
Aku menatap denting hujan yang sayup terdengar.masih seperti tadi ku hanya duduk di depan jendela dan menikmati gemericik air yang menyatu dengan tanah.Menurutku hujan bukan hanya sebuah air yang jatuh karna awan karena sudah tak bisa menampung. Mereka punya ceritanya sendiri yang pada akhirnya membuat mereka ada di tanah.
Bukanya memang semua hal memiliki kisah ?. Jika boleh Ijinkan ku bercerita mengiringi rintik ini yang tak kunjung usai. Ini bukanlah kisah yang membuatku ingin mengulang kembali, cukup ku kenang dan itu akan abadi selamanya.
Beberapa kelopak sakura berterbangan sejalan mengikuti angin yang membawanya. Semua orang berbondong-bondong menikmati musim semi yang baru saja mulai. Diantarnya membawa keluarga untuk sekedar makan siang ada juga yang disini hanya untuk duduk sambil memotret bunga merah jambu yang menjadi ikon negara. Benar, ada banyak cara untuk menikmatinya. Begitupun aku dan seorang yang berada di depan ku. Dia sedang memejamkan mata dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Aku membenarkan letak syalnya.
" Ayok pulang!" ajak ku.
Dia menggeleng tanpa membuka matanya, Mungkin ia masih betah di sini. Sesaat kemudian ia bersin dan menggosok hidungnya yang merah. Aku berjongkok dihadapan nya merangkup mukanya . Pasti dia menghirup terlalu banyak serbuk sari dari bunga sakura yang tertiup angin. Aku kembali mengajaknya pulang tapi tetap saja ia balas dengan gelengan. Pria ini benar-benar tidak bisa di bedakan dengan anak kecil. Aku akan dimarahi jika membawanya terlalu lama, dia butuh istirahat sepanjang hari dengan iming-iming agar cepat sembuh. Tentu, siapa yang mau dikurung dan hanya bisa berbaring, mau jalan saja harus pakai kursi roda, pasti dia bosan.
" nar ayok pulang, kau ingin aku di marahi oleh mamamu jika membiarkan mu di luar lebih lama!" Tegasku.
Dia membuka matanya dan menarik tanganku hingga mukaku hanya tinggal beberapa senti lagi menuju wajahnya.aku menahan nafas ku serta menutup mata Dan...
Plak!
Dia menjitak kepalaku,hancur sudah ekspetasi ku tentang adegan drama dan sinema remaja yang kemarin aku tonton. Dia mendengus kesal, hei bukanya aku yang harus marah.
"Aku bilang nanti, kita tidak bisa menikmati musim si setiap hari. Jadi diam saja dan nikmati ini" ucapnya cemberut.
" Hey anak manja. Ini sudah lebih dari 30 menit dan aku tidak peduli kau mau pulang atau tidak" ucapku mendorong kursi rodanya menjauh dari taman.
Tentu dia tidak habisnya mengomel sampai kami tiba di ruangannya. Ia bilang ia hanya menghabiskan 30 menit di luar sedangkan dia harus pasrah 23 jam lebih 30 menit tinggal di ruangan dengan baju hijau polos yang tidak punya fashion. Bukanya cukup aneh mengapa Tuhan titipkan penyakit yang begitu berat pada sosok ceria seperti dia. Apa kesalahnya di kehidupan masa lalu hingga ia mendapat banyak masalah ?. Ini sudah ke 3 kalinya ia dirawat di rumah sakit yang berbeda, bahkan hingga kami harus booking pesawat untuk merawatnya di Jepang.
Penyakitnya baru di ketahui saat ia tiba tiba muntah darah saat home schooling bersamaku. dia didiagnosa memiliki tumor di otak. Aku meringis ngeri saat menemaninya minum obat, banyak pil berwarna warni dengan bermacam bentuk yang harus ia minum di waktu yang sama. Tapi lihatlah, dia tidak menyerah dia masih bisa becanda ataupun melontarkan lelucon aneh seakan menipu orang lain bahwa ia baik baik saja.Dia tidak punya teman tapi memiliki penyakit ganas, sungguh kainan yang malang.
Setelah aku mengantarnya ke rumah sakit ibunya bilang kaivan harus melakukan kemoterapi, dia juga bilang kemungkinan besar rambutnya rontok dengan jumlah yang besar. Ya Tuhan bisakah kau beri satu kali saja keringanan untuknya.
