
l
Secangkir americano telah ku habiskan. Hanya tinggal beberapa tetes yang tersisa di gelas putih itu. Ku tutup laptopku dan memasukannya ke dalam tas. Laporanku selesai juga, tinggal mengirimnya saja pada dosen dan akhir pekanku akan free !
" Besok kan ?" Tanyaku bermonolog.
Gawaiku berdering, pasti itu dari jeno. Dia pacar ku, emm... Tidak juga, ah aku tidak bisa menjelaskannya. Jadi aku dan jeno memiliki hubungan yang kita sepakati untuk berakhir di suatu hari nanti. Kita serius dalam hubungan ini tapi tidak serius untuk melanjutkannya. Aduh, pusing juga.
" Ikut sama aku ke pertunjukan kampus kan ? " Itu tanya jeno.
" Iya iya. Aku free kok !" Jawabku.
" Dimana ? "
" Cafe di depan warnet. Kenapa ? Mau jemput ?"
" Hmm, jangan kemana mana."
Jeno menutup telfon, sedangkan aku berpindah menuju bagian luar cafe dan duduk di salah satu bangkunya. Aku sengaja tidak membuka handphone lagi, karena siapa juga yang akan mengacuhkan sore di Jogja ? Andai kalian disini, maka aku akan membaginya pada kalian.
" Jen ! " Panggilku saat jeno sedang memalkirkan motornya. Aku menghampiri pria itu dan menerima helm sebelum menaiki motor hitam Vario kesayangannya.
" Pegangan."
Aku memasukan jemariku pada saku jaket jeno, dan meletakan kepalaku di pundaknya dari belakang. Dia mulai menjalankan kendaraan roda dua itu.
" Nggak ada duit di sakuku. " Ujar Jeno
Aku memukulnya pelan, sementara jeno tertawa. Matanya yang menyipit terlihat jelas dari kaca spion.
" Emang aku mau copet ?!" Aku ikut tertawa setelahnya, meskipun aku tidak memindahkan tanganku dari saku orang itu.
" Trus kenapa tangannya disana ?" Jeno terus bertanya, dia berbelok pada persimpangan.
" Emm, anget !' jawabku.
" Kalo gitu, peluk aja. Biar yang anget bukan cuma tangannya. " Dia tertawa renyah.
Aku kembali memukulnya, kaki ini di helm berstiker tengkorak ala ala rocker.
" Kesenangan kamu !"
Hari Sabtu yang kami nantikan akhirnya datang. Tapi bukanya senang, aku malah merasa kesal. Lantaran jeno belum juga menjemputku, padahal dari tadi malam dia sudah mengingatkanku agar bersiap sebelum jam 7. Tapi nyatanya ? Sampai jam setengah sembilan Jeno belum Juga datang.
" Panjang umur " ucapku spontan karena melihat Jeno dengan vario andalannya tiba. Jeno segera turun dari motor dan menghampiriku. Wajahnya gelisah berbalut kesedihan yang tidak aku ketahui.
" Performnya batal " ucapnya.
Aku memahat ekspresi sedih tuk merespon keadaan Jeno saat ini. " Kok bisa ?"
Dia merengut, menggigit bibir bawahnya " jadinya besok, grup ku nggak bisa tampil sekarang. Mark sama jaemin punya urusan mendadak.hufft, performnya harus di rombak ulang."
Aku mengelus pundaknya,"seenggaknya cuma di tunda. Jangan sedih gitu donk." Ucapku, dia meraih tanganku dari pundaknya.
" Temenin aku di kampus ya, siapa tau kmu ada ide. Mentok banget otakku." Jeno meminta, aku hanya mengangguk saja. Lalu mengambil tasku dan kami pergi menuju kampus.
Disana ada beberapa panitia dalam perfom kampus yang dimaksud. Beberapa ada yang ku kenal, seperti renjun, haechan dan Giselle selain mereka semuanya asing. Aku duduk tepat di sebelah Jeno, dan tak lama kemudian seorang berhodie hitam datang terengah engah. Dia menampilkan senyum termanisnya dan duduk di samping Jeno sebelah kiri.
