
Sela tidak tau kenapa akhir-akhir ini dia sering bertemu Lucas.
Kemarin mereka tidak sengaja bertemu di toko roti, lalu di kedai ayam saat malam hari dan hari ini mereka kembali bertemu di kedai ramen. Mungkinkah ini takdir??
Hal yang paling Sela suka saat bertemu Lucas adalah candaan-candaan lelaki itu yang tak pernah membuatnya bosan. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa mereka tidak canggung meski sudah jadi mantan.
"Kamu tidak ada niatan kembali ke Inggris?"
Bibir Sela bergerak-gerak, dengan ekspresi berpikir.
"Aku terlanjur nyaman di Korea."
Lucas tertawa pelan.
"Iya-iya kan ada pacar disini." Sedikit ada nada menyindir dari kalimat yang Lucas lontarkan.
"Kau sendiri berapa lama di Korea?"
"Mungkin 1 atau 2 Minggu lagi kalau pekerjaanku selesai. "
"Pekerjaan apa?" Sela mengaduk kuah ramennya yang tinggal sedikit lalu meletakkan sumpitnya di bibir mangkuk.
Bola mata Lucas bergerak kesana kemari seolah dia sedang mencari-cari jawaban. Lalu kembali menatap Sela dengan senyum manis.
"Hanya mengurusi seseorang lalu pergi."
Sela berdehem dengan nada menggoda.
"Pacarmu ya?"
"Bukan. Sungguh. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun selain kau."
Sela diam. Menatap mata Lucas yang membentuk bulan sabit saat tersenyum.
"Ga percaya??"
"Engga lah. Manusia spek playboy sepertimu tidak mungkin jomblo selama itu."
"Sel.."
"Hmm??"
__ADS_1
"Sebenarnya aku masih sayang sama kamu. Maunya sih ngajak balikan."
"Jangan bercanda begini ah... Kau tau aku sudah bersama Jeno." Sela mendengus. Dia mengaduk jus semangkanya dengan sedotan lalu menatap ke arah lain.
Sela sendiri tau keadaan hatinya. Dia takut luluh kalau sudah berhadapan dengan wajah memohon Lucas.
"Putusin aja si Jeno." Kata Lucas enteng. Dia mengatakan nya sambil tertawa seolah ini sebuah candaan.
"Maaf ya aku cewek baik-baik."
Lagipula Sela dan Jeno bukan sekedar berpacaran. Mereka sudah terikat dalam pertunangan dimana kedua belah pihak keluarga ikut andil dalam hubunga mereka. Sela tidak serendah itu mengacaukan hubungan baik yang telah di bangun bersama keluarga Jeno.
"Iya aku tau. "Lucas mencubit pipi Sela. Masih dengan senyuman yang sama. Senyuman yang selalu Sela rindukan.
"Sudah malam, ayo aku antar pulang." Kata Lucas.
"Pakai apa?"
"Bus umum."
"Cih itu namanya bukan mengantar pulang tapi pulang bareng."
Lucas lagi-lagi tertawa. Mereka pulang bersama dengan bus umum. Perjalanan yang cukup jauh itu tak begitu mengusik Sela karena Lucas yang sibuk melontarkan candaan-candaan nya dan membuat Sela tidak bosan.
Gadis itu tersenyum. Rasanya rindu hang out lagi bersama Lucas dan bercanda bersama. Tapi gadis itu langsung sadar diri kalau dirinya sudah punya Jeno.
Sela menoleh sekali lagi ke tempat Lucas berdiri sebelum dia masuk tapi anehnya Lucas sudah hilang. Sela mengerutkan dahinya. Bukannya belum ada bus yang lewat??
Jalanan juga sangat sepi dan tidak ada taksi. Yang ada hanyalah mobil sedan hitam yang baru melintas dan mulai menjauh dengan plat nomor berkode aneh.
'XUXI? Plat mana itu?'
🌱🌱🌱
Sela baru saja selesai mandi. Gadis itu membungkus rambutnya yang basah lalu duduk di ranjang untuk mengecek ponselnya.
Tidak ada satu pun pesannya yang di balas Jeno. Lelaki itu hanya membacanya saja.
'apa dia sibuk?'
Ya. Jeno selalu sibuk. Tapi dia tidak pernah mengacuhkan pesan Sela.
__ADS_1
'apa dia masih marah?'
Itu mungkin saja. Terakhir mereka bertemu 3 hari yang lalu saat Sela bersama Lucas di cafe. Selama perjalanan pulang Jeno tidak mengatakan apapun bahkan hanya bergumam ketika menjawab pertanyaan Sela.
Sela sadar Jeno kesal dan cemburu, tapi gadis itu hanya membiarkannya saja. Sela pikir perasaan Jeno akan membaik dengan sendirinya tapi ternyata dia salah. Jeno mengacuhkannya sampai 3 hari ini. Dan sejujurnya Sela sedikit merindukan lelaki itu.
Sela menekan tombol hijau di ponselnya begitu dia menemukan nama Jeno. Dia menelepon lelaki itu 3 kali tapi Jeno tidak mengangkatnya.
Sela akhirnya menyerah dan menghela nafas panjang.
"Apa aku ke rumahnya saja ya??"
Sela tampak menimbang-nimbang. Sepertinya itu ide yang bagus. Masalah tidak akan selesai jika hanya di diamkan kan.
Gadis itu segera bersiap dengan pakaian yang lebih rapi. Sela turun untuk mencari Sungchan dan memaksa adik laki-laki nya itu mengantarnya.
Tepat pukul 8 malam Sela sampai di rumah Jeno dan hanya ada Jessica di rumah.
"Tante sendirian di rumah?"
"Iya, papa Jeno sedang keluar dan Jeno belum pulang." Jelas Jessica. Wanita itu menyuruh Sela duduk dan kembali bicara.
"Jangan panggil Tante dong, kan sebentar lagi mau nikah sama Jeno, masa masih manggil Tante."
Sela tersenyum canggung. Rasanya agak aneh memanggil orang lain mama selain mama nya sendiri.
"Hehe... Iya ma. "
"Jeno nya mungkin pulang larut. Kamu nginep aja disini."
Sela terlihat ragu. Dia melirik ke arah jam dinding sesaat dan kembali menimbang-nimbang.
"Tidak apa-apa Sel, jangan sungkan. Tidur aja di kamar Jeno sana."
Gadis itu akhir nya mengangguk. Dia belum bertemu Jeno jadi tidak mungkin langsung pulang.
"Kalian lagi marahan ya??" Tebak Jessica.
"Iya ma, Jeno nya ngambek."
"Sudah biasa dia begitu. Sana tungguin di kamar saja biar nanti Jeno ngga kabur kalau lihat kamu disini."
__ADS_1
Bersambung....