayi kemarin di paksa keluar dari rahim wanita ini. Ada kemungkinan ini jadi penyebab kematiannya."


Taeyong melihat bekas jeratan di leher wanita itu.


"Bekas jeratannya tidak terlalu dalam. Kita akan pastikan lagi."


Proses autopsi berjalan sangat lama karena banyaknya jejak luka pada tubuh mayat itu. Dan dugaan Taeyong memang benar. Dia meninggal karna kehabisan darah akibat bayinya di keluarkan paksa.


Sekarang Tim mereka hanya tinggal menunggu hasil tes DNA dari kedua mayat itu. Sela memutuskan pulang setelah selesai sift.


Gadis itu bersiap menyeberang jalan ketika Jisung dan Chenle yang bersiap pulang menyapanya. Sela melambai pada mereka sebelum masuk ke mini cafe yang berada di seberang rumah sakit.


Jeno sudah berjanji akan menjemputnya tapi sepertinya dia akan sedikit terlambat.


Sela tidak menyangka dirinya akan bertemu kembali dengan Lucas disana. Lelaki itu sedang duduk santai sembari menikmati kopi nya.


"Hm..?? Lucas??"

__ADS_1


Lucas juga terlihat terkejut saat melihat Sela. Dia hampir tersedak.


"Kok kamu disini?" Tanya Lucas.


Sela duduk di hadapannya tanpa diminta.


"Aku kerja di depan." Tangan Sela menunjuk pada rumah sakit besar di seberang jalan.


"Aah iya, aku lupa kalau kamu itu seorang dokter."


"Aku tidak terlihat seperti dokter ya? "


"Kau terlihat seperti seorang model di mataku."


Sela menyipitkan matanya dan memasang ekspresi Julid, padahal dalam hatinya dia tengah tersipu malu.


"Jangan membual."


"Aku belikan kue yah.. cheese cake disini sangat enak ternyata. Aku sudah habis 2 slice." Lucas berdiri dengan excited tapi Sela menahan tangannya.


"Aku tidak bisa lama disini, aku sedang menunggu jemputan."


"Kalau gitu di bungkus saja."


Sela mengangguk karena Lucas terus memaksa.


Dan ketika Lucas kembali dengan satu kotak mini Cheese cake nya, Jeno datang menghampiri.


Keduanya terlibat adu pandang yang tak biasa. Jeno menatap kesal sementara Lucas memberinya pandangan mengejek.


Sela yang tau itu mencoba menengahi mereka.


"Pawangnya datang tuh." Kata Lucas.


Sela berdiri dari kursinya dan menerima cheesecake dari Lucas. Lelaki itu sengaja menepuk kepala Sela dan tertawa ketika melihat rahang Jeno yang semakin mengeras.


"Terima kasih ya." Kata Sela. Dia melambai pada Lucas sebelum menarik Jeno pergi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2