" So, yang jadi masalah cuma perform band nya Jeno. Jadi lu mau ganti tampil apa ?" Tanya seseorang kating dengan tahi lalat tepat dibawah bibir kanannya.
" Nyanyi ? Yang simple aja, waktunya nggak lama. " Renjun memilihkan ide.
Semuanya mengangguk setuju, " ah masa solo ? Inikan ibaratnya debutnya si Jeno. Ada ide yang lebih nggak. Yang wow ?!" Giselle menambahkan.
__ADS_1
Semuanya menatap pada Jeno, sementara pria itu mengeratkan genggaman tangannya padaku. Aku mengelus bagian atas telapak ya, berusaha memberikan ketenangan.
" Nggak ada masalah sama nyanyi. Kita cuma lagi cari cara biar pertunjukan Jeno lebih spesial. " Kating itu berucap lagi.
" Duet ! Duet !" Haechan berseru dengan keras.
" Boleh tuh, sama siapa ?" Renjun bertanya.
Dan saat itu mereka melihatku, aku hanya bisa tersenyum kikuk. Bahkan sekarang gantian aku yang menggenggam tangan Jeno dengan kuat.
" Aku bakal duet sama dia." Jeno malah setuju. Aku menatapnya dengan tajam, aku tidak setuju.
" Iya tuh, suara dia juga bagus. Fiks ya ini !" Giselle menulis namaku dan Jeno di urutan perfom.
" Jen..." Aku berbisik
Dia melirikku, " santai, nggak papa kok. " Balasnya, dan kini aku hanya pasrah.
" Lagu ?" Tanya haechan
" Peri cintaku, azek tuh. " Giselle menatap kami berdua.
Aku dan jeno sama sama tersenyum getir. Mengapa lagu itu ? Ini maksudnya menyindir kami ?
" Eh, sorry... Kemaren aku dengerin lagu itu, ngena banget." Giselle segera memberi alasan.
" Kalian setuju ? Atau mau ganti lagu.?" Tanya kakak tingkat.
Aku hanya diam, menunduk dan berusaha melepaskan tanganku dari tangannya. Namun Jeno malah mempererat genggaman kami.
" Itu aja..." Akhir dari Jeno menutup pembahasan hari itu.
Aku ditinggal dengan Giselle sementara jeno membantu panitia lainnya. Kami duduk di bangku tadi dan sibuk dengan gawai masing masing.
" eh Rin ! Sini donk. " Giselle memanggil gadis yang tadi duduk di sebelah Jeno. Wanita itu me dekat dan duduk di sebelahku. Aku memberi jarak, entah alasan apa aku malah menganggapnya sebagai *ancaman*
Karina menjabat tanganku, " dari prodi apa ?" Tanyanya.
" Psikologi " Jawabku.
Kami sempat mengobrol sedikit, ternyata Karina anak yang humble, dia anggun dan sangat cantik. Desas desis dia adalah primadona prodi nya.
" Pulang yuk !" Jeno kembali dengan wajah yang lebih baik. Aku berdiri, memberi salam pada keduanya dan ikut Jeno pergi.
Keesokan harinya, aku sudah bangun bahkan dari jam lima pagi. Setelah menjalankan Solat, aku iseng pergi ke kamar seorang temanku. Dia sedang membuat rekaman suara untuk dibagikan pada anak didiknya.
" Mba !" Mba Wendy menyuruhku untuk diam. Aku tertawa canggung dan menghampiri kasur milik wanita itu.
" Jangan berisik !" Peringatan dari mba Wendy membuatku membungkam mulut. Dan memberinya jempol ku.
Mbak wendy mulai mulai berbicara, " jadi kandungan dari surah Al Baqarah ayat 221 itu menyeritakan tentang pernikahan beda agama. Arti dari surah itu adalah
...Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman."...
Aku terdiam, bukan karena perintah mba Wendy. Tapi karena ucapannya tentang arti surat itu. secara jelas tuhan telah melarang dengan jelas hubungan beda agama. Lantas mengapa aku mencoba melanggarnya ? Sampai kapan aku dan jeno bersama ? Sampai aku terlanjur mencintanya, sehingga nantinya akan begitu perih saat kita sepakat untuk berhenti.
