Short Story For You

Short Story For You
microfon impian


__ADS_3

Hujan tiba tiba datang dan membuat tanah pasar yang lembab jadi becek. Aku pun kesulitan mencari tempat berteduh untuk mengamankan uang recehan di bungkus permen. Kakiku berlari ke arah emperan toko mas yang tutup kala itu. Segera aku lihat bungkus permen yang aku amankan tadi berharap uang kertas tidak ada yg basah dan robek.


Angin dingin senja itu masuk menerobos kaosku yang kebesaran dan langsung mengenai tulang tulangku. Aku hanya bisa berdiri dengan menggenggam kayu yang sudah ku buat menjadi kecrikan untuk membantuku mencari uang.


Tak lama aku melihat segerombolan murid SMA yang baru saja turun dari bus. Mataku tak lepas dari siswa siswa itu. Ku pikir mereka seumuran denganku namun dengan nasib yang berbeda. Mereka dengan seragam dan aku dengan kaos sumbangan.


Bibirku terangkat memaklumi kehidupan yang sedang aku alami, seharusnya aku bersyukur bukan malah iri atas ketidak Adilan yang menimpaku.


Hujan kini tinggal gerimis kecil, tidak terlalu deras untuk ku terobos menuju warteg Bu Ina di kiri jalan. Aku membeli sayur dan nasi disana. Bu Ina adalah orang baik, entah ketika aku bayar atau tidak beliau selalu memberikan 2 porsi makanan untukku dan itu membuatku sadar masih ada orang baik di sini.


Aku tersenyum pada Bu Ina sebelum kembali menerobos rinai. Hingga ku sampai di depan gubuk tua tanpa halaman tempat tinggal ku. Aku membuka knop pintu dan menyimpan makanan tadi di dalam tudung saji pelastik. Lalu segera mengambil handuk untuk mandi agar aku tidak terkena flu, karna kami juga harus makan esok hari.


Setelah selesai dengan bajuku aku segera keruang tamu dan makan bersama dengan nenek. Ya hanya dia keluargaku yang kukenal. Tidak ada ibu atau ayah hanya nenek.


Nenek sudah ada di karpet sedang menyiapkan makanan ke piring. Aku duduk berhadapan dengannya. Nenek memberiku piring dan mengambilkan nasi padaku.


Kami makan dengan hening aku lihat nenek menikmati dengan ikhlas tahu goreng yang ku beli tadi. Benar ternyata, bersyukur membuat semuanya terasa lebih.


Setelah kami makan aku membereskan bekas piring dan mencucinya sedangkan nenek tengah melipat baju. Dia sudah tua dan terlalu sepuh untuk mencari uang. Menurutku kini akulah yang harus menghidupi nenek setelah ala yang dia lakukan selama ini.


Tanganku memijat pelan pundaknya yang mulai berkeriput, rambutnya juga dipenuhi uban.


" Besok mau ngamen jam berapa ?" Tanya nenek.


"Jam tujuh aku berangkat nek, dipasar sudah ramai " ucapku masih memijat nenek.


"Jangan terlalu capek ndok, kamu juga harus  istirahat "  nasihatnya.


Aku tersenyum mendengar nenek yang menghawatirkan ku " iya nek, aku nggak capek, malah aku menikmati ketika orang suka sama suaraku." Ucapku meyakinkannya.


Suara adzan membangunkanku dari bantal untuk beranjak wudhu. Ku nyalakan kran dan mensisihkan lengan dan mulai mencuci tangan ku. Saat selesai aku langsung mengambil mukena serta sajadah yang sudah aku gelar di lantai .


Di hening aku mulai mengangkat tanganku sampai dada dan bersua " ALLAHU AKBAR ". Hingga aku menoleh ke dua arah bergantian sambil mengucap salam.


Ku terdiam sejenak saat sholat ku selesai. Ku tengadahkan 2 telapak tanganku ke kiblat.


" Ya Allah, mudahkan lah hari ini bagi hamba menjemput rezeki, dekatkan hamba dengan orang yang baik, tetap jadikan nenek sehat dan berikan hamba hati yang lapang untuk menerima ujianku " doaku dalam hati.


