
...Aku tidak meninggalkan mu Erika, hanya saja aku pergi sekejap dan akan menemuimu saat musim dingin selanjutnya....
..." Erika, aku harus pergi " ucap seorang pria muda yang memakai seragam junior high school....
Lawan bicaranya menunduk, sepertinya ia tidak ingin ditinggal oleh pria tadi " kapan kamu kembali ? " Tanya singkat Erika.
Wajah pria tadi mendadak lesu, dirinya pun tidak tahu sampai kapan ia di negri orang. Kepalanya ia gelengkan lemah. Sementara itu si gadis makin tertunduk bahkan sampai berjongkok di tanah. Telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang menangis.
" Jangan menangis Erika, aku pasti kembali. Tunggulah saat musim dingin " ucap pria itu.
" Kau berjanji loudi ? " Tanya Erika.
" Ya " jawab loudi yakin.
***
" Hei Erika ! " Ucap perempuan berambut pirang itu.
" Kau mengejutkanku Michel ! " Ucap Erika kesal.
Wanita yg disebut Michel itu terkekeh, dia duduk di depan meja cafe itu lalu menyeruput white coffe yang baru ia pesan tadi.
" Melamunkan siapa tadi ? " Tanya Michel.
Erika menggeleng dan meminum capuccino miliknya. Ia tidak berniat menjawab.
" Biar ku tebak, dia pasti cinta pertama mu saat junior high school" ucap Michel sambil tertawa.
" Hei ingat umurmu, apa perasaan mu sama dengan dirimu saat 13 tahun ?" Lanjut Michel masih dengan kekehan nya.
" Bukan urusanmu chel, aku akan pulang " ucap Erika yang mengambil Tote bag miliknya lalu beranjak keluar.
Langit cerah namun tidak ada mentari. Udaranya sangat dingin, bahkan tadi pagi tidak sedingin ini. Tunggu, bulan apa Sekarang ? Ah Erika lupa, ini adalah Desember. Pantas saja terasa dingin. Sebentar lagi pasti salju turun.
Erika menghela nafasnya " musim dingin yang keberapa kau akan menemuiku ? " ucap lirih Erika sambil menyingkirkan anak rambut yang berusaha menutup wajahnya.
Sudah 7 tahun semenjak loudi pergi dari sini. Selama itu juga Erika menunggu. Dirinya tidak menginginkan hadiah apapun dari Santa, Erika hanya ingin loudi kembali kesini, padanya.
Gadis itu menghela nafas dan kembali berjalan menjauh dari tempat ia melamun. Jadwalnya sudah berakhir, saat ini Erika free untuk melakukan hal lain.
Namun yang ia tuju adalah rumah. ya,dia tidak ingin kemana mana. Salju membuatnya teringat loudi dan itu sangat menyakitkan baginya.
Kring kring
Dering telfon milik seseorang di tempat lain mengganggu sosok pria muda yang sibuk mengetik di depan komputer. Dia melonggarkan dasi yang sedari tadi mencekiknya. Nafas dengan berat dia keluarkan seberat tumpukan tugas dan berkas yang menumpuk menjadi gunung tanggungjawab.
" Aku berjanji Erika, musim dingin kali ini aku akan kembali" ucapnya menatap sebuah bingkai foto dengan dia anak junior high school yang berangkulan.
***
" Aku akan ke resto milik ayahmu besok " ucap Erika yang melambaikan tangannya pada temanya yang berjalan menjauh.
Erika melirik jam tangan moccha miliknya. Ini masih tengah hari, lagipula besok ia cuti, dia akan free sekarang.
" Aku ingin pergi ke tempat itu " ucap Erika menatap Surya yang tegak bersinar.
Tempat itu ? Dimanakah yang dimaksud Erika ? Mungkinkah cafe di ujung jalan, atau jembatan yang baru baru ini terkenal karena gembok cinta nya. Namun sepertinya tempat romantis itu bukan yang iya tuju. Buktinya kaki berbalut sepatu putih itu berhenti di depan ayunan yang berdebu.Anak anak mungkin sudah selesai memainkannya.
