
Aku sedang berada dalam perjalanan melalui rel nan panjang, melewati berbagai pohon tinggi besar yang seakan melambai padaku agar netraku mau menikmati hamparan hijau itu. Namun sayangnya godaan itu tak mempan menarik ku untuk melirik ke luar.
Badanku bersandar rileks tanpa ingin tahu ini sudah sampai mana. Jam tangan bulatku sudah menunjukan pukul 18.00, jika aku tidak salah mungkin 1 jam lagi aku sudah sampai pada tanah penghasil rindu. Benar, Jogjakarta.
Siapa yang tidak jatuh cinta dengan tempat itu? Benar kata seseorang, ketika kamu sudah jatuh pada auranya maka magisnya akan terus menarik mu hingga kembali pada Jogja.
Aku yakin itu benar, pasalnya tubuhku selalu memaksa untuk kembali, rasanya tidak sanggup jika harus berpisah terlalu lama. Rasa rindu benar benar sudah menjalar pada seluruh saraf. Baik tempat, jajanan yang murah maupun seseorang yang berada disana semuanya tidak membiarkanku betah di rumah sendiri.
Ah aku sampai terlupa jika harus mengabari seseorang. Dia akan khawatir jika aku tidak memberitahu kedatanganku. Ku pencet ikon aplikasi pengirim pesan dan dan langsung mencari nomornya, tapi sebentar.
Aku lupa jika dia sudah memblokir nomorku. Kekehan ku keluar setelah itu, namun diriku yang bodoh ini tetap mengiriminya pesan. Berharap dia membacanya walau sebenarnya aku tahu kabar itu tak akan pernah sampai.
Tepat seperti dugaan ku, jam 19.00 kereta sudah berhenti. Deretan gerbong langsung mengeluarkan isinya. Begitupun denganku yang langsung keluar, tak sabar berjumpa dengan atmosfirnya. Jogja, aku menemuimu lagi.
Tak ingin terlalu lama berada di stasiun, aku langsung menjinjing tas ukuran sedang ku. kemudian berjalan pelan menuju jalan keluar. Perjalanan ku kali ini begitu berbeda. Saat aku sampai, tidak ada yang menjemput ku, lalu membawaku pada lesehan favorit.
Aku menghela nafas, semua itu telah berubah. Jangan berharap lagi. Meskipun begitu, aku masih bisa menikmati segalanya tentang Jogja kan ?
Kakiku langsung melangkah menyusuri jalanan dari keramik, sampai pada bagian lain dari stasiun. Lalu sesuatu yang begitu kebetulan terjadi.
Mataku bertemu iris netranya yang hazel. Sosok yang ku bicarakan dalam perjalanan kini berdiri di depanku. Laki laki berjaket jeans itu menyadari aku disini. Mau bagaimana lagi, kami sudah terlanjur bertemu tatap. Sangat tidak sopan jika aku langsung melengos tanpa menyapanya kan ?
" Hai Juan " sapaku. Dia mengangguk lalu membalas sapaan ku. " Hai "
Kami saling tersenyum kikuk, namun malam sudah singgah, itu mengingatkan ku jika sudah waktunya untuk pergi.
" Udah malem, aku duluan ya " pamitku, aku kembali berjalan. Mungkin langsung saja mencari penginapan, pikirku.
" Mau kemana ?" Pertanyaan Juan menfrezer tubuhku hingga tidak bisa beranjak lagi.
Ku jawab dengan menggeleng, lalu detik selanjutnya dia menarik tas ku dan berjalan mendahului.
" Mau kemana ? " Tanyaku mengikutinya.
" Cari makan, dah malem " jawabnya yang sangsung mengambil motornya dan menyuruhku untuk naik.
Aku sungguh bingung dengan apa yang terjadi, baik mengapa Juan bisa pas sekali berada di stasiun maupun yang baru Juan lakukan. Tanpa menanyakan padaku, dia langsung membawaku entah kemana.
Namun motornya berhenti di sebuah lesehan yang terlintas di otakku saat di kereta. Aku sungguh di buat bingung dengan segala kebetulan ini.
Tapi, lupakan tentang itu. Fokuslah pada lesehannya, ini adalah tempat favoritku untuk makan siang dulu. Tempat ini sama sekali tidak berubah, mungkin hanya bertambah beberapa ornamen di kolam ikan. Selebihnya tempat ini masih sama, bahkan pemiliknya masih mengingat bonus tempe goreng yang sering ku minta dulu.
" Jogja masih sama " ucapku memulai pembicaraan.
__ADS_1
Juan tidak langsung menjawab ucapanku, dia tampak menikmati wedang ronde yang masih berasap panas.
" Jogja sudah berubah, walau sedikit. Jogja tidak lagi sama " penuturan Juan tidak membuatku mengerti. Apa yang dia maksud dengan perubahan kecil maupun jojga yang sudah berubah.
Namun Juan mengerti kebingungan ku terhadap penuturannya. Dia kembali berucap.
" Contohnya lesehan ini, setelah 4 bulan pasti kamu masih berfikir kalo tempat masih sama. Tapi nyatanya, kolam ikan sudah di hiasi ornamen, dinding juga dipasang pajangan bahkan karyawan nya sudah memiliki seragam. Pada akhirnya tempat ini mengalami perubahan. " jelasnya.
