
Lagi dan lagi, mengapa peringkat satu malah memilih seorang devando sih ? Apa yang kurang dari ku, toh sebelum dia pindah akulah bintang kelas yang langganan jadi peringkat pertama. Dasar perebut, tunggu saja aku bakal ngerebut juara kelas itu dan mengembalikan masa kejayaan ku lagi !.
"Agrhhhh " aku mencoret coret buku dengan marah.
Kenapa ? Kenapa coba aku malah mendapat peringkat 2. Hanya selisih 4 nomor dan mereka mengira aku kalah telak. Huh, menyebalkan. Pasti si devando itu sedang menyiapkan muka untuk mengejekku lagi.
Siang ini aku ada perkumpulan dengan ekskul kepenulisan dan juga harus memberinya kuota 5 GB sebagai taruhan sebelum ujian. Mengesalkan bukan ?, Dompetku benar benar kosong.vSekarang, di kantin pada pukul 14. 31, devando dengan earphone di lehernya berdiri berhadapan denganku. Ekor mataku meliriknya dengan tajam.
" Mana kuota ku ? " Ucap devando yang menengadahkan tangan padaku.
Dengan mendengus kesal aku meletakkan voucher kuota di tangannya.
" Thanks " ucapnya memasukan voucher tadi ke saku.
" Eh anak baru, jangan sombong dulu ya !, Aku tantang lagi buat ujian berikutnya. " Ucapku
Reaksinya hanya menaikan alis, ternyata dia masih sombong.
" Dengerin semua, di ujian besok, kalo aku kalah dari devando aku bakal traktir kalian sekelas " ucapku dengan lantang. Benar, kalo mau berhasil harus terima resiko.
Dan lagi lagi muka menyebalkan ya itu tidak memberikan ekspresi. Oh, mungkin devando Takut dengan taruhan yang aku buat.
" Kenapa ? Takut " ejek ku.
" Ya udah oke " jawabnya. Kami pun berjabat tangan dan kompak berseru. " Deal " lalu berjalan menjauh pada sisi yang berbeda.
Sudah bab ke 3, setelah kejadian di kantin aku langsung menyibukkan diri dengan belajar di perpustakaan. Berhubung guru yang bersangkutan sakit jadi kami mendapatkan jamkos.
" Hei, lihat nih doi live ig " ucap Loly teman ku. Dia menghadapkan handphone di depanku. Namun segera ku tepis, pokoknya aku harus fokus agar bisa mengalahkan si muka datar itu.
__ADS_1
Dan beberapa menit kemudian aku merasa cukup belajar hari ini. Aduh, kepalaku terasa berasap .
" Loly, tadi ngomong apa ? " Tanyaku
"Doyong live ig " sahutnya. Aku menepuk kedua pipiku, bisa bisanya kelewatan siaran langsung idolaku. Aku langsung mengambil handphone dan masuk pada siaran ulang yang di posting suatu akun.
"Ih lucu banget " lirihku, ingat ini perpustakaan dan aku tidak mau ditegur.
" Gimana mau menang, kalo ngelakuin hal nggak penting Kaya gitu " ucap seorang dibelakangku.
Sudah jelas dari suaranya, dia pasti devando.
"Ini bukan urusanmu ! " Tutur ku, ku lirik bangku tempat Loly duduk dan ternyata dia sudah lebih dulu pergi. Aku mendengus kesal dan meninggalkan posisi dudukku jadi berdiri.
" Lagi pula, kita ini rival. Berhenti mencampuri urusan masing-masing " ucapku lalu beranjak pergi.
dari hari itu devando tidak menggangguku lagi. setelah 2 bulan berlalu 5 hari sebelum ujian pun tiba. Akhir akhir ini devando jarang masuk, bukannya aku menghawatirka nya tapi mana mungkin dia tidak berusaha dalam taruhan ini.
" Siap buat ujian terakhir ? " Tanyanya.
" Pastilah, aku udah siapin semuanya " sahutku semangat.
Devando menyungging senyum simpul, lalu melepaskan earphone nya dan memberikannya padaku.
" Buat kamu ." Aku yang tidak mengerti dengan tingkahnya hanya menerima tanpa bertanya. Lalu dia berlalu karna ruang ujian yang berbeda. Devando sempat menoleh kebelakang. " Fighting " itu kaya terakhirnya sebelum benar benar masuk ke kelas.
Ujian pun sudah selesai, aku yakin akan menang kali ini. Tapi mengenai tingkah aneh Devando aku jadi kepikiran. Ada apa dengannya ? Dimana muka datar yang menyebalkan ?
Berselang 3 Minggu hasil ujian sudah keluar. Aku menang kali ini, tentunya aku gembira. Namun, entah kenapa ada rasa kurang dibenakku.
__ADS_1
"Hei, ayok ke kantin ! " Ajak Loly
" Ngapain ? " Tanyaku.
" Loh kamu lupa, kan devando kalah jadi dia yang traktir kita " jelasnya.
Oh iya aku ingat sekarang, ternyata dia tidak lari dari taruhan itu. Aku dan Loly kemudian melesat di
kantin yang dipenuhi anak kelas kami. Sepertinya mereka menikmati makanannya.
Ku ambil posisi duduk sementara Loly ikut mengambil makanan yang ada. Aku memang menang, tapi mengapa pikiran ku malah jadi gelisah, seperti merasa bimbang. Ditengah lamunanku bunyi nontifikasi pesan berbunyi, ku ambil handphone ku dan mengetuk pemberitahuan tersebut.
Massage
Devando
Selamat, kamu menang taruhan ini. Aku harus pergi ikut orang tuaku dinas di lain kota. Aku harap kalian menikmati makanannya. See you rival semester genap.
Ternyata dia, devando yang kurang dari perayaan ini. Entah rasa apa yang kini ku ecap, mungkinkah rasa kehilangan ?. Ku rasa benar, baru kali ini aku merasa tertantang dalam belajar. Karna dia waktuku jadi produktif dan selama ini aku malah membencinya ?, Huh konyol.
Aku mengklik ikon balas pesan dan mengetik disana.
Kayaknya aku bakal kangen rivalku.
Aku tersenyum dengan kalimat balasan yang belum kukirim. Kekehan kecil keluar dari mulutku, dipikir lagi aku sudah tidak punya muka untuk membalas seperti tadi. Ku hapus tulisan itu dan segera diganti.
Makasih buat traktiran nya.
Benar, terimakasih devando, untuk segala dampak positif ketika kamu disini. Aku harap kita bisa bertemu serta menjadi rival lagi dikemudian hari. Aku harap bisa terus merasakan semangat belajar dan belajar hal hal yang lebih luas dan yang terakhir, sampai jumpa juga rival semester genap ku.
__ADS_1
Ini akan jadi cerpen terpendek ku dengan 843 kata