" Loh kok nangis ? Eh kenapa ?" Mbak wendy buru buru memelukku dan tangisanku pecah dengan keras.
" Nggak papa mbak, aku keluar ya. Ada urusan "
Sudah jam 6 dan tepat sekali karena Jeno datang. Dia memakai kaos berjaket jeans dengan celana hitam menyamakan dengan warna motornya. Dia tersenyum, meskipun aku bisa melihat jejak air mata dari sudut matanya.
" Yok !"
__ADS_1
Aku menaiki motornya dan kami berhenti di sebuah gerobak bubur di kiri persimpangan. Kami memakan bubur ayam hingga habis. Dan aku baru sadar, jika kami belum berbicara sama sekali.
" Jen.."
"Hmm"
" Aku mau ngomong " ucap kami bersamaan. Kami saling menatap dan tersenyum. Merasa Jeno memberiku kesempatan aku langsung berbicara lagi.
" Kita udahan ya..." Kami kembali berucap bersamaan.
Kami saling teekekeh, namun khusus untukku.... Aku menangis saat itu.
" Udah saatnya yah ?" Ujar ku sembari terisak.
" Belum, tunggu sampai selesai perfom buat official putusnya." Jawab Jeno.
" Kenapa ?"
" Biar masih dapet fell." Sahutnya.
Kami saling terdiam, dan memandangi lalu lalang motor di jalan. Mataku semakin berair, Jeno tidak lagi memeluku. Aku sadar, kita harus terbiasa dengan menjadi orang asing.
" Hey... Aku masih boleh sayang sama kamu ?" Tanya jeno.
Aku mengangguk, dan tertawa kecil " waktunya sampai selesai perfom, biar masih dapet fell" aku mengulangi perkataan jeno.
" Jen..." Panggilku, dia menoleh.
" Aku sayang kamu."
Dia menggeleng, " jangan lagi, itu salah buat kita. Emang belum puas sakit hatinya ?" Tanya jeno.
" kalo gitu Habis ini, jangan bikin aku fallin lagi ya"
" Tenang, habis ini aku pergi. "
Pagi itu aku adalah sayatan paling pedih yang aku rasakan. Sakit sekali, sungguh. Aku kalah dengan persaingan ini, aku salah telah bersaing dengan Tuhannya. Untuk sesama taat seperti kita, cinta tidak punya tempat. Hanya dua pilihan yang tersedia, ganti pasangan atau...ganti tuhan.
" Pertunjukan selanjutnya... Peri cintaku "
Kami naik ke panggung, dengan genggaman tangan yang tidak di lepas, senandung lagu mulai bermain dan kami bernyanyi dengan baik sampai....
" Aku untuk kamu.... " nyanyiku.
" Kamu untuk aku..." Sahut Jeno.
Kami berhadapan satu sama lain.
" Namun semua apa mungkin ? Iman kita yang berbeda..." Kami bernyanyi bersamaan.
" Tuhan memang satu..."
" Kita yang tak sama...."
" Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takkan bisa pergi."
Kami turun dari panggung itu, dan melepas genggaman yang sudah tak layak. Dia tersenyum, senyum sama saat hari hari bahagia mengimbangi langkah kami.
" Makasih, aku bakal pergi." Ujar Jeno.
" Jaga diri ya, sampai Nemu yang bisa jagain... Karena aku udah nggak bisa."
Aku menggigit bibir bawahku, " thanks jen... Aku nggak pernah nyesel kenal kamu. Tuhan baik yah, mempertemukan kita. Aku belajar banyak, banyak banget. " Ujar ku.
__ADS_1
Dia tersenyum, berbalik meninggalkanku. Tangan Jeno menggapai jemari indah Giselle. Aku ternyata tidak menyadarinya. Cincin yang dipakai Giselle dan jeno adalah satu set cincibg pertunangan.
Dan kamipun putus, yah... Tidak ada lagi Jeno di prioritas jadwalku. Sayang sekali, aku pantas mendapat hukuman. Aku melanggar aturannya, karena saat ini, aku masih menyayangi Jeno.