Short Story For You

Short Story For You
Arunika part 1


__ADS_3

Bulir bening itu mulai menetes dari ujung matanya. Dan mulutnya mulai membentuk kerutan kesedihan. Teman teman yang lain sedang menertawakannya. Menganggap lucu air matanya yang tumpah karena melihat trailer dari film sedih yang akan tayang di bioskop.


Saat gelak tawa mengisi sela sela isakan miliknya. Aku terdiam saat itu,tidak ikut tertawa dan tidak ikut menenangkannya. Namun diamku, adalah caraku merespon sinyal tubuhku yang ternyata tidak ingin melihatnya menangis. Aku tidak mau air matanya terjatuh seperti tadi. Dan tebaklah apa yang ku lakukan!


"Eh kak!"


Aku merebut paksa ponselnya dan memasukan ke dalam sakuku. Maka hilanglah hal yang membuatnya menangis.


" Jangan becanda, kita mulai pembahasannya!" Ucapku tegas, sebagai ketua mereka menghormati ucapanku. Begitupun dengan Nika yang masih saja menunduk Karena mungkin merasa ditegur olehku, atau karena mengira aku marah sampai mengambil ponsel dari tangannya. Aku tidak tahu.


" Rean, dah dicatet?" Tanyaku, teman sekelasku mengangguk. Mengangkat dia sebagai sekertaris memang pilihan yang tepat, terlepas awalnya dia menolak karena jabatan itu biasanya di duduki perempuan.


Aku merasa ujung kemejaku di tarik, Nika-orang yang ku ambil ponselnya tadi berada di belakangku, segera dia mengulurkan tangannya. Seperti meminta sesuatu.


" Kak, mau ambil hp. Takut nggak ngejawab Chat mama." Mohon nya. Aku sedikit tertawa dalam hati. Kuambil ponselnya yang masih berada di saku ku dan menyerahkannya.


"Makasih!" Ujarnya dengan senang.


Ujung bibirku refleks menjauhkan dirinya sedikit lebar. Dibawah aula sekolah, aku sadar jika dia telah menjadi hal utama yang kupikirkan. Nika, gadis yang bahkan tidak menjabat apapun dalam organisasi OSIS ini. Jarang berpendapat dan terkadang mencuri waktu untuk pergi ke kantin.


Semua yang disini jarang memperhatikan Nika. Dia dianggap kurang penting dan hanya dibutuhkan saat pengambilan suara. Aku tidak yakin dia memilih karna dipengaruhi oleh temannya atau memang kemauannya sendiri. Namun satu suara untuk voting sangat berarti kan?


Untuk ku sendiri, jujur masih ragu. Dia bukan tipe seorang Aru, atau bukan ideal teman teman lelakiku. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dariku, mungkin sekitar 2 sampai 3 cm. Meski begitu, tetap saja aku terlihat pendek. Siapa juga cowo yang tidak minder bersebelahan dengan cewek yang lebih tinggi darinya. Selain itu, tubuhnya juga berisi, sangat jauh berbeda dengan nur, wakil ketua OSIS, sebut saja nur adalah partnerku. Mengapa aku membandingkannya dengan nur? Karna posisi kami selalu bersebelahan, jadi banyak orang yang selalu teringat nur saat mendengar namaku begitupun sebaliknya.


"Jangan diulangi lagi!" Tegas ku pada Nika setelah ia menerima ponselnya.

__ADS_1


Dia tersenyum lebar, seolah dia tidak pernah menangis tadi.


"Ngobrol nya?!" Tanya Nika memastikan.


Aku berbalik dan memperlihatkan lima jari tanganku ke atas. Mengisyaratkan "bukan apa-apa" pada Nika. Walaupun aku dengan sangat lirih bergumam, "jangan menangis lagi"


Aku berjalan meninggalkannya.


Sayang sekali aku dan Nika hanya bisa bertemu saat ada pertemuan OSIS seperti kemarin. Kami berada di kelas yang berbeda, namun yang aku syukuri adalah, kelasku sangat dekat dengan kantin. Jadi, jika aku selalu memperhatikan pintu saat jam istirahat maka aku mungkin bisa melihat Nika.