Sekarang aku tengah menuju kamarnya 2 jam lagi kemoterapi akan mulai, aku harus bisa memenangkannya agar dia tidak menolak dan mau menjalani perawatan ini.Dia duduk menyender di bantal ranjangnya sedangkan aku sudah duduk di sampingnya setelah meletakan buah dan yogurt.
"Apa aku harus menjalani kemoterapi ini?" Tanyanya.Aku mengangguk dan menggenggam tangannya.
" Itu semua agar kau cepat sembuh, kau sendiri yang bilang kalau mau menghabiskan waktu di musim semi, jadi kau harus sembuh. Okey"
Dia terkekeh lalu menghela nafas" semua perawatan yang aku lewati selalu dengan iming iming sembuh, tapi lihat tidak ada yg berubah" ucapnya.
Aku menahan air mataku yang berusaha menerobos keluar, benar mungkin dia sudah lelah. 2 tahun dia berjuang sendiri bertarung dengan penyakitnya. Entah sudah berapa banyak selang yang pernah masuk dalam tubuhnya begitupun dengan beraneka macam pil obat yang harus dia minum. Jika aku ada di posisinya mungkin dari dulu aku akan menyerah dan membiarkan tumor yang ada di tubuhku perlahan membunuhku. Tapi kaivan berbeda dia kuat, dia mampu menghadapi banyak ruang medis sendiri. aku yakin kali ini dia juga bisa.
"Percaya padaku kali ini pasti berhasil" ucapku.Dia menatap mataku lekat kemudian tertawa.
__ADS_1
" Kau menangis?, Cengeng sekali bukanya aku sudah melewati berbagai perawatan semacam ini mengapa baru menangis sekarang?" Ucapnya aku memukul nya dengan bantal.
" Kau hanya boleh menangis saat aku sudah mati" ucapnya dengan tertawa.
Bisa bisanya dia menjadikan mati sebagai lelucon, apa dia lupa kalau mati bisa saja menghampiri nya sekarang.
" Berhenti tertawa, sebentar lagi perawat akan mengurusmu untuk kemoterapi" ucapku beranjak pergi.
"Setelah aku melewatinya apa kau akan masih bersama ku?" Tanyanya.
" Aku akan selalu bersama mu" ucapku tersenyum dan keluar dari ruangannya.
Beberapa perawat masuk dan mempersiapkan kaivan untuk kemoterapi nya. Dia terbaring dengan selang saat ia didorong menuju ruangan tertutup itu. Aku dan orang tuanya sementara ini hanya boleh mendampinginya dari luar. Ayah kaivan dari tadi hanya bolak balik di kursi tunggu sedangkan aku berusaha menenangkan ibu kaivan yang belum berhenti menangis. Pasti sulit harus menunggu di luar sedang anaknya tengah berjuang di meja operasi.
setelah empat jam aku masih tidak melihat tanda-tanda seseorang akan keluar dari ruang kemoterapi. Semoga tidak ada masalah yang menghambat. Dia sudah mengalami begitu banyak kesulitan jadi Tuhan selamatlah dia. Aku berusaha tenang dan berdoa hingga ruang operasi terbuka dan memperlihatkan kaivan yang didorong lagi ke ruangannya. Aku bersyukur ketika tau tidak ada kendala saat kemo terapi dan aku bisa menemuinya saat siuman.
Oh kaivan, ayolah mau sampai kapan kau tertidur ? ini Sudah 2 jam dan aku meninggalkan makan malam ku untuk menunggumu.Huh mengapa ia tertidur terlalu lama aku penasaran dengan keadaan rambutnya. Apa dia benar benar botak?, Aku pasti tertawa ketika meledeknya mirip animasi kartun di televisi.
Namun tak lama perawat bilang kaivan siuman setelah ayah dan ibunya menemui nya kini saatnya aku yang menjenguk nya. Bertepatan dengan jadwal nya minum obat, jadi sekarang aku yang menemaninya. Aku membuka knop pintu dengan tangan kanan ku sedangkan sebelahnya lagi ku gunakan untuk memegang nampan.
" Hei" ucapku duduk di kursi jenguk.aku menyodorkan beberapa pil obat dan memberikan air mineral untuk memperlancar ketika ia menelan.
