Si Itik Buruk Rupa di Geng Cantik

Si Itik Buruk Rupa di Geng Cantik
Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Setelah pagelaran busana untuk memeriahkan Borobudur Festival, ada pertemuan rahasia yang diadakan oleh empat gadis remaja tersebut. Mereka sepertinya membahas sesuatu yang penting antar geng mereka, sepertinya mereka sedang membahas tentang keberadaan Rani.


Mereka berempat pun sepertinya serius, wajah mereka menunjukkan kesenangan yang sangat luar biasa.


Dari tadi tidak ada yang tahu, kalau sebenarnya Dewi dan Sonya juga mengisi acara di Borobudur Festival. Hanya di belakang layar, dan sudah lama mengawasi gerak gerik dari Rani. Yang kelihatan bahagia saat melihat Festival ini.


Dewi sebagai anak dari pemilik dari Mall yang dipakai pihak penyelenggara, leluasa untuk melihat pertunjukan tersebut. Begitupun dengan Sonya, sebagai anak Jenderal TNI dia juga bisa mendapatkan tiket di kelas VVIP.


"Ellen dan Titin, bagaimana menurut kalian soal Rani? " Tanya Dewi memulai pembicaraan, dia penasaran dengan soal Rani. Yang menurut mereka sangat spesial.


" Rani, orangnya sangat baik. Dia bisa dipercaya. " Titin pun mengangguk saat Ellen mulai membicarakan tentang Rani, tanda setuju.


" Berarti yang belum kenalan dengan Rani hanya Sonya? " Tanya Dewi lagi.


" Aduh, aku belum sempat kenalan dengan gadis itu lagi. " Kata Sonya kepada geng nya, raut wajahnya pun mulai menyesal. Karena kesibukannya yang juga mengurusi bisnis orang tuanya, jadi Sonya belum bisa kenalan langsung dengan sosok Rani.


" Diusahakan ya untuk kenalan dengan Rani, lalu nanti kita putuskan apa yang akan kita lakukan dengan Rani. " Lanjut Dewi sambil menatap wajah mereka.


Geng cantik, itu sebutan yang diberikan Rani untuk mereka. Mengangguk pelan tanda setuju, tanpa gadis polos itu ketahui memang Dewi sedang merencanakan sesuatu yang memang disembunyikan oleh mereka. Dan Sonya adalah penentu nya, apa yang harus dilakukan oleh geng cantik itu selanjutnya.


Mereka berempat pun keluar dari tempat tersebut, dan pulang ke rumah masing masing. Entah apa yang akan dilakukan oleh mereka berempat kepada Rani, gadis lugu itu tidak tahu kalau geng cantik punya misi khusus untuknya.


Sementara itu di Rumah Dewi....


Ada seorang cowok yang sedang menunggu kedatangannya, mungkin dia sedang menunggu perkembangan misi Dewi dan geng nya.


"Kamu yakin bisa membuat Rani menjadi anggota geng mu? " Tanya seorang cowok yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada di ruang tamu rumah Dewi.


" Tentu saja aku bisa, memang kenapa? " Cowok itupun hanya bisa tersenyum tipis, sepertinya dia tidak yakin dengan apa yang dikatakan Dewi tadi.


"Jangan panggil aku Dewi, kalau aku tidak bisa membuat Rani menjadi anggota geng ku. " Cowok itu tersenyum sendiri mendengar perkataan saudaranya itu, Dewi kemudian merebahkan dirinya ke atas kasur.


"Aku percaya sama kamu, mbak. " Kata cowok itu sambil keluar dari kamar Dewi, meninggalkan gadis itu yang sedang kelelahan.

__ADS_1


Tanpa ada yang tahu Dewi mempunyai seorang adik cowok, yang dirahasiakan. Karena adiknya berasal dari ibu yang berbeda tetapi satu bapak dengan Dewi.


Namun Dewi bukan lah kakak tiri yang kejam, sebaliknya dia sangat sayang dengan adiknya itu. Walaupun dulu dia sangat membenci nya, karena menganggap bahwa ibu dari adik laki-laki nya itu sudah merebut ayahnya. Tetapi dia sadar, kalau adiknya pasti merasa sangat sedih karena kematian ibunya


Dewi pun teringat saat masih SMP, ayahnya mengajak adiknya datang ke rumah. Adiknya sangat berbeda dengannya, cowok itu berkulit hitam manis. Dengan rambut keriting.


