Short Story For You

Short Story For You
back to December


__ADS_3

Desember...


Akhir dari tahun namun awal dari segalanya. Dia yang mengawali percik rasa pada genangan gelisah saat rintik yang bagai serdadu menghujam bumi.


Agaknya ini adalah akhir dari musim hujan. Karna rinai lebih deras dari biasanya. Padahal ramalan cuaca bilang jika hati ini cerah berawan. Apakah pengamat cuaca sedang keliru ?


Masih bersama hujan, dan orang yang tertipu ramalan cuaca sepertiku. Bisa dilihat, mereka tidak membawa payung dan berniat meneduh sejenak.


Ku lihat gawaiku, belum ada balasan darinya. Huh, lebih baik aku mengatakannya saja. Dari pada membuatnya menunggu saat akupun tidak yakin akan tepat waktu menuju ke tempatnya.


Maaf hujannya tambah deres, aku nggak bisa janji bakal Dateng


Aku mengirimkan pesan singkat itu lalu menaruh kembali ponselku ke saku. Baiklah, setelah sedikit reda aku akan pulang saja.


" Kenapa nggak jadi ? " Tanya seseorang di belakangku.


Aku tersentak kaget dan berbalik melihat siapa yang tadi bertanya.


" Kamu disini ? " Aku balik tanya padanya.


Dia mengangguk tanpa berucap. Akupun mengajaknya meneduh di sebuah warung lotek pinggir jalan yang lumayan sepi.


" Makan mie rebus ya " tawar ku


Dia kembali mengangguk. Aku hendak memesan namun mendadak berbalik ke arahnya lagi.


" Rasa apa ? " Tanyaku.


" Kari ayam " akhirnya dia berbicara.


Aku memesan 2 mangkok mie rebus dan kembali duduk di sebelahnya.


" Kehujanan yah " ucapku yang menyadari banyak rintik di jaket kulitnya yang menetes.


Kembali dia mengangguk, setelah itu canggung menghampiri. Untuk mengisi waktu selagi mie datang aku hanya membuka ponsel dengan asal supaya terlihat sibuk, begitu harapanku.


" Mel, " panggilnya.


Aku terkejut saat lelaki itu memanggilku, namun dengan sigap aku menoleh kearahnya.


" Ya ? " Tanya ku.


Akankah dia mengatakan sesuatu yang serius ? Dilihat dari jeda yang dia berikan. Kupikir dia memang berniat membicarakan obrolan kami malam tadi.


" Sekalian beli teh anget " jawabnya.


Aku hampir tertawa dengan ekspetasi ku ini. Mana mungkin kan di titisan kutub ini memulai pembicaraan.


" Ya, sebentar " ucapku lalu memesan lagi pada ibu ibu yang tengah menuang kuah mie ke mangkok.


2 mangkok mie kuah telah tersaji. Kami makan tanpa berbicara apapun. Diapun tampak serius dengan mie kari ayamnya, bahkan sepertinya dia lebih tertarik dengan itu dibanding aku.


Sebuah notifikasi pesan muncul di ponselku. Ternyata 2 temanku yang juga akan bertemu tidak jadi datang. Katanya hujan membuat jalan menjadi genangan.


Aku kembali menoleh, sama seperti tadi, teguh masih fokus dengan mie nya. Kembali aku urungkan niat untuk mengganggu keseriusan teguh dengan mie kari ayamnya.


" Kenapa ? " Tanyanya.


Agaknya teguh tau jika dari tadi aku mencuri pandang ke arahnya.


Aku jadi kelabakan sendiri, bahkan merasa seperti ketahuan melakukan sesuatu yang besar


" itu, Winda sama Juna nggak bisa Dateng" jawabku.


" oh" jawabnya.


Teguh kembali serius dengan kuah miliknya sebelum menghabiskan teh hangat yang tinggal setengah.


" hah ? " Tanyaku tidak mengerti dengan jawabannya


Teguh menoleh.