"Sejak kapan kau peduli dengan penampilanmu ?, Sudahlah apapun yang terjadi kau tidak akan berubah" ucapku menyuapinya bubur. Dia menerima suapanku dan menelannya." Tapi kau terlihat lebih baby face dengan rambut botak" ucapku tertawa." Berhenti tertawa dan mengejekku" kesalnya.
Aku berhenti tertawa dan mulai menyuapinya lagi. Aku berada di ruangannya sampai yakin kalau anak manja ini terlelap. Saat dia benar-benar tertidur aku mengambil nampan dan keluar dari ruangannya. Ayah dan ibunya masih ada di luar, aku menyapa mereka namun mereka tampak serius dan sedikit sedih.
Ibunya berkata padaku, kemoterapi memang berjalan lancar tapi sama sekali tidak ada perubahan pada keadaan kaivan.Tumornya masih belum bisa terangkat oleh sebab itu dokter mendiagnosa jika kesempatan hidup untuk kaivan hanya tersisa 2 bulan. Dokter juga bilang jika satu satunya jalan agar kaivan bisa terus hidup hanya operasi tumor. Itupun punya resiko bahkan tak bisa di pungkiri bahwa bisa saja kehilangan nyawanya. Aku menutup mulutku tak percaya, sebegitu kecilkan kesempatan untuk kaivan bertahan. Kali ini aku harus benar benar menemaninya.
Keesokan harinya seperti biasanya aku akan menemuinya ke rumah sakit. pasti dia masih tertidur di ranjang putihnya. Baiklah aku akan membuat kejutan untuknya, sebelum aku pergi ke rumah sakit aku menyempatkan diri untuk membeli 1 buket bunga dan beberapa aksesoris musim semi yang terkenal. Peper bag dengan aksesoris sudah ada di tangan ku serta kubawa buket bunga dengan tangan yang lain.
Aku melihat jam tanganku, telat 15 menit mungkin dia sudah bangun. Aku mempercepat langkah ku agar bisa cepat sampai di rumah sakit. Setelah menyebrangi trotoar dan menyusuri lobby akhirnya aku sampai di kamarnya. Benar, dia sudah bangun dan menatapku yang memasuki kamarnya. Aku melambaikan tangan dan menaruh peper bag dan buket bunga di nakas dekat ranjang.
"Hei, apa tidurmu nyenyak ?" Tanyaku. Tanpa ekspresi dia hanya menoleh dan memalingkan wajahnya. Aku menatapnya heran, mengapa dia?.
"Apa orang yang hanya memiliki waktu 2 bulan harus diperlakukan seperti ini?" ucapnya, aku membelalakkan mataku. Apa dia sudah tahu? Dan tersinggung dengan apa yang aku lakukan. "Kau sudah tau?" Tanyaku. "Kau seharusnya memperhatikan situasi saat berbicara" ucapnya.
Aku tidak enak dengan apa yang terjadi, bagaimana rasanya jika kau tau bahwa hidupmu tidak lama lagi aku tidak bisa membayangkan tapi kaivan merasakannya.
"Aku punya 1 permintaan... Mungkin terakhir" mohon nya. aku mengangguk
__ADS_1
"aku ingin menghabiskan 1 hari ku di taman sakura"lanjutnya. Ternyata ibu kaivan menyahut dari belakang dia mengijinkan kaivan untuk keluar lebih lama. Aku mengangguk dan membiarkan kaivan berganti baju.
Kami kini berada di taman sakura yang terakhir kalinya kami kunjungi. Dia tersenyum penuh arti aku berfikir apa benar dia akan pergi?. Membayangkan nya saja sudah membuatku menangis."hei" panggilnya. Aku menoleh dan jongkok di depannya.
" Terimakasih sudah bersama ku saat aku jatuh. Tapi ingatlah setelah semua selesai kembalilah pada kehidupan mu, waktumu terlalu banyak tersita untuk menungguku, jadilah seperti gadis yang lain. Carilah pasangan dan berteman dengan banyak orang atau lakukan apa yang belum kau lakukan" ucapnya.
Cukup aku sudah tidak tahan air mataku berhasil lolos, aku terisak aku belum siap kehilangannya. Dia satu satunya teman yang aku punya. Ketika dia pergi aku benar benar sendiri. Aku menggeleng cepat.
" Ketika operasinya berakhir kita bisa leluasa datang saat musim semi jadi.... Semangat lah" ucapku.
