Serra( Luka Tak Berdarah)

Serra( Luka Tak Berdarah)
SERRA


__ADS_3

Yang paling membuat Aku menelan ludah kasar adalah tulisan Wulan yang ada di foto ke empat yang dengan jelas mengatakan bahwa Dia sedang menunggu bebebnya Mr R. Siapa Dia? Ramaku kah.?


Kepalaku kembali berdenyut, astagfirullah apa lagi ini. Tolong jangan dengannya Rama membuat scandal, bisa viral atau bahkan bisa dibuat sebuah sinetron bersambung yang kisahnya tidak akan pernah berakhir.


" Kapan ini foto Kamu dapat Rat?"


" Barusaja, lihatlah ada tanggal yang tertera disana." ( Ratih)


" Ada apa? kamu menyembunyikan sesuatu Ser?" ( Ratih)


" Tempo hari tepatnya dua hari yang lalu, Aku tiba-tiba menyinggung soal Wulan ini dengan Rama. Tidak tau, tiba-tiba saja ada dorongan kuat untukku menanyakan tentang Dia pada Rama."


" Lalu apa tanggapan Rama?."( Ratih)


" Dia mala nanya balik Rat, kenapa tiba-tiba Aku bahas Wulan?"


" Kamu jawab apa Ser?" ( Ratih)


" Aku gak tau, karna tiba-tiba saja Aku ingin membahas soal Wulan ini dan anehnya Rama seperti menghindar."


" Curiga sesuatu antara mereka?"


" Tidak, Aku tau Wulan bagaimana soalnya. Tapi dengan adanya foto ini Aku mala bingung." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal


Mencoba berfikir logis tentang hubungan Rama dan Wulan, benarkah Rama bisa menghianatiku lagi dengan temanku sendiri? dan Wulan yang dulu punya scandal besar di fakultas sebelah. Apa benar mereka menjalin hubungan dibelakangku?


" Lebih baik Kamu bertanya pada Rama yang sebenarnya Ser, paling tidak itu akan membuat hatimu nyaman." ( Ratih)


" Aku mau menunggu waktu yang tepat Rat untuk menanyakannya. Paling tidak Aku harus bisa menyiapkan hatiku jika benar mereka punya hubungan nanti."


" Terserah kamu, yang penting jaga mood kamu Ser. Jangan gila lagi seperti waktu itu." ( Ratih)


" InsyaAllah Rat, makasih ya sudah mau nemenin Aku dan kasih suport."


" Kita saudara kan Ser? kalau saudara itu artinya kita harus saling bantu." ( Ratih)


Ratih adalah anggota tim yang paling Aku percayai, Dia bisa diandalkan karna sifatnya yang sedikit bicara hanya dengan alasan takut salah bicara. Padahal pemikiran dan pandangan Dia jauh kedepan.


" Ser boleh bertanya sesuatu, agak pribadi sih kalau Kamu tidak keberatan juga." ( Lala)


" Soal apa ini ya La, kok Aku jadi deg deg'an." Candaku karna melihat wajah Lala yang sangat tidak bersahabat.


" Kapan ini? sekarang bisahkah?" ( Lala)


" Oh boleh bentar Aku serahkan ini dulu sama Ratih buat dikerjakan."


Aku menyerahkan sebagian tugas pembuatan logo mahasiswa baru pada Ratih, dalam hati Aku tidak habis fikir dengan sikap Lala yang sangat tidak bersahabat. Aku tau dan hafal karakter Dia yang tidak bisa kalah atau mengalah.

__ADS_1


Lala memiliki tempramen yang kasar dan bahasa yang tidak bisa dikondisikan jika Dia sedang marah. Masih tidak juga menemukan jawaban atas apa yang menjadi penyebab perubahan sikapnya.


" La, Kita mau bicara dimana ini?."


" Di taman samping saja, disana lebih sepi. Kayaknya sangat cocok untuk bicara masalah pribadi." ( Lala)


" Dari tadi Kamu terus saja bilang masalah pribadi, ini Aku tidak mengerti lo ada masalah apa sebenarnya?."


" Nanti disana Kita perjelas semua." ( Lala)


Akhirnya Aku memilih diam tanpa kata dan suara, walau berbagai pertanyaan singgah diotakku Aku berusaha untuk menahan diri agar tidak bertanya pada Lala.


" Beli minuman dulu kaga La Kita?"