"Siapa itu, pa? " Tanya Dewi, saat papanya dan adiknya datang ke rumah.


" Kenalin Dewi, ini adikmu. " Anak laki-laki itu masih menggenggam tangan papanya yang juga masih papanya Dewi, gadis itu menatap anak laki-laki itu dengan menggemaskan.


"Adik..... Dewi gak punya adik pa. " Dewi kaget sangat mendengar perkataan papanya itu, gadis itu tidak menyangka jika anak laki-laki itu adalah adiknya.


"Ini adik kamu Wi, ibunya sudah meninggal. Jadi papa membawa Edo ke sini. " Dewi masih memandang anak yang bernama Edo tersebut, Dewi masih tidak percaya jika sekarang dirinya mempunyai seorang adik.


"Aku E.. Edo kak. " Edo kecil menjawab terbata bata, seorang anak yang berambut keriting dan berkulit gelap itu. Dia menyalami Dewi yang masih remaja itu, mereka berdua sangat kaget karena ini kali pertama mereka berkenalan.


Dewi pun kembali mengingat bagaimana dia berkenalan dengan Edo kecil, mamanya dulu tidak terlalu menyukai Edo. Tetapi dengan muka yang mengemaskan dan tingkah polah nya, membuat mamanya Dewi suka dengan Edo. Mereka berdua hanya terpaut dua tahun, sehingga sudah menjadi teman akrab.


Edo sering sekali melindungi Dewi, gadis itu tidak seperti sekarang yang kuat. Dulu Dewi sering di buli karena penyakit bawaan yang di derita oleh gadis itu sejak kecil, dia sering pingsan saat bermain dengan teman sekelasnya atau sedang bermain kejar kejaran.


Edo selama ini memakai identitas papanya yang seorang pemilik lahan kelapa sawit, dan Dewi yang memakai identitas bahwa ayahnya adalah seorang pengusaha.


Jadi walaupun mereka bersekolah di sekolah yang sama dari tingkat SMP sampai dengan Kuliah, tidak ada yang tahu. Kebetulan papa mereka berdua menyekolahkan di tempat yang sama, agar mereka dapat saling menjaga.


Edo saat ini tidak tinggal dengan Dewi, dia memilih kos dekat dengan kampus. Karena dia tidak ingin rahasianya selama ini terbongkar. Menjadi anak tiri dari seorang pengusaha terkenal, apalagi jika orang lain tahu kalau dia adalah anak dari istri kedua pengusaha tersebut.


Sebenarnya dia merasakan kasihan dengan Dewi, karena gadis itu tinggal sendirian di tempat ini. Mama Nia, ibunya Dewi adalah seorang pengusaha. Yang selalu sibuk keliling Indonesia bahkan dunia, sehingga tidak ada waktu untuk bersama dengan Dewi.


Walaupun mereka berdua kakak adik tiri tapi mereka sangat menyayangi, karena Edo sudah menyumbangkan ginjal nya untuk Dewi. Jadi Dewi akan melakukan apapun untuk Edo, karena dia sudah berhutang nyawa dengan anak lelaki itu.


@@@@@


Pada waktu hari Senin setelah Borobudur Festival.

__ADS_1


Aku berkutat dengan buku catatan ku untuk menghafal beberapa percakapan dalam Bahasa Inggris, walaupun sudah sering menggunakan Bahasa ini. Tetapi rasa grogi masih ada, apalagi jika harus presentasi. Rasanya sangat menegangkan karena tentu saja dilihat oleh banyak orang, apalagi dilihat oleh dosen yang nanti bakalan mengkritik pengucapan kita dalam Bahasa Inggris.


Tema mata kuliah Speaking 1 ini adalah tentang Tourism atau tentang pariwisata, ini yang membuatku merasa sangat tegang. Kita harus membuat sebuah produk entah itu tentang restoran atau tentang hotel, jadi kita membuat seolah olah hotel itu milik kita. Dan bagaimana mempromosikannya, untung aku kali ini mengambil tentang restoran. Jadi tidak terlalu ribet untuk memperesentasikan nya.


