
Bangku dekat pohon mangga adalah tempat duduk paling nyaman ditaman kota. Terlebih suasana Juni yang cerah berangin, membuatku ingin berlama lama dalam hening yang aku ciptakan.
Aku menghela nafas, memandangi segelas es jeruk yang telah habis setengah. Jiwaku sedikit lelah, begitu banyak yang terjadi akhir akhir ini. Semua terasa di uji. Terlebih soal asmara mendekati lampu merah.
Sebenarnya sudah aku tebak hubungan ini tak akan bertahan lama. Bukan salahnya, bukan juga salahku. Ini hanya menjadi salah karena hubungan ini ada. Kami terlalu memaksakan diri, sampai hingga tuhan membawanya pergi. Menyisakan rasa bersalah buatku.
Dia, orang yang mampu membuatku tahan melamun Berjam Jam, Membuat pikiranku terus berputar memikirkannya, manusia satu itu memang handal merampas perhatian orang lain. Dan sepertinya aku sudah terkurung dalam sebuah nama, mahen.
"Padahal rasanya baru kemarin.". Aku menengadah melihat langit yang penuh awan, sesekali aku tebak bentuk gumpalan itu. Sama yang biasa aku lakukan pada calon dokter itu.
"Mana ada bentuk gumbal!" Dengan kesal aku malah mengingat ucapannya, jika awan hari itu berbentuk campuran kelinci dan kucing persis yang digambarkan oleh karakter kartun gumbal. Pria berkacamata itu memang menyukainya. Meskipun terkadang memiliki episode aneh yang tak bisa aku pahami. Namun aku juga bisa mengerti mengapa brilian menyukainya.
" Kangen rasanya pesan americano. Tapi sayang, aku nggak bisa minum kopi" lagi lagi aku berucap sendiri.
Satu satunya alasan kenapa aku memesan minuman pahit itu, ya karena brilian. Cowok jurusan kedokteran yang seringkali lembur dan begadang, selalu membutuhkan kopi untuk membuatnya bisa tetap absensi saat kelas pagi.
Brilian memang pekerja keras, tidak ada yang salah soal itu. Sayangnya dia sering lupa waktu. Kadang ketika mengerjakan tugas dia melewatkan makan siangnya. Dan ketika aku menjenguknya di kostnya, mulutku spontan melontarkan.
"loh gimana, katanya pengin nyembuhin orang lain. Kok malah bikin sakit diri sendiri. Dokter itu harus sehat!"
Dia hanya tersenyum ketika aku kembali melontarkan kata-kata yang sama saat dia lemas karena asam lambungnya kumat.
Aku mendekatinya, menaruh satu bungkus bubur ayam yang sengaja aku beli untuknya. Aku mengambil tangannya untuk ku genggam, sedikit panas.
"Jangan sakit, ya." Ucapku membawa tangan panas itu dan menempelkannya di pipiku.
Senyum tercipta di bibirnya, "tenang, stok promagh sama parasetamol masih aman" dia menjawab enteng sekali.
__ADS_1
Ingin aku pukul pundaknya karena terus becanda, namun harus di ingat, dia sedang sakit sekarang. Nyatanya aku tidak mengerti pola pikir dari priaku ini.
"Mau main waktu weekend?" Tawarannya.
"Kemana?" Tanyaku.
"Kemana kek" jawabnya singkat. "Refreshing, biar nggak stress"
"Nunggu kamu sembuh. Baru mikir mau pergi." Tegasku.
Dia mengangguk sedikit kecewa, terlihat seperti gurita, nama anjingnya. Tanganku mengalung pada lehernya, lalu mendekap tubuh kurus tinggi itu untuk menyalurkan hangat untuknya.
Kadang aku melamun, baik sekali tuhan memberinya untukku. Kok bisa, ku pikir dia hampir menggaet predikat sempurna. Lalu mengapa yang mengisinya sekarang adalah aku? Apakah aku cukup baik untuknya?
Lagi lagi aku merasa tidak pantas.
"Li, aku baik atau jahat?" Terlontar pertanyaan aneh dariku.
"Tinggal jawab aja!" Tekanku. Tangannya kembali memegang tiap sisi dari pipiku.
"Menurutku.... Kamu itu orang yang baiiiiiik banget! Meskipun cuek dan kurang perhatian sama sekitar. Tapi aku suka saat kamu cuma fokus dan to the point. Nggak keganggu sama hal lain."
Menurutnya aku baik? Tapi tidak juga kurasa. Yang baik itu dia! Dan aku belum cukup baik untuk mahen. Aku tahu, ini hanya pertentangan batin saja. Bodoh juga jika aku malah merusak hubungan kami dengan rasa insecure oleh banyak alasan.
