
" Ayo teru teru bozu, jangan biarkan hujan turun !" Ucap seorang gadis yang menghadap pada boneka berbentuk gurita yang digantungnya di jendela.
Namun sepertinya sihir dari boneka itu habis, buktinya langit malah bertambah mendung dan mulai terlihat samar tetes kecil air hujan yang turun. Gadis itu berdecak, dia kesal karena lagi lagi hujan menghalanginya bertemu temanya di ladang.
Gadis itu menopang dagunya, menatap lurus dari jendela kamarnya yang terbuka menuju halaman yg sepenuhnya basah.
" Jika besok juga hujan, maka aku tidak bisa bertemu dengan Daiki" guman si gadis.
Masa liburnya hanya tinggal 3 hari, 2 hari akan habis untuk perjalanan dan menyiapkan peralatan sekolahnya. Artinya besok adalah hari terakhirnya dia di rumah kakeknya. Rasanya berat sekali meninggalkan desa kecil ini dan kembali lagi ke kota. Masih banyak hal yg ingin dilihatnya untuk sekarang. Dia juga ingin berbincang lebih lama dengan temannya -Daiki. ia akan memberinya cerita tentang desa hari ini, namun sial hujan membuat rencananya kacau.
" Sakura ! Kakek sudah membakar ubi, kemarilah cicipi " ujar nenek yang berteriak dari teras depan.
Segera sakura beranjak dan menghampiri pasangan lanjut usia yang tengah menghadap pada sepiring ubi bakar yang masih berasap.
" Ubi dari mana ini kek ? " Tanya sakura yang meniup bagiannya.
" Daiki yang mengirimkannya, ayahnya panen kemarin " jawab kakek.
" Daiki ? Kenapa kakek tidak memberitahuku dia kemari ?" Ucap sakura menyesal dari tadi dia hanya dikamar.
" Dia tadi juga sebentar, " kali ini nenek yg menjawab.
Terlihat tampang kesal di wajah sakura. Kenapa daiki tidak menemuinya dulu. Dia sudah berjanji menceritakan legenda desa ini.
" Kakek dimana rumah daiki? " Tanya sakura menuntut.
" Kamu tahu gang kecil di dekat ladang ? " Tanya kakek.
Sakura mengangguk. " Rumah kedua dari gang. Itu rumah Daiki" lanjutnya.
Sakura mengerti, yang penting patokan nya Padang dan rumah kedua. Pasti sakura bisa menemukannya.
" Kek aku akan kerumah Daiki sekarang !"
Ucap sakura yang beranjak mengambil payung.
" Ini masih hujan !" Ucap nenek yang sedikit berteriak.
" Tidak apa nek, aku pergi !" Ucap Sakura yang menutup pintu.
Hujan tak kunjung reda bahkan suara rintik yang menghujam payung seperti peluru. Sakura memakai sepatu boot miliknya tak lupa rambut tebalnya ia ikat. Sekarang waktunya untuk berjuang melawan hujan menuju rumah Daiki.
Sakura berjalan perlahan menghindari genangan yang dipenuhi air, beberapa kodok pun meloncat riang kesana kemari. Sebentar lagi, ayo berjuang sakura.
Hah, akhirnya rumah kedua sudah terlihat. Sakura bisa melihat asap dari rumah Daiki. Diapun mengetuk pintu rumah bercat coklat itu.
Seorang wanita berumur namun masih terlihat sehat itu membuka pintu, wajahnya hangat terbuka pada sakura.
" Permisi bibi, apakah ini rumah Daiki ? " Tanya sakura.
__ADS_1
" Benar, kau pasti cucu dari tuan Takahashi " ucap bibi tadi
Sakura mengangguk serta menampilkan senyum kikuk. " Masuklah dulu, Daiki masih dikamar" ujar si bibi mempersiapkan masuk.
Sakura terduduk di bangku kayu. Bibi tadi membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan keripik.
" Maaf nona Takahashi, bibi hanya punya ini untuk di suguhkan " ucap sang bibi tidak enak.
" Tidak bibi, saya sangat merepotkan. Oh ya, nama saya sakura Takahashi. Bibi bisa panggil saya sakura saja " ucap sakura memperkenalkan diri.
" Sakura kamu disini ? " Tanya Daiki yang berjalan kearahnya.
" Iya, kakek bilang kamu singgah. Kenapa tidak menemuiku " tanya sakura.
" Maaf, tadi aku harus mengantarkan ubi pada tetangga yang lain." Jawab daiki.
Sakura hanya mengangguk mengerti, sepertinya Daiki tidak khusus kerumah karna dirinya.
" Lihatlah cucu dari tuan Takahashi, dia seperti nona rien yang jelita" bibi tadi melontarkan pujian pada sakura.
Suaminya mengangguk setuju. " Dan anak kita seperti pendekar ye " lanjutnya.
Keduanya tersipu malu dengan pujian itu.
" Siapa Nona rien dan pendekar ye ? " Tanya sakura.
Wajah sakura berubah jadi antusias, sepertinya gadis itu ingin tahu ceritanya.
" Ceritakan padaku Daiki ! " Punya sakura.
" Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika merasa bosan" ucap Daiki mengingatkan.
Sakura mengangguk antusias.
