
Namanya viena, seorang yang sekelas denganku. Dia tidak terlalu mencolok dibandingkan siswi lainnya, namun karena itulah aku tertarik Berteman dengannya.
Seperti biasa jam istirahat digunakan bagi siswa untuk makan siang entah memakan bekal dari rumah ataupun membeli di kantin. Namun berbeda dengan viena, dia duduk diam di bangkunya sambil menatap lesu pada mejanya yang kosong. Ini bukan pertama kalinya, dan perlahan viena menarik simpati ku.
" Ini aku ada makanan " ucapku saat meletakkan nasi bungkus telor dadar di mejanya.
Dua menoleh ke arahku dengan tatapan tanyanya. " Uang mu nanti habis loh " ucapnya
Aku merasa lucu dengan tuturannya.
" aku bawa bekal kok " jawabku lalu tersenyum simpul dan beranjak ke bangkuku
Sejak saat itu kami berteman baik,tidak ada waktu yang dihabiskan tanpa dia dan 2 temanku yang lain, ada si bikin masalah bernama arkie dan si emosian namanya Amanda. 2 orang itu secara bergiliran datang ke kelasku pada semester yang sama. Hanya beberapa waktu aku dan viena mencoba mengobrol. kami pun tak lama menjadi teman.
Dalam lingkup pertemanan kami, tentu saja punya makanan favorit. Tepat, itu adalah nasi bungkus telor dadar milik Bu Romlah. Terkadang saat kami datang lebih cepat maka akan kebagian sayur kangkung berserta kerupuk. Maka dari itu kami akan izin ke toilet saat jam istirahat akan datang, strategi yang bagus bukan ?.
" Shhst, Jafran buruan ijin. Nanti nggak kebagian kerupuk sama sayur kangkung " bisik Amanda yang duduk dibelakangku.
Aku mengangguk dan mengisyaratkan kata ok dengan jari ku. Aku angkat tangan dan seluruh siswa melihatku, hehe jadi sangat canggung.
" Kenapa jaf ? " Tanya pak guru.
" Itu pak, saya kebelet izin ke toilet ya pak " ucapku tidak sepenuhnya bohong, karna setelah dari toilet aku akan langsung ke kantin.
" Jangan lama lama " ujar pak guru.
Aku melangkah meninggalkan kelas dan menuju ke toilet terlebih dahulu. Setelah selesai dengan urusan ku tak mengunggu lama aku kembali melesat ke kantin. Dengan mengendap endap aku mendekat pada warung Bu Romlah"
" Bu nasi bungkus telor dadar nya 4 ya, jangan lupa sayur kangkung nya. Kerupuknya dibanyakin ya Bu " pesanku.
Bu Romlah mengangguk mengerti lalu menyiapkan makanan yang sudah aku pesan. Seperti dugaan ku, jam istirahat telah tiba, 2 biang rusuh itu sudah tergepoh gepoh mendekatiku lalu berebut bangku di sebelah kanan agar bisa leluasa melihat kakak kelas yang wajahnya, subhanallah.
" Gue duluan " ucap si arkie
" Nggak item gue udah cup bangku yang ini " tangkas si Amanda yang menarik kursinya.
" Nggak usah bawa warna kulit lu, rasis tau " arkie mulai kesal.
" Udah udah, monyet sama kodok nggak boleh bertengkar " ujar viena.
Aku tertawa dengan Kalimat lucu itu.
" Enak aja cantik gini di katain kodok " ucap Amanda tidak terima.
" Kan emang bener " ejek si arkie yang masih tertawa.
__ADS_1
"Tapi kalo lu kodok gue monyet donk, gila si Manda " arkie memukul pundak Amanda pelan.
" Loh bener lah, sama sama item kan ! " Sahut Amanda.
Aku yang tidak kebagian dialog ini hanya mengisi percakapan mereka Dangan tertawa renyah.
Begitulah siklus pertemanan kita, kadang berantem tapi selalu ada saat yang lain membutuhkan. AW so sweet.
Ada lagi ketika arkie sedang pendekatan dengan teman satu eskulnya. Mereka biasanya berbincang di terang kelas 10 yang menghadap lapangan basket. Pada saat pelatih mengakhiri kegiatan eskulnya, secara otomatis mereka langsung berjalan beriringan duduk di teras.
Mengobrol satu hal dan lainnya hingga beberapa kali diselipi guyonan. Kebetulan Amanda dan viena yang kembali setelah dari toilet. Otak kecil Amanda berniat menjaili si bujang yang sedang kasmaran itu sebelum kembali ke kelas.
"Sssst " ucap Amanda yang berbisik.
2 kali dipanggil Amanda namun si hitam itu tidak menyahut, kesal dengan kuping bermasalah milik arkie, Amanda menyuruh viena untuk memanggilnya.