" Terserah Kamu saja." ( Lala)


°°°


" Kak Nad, sudah dengar gosip belum?" Dany


" Gosip apaan Dan?" ( Nadya)


" Soal mamy ku?" Dany


" Mana Aku tau kenal juga kagak sama Mamymu Dan." Nadya


" Sejak kapan kamu manggil Serra Mamy Dan?" ( Nadya)


" Sudah satu minggu yang lalu Kak." (Dany)


" Kali ini ada berita apa lagi Dan, terus terang Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran Mamy kamu itu." Nadya terkikik sendiri setelah mengakhiri kalimatnya


" Kenapa ketawa Kak?" Dany dibikin bengong oleh ulah Nadya


" Kok Aku manggil Mamy juga rasanya aneh ya?" Nadya kembali tertawa.


" Mamy itu penyabar banget Kak, Dia tau bagaimana menempatkan diri. Ada saatnya Mamy marah maka dia akan marah habis-habisan dan itu harus selesai saat itu juga, ada juga waktu Dia bercanda Dia akan becanda tanpa membedakan siapa lawan bicaranya. Mamy sangat welcome pada semua orang Kak, makanya Aku mau menirunya." Dany


" Tapi ada sifat Mamy kamu yang tidak patut ditiru Dan, lemah. Mamy kamu lemah soal perasaannya, Dia terlalu menjunjung tinggi rasa sayang dan kepercayaannya pada Papimu itu. Kamu memanggilnya Papi juga kan?"


" Om Kak." Dany


" La kok bisa Dan aturan dari mana itu hahahaha, kalau orang tidak tau Mereka akab menganggap Mamy mu pacaran sama Om-om Dan," Nadya kembali tertawa


" Panggilan ini saja belum dapat persetujuan Kak, masih ragu dan salah-salah juga manggilnya." Dany


" Gak kebayang gimana tuh muka Serra saat dipanggil Mamy Dan." Nadya kembali tertawa.

__ADS_1


°°°°°°


" La, ada apa sebenarnya. Katakan padaku sebenarnya Kamu kenapa?"


" Aku yang seharusnya bertanya Kamu yang kenapa? awalnya Aku kira Kamu orang baik ternyata begini." ( Lala)


" Weh tenang dulu La, jelaskan dulu apa masalahnya hingga Kamu tiba-tiba marah seperti ini."


" Masih perlu penjelasan, kenapa sih Kamu suka sekali permainkan perasaan Orang?."


" Stop La!, Lue jangan seenaknya ngatain orang. Aku beneran tidak tau masalah sebenarnya hingga Kamu dengan seenak jidat ngatain Aku. Jelaskan detail dan terperinci apa masalah Kamu?."


Habis sudah kesabaranku dari awal sudah mencoba bertahan agar tidak terpancing dengan sikap tidak bersahabat yang ditunjukan Lala dari awal mendatangiku tadi.


" Aku bicara atas nama Roni disini, kenapa Kamu tega mempermainkannya? kenapa Kamu selalu memberinya harapan palsu? Kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya? kenapa Kamu egois sekali Ser?." ( Lala)


" Stop La, Lue bisa kaga kalau bicara itu yang teratur hingga inti dari sebuah masalah itu bisa terbaca jelas tanpa harus menyimak cerita sampai habis? Kalau Lue nyerocos kaya kereta dorong begitu siapa yang bakal ngerti arah bicara Lue sebenarnya."


" So katakan intinya apa Lue marah-marah ama Gue?."


" Roni, Dia sudah Aku anggap adik. Aku tidak mau Dia bahagia dengan harapan palsu yang Kamu berikan."


" Gue kasih Roni harapan? duh makin puyeng dah Gue sekarang, bentar Lue jawab Gue sekarang. Lue keberatan Gue deket ama Roni?."


" Iya Aku gak suka." ( Lala)


" Why??"


" Karna Aku tidak mau adikku terluka lagi karna Kamu, sudah cukup dia menderita kan? kenapa Kamu memberi dia harapan lagi?."


" Huuft Aku rasa ada salah faham disini La, dengarkan Aku ya."


Aku menarik nafas panjang, kenapa banyak sekali masalah tak terduga yang timbul akhir-akhir ini. Sampai-sampai kepalaku ingin meledak rasanya.


" Pertama Aku tidak menjanjikan dan memberi harapan apapun padanya, kedua tidak ada kesepakatan apapun antara Kami, mengenai panggilan itu Roni sendiri yang minta dan mengapa Aku kabulkan? karna Aku ingin semuanya baik-baik saja. Sorry jika menurut Kamu itu keputusan salah. Kalau kamu mau buatlah agar Roni menjauh dariku terserah bagaimana caramu Aku tidak mau tau lakukanlah."


°°°°


☆***Terkadang kita tidak bisa membaca pikiran orang lain terhadap kita..termasuk teman, mampukah kita menyelami mereka yang ternyata palsu belaka


TBC Genk's


° mohon dukungannya


° like komen rate ☆5 dan favourite


° makasih & love you all***

__ADS_1


__ADS_2