Akan aku simpan pertanyaan, kok bisa dia mau sama aku?! Sendiri.
"Nggak boleh insecure ya" dia mengusap gemas rambutku. Ini salah satu yang membuatku heran. Aku ini yang mahasiswa psikologi tapi kenapa calon pak dokter ini yang lebih peka dan mengerti?!
__ADS_1
"Pengin nonton..."pintaku.
"Iya, habis aku nyelesain tugas dari pak Wibowo." Jawabnya.
Itu cuplikan dari hubungan kami. Manis? Tentu. Aku tidak pernah di perlakukan seperti itu selain oleh mahen. Namun, ku tekankan dalam hati, jika tidak ada yang namanya manusia sempurna. Begitupun dengan ya. Tapi ternyata, aku belum mampu menghadapi ketidaksempurnaan mahen.
Kami berbeda, satu perbedaan itu membentangkan jarak bagi kami. Terlalu besar hamparan itu, meskipun berulang kali mahen meyakinkanku.
"Kita sama sama dulu, nanti kalau sudah waktunya, kita pikirin jalan keluar." Ucap mahen.
Aku tidak mengerti, waktunya yang dimaksud mahen itu apakah saat kami memutuskan akan bersama, atau saat kami memutuskan untuk berpisah.
Nyatanya kepalaku hampir pecah memikirkan ketidakpastian hubungan kami. Namun baik aku atau mahen, masih ingin hubungan kami tetap ada. Entah sampai kapan, entah berakhir kapan. Kami yang sama sama keras kepala, tetap akan menjaga kemustahilan itu sampai *waktunya* tiba.
Dan ya, tidak bisa dihindari. Mahen di bawa pergi dariku. Akan ku jelaskan apa perbedaan kami.
Dia adalah bagian dari keluarga Haidar grup. Benar, saudagar dari Bengkulu. Sebelumnya aku tidak pernah mengira ini jadi masalah selanjutnya. Namun, nyatanya, ini adalah permasalahan kami. Keluarga yang tidak sembarangan itu telah membuat rencana untuk mahen. Dari pendidikan sampai pelaminan, mahen telah dijodohkan oleh anak dari keluarga yang tidak biasa juga. Begitulah...
Layaknya kisah cinta pangeran dan tukang sapu jalanan. Kasta menjauhkan kami. Aneh memang, di zaman sekarang hal seperti itu masih berlaku. Tapi nyatanya memang ada. Dan mahen tidak bisa berkutik lagi ketika ibunya datang ke kota ini. Memberitahu tanggal pertunangan.
Aku sempat bertemu ibunya, dia belum tahu jika aku adalah kekasih anaknya. Hampir setengah jam telingaku harus menahan panas karena beliau menceritakan betapa baiknya calon menantu nya itu, yang pasti bukan aku. Saat itu memang mahen tidak berasa di kos-kosan. Aku berdalih ingin mengambil buku yang mahen pinjam, dan ibunya percaya.
Sudahlah tidak ada harapan, mungkin inilah yang mahen maksud dengan... Waktunya.
Benar saja, mahen datang padaku keesokan harinya meminta maaf sebanyak mungkin dan menyesal untuk setiap harapan yang dia ucapkan. Tentang rencana masa depan yang telah kami tulis di buku hariannya, tentang bagaimana kami akan bahagia di masa depan. Harapan harapan manis yang begitu ingin kita realisasikan. Namun, kalian tau, itu tak mungkin terjadi.
Aku berkata padanya, teruskan saja mimpimu itu. Bentuk keluarga kecil paling bahagia, itu hak mu untuk berencana. Sisanya mahen harus mengganti diriku dengan jodohnya nanti.
__ADS_1
Perasaan yang bercampur, menhantam bagai tetes tetes air yang sekarang mengenai tubuhku. Hujan pertama di bulan Juni. Ya, sepertinya rintik ingin aku berdamai dengan diriku sendiri. Seperti yang aku katakan di pertemuan terakhir kami.
"Aku ikhlas mahen, kamu yang bahagia ya. Inget cita cita kamu. Sembuhkan semua orang, biar mereka nggak sakit lagi. Kamu juga jangan sakit, masa dokter sakit!" Aku rasa saat mengucapkannya itu tidak selancar ini. Tangisku selalu menjeda setiap kata yang keluar. Dengan tangan mahen yang erat menggenggam tanganku. Hingga aku menyelesaikan kalimatku, dan dia mulai melangkah pergi. Sekarang aku hanya bersama diriku, dan selanjutnya, aku harus berdamai dengan semua ini.