" Udah baca di grup " ucapnya


Aku mengumpat diriku sendiri. Saat ini aku benar benar malu. Ucapanku tadi bahkan seperti alasan konyol karna telah tertangkap basah mencuri pandang pada teguh.


"oh gitu " akhirnya kata itu yang terucap setelah pusing memikirkan jawaban apa untuk mengakhiri obrolan ini.


Hujan sudah reda,dan mie serta teh hangat kami telah habis. Setelah beberapa waktu menatap rinai. Kamu putuskan untuk kembali.


" berapa Bu ? " Tanya teguh hendak membayar.


Ibu pemilik warung menjawab " 18 ribu mas, pacarnya sekalian kan ? "


Aku tersedak ludahku sendiri. Namun teguh hanya tertegun namun tak lama dia mengangguk.


" iya Bu sekalian " jawabnya


Otakku berhenti bekerja. Apa yang teguh maksud ?


" ini aku ganti " ucapku yang mengulurkan uang 20 ribu kepadanya.


Dia menoleh sebentar, lalu tersenyum.


" Aku yang tlaktir" ucapnya


" tapi kenapa ?" Tanyaku bingung


" Anggap aja, frist date " ujarnya yang membuatku berhenti berjalan

__ADS_1


...Frist date katanya ?...


...Gila...


Menyadari aku yang tak kunjung menyusul langkah kakinya. Teguh berbalik, menatapku yang mematung


" Melody, aku.." kata teguh yang tidak meneruskan ucapannya


Aku menunggu ucapan selanjutnya dari lelaki berjaket kulit itu.


" muka lu berak ! " Teriak mba Nita yang membuat seantero kantin radio terkejut


" mba..." Aku berusaha menyadarkan mba Nita karna sekarang kami benar benar jadi pusat perhatian


"sorry semuanya ! " Ucap mba Nita lagi lalu kembali duduk


" sumpah, gregetan banget sama Lo berdua " ucapnya sambil menggerutu


" kenapa mba ? " Tanyaku


" astaghfirullah melody, kalian tuh nggak sadar saling suka ! " Tutur mba Nita yang sepertinya angkat tangan dengan ketidak pekaan kami.


Masa, nggak ah bukan aku yang nggak peka. Aku cuma nggak merasakan apapun ke teguh. Tapi... Aku bahkan masih ragu dengan ini


" udah, nggak udah di pikirin. Waktu yang bakal jawab " itu ucapan terakhir mba Nita sebelum berlalu ke ruang siaran


" sendirian ? "


Aku menatap pada orang yang baru duduk di depanku,Teguh


" iya, nunggu siaran " jawabku sekenanya


" masih ada 40 menit " ucapnya sambil melihat jam tangan.


" Jalan jalan yuk " ajaknya


Lagi lagi aku dibuat terkejut dengan teguh. Tumben sekali pikirku


" kemana " tanyaku.


" muter muter " Jawabnya lagi.


Aku setuju, lagi pula nasi goreng yang aku pesan sudah habis.


Teguh membawaku ke sebuah mall yang hanya berjarak kurang dari 200 meter.


Dia berhenti di depan time zone dan masuk ke sana


Teguh membeli karcis dan membawaku ke depan mainan jepit boneka yang akhir akhir ini terkenal.


"Mau yang mana ?" Tanya teguh


" yang kuda Nil" Ucapku


Dia menatap ke arahku.


" Kenapa pilih kuda Nil ? " Tanya teguh


" lucu " sahutku


" hah ? " Ucapnya tidak mengerti


" kuda Nil itu lucu, kalo kentut lewat mulut "


Teguh tertawa kecil. Lalu berkata okey dan mulai memainkan capit bonekanya


Karcis teguh mulai menipis. Bukan dia tidak jago bermain, tapi boneka kudanil yang kutunjuk belum bisa di ambil.


