
Pagi ini sangat membosankan, tidak ada hal untuk dilakukan. Ya selain mandi, melanjutkan dengan memakan sebuah roti gandum dengan selai kacang. Lalu kembali ke kamar, mengchek beberapa file dan memastikan mensave semuanya dan setelah itu, aku akan bersantai di kasur. Hari libur memang menyenangkan namun membuat bingung harus melakukan apa ? Tidak ada pekerjaan dan pacar. Sebentar, pacarku kemana ?
Hmm, dia sekarang sedang ngelanjutin kuliahnya di Jogja, sementara aku tetap berada di Lampung. Awalnya tidak ada pemikiran bahwa hubungan ini harus berjalan secara daring. Iya serasa pacaran dengan laptop.
3 tahun aku dan dia membangun komitmen, berfikir ini itu untuk kedepannya. Kata dia " pokoknya kita berjuang bareng bareng, bakal ada aku disini "
Kata kata itu selalu aku tanamkan dalam diriku yang terkadang ingin menyerah. Ayok sebentar lagi !
Cuma melihat wajahnya, itu akan menjadi support bagiku untuk menyelesaikan tugas terakhirku sebelum melangkah ke persidangan. Iya tugas sakral itu bernama " skripsi "
Horor banget kalo membaca 7 huruf menyeramkan itu, otakku biasanya akan mengingat ke kejadian 4 hari yang lalu. Dimana pak Rifki membuatku merevisi hampir semua halaman ! Bayangkan ! Betapa susahnya bikin rumusan masalah dan itu langsung kena revisi.
Dan saat saat dwon itu, aku butuh ' Dia '. Apa hal itu juga terjadi sama dia ? Mungkinkan aku yang jadi support utamanya ?
Terkadang pikiran tentang kehidupan dia di Jogja menjadi topik yg membuatku merenung sebelum tidur. Bayangan mengenai hubungan kami kedepannya juga sama, apa akan tetap ada ?
Aku mengacak rambutku frustasi, oh begini yang namanya over thinking. Ternyata menyesakan juga.
Treng !
Dering telfon berbunyi, segera ku ambil ponsel genggam itu dan menaikan ikon telfon warna hijau. Ternyata dia yang menelfon.
Secepat mungkin aku bangun dan berposisi duduk menyender ke tepian ranjang sambil mengucek suaraku, memastikan itu tidak serak.
" Hello Queen, dah bangun belum " sapa nya yang mungkin sedang menyeruput kopi instan seperti kebiasaannya.
" Hmm king, udah nih, malah nggak bisa tidur. Kepikiran skripsi terus " ucapku merajuk.
Terdengar kekehan di gawaiku, pasti bibirnya membentuk lengkungan berserta 2 lubang manis itu tengah tercetak sekarang. Aku ingin melihatnya.
" King, pengin Videocall " pintaku lalu menghubungkan dengan Videocall.
Dia menerima permintaan itu, sekarang aku bisa leluasa memandang miliku di gawai.
" Cie udah mandi " Ledeknya dengan senyuman kesukaanku.
" Udahlah " ucapku dengan bangga.
__ADS_1
"king aku kangen " akhirnya kata itu lolos dari bibirku yang terasa kaku.
Lagi lagi, senyum itu terukir. Kacamata yang kurasa sudah dia ganti tidak bisa menutup sorot rindu. Aku yakin kesayanganku juga merasakan hal yang sama.
" Aku juga kangen sama Queen ku " ucapnya dengan tatapan yang menghangat.
Aku juga membalas Lengkungan itu dengan senyuman tulus. Tidak bisa diukur rasa rindu yang indikator pun sudah menunjuk pada titik maksimum. Tangan dengan garis nadi biru itu kepala ku sudah rindu untuk di usapnya
Dan tidak ada percakapan lagi, kami hanya saling memuaskan diri untuk menatap satu sama lain. Menahan rindu dalam sebuah hubungan bukanlah hal yang gampang. Sekala 3,5 tahun dan kami tinggal menyelesaikan uraian waktu selama 1 semester lagi. Lalu aku akan berpuas diri meluk tubuh hangatnya.
" Sabar ya sayang, sebentar lagi. Tunggu aku " ucapnya yang tak sadar bulir bening itu telah jatuh.
" Pasti, queen cuma bisa sama king " tegasku, membuat kita berdua saling terkekeh.
" Lagi libur queen ? " Tanyanya.