Lihatlah, seorang pengamen cilik yang tak punya apa-apa dan dimasa depan mungkin tak akan mungkin menjadi siapa siapa. Namun masih punya hati tuk menerima itu.


Sudah ku bilang bersyukur akan membuat semuanya jadi lebih baik. Kini aku sudah siap dengan kaos oblong dengan Hem kotak kotak warna merah serta kicrikan dari tutup botol yang mengiringi senandung ku.


Aku berangkat pukul 06.54, lebih awal kurasa. Lagipun teman teman sekerjaku juga sudah berkumpul di palkiran pasar. Namun kurasa kini aku akan mengamen di alun alun.


Selain karna sekarang weekend di sini juga banyak orang, entah mahasiswa atau orang yang iseng menghabiskan waktu disini.

__ADS_1


Ku mendekati sekelompok orang di sisi barat alun alun dan ku senandung kan lagu ' nyaman' milik admens


Mereka menikmatinya dan memberiku uang 10.000, kalian Taukan bagaimana bahagianya seorang pengamen mendapat nominal itu.


Namun seorang menepuk pundak ku, aku menoleh ke arahnya. Dia seorang mahasiswa terlihat dari jas dengan lambang salah satu universitas.


" Ada apa ya kak?" Tanyaku.


" Temen saya manggil kamu " ucap lelaki itu menunju segerombol orang yang memakai jas sama sedang melambai ke arahku.


Aku pun berjalan kearah mereka.


" Dek, nyanyi bareng yuk kakak bawa gitar " ucap seorang perempuan di ujung.


Aku mengangguk dan mengikuti irama dari gitar coklat yang mendendangkan salah satu lagu berjudul celengan rindu.


Mereka terdiam mendengar suaraku lantas akupun berhenti bernyanyi.


" Eh dek terusin baguslah suaranya " ucap salah seorang dari mereka.


Aku lalu melanjutkan nyanyian ku sampai akhir lirik " sampai nanti sayangku ". Mereka bertepuk riuh bahkan sampai orang mengelilingiku.


Aku tersenyum ketika salah seorang kakak mengumpulkan uang di bungkus permenku lalu memberinya padaku.


Kami beberapa kali berbincang, mereka juga bertanya seputar kehidupan ku. Seperti kamu kelas berapa ?, Tentu aku bilang aku bukan putus sekolah tetapi


Tidak pernah sekolah.


Mereka meminta maaf namun cepat ku tepis karna ini bukanlah hal sensitif. Lalu salah satu perempuan yang bernama kak Lala ingin membantuku dengan mendaftarkan ke ke ajang penyanyi di kota sebelah.


Aku masih bingung, apakah harus menolak atau terima. Apalagi seorang lagi bernama kak putra juga mendukungku di ikuti teman yang lain.


Akhirnya akupun setuju dan ikut keesokan harinya ke kota sebelah. Tak ku pikir antrian pesertanya sangat panjang. Aku,kak Lala dan kak putra duduk diruang tunggu.


Aku susah payah menelan ludahku saat kulihat peserta lainnya sibuk menata make up dan bergaya dengan bajunya yang gemerlap.


Sedangkan aku diam ketika kak Lala memolesku bedak dan liftik sementara kak putra terus menasihatiku. Dan ternyata aku dapat urutan dua terakhir. Yang artinya aku akan menunggu sampai sore.


Akhirnya namaku di panggil, aku sempat nervous dihadapan juri, mereka menatapku dengan aneh sebelum ku bernyanyi sebuah lagu milik Rossa ' Takan berpaling darimu '


Diam sejenak mereka menulis catatan di kertas bertatakan papan. Salah satunya bilang kalau peluang menang tinggal 1 dan peserta masih tersisa satu. Jadi aku harus menunggu juri selesai memberi penilaian pada peserta terakhir.


Sebelum aku benar benar kembali, aku sempat mendengar rundingan dari arah para juri dan staf disana.