" udah lah guh " Ucapku yang memintanya menyerah


" bentar ! " Jawabnya


Aku mulai bosan dan hanya menunggu si kaki panjang itu berhenti.


" guh aku mau siaran " kata itu ampuh menghentikan teguh dengan aksi capit boneka yang belum usai.


Dia melepas genggamannya pada pedal permainan itu. " Maaf, bosen yah ? " Ucapnya.


" Nggak, cuma takut telat siaran aja " jawabku yang takut menyakiti hatinya.


" Mel " panggilnya.


" Iya guh " jawabku.


Seperti biasa dia memberi jeda.


" Kamu ngerasa nyaman nggak sih kalo kita bareng ? " Tanyanya.


Aku tidak menjawab pertanyaan itu, karna sekarangpun aku bingung untuk berkata apa.


" Gini, aku ngerasain itu. Nggak tau ini suka atau cuma sekedar nyaman aja. Tapi, aku rasa terkadang aku perlu kamu " jelasnya.


Aku mematung, sebenarnya apa maksud dari teguh ?


" Kamu ngajak aku pacaran ? " Tanyaku.


" Bukan, kaya yang aku bilang tadi. Aku belum tau apa yang aku rasa itu real suka atau cuma nyaman berteman sama kamu." Ucapnya.


Dia menatapku lekat, " karna itu aku pengin pastiin. " Lanjutnya.

__ADS_1


" Caranya ? " Tanyaku.


" Tolong selalu ada buat aku, begitupun sebaliknya. Aku bakal bawa hubungan ini ke tahap serius saat aku yakin dengan perasaan ku" ucapnya.


Dan bodohnya saat itu aku meng iya kan nya. Sejak hari itu, teguh selalu bersamaku. Membuatku merasa memiliki pacar namun seiring berjalannya waktu, teguh mulai berubah. Dia sudah berani mengekang bahkan membatasi pertemanan lawan jenis, padahal aku tidak masalah jika dia melakukannya.


Rasanya aku sudah sesak, dalam hubungan yang tidak jelas ini selalunya hanya teguh yang mengatur. Bahkan aku tidak diberi waktu untuk berpendapat. Dan ya, teguh melakukannya lagi.


" Aku nggak suka kamu Deket sama Iwan ! " Bentak teguh yang sangat marah.


Aku memegang pundaknya" Cuma ngajak makan, guh " ucapku yang memberi penjelasan


Namun teguh menepis tanganku kasar. " Tinggal tolak ! Telfon aku kan bisa ! " Ucapnya.


Aku hanya bisa diam, suatu kesalahan membuatku terjengkang pada rasa yang tak jelas dari teguh.


" Guh, aku capek !" Ucapku frustasi.


" Kita bahkan nggak dalam hubungan yang jelas, sekarang coba bilang apa hubungan kita !" Ucapku yang balik teriak kepadanya.


" Saling ada kan " ucapnya.


Aku menggeleng dan tersenyum nanar, " nggak guh, yang selalu ada cuma aku. Kamu nggak pernah ada buatku" ucapku yang tak sadar air mataku menetes.


Teguh diam, tidak berkata apapun bahkan kemarahannya entah hilang kemana.


" Udah cukup kan satu bulan buat yakin perasaanmu sendiri ?!" Tutur ku


" Hubungan prapacaran kita berakhir disini " ucapku lalu pergi menjauh.


Aku mengelap titik bekas air mata yang masih basah. Aku tidak ingin ini keluar karena dia. Seorang yang ku kira dermawan dan humbel serta humoris ternyata memiliki sisi posesif yang mengekang. Itu bahkan menjadi lebih buruk karena kami tidak terikat dalam hubungan apa apa ?


Hari ku berikutnya akan terasa berbeda, tidak ada yang mengantar jemput ku, tidak ada pula yang mengajakku sarapan. Sudahlah, lupakan tentang teguh. Sudah saatnya aku merestrat hatiku untuk menerima cinta yang lain.


