Short Story For You

Short Story For You
tolong mengerti aku


__ADS_3

Beberapa tumpuk kardus sudah diturunkan di depan rumah dengan halaman yang tidak begitu besar. Satu persatu kardus ku angkat dan kumasukkan kedalam rumah. Aku tidak sendiri, ada mama yang juga mengangkat barang.


Ini adalah hari dimana papa dan mama bercerai, sekaligus hari kebebasan untuk mereka berdua dan hari kehancuran untukku. Dengan mudah mama menerima hak asuhku, tentu papa sama sekali tidak keberatan jika aku bersama mama. Justru papa akan senang karna tidak ada pengganggu di kehidupannya yang baru.


Rumah ini tidak seluas rumahku dulu, tapi cukup untuk ditinggali kami berdua. Sekarang kami berada diruang tamu sedang memilah barang.


" Kamar kamu yang didepan,biar mama yang ditengah " ucap mama mengangkut barang barang ke kamarnya.


Aku mengangguk sebagai jawaban dan kembali memilah barang barangku. Setelah selesai aku membawanya dan kutata semua didalam kamar. Ketika selesai berbenah ku ambil ponsel untuk bermain sejenak. Namun sebuah nontifikasi pesan mengejutkanku saat bermain game. Ternyata pesan dari papa, hatiku bersorak gembira, sudah lama papa tidak mengirim pesan bahkan jauh jauh hari sebelum mereka memutuskan bercerai.


" Barangmu masih tertinggal, ambil saja kesini " pesan papa.


Secepat mungkin aku bersiap dan menaiki motor menuju rumahku, ah bukan maksudku rumahku yang dulu. Ku standarkan motor dan memencet bel menunggu seseorang dari dalam membuka gerbang. Rupanya papa sendiri yang membukanya. Apa papa menungguku ?.


" Oh kamu, sebentar biar papa ambilkan barangnya " ucap papa.


Papa beranjak menuju pos satpam dan mengambil kardus ukuran sedang serta memberikannya padaku. Ku terima kardus itu dan melihat isinya. Ternyata semua itu adalah foto foto kami, pantas papa memberikan padaku. Benar semua ini adalah kenangan yang pahit.


Kuambil sebuah foto disana terpampang aku dan papa yang saling merangkul dan tersenyum bersama. Tidak ada mama jadi kurasa papa bisa menyimpan ini. Setidaknya sesekali  papa bisa mengingatku.


" Papa bisa simpan foto ini " ucapku menyodorkan foto.


"Nggak perlu, ambil saja semuanya " jawabnya.


Aku tersenyum getir,Seharusnya aku tau ini akan terjadi, setidaknya aku tidak akan merasa sesakit ini. tapi benar,aku yang bodoh. Namun bisakah papa mengerti, sekali saja tolong anggap aku sebagai anak. Bukan sebagai sebuah kesalahan yang harus di buang.


Aku tersenyum pada papa dan meminta izin untuk pulang. Ku letakan kardus itu di bagian depan motor kemudian aku kembali kerumah. Foto ini biarlah aku simpan, aku tidak yakin jika mama akan senang saat melihat ini.


Untungnya saat pindah aku telah menyelesaikan pendidikan SMP ku, dan sebentar lagi tahun ajaran baru akan dimulai. Aku akan mendaftar secepatnya !. Sebenarnya dulu aku sudah menargetkan satu sekolah yang ingin aku masuki. Aku lebih tertarik di SMK karna aku juga punya minat di animasi dan sepertinya aku harus sampaikan pada mama.


Mama pulang sedikit larut, aku tau mama harus berkerja lebih keras karna menjadi tulang punggung sekarang. Ku berharap secepatnya aku bisa membantu mama, tentunya setelah aku berkerja.


Mama duduk setelah meletakan tasnya di meja. Aku menghampiri mama dengan secangkir teh yang ku letakan didepannya.


" Makasih " ucap mama.


" Iya ma, oh ya sebentar lagi sekolah mau masuk nih, menurut mama aku harus daftar dimana ? " Tanyaku.


Mama sedikit mengerutkan keningnya, sepertinya dia sedang berfikir.

__ADS_1


" Di SMK aja lumayan dekat dari sini " jawab mama.


Aku bersorak dalam hati, ternyata .mama setuju dengan pilihanku. " Tapi kamu harus ngambil akuntansi " ucap mama lagi.


Akuntansi ?, Itu terlalu berbeda dengan animasi. "Ma, aku pengin masuk animasi" ucapku memohon.


