
Sela berjalan keluar ruangan setelah membersihkan dirinya di kamar mandi. Gadis itu mencoba menghirup udara segar setelah hampir 6 jam bergelut dengan mayat korban tenggelam yang sudah membusuk.
Penciumannya terasa pengar dan sejujurnya itu sering membuat Sela tidak nafsu makan. Hari-hari dimana dia berhadapan dengan tubuh yang hampir membusuk itu membuatnya mual. Meskipun dia sudah terbiasa tapi bukan berarti dia tidak mengalami masa sulit semacam itu.
Seperti kata pepatah dimana ada gula disitu ada semut. Maka di setiap Sela ingin bersantai, disitulah Jisung dan Chenle muncul. Tapi hari ini hanya Jisung saja yang muncul, Chenle nya main entah kemana.
"Kak..."
"Hmm..." Sela menjawab tanpa minat tapi dia tetap berusaha untuk memberi perhatian pada Jisung.
"Ketua Lee sangat aneh..." Jisung memiringkan kepalanya. Wajahnya terlihat bingung
"Lee Taeyong?"
Jisung mengangguk.
Sela memberikan atensinya pada Jisung. Dia mendekat pada Jisung dan berbisik.
"Kenapa?"
"Dia tidak nyambung saat aku ajak bicara, dan dia juga salah memberi perintah."
"Apa dia bau asap rokok?"
Jisung terlihat mengingat-ingat.
"Kurasa samar-samar iya."
'Tidak salah lagi..' batin Sela.
"Kuberitau padamu, dia bukan Taeyong. Mereka memang sangat mirip tapi aku sangat yakin dia bukan Taeyong." Kata Sela.
Jisung mungkin tidak mengerti maksud gadis itu tapi Jisung tidak meragukan argumennya.
"Lalu... kemana Ketua Lee yang asli?"
Sela mengedikkan bahu,
"Entahlah.. aku belum melihatnya sejak pagi."
Sela berencana memberitau Jeno melalui telepon, tapi lelaki itu tidak mengangkat teleponnya. Mungkin dia sedang dalam perjalanan, karena Jeno bilang tadi dia akan menjemput Sela.
Akan lebih baik kalau dia mengambil tas nya dan bersiap pulang, sebisa mungkin dia harus menghindari pertemuannya dengan Taeyong palsu sampai Jeno datang.
Sela tidak pernah meletakkan barang-barangnya di lounge doctor seperti rekannya yang lain.
Sering berkutat bersama mayat dan kamar jenazah membuatnya tidak terlalu nyaman berbaur dengan para dokter spesialis.
Sela lebih memilih meletakkan tasnya di loker bersama dengan anak magang intern dan koas.
Loker itu sendiri terletak di lorong paling ujung, tidak terlalu jauh dengan kamar mayat dan pos perawat. Tempat itu juga searah dengan jalur keluar, itu menjadi salah satu alasan kenapa Sela lebih memilih menyimpan barangnya disana.
Gadis itu membuka kunci lokernya lalu memasukkan make up yang tadi pagi sempat dia hamburkan begitu saja karena buru-buru. Sela juga menyempatkan diri merapikan kembali ikatan rambutnya. Ketika itu ada suara langkah kaki yang berjalan semakin mendekat.
__ADS_1
"Ayo pulang bersamaku."
Sela mengenali suara ini, hanya saja tone suaranya sedikit lebih berat.
Gadis itu buru-buru menutup pintu lokernya dan menoleh ke samping.
Wajah yang paling tidak ingin dia temui itu tengah menatapnya. Jaraknya kurang dari 1 meter dan Sela bisa merasakan aura yang menyeramkan menguar dari tubuh orang itu.
Tatapannya begitu tajam dan mengintimidasi, membuat Sela yang menatapnya refleks melangkah mundur.
"Siapa kau???"
Sosok itu tersenyum miring,
"Aku Lee Taeyong."
"Kau bukan Taeyong.. siapa kau sebenarnya??"
Secara mengejutkan lelaki itu tertawa terbahak-bahak dengan kepala yang mendongak ke atas, lalu dia kembali menatap Sela dengan tajam.
"Kau sudah tau ya??"
"Apa maumu? Kenapa kau terus menggangguku?"
"Mauku hmm?? Aku sudah memberitaumu sebelumnya, mauku adalah kau..."