" Mel, aku punya calon loh buat kamu" ucap mba Nita.


Kami sedang berada di kantin radio. Tentu saja bukan hanya kami berdua, ada mas Heru dan si dia.


Mereka adalah senior dari penyiar radio ini, dan kami yang Junior terkadang menggantikan mereka saat keduanya sedang sibuk. Kami juga dekat sang sering bertukar cerita.


" Apaan sih mba, aku nggak tua tua banget buat jomblo" ucapku menanggapi tawaran mba Nita


Mas Heru hanya menimpali dengan guyonan.


" Ya lihat aja dulu, yang ini orangnya serius loh" ucap mba Nita yang menyindir teguh.


Yang tersindir hanya bersegel dan meminum es teh miliknya, tidak berniat ikut berbincang.


" Eh guh, aku juga punya kenalan buat kamu." Ucap mba Nita dengan memperlihatkan gawainya.


" Namanya Rani, cocok loh sama kamu. Sama persis toxic nya " ucap mba Nita dengan smirk nya.


Aku tersedak dengan ucapan mba Nita. Bahkan teguh pun terus melihatku.


Tanganku meraih lutut mba Nita, berniat menghentikan sindiran halusnya untuk teguh. Karna bagaimana pun itu juga akan mengarah padaku.


" Boleh deh mba, kapan kapan kenalin " jawab teguh yang sepertinya tidak serius.


Ucapannya membuatku terdiam, selanjutnya perbincangan hanya diisi mas Heru dan mba Nita, kami hanya sesekali menimpali.


Aku telah selesai siaran, sudah tidak ada jadwal lagi. Sekarang waktunya untuk pulang. Namun saat ingin memesan ojek online, aku merasa ada jemari seseorang yang menggenggam tanganku erat.


Aku menoleh, dia teguh.


Aku berusaha melepas cengkraman itu, namun teguh tidak membiarkannya.


" Lepas guh ! " Ucapku.


" Mel " panggilnya.


" Guh lepasin ! " Ucapku yang masih meronta.


Dia memegang kedua pundak ku.


" Mel dengerin, sebentar " ucapnya yang berhasil membuatku diam.


" Maaf " lanjutnya.


" Buat ? " Tanyaku.


" Semuanya " jawabnya.


Teguh memberiku waktu, setidaknya untuk mengatakan aku sudah memaafkannya. Namun aku tidak mengucapkan itu.


" Bener kata mba Nita, yang baik untuk yang baik dan yang toxic seperti aku pantas dapat yang serupa. Maafin aku udah ngasih kamu pengalaman pahit kemarin. Makasih udah memerankan calon pacar dengan sangat baik dalam 1 bulan lalu " tuturnya.


Aku mulai membuat bendungan di mataku. Teguh akhirnya sadar.


Dia melepas tangannya di pundak ku lalu mengambil sesuatu di sakunya. Tanyanya kembali membuka jemariku dan meletakan gantungan kunci kuda Nil berwarna biru.


" Maaf bukan boneka, susah banget dapetnya. Licin " ucapnya.


Aku semakin tak tahan untuk menangis.


" Eh udah sore, aku udah persen ojol buat kamu " ucapnya.


Aku benar benar tidak berkata apapun saat itu. Seolah diriku menginginkan hanya suara teguh yang ku dengar.


" Maafin aku ya " itu ucapan terakhirnya sebelum pergi.

__ADS_1


Pertahanan ku runtuh, sekarang aku sedang berjongkok menutupi wajahku yang menangis. Aku genggam erat gantungan kunci itu. Bukan hanya maaf yang spontan aku berikan, bahkan hatiku juga. Desember membuatku merasakan kamu menjadi milikku walau nyatanya tidak, Desember juga yang membuatku meruntuhkan ekspetasi itu bahkan Desember pula yang membuat ku jatuh cinta kembali pada teguh.


__ADS_2