Dia tersenyum kami menatap satu sama lain dalam waktu yang lama sampai kami menyadari ini sudah siang. Besok adalah hari oprasinya, dia butuh istirahat untuk berjuang lebih keras esok. Aku berusaha mengajaknya pulang walau aku menerima beberapa penolakan tapi untungnya dia bisa juga dibawa pulang. Aku tersenyum sebelum keluar dari ruangannya. Dia harus bersiap untuk besok.
Dari jam 3 kami sudah berada di rumah sakit oprasipun sudah di mulai.para perawat melarang bkami masuk dan membuat kami hanya menunggu di depan.nafsu makanku lenyap seketika saat pertemuan terakhir ku sebelum dia operasi. Ini adalah hari bersejarah baginya sekaligus hati penentu hidup dan mati.
Setelah jam menunjukkan pukul 15.42 dokter yang menangani operasi keluar dan menyuruh orang tua kaivan menemuinya. Aku juga melihat kaivan terbaring dengan perban di kepalanya. Ku harap dia baik baik saja. Aku belum bisa menemuinya dan hanya bisa mengintip dari kaca pintu. Tangannya di infus serta ada selang oksigen di hidungnya. Saat aku tengah memperhatikan kaivan tiba tiba ibunya menepuk pundak ku. Mereka berkata jika operasi kaivan berjalan lancar dan sukses,Nyawanya tertolong dan bisa bertahan hidup.
Aku tersenyum lega akhirnya apa yg di perjuangkan kaivan terbalas sudah. Namun tak sampai di situ dokter bilang terjadi kesalahan di bagian syaraf otak dan akibatnya kaivan mengalami amnesia berat dia tidak mengenali dirinya dan semua ingatannya hilang atau dengan kata lain dia terlahir kembali.
Aku tercengang, artinya semua kenangan yang kami lakukan akan lenyap?. Orang tua kaivan bilang mereka akan memulai kehidupan baru dan melupakan semua masa lalu yang akan mengingatkan kaivan tentang penyakitnya. Dengan maksud lain mereka memintaku tidak menemuinya lagi. Aku hanya akan mengingatkan ya akan kesulitan yang ia hadapi. Walau berat tapi aku harus, demi kaivan aku akan menjauh.
Aku memohon pada orang tuanya agar membiarkanku menemui nya untuk terakhir kali. Mereka setuju. Masih dalam keadaan yang sama dia masih terlelap karna pengaruh bius. Aku mengusap kepalanya.
" hei anak manja, mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku senang kau sembuh dan bisa menjalani hidup seperti yang lainya tapi maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamamu" ucapku.
Air mataku menetes, sungguh ini adalah perpisahan terberat yang aku rasakan. Aku menghapus air mataku dan mengelus wajahnya sebelum aku keluar dari ruangannya. Tidak, aku benar-benar keluar dari hidupnya. Mungkin ini yang terbaik untuknya dan untukku. Setelah ini kami akan menjadi orang asing yang tidak mengenal. Tapi terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku walau kau akan melupakan kenangan kita.
Setelah hari itu aku benar benar tidak tau kabarnya, waktu berjalan dengan cepat. Kamipun beranjak dewasa. Aku tidak bisa menolak untuk tidak melakukan apa yg seharusnya terjadi. Ya aku Lulus kuliah, bekerja dan menikah. Mungkin itu juga yang dilakukan oleh kaivan.
" Ada orang di luar cari kamu " ucap seorang pria yang membuka pintu kamarku.
Segera aku rapihkan bajuku dan beranjak menuju ruang tamu dan membuka pintu utama. Aku juga sedikit penasaran siapa yang mencari ku ?
" Iya, cari saya ? " ucapku pada orang yg belum ku lihat wajahnya.
" Bisakah tinggalkan nomor telfon jika akan pergi ?" Ucapnya.
Sebentar, suara ini. Aku terkejut bukan main mendengar suara yang sudah 9 tahun ini tidak aku dengar. Tapi aku hafal betul pemilik suara ini. Namun benarkah ini dia ?. Aku melihatnya dengan intens dari ujung sepatu hingga wajahnya yang tumbuh rambut rambut kecil di bawah hidungnya.
Mulutku kaku dan mataku tidak dapat menahan tetes air yang membendung. Benar dia kaivan, wajahnya terlihat sedikit dewasa dan tubuhnya jauh lebih tinggi di Banding terakhir kali kita bertemu.
__ADS_1
" Senang bertemu denganmu lagi, kaivan. "