Mama menghela nafas " mau jadi apa kalau masuk animasi ?, Editor ? Kamu bisa belajar otodidak. Kalo kamu masuk akuntansi setidaknya setelah lulus kamu bisa kerja di bank. Lebih menjamin kan " ucap mama.


" Tapi ma- ". Ucapku. " Udah ya mama cape, kamu juga tidur " sela mama.


Mama langsung menuju kamarnya, "tapi aku mau animasi" lirihku. Jadi aku harus pasrah sama pilihan Mama ?. Sepertinya begitu, mungkin mama bakal seneng kalau aku nurut perintahnya..


Singkatnya sudah 5 bulan aku belajar disekolah yang baru, aku mendapati banyak kesulitan karna memang ini bukan bidangku. Teman teman disini juga tidak terlalu bersahabat ketika mereka tau jika aku anak diluar nikah.  Tapi, Ini bukan salahku, aku tidak pernah meminta Tuhan untuk menciptakanku dalam kondisi yang buruk. Papa dan mama menikah diusia muda karna kesalahan dan aku adalah kesalahan yang mereka buat.


Berbagai olok olok sudah sering aku dapati, tapi aku akan diam selama yang di cemooh adalah aku. Bukan papa atau mama, aku akan melawan jika ada yang berbicara hal buruk tentang mereka.


Selama aku bersama mama hidupku sedikit terkurung, aku tidak bisa bergerak sedikitpun untuk melakukan pilihanku. Mama bilang dia sudah merencanakan kehidupanku kedepannya. Namun ia sama sekali tidak menerima saran.


Sebenarnya inginku bicara baik baik dengan mama, dan berkata " mah aku mau itu bukan ini. Aku tau mama cape kerja seharian buat sekolah dan makan sehari harinya. Tapi boleh nggak mama dengerin aku setidaknya pertimbangin apa yang aku mau. Aku juga mau bantu mama tapi dengan cara dan bidangku. Bisa nggak ma?"


Andai aku bisa, aku menghela nafas dan meletakan kembali buku catatan ku. Sebentar lagi mama akan pulang aku akan menunggunya. Oh ya ini sangat penting, aku tidak mau kalian salah paham. Mama bukan antagonis disini. Mama baik aku sayang mama begitupun papa. Yang antagonis itu sifat mereka yang nggak memperhatikan ku.


Pagi itu Rena menemui ku di perpustakaan Rena bilang ia melihat mamaku bersama lelaki lain. Entah mengapa hatiku terasa sesak, tapi aku akan tetap mendukung keputusan mama. Bahkan jika mama hendak menikah lagi. Mama berhak bahagia kan ?


Namun aku juga harus memastikannya, aku ingin tahu siapa lelaki yang sedang dekat dengan mama. Rena bilang dia melihatnya saat jam makan siang disebuah rumah makan barat kota. Sepertinya mama dan pria itu akan kesana lagi, jadi ku putuskan untuk melihatnya secara langsung. Rena bilang akan menemani ku jadi kami akan berangkat bersama.


Kami berangkat lebih awal dan sialnya kami menunggu terlalu lama. 2 cup ice cream sudah ludes kami makan dan uangku sama sekali tidak cukup untuk membeli makanan lagi. Aksi menunggu kami terbayar aku dan Rena melihat mama dan seorang pria memasuki restoran.


Kurasa dia bukan pria yang buruk, buktinya mama selalu tersenyum saat bersamanya. Aku mengambil ponselku dan menelfon mama, aku ingin melihat reaksi pria itu saat tau mama sudah punya anak.


" Mama lagi dimana ? " Tanyaku.


"Masih kerja sayang " jawab mama


Mama tidak beranjak saat mengangkat telfon ku, dan reaksi pria itu tampak biasa saja. Tapi yang ingin kutanyakan mengapa mama berbohong ?. Kenapa tidak terus terang saja jika mama sedang bersiap menyatap makanan dengan pria itu.


" Ini udah jam makan siang loh, mama buruan makan aku nggak mau mama sakit " ucapku.


Dari kejauhan ku lihat mama tersenyum. " Iya sayang, sebentar lagi mama makan" ucap mama.

__ADS_1


" Ya udah mama makan dulu gih, jangan cape cape. Aku sayang mama" ucapku di telfon. " Iya sayang, mama juga sayang kamu. Bye " ucap mama menutup telfon.


Setidaknya aku sudah melihatnya sendiri, kini waktunya aku dan Rena pulang.