" Bagaimana ?, Peserta sebelumnya memiliki suara yang indah sedangkan peserta satu lagi menyogok kita dengan nominal besar " ucap seorang berseragam hitam.

__ADS_1


Mereka tampak bingung dan tidak ada jawaban setelahnya.


" Kalo uangnya sudah masuk ya mau gimana lagi" ucap seorang juri.


Mereka kompak mengangguk dan seorang yang mencatat nama peserta yang lolos mencoret namaku dari buku itu.


Aku melihat jelas hal itu. Jika bertanya kecewa atau tidak, akan ku jawab tentu aku sangat kecewa terlebih alasan mereka mengugurkan ku dan meloloskan peserta karna dia bisa membayar mereka.


Senyum pasrah tersungging di mulutku, harusnya aku tau ini akan terjadi bukan malah terus berharap dengan angan yang tinggi. Benar, aku salah. Apa yang bisa berubah dari pengamen dekil sepertiku selain perubahan yang lebih buruk lagi.


Bodoh bukan?, Bisa bisanya aku bersaing dengan mereka yang jauh kastanya diatas ku. Aku segera beranjak menuju kearah kak Lala dan kak putra yang masih duduk menunggu.


Mereka melihatku bingung, aku terus melangkah dan meminta mereka mengantarku pulang, benar pulang dan kembali ke kehidupanku sebagai pengamen cilik dengan kecrikan dan bungkus permen bekas


Ku jelaskan semua pada mereka, keduanya marah dan akan komplen pada panitia dan juri. Namun segera ku halangi karna percuma !. Lebih baik aku pulang di banding harus berharap lebih lagi. Ya aku gagal !.


" Dek, jangan menyerah ya. Kamu lebih bagus dari mereka " tutur kak putra.


Tersenyum malu akupun mengangguk, menerima semua ucapan ucapan nasihat yg membangun dari mereka. Akhirnya kaki kaki kami berhenti di depan rumahku. Setelah berpamitan merekapun pergi, dan aku masuk ke dalam rumah lalu menyembunyikan tangisku di balik kamar. Biarlah aku yang sedih, nenek jangan dan biarkan juga ini berlalu untuk hari esok.


Kembali dengan pagi si pengamen cilik, aku sudah berada di depan sederet toko. Bernyanyi kesana kemari dan mendapat receh dari beberapa orang yang peduli. Sisanya hanya akan menampakkan 5 jarinya menyuruhku untuk pergi.


Aku duduk di alun alun setelah lelah berkeliling. Ku sedot es teh di tengah keramaian itu.


"Hei, kmu lagi disini " itu kak Lala.


" Iya habis keliling, kakak lagi senggang juga "


" Iya nih, eh tapi aku punya kabar bagus buat kamu"


Aku menatapnya dan bertanya, ternyata teman kak Lala membuka cafe baru di sekitar sini. Dan sedang mencari penyanyi untuk live music di cafenya.


Kak Lala bertanya padaku, apa mau mendaftar ke sana. Dia bahkan sudah sangat yakin aku akan diterima.


Saat itu juga kak Lala membawaku ke cafe yang dia bicarakan. Dia mengobrol dengan temannya dan memuji bagaimana bagusnya saat aku bernyanyi.


Lalu aku di beri kesempatan untuk bernyanyi diiringi band dari kampus mereka. Dan ternyata si pemilik cafe memuji suaraku. Lalu menawariku untuk bekerja dengannya.


Tentu langsung aku terima, semua bersorak mengucapkan terimakasih padaku. Aku pulang dengan senyum lebar dan 2 lembar 100.000 sebagai dp si pemilik cafe.


Besoknya aku mulai bekerja, dengan pekerjaan baru, tampilan baru, dan pandangan baru.


Mereka menatapku kagum dengan baju yang di pinjamkan. Serta riasan tipis dari istri pemilik cafe. Aku mulai bersenandung mengikuti irama dan bahkan beberapa mereques lagu.


Aku bahagia dengan pekerjaan ini. Bersama orang orang yang merhargaiku, terlebih dengan  Microfon impian yang berhadapan dengan suaraku.

__ADS_1


__ADS_2