Teman temanku akan menganggap jika aru si ketua OSIS, sedang sibuk memikirkan progam kerja. Padahal ya, kalian tau. Orang yang dikira sibuk ini sedang menunggu seorang gadis dibawah standar lewat menuju kantin.


" Hiks, gila lu!" Dan hal yang tidak aku inginkan terjadi. Nika menangis lagi, kali ini karena disuguhi postingan menyedikan dari Manu, siswa dari kelas bahasa. Kabar burung, katanya manu sedang mendekati Nika. Aku tidak terima, bagaimana seorang yang menyukai dengan sengaja membuatnya menangis? Aku tidak akan membiarkan manu mendekati Nika lagi. Itulah yang ku pikirkan, namun nyatanya aku tidak melakukan apapun.


Kata itu yang bisa menggambarkan aku, Aru si ketua OSIS yang populer tidak lebih adalah pengecut. Payah! Dean akan tertawa jika mengetahui hal ini. Namun apakah aku harus diam saja?


"Hei!" Nur mengagetkanku.


Aku tersenyum, " apa mbak?" Tanyaku.


Nur dan aku adalah tetangga, dan dia lebih tua satu tahun dari ku. Meski tubuhnya mungil. Nur itu cantik, pintar punya prestasi segudang. Namun tak menarik bagiku, entahlah orang. Penilaian Aru itu spesial arau bodoh.


" Buat yang laporan kegiatan kemarin, Dean nggak mau ambil. Katanya dia yang selalu bikin laporan. Jadi kita nunjuk siapa?" Tanya nur.


Terbesit di otaku untuk mengarahkan pembuatan laporan ini pada Nika. Modus, supaya bisa menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya yang hanya beberapa menit karena Nika tidak akan betah duduk di ruang OSIS. Sambil menyelam minum air, Aru memang pintar.

__ADS_1


"Nika!" Ujarku.


Aku bisa melihat raut kaget dari wajah nur. Meragukan pilihanku pada anggota paling biasa biasa saja itu.


"Serius? Nika? Nggak mau jeslyn atau bunga?" Nur merekomendasikan anggota yang aktif. Tapi tatap saja, tujuanku adalah Nika. Hanya dia.


"Udah dia aja, bukannya dia jarang aktif. Anggap aja ini pelajaran tambahan untuknya." Harus ada yang memberiku tepuk tangan karena sanggat mahir mencari alasan.


Jari tanganku mengetuk berirama, senyumku tertahan. Hahaha, kenapa aku jadi sebahagia ini?!


"Loh kak, kok aku? Yang lain aja. Aku nggak bisa loh. Sumpah, itutu si bunga dia jago kak. Janggan aku donk!" Nika menolak tugas yang aku berikan.


" Terus partisipasi kamu di OSIS itu apa? Cuma numpang jabatan?!" Ujarku, pasti itu membuatnya tidak bisa mengelak lagi, meskipun sedikit ada diskriminasi.


Nika menunduk, tidak menjawab. Kedua tangannya bertaut, meremas satu sama lain. Rambutnya yang tergerai seakan memblokir pandangan ku untuk melihat wajahnya.


Nur menyikut ku, kepalaku menoleh. Dia menatapku tajam. Apa yang salah?


"Iya kak, maaf nggak bisa ngasih apa apa ke OSIS. " Dia menjeda ucapan. "Nanti laporannya aku kerjain. Semoga bisa selesai tepat waktu." Ujar Nika lirih, saking pelannya jika aku tidak Padang telinga dengan baik maka mungkin hanya suara anggun dan detak jantungku yang terdengar.


Nika berlaku begitu saja. Meninggalkan aku dan nur di ruang OSIS. Sekarang nur berdiri, menoleh ke arahku dengan tatapan tajam yang sama.


"Gila kamu!" Satu ucapan itu terlontar sebelum nur keluar, mungkin mengejar Nika atau hanya kembali ke kelasnya.


Aku menyandarkan tubuhku ke belakang. Membawa kedua tanganku untuk di jadikan bantalan. Aku melihat ke langit langit ruangan ini. Putih, meskipun di ujung asa asbes yang bolong. Mengapa nur marah? Apa yang salah dariku? Huh, wanita memang susah dimengerti.

__ADS_1


__ADS_2