Kaki yang baru saja berhenti, kembali melangkah. Erika Menatap pada ayunan berhadapan dengan warna biru yang mencolok. Bibir tipisnya membentuk senyuman.
__ADS_1
Akhirnya Erika terduduk dan mulai berayun lirih. Memorinya membawa Erika pada 7 tahun yang lalu, saat rambutnya masih sebahu. Dirinya sering sekali datang kemari saat senggang. Bermain ini itu dan menjahili anak kecil bersama loudi. Lagi lagi dengan dia. Mereka selalu bersama saat kecil dan begitu jauh kini.
Erika hanya mengirim surat pada alamat yang tidak jelas. Bahkan diapun tidak mengetahui dimana loudi sekarang.
Angin dingin bertiup menerbangkan rambut tipis miliknya. Bersamaan dengan itu mentari pun sudah condong ke barat.
" Kapan kamu kembali loudi ?" Gumam nya.
Lalu lagi lagi semesta membiarkannya sendiri. Bahkan 7 tahun pun tidak mengantar Erika kemana mana, dia tetap pada jalan buntu bernama loudi. Ya pria yang dulu memberinya janji tuk kembali. Apakah benar kata Michel, lelaki hanya bisa berucap Manis ? Tapi tidak, loudi bukan pria seperti itu. Erika masih menaruh harap padanya, dia yakin loudi akan kembali.
***
" Biarkan aku pergi ! " Ucap pria dengan stelan kerja.
" Bisnis di kota lain sedang berkembang. Tidak peduli apa alasanmu, kau tidak bisa pergi " ucap seorang paruh baya yang menghisap tembakaunya.
Tangan pria itu menggenggam erat. Giginya saling berbenturan karna geram dengan pria tua di depannya.
" Akan kuberi kau pilihan, izinkan aku pergi atau akan ku sebarkan produk terbarumu pada rival perusahaan ini " ucap pria itu dengan sunggingan senyum mengerikan.
Pria tua itu melempar rokok yang baru ia hirupnya ke sembarang arah. Dia menggeram, pintar sekali anak ini memberi pilihan. Dia tidak punya ancaman lagi bagi pemuda itu untuk tetap tinggal. Dengan hembusan berat, akhirnya pria tua itu melambaikan tangannya menyuruh dia pergi.
Pemuda itu tersenyum penuh kemenangan. " Thank you dad " ucapnya.
***
25 Desember, natal telah datang. Ornamen kelap kelip terlihat di sepanjang jalan terlihat meriah, begitupun dengan pajangan kaos kaki merah yang dirangkai di sisi kiri bangunan.
" Selamat natal, ibu " ucap Erika.
Ibunya ikut tersenyum mendengar ucapan itu, dia membelai rambut milik putrinya. " Kau sudah dewasa, ibu ingin melihat calon suamimu "ucap sang ibu.
Erika hanya menatap nanar dengan bibir terkantup. " Aku juga ingin melihat wajah calon suamiku, bu" jawab Erika.
Tangan Erika lebih erat menggenggam, " sebentar lagi Bu, hanya ketika musim dingin ini pergi. Jika dia tidak datang, maka aku akan menyerah menunggunya " ucap Erika
Benar, ini adalah kesempatan terakhir bagi loudi. Tolong datanglah .
***
1 hari setelah natal, pekerjaannya kembali padanya tanpa cuti lagi. Sebagai karyawan bagian departemen pendidikan, tentu saja banyak hal yang perlu dia lakukan agar gaji untuk bulan esok masih di terimanya.
" Erika, tolong antarkan berkas ini pada ketua " ucap wanita yang menghampirinya.
Erika menghentikan ketikannya lalu menoleh pada seseorang yang menyuruhnya tadi. " Baiklah, akan ku antar pada pak Andy kan ? " Tanya Erika.
" Bukan, bukan pak Andy tapi direktur baru di seberangnya. " Ucap nya.