Keesokan harinya aku sudah siap dengan semua keperluanku untuk sekolah setelah perjalanan beberapa menit aku sudah tiba di lahan luas dengan deretan motor lain.


Setelah kustandarkan motorku kini aku berjalan menuju kelas.


Tak seperti ekspetasi ku, kelas benar benar penuh coretan. Aku melihat berbagai tulisan seperti " anak haram", " anak pelakor ", dan berbagai kata kata menyakitkan yang membuat dadaku sesak. Semua siswa dikelas ku tertawa melihatku yang tengah menahan lara .


Mengapa semua ini sulit untukku ?, Setidak diinginkan nya aku disini ?. Mengapa mereka jahat ?. Apa mereka tidak mengerti betapa menyulitkannya jalur hidupku. Mengapa mereka tidak mengerti ?, Mengapa !


Dari arah belakang aku merasakan sebuah tangan memegang pundak ku. Aku menoleh kebelakang, dia rena aku yakin dia akan membelaku lagi. Kumohon tolong aku Rena.


" Surprise !, Apa kamu suka hadiahku ? " Tanya Rena.


Aku tidak menyangka yang kuanggap sebagai teman malah dia yang paling menghancurkan ku. " Kenapa ren ?, Bukanya kamu temanku " tanyaku dengan bibir yang masih bergetar.


" Dulu, aku temanmu dulu. Tapi setelah mamamu menghancurkan bisnis ayahku. Kurasa kata musuh lebih tepat untuk kita " jawab Rena.


Apa masih ada surprise lainnya ?, Atau sudah cukup sampai sini ?. Kapan semua ini selesai. Kapan tidak ada lagi masalah untukku?. Kapan aku bisa hidup tenang tanpa rasa sakit?. Kapan ini berakhir ?. Benar aku harus mengakhirinya, sudah cukup sampai sini.


Aku berlari menuju atap sekolah, cuaca hari ini cerah cukup cocok jika kematian terjadi sekarang. Aku mengambil ancang-ancang untuk melompat. Namun sebuah tangan menahanku untuk berlari.


"Berhenti, jangan kayak gini" ucap fajar.


Aku menatapnya redup, aku harus seperti apa fajar?. " Lepas jar, aku mau semua selesai. Selama ini aku sakit, aku nggak mau Nerima rasa sakit lagi." Ucapku.


" Tapi - " ucap fajar tersela.


" Please jar, ini yang aku mau. Sekarang kamu turun, aku nggak mau kamu yang dituduh pelaku" ucapku meyakinkan fajar


Sepertinya fajar menuruti kata-kata ku. Dia perlahan pergi dari sini.ku pandang sekitar lagi, tak sengaja fokusku terhenti pada soekan ketas dan sebuah bolpoint yang masih bisa dipakai. Kuambil 2 benda itu lalu kuoperasikan melalui bait bait kata.


' dengan surat ini aku cuma pengin kasih kalian kata perpisahan mungkin ini terakhir kita saling berkomunikasi. pertama makasih ma udah mau Nerima aku dan jaga aku dengan baik. Makasih juga pa udah pernah jadi super Hero dalam hidupku. Untuk Rena dan fajar aku juga berterimakasih karena mau berteman denganku. Tanpa kalian sadari, kalian adalah tokoh paling penting dalam hidupku yang telah berakhir sekarang. Aku tentunya punya salah sama kalian dan aku minta maaf tentang itu. Setelah ini kalian bisa melanjutkan hidup kalian tanpa aku. Sekali lagi terimakasih, aku pergi.


Setelah usai menulis kulihat sobekan kertas itu dan ku taruh dengan batu diatasnya agar tidak tertiup angin. Ku pandang nanar surat itu, ini lebih baik agar semua yang kutinggalkan bisa ikhlas dan mencari pengganti diriku yang lain.


Aku terisak dalam hening, akankah aku akan berakhir disini ?. Semua kenangan indah dan senyum semua pengisi hidupku akan lenyap seiring aku pergi. Tapi kurasa ini yang terbaik, aku tidak punya alasan untuk menetap pada tempat kejam ini. Aku ingin bebas !, Apa aku salah ?.

__ADS_1


Selama ini aku tengah berada di ujung rasa sakit dan aku tak mau mengecapnya lagi. Dan satu satunya cara agar semua kepedihan itu berakhir adalah dengan memutus semua rasa dariku untuk dunia. Aku akan pergi ke tempat yang lebih baik dan meninggalkan kataku di atap berdebu ini. aku mengambil ancang-ancang dan beberapa detik kemudian kurasa semuanya sudah Berakhir.


__ADS_2