Aku mengerti sekarang, bahkan perubahan juga terjadi pada kami kan ?
" Hotel Deket sini dimana yah ? " Tanyaku ketika kemu sudah keluar dari lesehan itu.
Juan kembali membuatku bingung, kali ini karna tatapan anehnya.
" Nggak usah hotel hotelan, mahal. Ikut aja, aku tau tempat yang bagus dan murah " ucap Juan mengambil kembali motornya yang terpalkir.
Aku hanya mengikutinya, bukanya aku tidak punya pilihan lain ? Dalam perjalanan kami tetap diam tanpa ada yang memulai pembicaraan.
Kami berhenti di depan sebuah kos kosan yang begitu familiar, itu miliku dulu. Tapi mengapa Juan malah mengajak ku kesini ?
"Ngapain ke kos kosan ? Aku cuma semalam. " Tanyaku sekaligus memberi tahunya.
Juan memperlihatkan wajah kecewanya. Entah kecewa karena aku hanya singgah semalam atau karna aku yang kembali meninggalkan Jogja.
" Kenapa ? Tanyaku. Juan tidak menjawab, namun dia tetap membawa tas ku memasuki gedung itu. Aku lagi-lagi hanya bisa mengikutinya. Sampai dia berhenti di depan kamar dengan pintu yang di tempel kertas berisi * kamar tidak di sewakan *
Namun Juan tetap membukanya dengan sebuah kunci yang dia ambil dari sakunya. Kunci yang begitu akrab, Karna gantungan Pikachu yang ku beli masih terpasang di kunci kamar yang telah ku tinggalkan 4 bulan yang lalu.
Aku masuk setelah Juan, dia meletakan tasku di kasur. Aku begitu terkejut menyadari jika kamar beserta isinya masih sama persis ketika aku masih menempatinya.
" Hey..." Panggil Juan. " Iya ? " Tanyaku. Juan memberi jarak dengan ucapan berikutnya.
" Kenapa cuma satu hari ?" Tanya Juan. Aku mengulas senyum .
" Ada deadline yang harus aku kejar, aku bisa kesini juga karena berhasil nemu celah waktu " jawabku.
Juan masih dengan wajah sedihnya, dia duduk di kursi yang membelakangi ku. Sembari memainkan pensil Juan kembali bertanya.
" Kenapa harus pergi " tanyanya lagi.
Aku menoleh ke arahnya, " karena aku harus pulang, rumahmu bukan disini. Aku cuma singgah. "
Juan membalikkan badannya lu mengha nafas gusar, dia menengadah menatap langit-langit.
__ADS_1
" Terus kenapa kamu kembali lagi ? " Tanya juan.
" Ada sesuatu yang nggak bisa membiarkan ku terlalu lama meninggalkan Jogja. " Ucapku.
" Apa itu ? " Tanyanya.
Aku kembali tersenyum, " rasa cintaku pada Jogja "
Akhirnya yang ku tunggu datang juga. Juan tersenyum sekarang. Wajah cerianya sudah terbit, terlampau indah dibanding wajah tanpa ekspresi yang dia suguhkan dari tadi.
Dia beranjak dari kursi itu lalu menepuk kepalaku pelan. Kemudian Juan berjalan ke luar.
" Juan..." Panggil ku. Dia berhenti untuk merespon.
"Tolong antar aku ke stasiun besok." Lanjutku.
Sudut bibirnya terangkat meski aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karna dia membelakangi ku.
" Lihat aja nanti " ucapnya lalu Juan kembali berjalan , aku terkekeh, sudah pasti jawabannya adalah *iya* namun mulut kamu miliknya terlaku kaku untuk mengatakan itu.
Suasana sore di Jogja tidak pernah mengecewakan. Bahkan sekalipun kalian disini setiap hari. Jogja akan menyuguhkan kesan yang berbeda. Begitupun dengan aku dan Juan. Sore ini benar benar memberi kesan istimewa bagi kami.
Perpisahan kami kali ini terasa berbeda. Sudah tidak adalagi rasa egois Juan yang sampai memblokir nomorku. Dia sudah berubah saat aku meyakinkannya juga aku akan kembali ke sini.
" Yah.. Jogja kembali suram setelah ini. " Ucapnya
" Jogja atau Juan ? " Tanya ku.
Dia langsung memalingkan wajahnya, dan aku tertawa.
" Sering sering datang ya, Jogja selalu punya tempat buat kamu " ucapnya.
Aku mengulas senyum dan Juan membalasnya.
" Dan aku selalu menyediakan tempat buat Jogja disini. " Ucapku menunjuk hatiku.
Juan mengeluarkan sebuah gantungan kunci dari kayu bertulis ' i love Jogja '. Aku menerima itu dan menatapnya.
" Inget, kami nggak akan lepas dari Jogja. " Ucapnya
" Iya, karna aku sudah jatuh sejatuhnya pada Jogja. " Ucapku.
Juan mengangguk, dan mengantarku sampai ke dalam. Lalu pengumuman kereta berangkat membuatnya harus keluar.
__ADS_1
Dia masih terlihat dari kaca jendela sampai kereta benar benar berangkat. Aku mengeluarkan gantungan berian nya, bagi turis ini hanyalah sebatas cendramata. Namun bagi yang mengerti, pasti akan menganggapnya beda. Aku akan kembali lagi, sampai jumpa Jogja dan Juan.