" Baiklah, kau ini. pasti pacarmu sudah menunggu di lobi " ucap Erika yang dihadiahi guyonan wanita itu.
***
"Permisi direktur " ucap Erika meminta izin masuk.
" Ya ! " Sahut seseorang dari ruangan yang masih tertutup.
Dengan tangan kiri yang tidak memegang map berkas, Erika membuka ruangan direkrut baru.
Namun dia tidak bisa melihat tubuh sang direktur itu karena kursinya yang membelakangi Erika.
__ADS_1
" Louis camel " itu nama yang tertera pada papan di mejanya.
" Permisi direktur camel, ini berkas dari divisi A " ucap Erika.
" Ya, letakan disana ! " Ucapnya.
" Baik, saya permisi " izin etika yang memutar badannya.
Namun saat beberapa langkah Erika berjalan. Sentuhan hangat yang dia kenal merengkuh tubuhnya. Ini nyaman namun direktur itu tidak punya malu dengan melakukan ini.
" Lepaskan aku ! " Ucap Erika yang memberontak dari pelukan sang direktur.
Namun sayang usahanya tidak berhasil. Dengan terpaksa Erika harus menyerang pada titik *itu* sampai akhirnya pria itu mengaduh kesakitan sembari memegang sesuatu yang mungkin sakit di dalam sana.
" Aku benar benar suka tingkahmu. Tapi ini benar benar sakit " ucapnya
" Kamu ? " Erika tersentak dengan pria yang tadi memeluknya. Loudi ?
Loudi tersenyum getir, miliknya masih terasa sakit. Dan tidak lama pelukan itu terjadi lagi dengan Erika yang memulainya.
" Bodoh, jangan menangis " ucap loudi yang mempererat pelukannya.
" Kamu kembali loudi, akhirnya..." Ucap Erika yang terisak di dekapan loudi.
" Ya... Akhirnya" loudi tersenyum lega.
***
Setelah Mereka berpuas diri menebus rindu 7 tahun. Erika dan loudi memutuskan untuk bersantai di dataran yang sepenuhnya berbalut salju.
" Mengapa kamu mengubah nama ?" Tanya Erika
" Pekerjaan ku berbahaya, aku harus menggunakan nama palsu untuk menjalankan tugas" ucap loudi.
" Pekerjaan yang berbahaya ?" Ulang Erika.
" Aku bagian dari organisasi Tiger gold, aku yakin kamu sudah tau organisasi itu" ucapnya.
" Tidak mungkin, bukanya mereka adalah mafia ?" Ucap Erika tidak percaya.
Loudi mengangguk, " itulah sebabnya aku tidak bisa menemuimu selama ini" ucap loudi.
Pria itu berdiri " akupun tidak bisa berlama-lama di London. Huh, aku kemari untuk mengucapkan selamat tinggal padamu" ucap laudi yang mengeluarkan nafas panjang.
Erika menggeleng, dia berlari lalu mendekap pria yang baru kembali itu.
" Tidak ! Jangan pergi kumohon !" Ucap Erika yang terisak.
" Tetaplah bersamaku" lanjutnya.
" Lupakan aku Eri, terlalu berbahaya jika polisi tahu kamu dekat dengan Louis camel ini" ucap loudi.
Erika mempererat pelukannya, " tidak ! Biarkan aku masuk ke. Organisasi" ucap Erika
Loudi membulatkan matanya "tidak, itu berbahaya !" Tolaknya.
" Lalu bagaimana denganmu ?" Tanya Erika.
" Sudahlah, selamat tinggal aku harus pergi sekarang" ucap loudi yang berjalan menjauh.
__ADS_1
" Jangan tinggalkan aku lagi, loudi !" Teriak Erika.
Tangan gadis itu mengepal. Dirinya sudah mantap untuk masuk pada organisasi ganas itu. Perdagangan ilegal bahkan pembunuhan Erika sudah siap. Dia tidak akan melepas loudi begitu saja.