" Dulu sekali, desa ini adalah pusat pemerintahan kerajaan Que. Masa itu Seorang kaisar yang disegani memiliki selir bernama wareki, dia mempunyai anak yang namanya rien. Dia terkenal cantik dan pintar menyulam, walaupun hanya menyandang gelar putri bawah, nona rien selalu di sayang oleh kaisar.
Suatu hari, panglima dari perang di ujung kerajaan kembali membawa kemenangan. Seluruh kerajaan merayakan kepulangannya. Dan diantara prajuritnya, ada 1 tangan kanan dari panglima bernama pendekar ye.
Sebuah pesta berlangsung meriah, banyak jamuan dan penari yang cantik. Saat itu putri rien membantu para pelayan mengantar makanan. Saat membawa teh ia bertemu pendekar ye. Siapa tau putri rien langsung jatuh cinta padanya, begitupun sebaliknya. Pendekar ye mengira nona rien adalah dayang kerajaan Que. Itu karena ia tidak bersanding bersama raja di singgasananya, padahal itu karna nona rien adalah putri bawah.
Setiap Minggu mereka akan bertemu di jalan yang menuju pantai. Mereka menamainya jalan yein. Namun sekarang jalan itu lebih dikenal sebagai jalan ke tiga. Mitosnya orang akan jatuh cinta disana.
Namun kaisar menjodohkan nona rien pada pendekar mu, dia juga yg terhebat pada masa itu. Nona rien tidak berkenan dan menginginkan pendekar ye sebagai suaminya. Karna itulah diadakan sayembara.
Kedua pendekar itu harus menangkap beruang yang meresahkan masyarakat. Namun siapa sangka pendekar ye malah terbunuh oleh panah pendekar mu.
Putri rien sangat sedih kehilangan kekasihnya. Pada jalan ketiga itu nona rien menangis lama hingga Nona rien meninggal . Air matanya dan darah dari pendekar ye tercampur hingga mencipta warna merah muda. Dan sepanjang darah dan air mata itu mengalir tumbuhlah pohon yang berbunga merah muda, yang sekarang disebut sebagai sakura" akhir dari cerita itu
Sakura bahkan tidak berkedip dibuatnya. Itu benar-benar cerita yang bagus. Ternyata warna sakura yang melambangkan keceriaan dan kesegaran adalah hasil dari darah yang memudar karena air mata.
__ADS_1
" Itu cerita terbaik yang aku dengar" puji sakura.
" Benarkah ? Apa kamu ingin tahu dimana jalan yein itu ? " Tanya Daiki.
" Apakah itu memang ada ? " Tanya sakura.
" Besok pagi aku akan mengantarmu kesana" ucap Daiki.
" Bagaimana jika besok hujan ?" Tanya sakura.
" Tidak akan, aku sudah menggantung teru teru bozu dengan benar" ucap Daiki meyakinkannya
***
Hari terakhir sakura berada di desa. Daiki sudah berencana mengajaknya ke jalan ke 3 atau jalan menuju laut. Sakura benar benar penasaran dengan tempat orang jatuh cinta itu.
" Sudah siap ?" Tanya Daiki.
Ternyata pria itu membawa sepeda untuk kesana. Sakura duduk berpegangan pada Daiki. Mereka mulai berjalan di jalan setapak ke arah lahan.
Sekitar 15 perjalanan mereka tempuh dengan sepeda. Sakura sangat tercengang ketika melihat pohon di kanan kiri jalan yang seakan membentuk lorong.
" Indah kan ?" Tanya Daiki.
" Iya sakura yang berembun sangat segar dilihat" jawab sakura.
Mereka berpuas hati menatap indahnya bunga cantik itu. Sampai sakura teringat kisah yang kemarin Daiki ceritakan.
" Apa kamu pernah jatuh cinta disini, Daiki ? " Tanya Sakura.
Daiki tersenyum menghadapnya " aku sudah jatuh cinta saat disini" jawabnya.
" Dimana kamu jatuh cinta" tanya sakura.
" Di ladang saat melihat gadis yang susah payah mengangkat cangkul " ucap Daiki dengan kekehan.
Sakura tersipu saat itu, namun dia tidak mau langsing menganggap yang Daiki maksud itu dirinya. Toh bisa jadi gadis dari desa ini.
" Siapa gadis itu ?" Tanya sakura lagi.
" Yang tumbuh karna air mata nona rien dan darah pendekar ye " ucap Daiki memberi tebakan.
"Sakura ! " Ucap sakura bersemangat karna ia masih hafal kisah kemarin. Sebentar, sakura itu namanya kan ?
Daiki kembali tertawa dan menepuk kepala sakura lembut. " Benar itu kamu, aku tahu nanti siang kamu akan kembali ke kota. Berkunjunglah kemari saat ada waktu. Kita akan bertemu lagi di jalan ke 3, disini memang tempat nona rien dan pendekar ye mati, namun disini juga cinta mereka menjadi abadi. Mari kita jadikan bunga sakura sebagai saksi cinta kita."
Sakura mengangguk merona, dirinya menggenggam tangan Daiki yang terulur padanya. Benar juga kata mitos itu, jalan ke 3 adalah tempat jatuh cinta, dan itu terjadi pada sakura.
" Aku juga mencintaimu Daiki "
__ADS_1