" Iya nih, pengin tiduran aja " ucapku sekenanya.
Dia memaklumi balasanku, sudah khatam betul sang mata empat itu dengan kebiasaan ku yang benar benar pemalas.
" Males banget jadi cewek " katanya.
" Dasar, eh katanya Tohir nikah sama Salwa ? " Tanyanya.
" Iya, kemaren aku kondangan. diledekin sendirian lagi. " Ucapku mengerucutkan bibir.
" Dekornya bagus nggak " tanyanya lagi.
" Ih bagus banget, kesannya itu mewah. Padahal simpel loh. Terus itu, catering nya enak asli " ucapku menceritakan pengalaman kondangan ke pernikahan teman kami.
" Btw ngapain kamu nanyain itu ? " Gantian aku yang bertanya.
" Buat referensi " sahutnya.
" Ambigu banget, referensi buat apa ? "
" Katanya bagus, besok kalo kita nikah tanya aja dekor sama catering ke Salwa. " Ucapnya.
__ADS_1
Wajahku bersemu mendengar penuturannya. Dekor ? Apa jenjang pernikahan itu akan kami lewati ? Memikirkan itu membuatku malu malu sendiri.
" Iya nanti aku tanya ke Salwa " ucapku dengan menunduk. Dia sepertinya mengerti aku sedang malu sehingga bulan sabit tercipta dari bibirnya.
" Queen, besok lagu hajatannya perfack Ed Sheeran sama yg baeutiful in white ya " ucapnya, lagi lagi aku dibuat malu malu.
" Terserah kamu, yang penting lagu love shot sama reguler nggak ketinggalan " ucapku tak mau kalah.
" Ya masa nanti yg kondangan nge fanchat " ucapnya terkekeh.
Aku menatap dalam wajah tertawa itu. Terasa semerbak warna yang telah ia berikan pada 6 tahun hidupku. Aku ingin tetap warna itu yang menghiasi ruang kosong si hari. Benar, yang ku ingin hanya dia, my king.
" Kamu serius ? " Tanya ku menghentikan tawanya.
Dia tidak menjawab sampai aku memulai kembali percakapan.
" Aku kangen kamu king " lagi lagi ungkapan dari hatiku terucapkan. Aku sudah tidak bisa menahan air mataku yang meminta untuk lolos dari asalnya.
Aku menangis, runtuh sudah pertahanan ku. Serangan bernama rindu itu telah mengobrak Abrik pondasi bagiku untuk bertahan. Ucapannya mengenai jenjang pernikahan, membuat hasrat ingin bertemu makin menjadi jadi. Hanya dia yang aku inginkan.
" Hust, queen jangan nangis. Maafin aku " ucapnya, dia membuka kacamata miliknya.
" Aku kangen sampe nggak tahu harus apa. Aku sayang sama kamu king " ucapku di sela isakanku
" Badai dengan nama rindu emang dasyat queen. Tapi kita bisa bertahan sampai akhir dari badai itu. Aku janji, kita bakal duduk di tempat Tohir dan Salwa kemarin " ucapnya.
Aku percaya itu king...
" Udah dong nangisnya, padahal kamu baik baik aja tuh 8 tahun sama Chanyeol padahal nggak pernah ketemu " ucapnya.
Aku tertawa, bisa bisanya menyamakan itu dengan hubungan halu ku dengan Chanyeol. Kepalaku mengangguk dan senyumku yang tadi pudar mulai terbentuk kembali.
" Iya iya, pasti kita bisa ngelewatin ini sebentar lagi. Semoga hubungan aku sama kamu langgeng ya. Kayak aku dan Chanyeol " aku kembali tertawa dengan penuturan ku.
" Gitu donk, kan lebih cantik kalo senyum " ucapnya
Kami kembali saling tatap untuk waktu yang lama. Rindu memang berat, namun bertahan itu lebih berat. Kami harus tetap pada jalan ini sampai sang pemilik cinta mau menyatukan kami di pertigaan yang menuju 1 jalan yang sama.
__ADS_1
Bertemu dengannya adalah keberuntungan bagiku. Membangun komitmen dengannya itu merupakan bagian terindah untukku memelihara keyakinan yg terkumpul di hati kami masing masing. Lalu menjalani hubungan dengan berbeda darat dimasukan ke dalam ujian dalam jalan percintaan kami. Aku yakin badai bernama rindu ini akan segera usai dan aku yakin setelah badai akan ada hari terbaik.