" Arkie " panggil viena lembut.
Sontak yang dipanggil pun menoleh, menaikan alisnya berisyarat "why"
Aku yakin Amanda akan bicara kasar dalam hati.
" Kie, bawah " Manda menunjuk bagian bawah arkie.
" Sleting kebuka " jawab Manda.
Sontak arkie langsung memegang bagian sleting celananya yang ternyata masih tertutup.
" An- astagfirullah !! " Teriak arkie saat mengetahui rivalnya tertawa menjauh.
Lucu bukan ?, Itu tadi beberapa tingkah polah dari 2 sahabat ku. Mengenai aku dan viena, sangat jarang ada peristiwa lucu seperti yang dialami tom and Jerry tadi. Sebenarnya kalau boleh jujur, aku dan viena orang yg serius, serius dalam hal apa ?, Tentu saja dalam hubungan. Eh tidak maksudku dalam belajar, iya belajar .
" Jaf, kamu belum pulang ? " Tanya Viena.
" Iya baru selesai osisnya " sahutku menimpali.
"Loh Vie, kamu juga masih disini.mau pulang sekarang ? " Ucapku berbasa basi.
" Iya, angkotnya udah susah jam segini " sahut viena yang memandangi kendaraan yg lalu lalang.
Kembali viena merebut simpati ku. Dengan dermawan seorang pangeran keren ini menawari tumpangan pada sahabatnya. Tentu saja viena terima berhubung hari sudah sore.
Kami berboncengan dengan tangan viena memegang ujung baju ku kuat, kami membelah jalanan yang tidak begitu macet, namun tetap harus terhenti saat ada lampu merah.
Terkadang aku pun berfikir, apa benar kata Amanda bahwa aku dan viena terjebak friendzone. Dimana berinteraksi seperti pasangan namun tidak berstatus apapun selain teman ?, Kayak di gantungin gitu.
__ADS_1
" Jaf !! Jafran !! " Teriak viena.
" Jafran kebablasan, rumahku di belakang " ucapnya lagi.
Lantas aku menginjak rem yang membuat tubuh viena tertabrak pada punggungku.
" Ngelamun apa sih sampe nggak fokus " viena mencopot helmnya.
" Hehe, sorry tadi banyak agenda OSIS " bohongku. Padahal dia yang dipikirin.
" Lain kali jangan gitu, bahaya. Ya udah aku masuk dulu. Hati hati dijalan, jangan lupa langsung makan maag kamu dah parah, nanti sakit" viena izin dan berbalik berjalan kearahnya.
Dug dug dug
Itu bukan suara detak jantungku, tapi suara dari musholla pertanda solat magrib akan tiba. Akupun menjalankan motorku pulang.
1 tahun kemudian, kami sama sama lulus. Perpisahan diadakan sederhana karna covid menyerang. Kamipun sudah merencanakan hal yg dilakukan kedepannya. Sesak sih rasanya ketika tau jika kami berbeda arah. Bagaimana caranya untuk bisa bersama ? Adakah waktu untuk sekedar ngopi bareng ?
Tuh kan sedih, tapi mau gimanapun Kita harus ikut takdir kan ? Walau berpisah 🥺.
So, di perpisahan kali ini kami berempat memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama. Setidaknya akan ada foto yg dipandang jika rindu pada mereka.
" Hiks, gue nggak mau pisah sama kalian " Isak Amanda.
" Sama gue juga " balas arkie yg sama muramnya.
" Semakin besar pasti semakin sibuk buat ketemu kayak gini " tutur viena. Kami mengangguk serempak.
Raut sedih tidak bisa disembunyikan lagi. Di masa SMA kami dipertemukan dengan kenyamanan namun harus dipisahkan dengan tujuan.
" Udah lah, makan yuk " ajak ku.
Kami mengambil masing masing satu nasi bungkus telor dadar dan memakannya.
" Gue bakal kangen rasa ini " ucapku.
" Aaaa !, gue jadi sedih " tutur Amanda
Diapun menengok kearah bungkusan milik arkie, dan mengambil kerupuk miliknya. " Minta kie " pinta Amanda yg diangguki oleh arkie.
" Kita bakal kontekan terus kan " kali ini viena yg berucap.
" Pasti kita nggak boleh lost kontak " sahut cepat arkie.
Kamipun kembali makan, sesekali bercerita tentang kedepannya. Dan beberapa kali kami juga mewek berjamaah. Tau kan, rasanya kalo mau pisah dengan teman yang sefrekuensi, rasanya ah mantab. Tapi yang pasti kami sudah berjanji untuk tetap berhubungan meskipun aku dan Amanda harus pindah ke luar kota untuk pendidikan selanjutnya. Hmmm, udah mulai kangen nih. Kapan yah kumpul bareng lagi ?
__ADS_1