Sela menelan salivanya dengan berat, tenggorokannya terasa kering. Dia ketakutan bahkan sebelum dia melawan.
"Jangan bercanda... aku tidak mengenalmu.."
Lelaki itu menyeringai semakin lebar.
"Aku tidak bercanda sayang, aku menyukaimu, aku memilihmu, kau harus jadi pendamping raja iblis..."
Dia tertawa keras dan membuat bulu kuduk Sela meremang.
"Dasar sinting ..."
Sela melangkah semakin menjauh, tapi lelaki yang menjuluki dirinya raja iblis itu bergerak semakin mendekat hingga Sela tersudut.
"Menurutlah, aku tidak akan menyakitimu."
"TOLONG... !!! TOLONG AKU !!!!"
Sela berteriak,
Semakin lama semakin keras ketika dirasa lelaki itu semakin memblokir aksesnya untuk kabur.
"Kau membuat keributan sayang, akan ada banyak tubuh yang terbunuh kalau kau berteriak." Ancamnya.
Tubuh Sela terpojok di antara dinding dan lelaki itu. Hingga aroma asap rokok yang mencekik mulai membuat dadanya sesak.
"Kak Sela..."
__ADS_1
Itu suara Chenle, dia datang bersama Yuka karena teriakan Sela.
Beberapa orang perawat jaga yang ada di pos perawat juga berniat mendekat.
"SELAA...."
Doorr....
Yuka dan Chenle yang berlari mendekat mendadak ambruk. Darah mulai mengalir dari bawah tubuh mereka yang tergeletak di lantai.
Sela terkejut, dia menutup mulutnya yang menganga lalu menatap ngeri lelaki yang berdiri di hadapannya.
Satu tangan lelaki itu masih terulur dengan ujung pistol ditangannya yang mengeluarkan asap.
Lelaki itu menembak teman-temannya. Sela bahkan bisa melihat genangan darah mulai membanjiri tubuh Chenle dan Yuka.
"TIDAK !! APA YANG KAU LAKUKAN..." Teriak Sela histeris.
Lelaki itu langsung mencengkeram dagunya dengan keras hingga kulit di pipi Sela memerah.
"Sudah ku katakan kan... kalau kau tidak mau menurut dan terus membuat keributan akan ada banyak tubuh yang terbunuh.."
Mata Sela bergetar, dia ketakutan. Lututnya sudah lemas dan dia tidak mampu melawan.
"Tapi tidak perlu khawatir, temanmu itu tidak mati, aku tidak menembak area vitalnya....." lelaki itu menatap 2 tubuh tak berdaya itu sambil tertawa.
"... tapi mereka akan tersiksa, kesakitan lalu kehabisan darah dan mati secara perlahan... " Dia tertawa terbahak-bahak.
"..... Ini yang dinamakan seni menuju kematian."
'Sinting, dia psikopat.' Batin Sela.
Dua tangan lemahnya menahan tangan kasar lelaki itu yang masih mencengkeram dagunya. Tidak ada orang yang bisa menolongnya termasuk para perawat yang ketakutan di posnya.
Sela tidak berharap akan ada rekannya yang mendekat dan menolong karena dia tidak sanggup melihat mereka akan di habisi satu persatu.
"Ikut aku, dan aku akan membiarkan temanmu selamat."
Sela tidak mampu lagi menjawab. Cengkraman di dagunya terasa sangat menyakitkan hingga rasanya rahangnya akan remuk saat itu juga.
Lelaki itu menyeringai, mengamati lekat-lekat wajah Sela dengan seringaian iblis yang dingin. Cengkeraman lelaki itu perlahan melemah, dan berubah menjadi usapan lembut di pipi Sela lalu turun ke lehernya.
Dan tiba-tiba cengkramannya kembali mengerat mencekik leher Sela.
Nafas Sela tercekat ini begitu sesak, gadis itu kesulitan bernapas dan sangat tersiksa.
Gambaran ajal seperti sudah ada di pelupuk matanya. Seolah malaikat pencabut nyawa sedang menarik paksa ruhnya keluar dari tubuh. Pandangannya pun mulai menggelap dengan kesadarannya yang mulai menurun.
Apakah ini akan jadi saat terakhirnya?
'Lee Jeno... tolong aku..'
Bersambung....
__ADS_1