"Halo, Rani kamu lagi ngapain? " Edo datang mengagetkan ku yang sedang berkonsentrasi penuh dengan apa yang lagi aku kerjakan, senang betul dia mengagetkan ku hingga membuat aku kaget.


"Ah, Edo kamu ngagetin aja. " Reflek aku memukul bahu Edo, yang dipukul hanya tertawa terkekeh.


"Lagian salah sendiri, kamu terlalu serius. Coba lihat kamu lagi ngapain? " Edo lalu merebut buku catatanku sambil melihat isinya, dia hanya termangu sangat melihat catatanku itu.


" Memangnya kamu sudah menyiapkan bahan untuk presentasi tadi? " Tanyaku balik ke Edo, yang ditanya malah asyik membuka buku catatanku.


"Sudah dong, mau lihat? " Edo pun mulai mengeluarkan buku catatannya, kemudian menyerah kan kepadaku.


" Keren ya, kamu punya konsep Hotel seperti itu. " Aku sibuk membuka brosur yang dibuat Edo, memang sangat menarik konsepnya. Penggabungan antara hotel dan tempat spa yang mewah, saling mendukung.


" Keren sekali punyamu, Do. Tidak menyangka kamu bisa punya pola seperti ini, kepalaku langsung dijitak Edo. Aku hanya bisa mengusap kepala ku yang sakit karena di jitak Edo, memang dasar bisanya menjitak.


Kami pun melangkah ke dalam kelas, karena jam mata kuliah speaking sudah masuk.


Banyak mahasiswa yang memperesentasikan produknya, rata-rata mereka semua berencana membuat restoran. Hanya beberapa yang membuat konsep restoran, aku percaya banyak dari mereka yang pastinya akan membuat hotel. Karena rata- rata yang masuk di UHTB adalah anak dari para pengusaha, mereka tinggal melanjutkan usaha yang sudah dibangun oleh keluarga mereka. Beda dengan aku yang pasti memulai nya dari nol, harus mengumpulkan uang dulu.


Di kampus ini banyak sekali yang kaya, kalau si sekolah ku dulu hanya Panji yang kaya. Dia anak salah satu pengusaha di Yogyakarta, tetapi jika kekayaannya dibandingkan dengan anak-anak disini masih jauh. Entah kenapa aku selalu ingat dengan anak itu, padahal aku ingin melupakan nya.


Rosi pun tidak jauh berbeda dengan Panji, dia juga model tapi bila dibandingkan dengan Kak Ellen. Pasti jauh berbeda, Rosi ibarat nya model dari agency kecil, dibandingkan dengan Kak Ellen yang berasal dari Agency besar.


Aku pun menyimak presentasi teman-temanku, dan mulai membayangkan jika Panji dan Rosi ber kuliah disini. Pasti mereka akan jadi bulan-bulanan teman-teman disini, karena memang kekayaan mereka yang berbanding terbalik dengan mahasiswa di sini.


Dan Edo adalah mahasiswa terakhir yang akan memperesentasikan produknya, gaya bicara Edo mulai mengalir lancar. Tidak seperti ku yang agak terbata bata tadi, sepertinya Edo sering berbicara dalam Bahasa Inggris. Sehingga membuatnya tidak terlalu kesulitan mengucapkan Bahasanya, dan Miss Wina. Dosen mata kuliah Speaking 1, memberikan tepuk tangan kepada Edo.


Selain konsepnya yang bagus, Bahasa Inggris Edo sangat lancar. Bukan seperti orang yang berasal dari daerah, sudah seperti orang dari luar negeri saja.


"Kamu keren banget, Do. Presentasinya. " Kata ku setelah mata kuliah ini selesai, sedangkan yang di puji hanya tertawa santai.

__ADS_1


"Biasalah, aku pasti bagus. " Aku pun melangkah pura-pura meninggalkan Edo yang masih di depan kelas, cowok itu pun berlari mengejarku. Aku sudah tidak memperdulikan nya, dasar anak itu di puji sedikit berasa di atas angin. Dassar! Batinku dalam hati.


Tanpa Edo dan Rani ketahui ada sepasang mata yang sedang mengawasi gerak gerik mereka berdua.....


__ADS_2