
Hari ini aku semangat datang ke kampus, karena hari ini ada kelas pagi. Jadi aku ke kampus pukul tujuh pagi, aku tidak suka mengambil kelas sore. Karena alasan ngantuk, kalau kuliah pagi siangnya aku bisa tidur dengan pulas siangnya. Hari ini aku ada kelas structure, kelas ini kita belajar tentang grammar dan strukur kata dalam Bahasa Inggris.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan mata kuliah ini, karena sangat membosankan. Sepanjang kelas ini aku menguap terus karena bosan dan ngantuk sekali, mau ngobrol juga tidak bisa karena dosennya terlalu killer. Tadi aja ada mahasiswa yang telat sepuluh menit masuk ke kelas, dosenku, Bu Yance, tidak memperbolehkan mahasiswa itu masuk. Aku sebenarnya kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah peraturan dari Bu Yance, setiap ada mahasiswa yang telat sepuluh menit. Maka tidak diperkenankan untuk masuk ke kelas. Di mata kuliah ini aku tidak terlalu fokus dengan materi yang diajarkan Bu Yance, karena kemarin Mitha teman sekosanku ngajakin jalan keliling Malioboro dan kami pulang sudah larut malam. Ya, alhasil aku dari tadi mendengarkan kuliah Bu Yance hanya bisa terkantuk-kantuk.
"Do, kita ke kantin yuk!" Ajakku ke Edo, dan Edo pun mengiyakan. Sebenarnya aku ingin minum kopi di kantin tapi perutku juga sudah lapar karena aku belum sarapan. Maklum anak kos , mana bisa aku masak pagi-pagi sekali. Paling bisa masak saat aku pulang kuliah. Itupun kalau tidak mengantuk dan malas. Kalau lagi gak kepingin masak sih biasanya beli sayur di warung. Aku kemudian melihat menu yang ada di kantin. Menunya ternyata sangat komplit hari ini. Dan aku memesan nasi cap jay dan minum es teh, tidak lupa ada mendoan yang melengkapi.
" Tumben kamu ndak pesan soto, Ran? " Tanya Edo heran, sambil tetap tangannya mengambil mendoan.
"Nggak, Ah. Aku lagi pingin makan sayur hari ini." Kataku sambil menggelengkan kepala, Edo tahu saja kalau aku sebenarnya suka soto. Tapi aku lagi malas pesan soto aku pingin makan sayur hari ini, biar siap menghadapi kehidupan yang fana ini. Saat aku sedang asyik menunggu makananku, aku melihat seorang lelaki tampan. Namanya Raka, dia adalah kakak tingkat ku. Menurut gosip yang beredar di kampus. Raka itu adalah anak konglomerat, ayahnya punya perusahaan tambang di Kalimantan. Ibunya juga seorang pengusaha batik yang sangat terkenal di Indonesia dan luar negeri, pokoknya kalau di deskripsikan Raka itu sempurna. Kalau tidak salah dia satu angkatan dengan Dewi, menurut gosip di kampus ini sebenarnya Raka sudah lama naksir Dewi. Tapi entah mengapa Dewi tidak menerima Raka mungkin ada alasan yang lain. Padahal kalau dipikir-pikir mereka itu adalah pasangan yang serasi, bayangkan yang satu ganteng dan yang satu lagi cantik. Apalagi mereka berdua itu orang kaya, pasti bikin semua orang di kampus ini merasa iri. Kalau aku sih jika ada cowok seganteng dan sekaya Raka nembak aku, dengan senang hati pasti aku terima. Apalagi yang nembak si Raka, pastilah aku terima. Tapi ya itu adalah hayalanku saja, mana bisa aku bisa sebanding dengan Raka yang sempurna, sedangkan aku hanyalah seorang itik buruk rupa.
"Sadar diri dong Ran, kamu itu cuma bebek gak bisa kamu mendapatkan seorang cowok seperti Panji." Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telingaku, yang membuat aku membulatkan tekat untuk bisa masuk di universitas ini. Agar aku tidak bertemu dengan mereka yang sudah menyakiti hatiku.
__ADS_1
" Kamu, itu kebiasaan ya. Selalu melamun aja." Kata Edo mengagetkanku. Aku pun tersenyum tipis mendengar perkataan Edo. Untung Edo gak sadar, kalau aku sebenarnya memperhatikan Raka dari tadi.
"Udah, selesai kamu Do? " Tanyaku ke Edo, aku pingin segera pergi dari kantin ini. Takutnya aku makin bisa jatuh cinta dengan Raka, hanya dengan melihatnya.
Sudah cukup pengalaman ku dulu, jatuh cinta dengan orang yang sepeti Raka. Ujung-ujungnya sakit hati, lelaki itu cocok dengan Dewi. Seperti Raja dan Ratu.
####
"Ran, ini gorengannya sudah." Kata Citra sambil menyerahkan gorengan ke aku.
"Iya, Cit. Berapa semuanya? " Tanyaku lagi ke Citra sambil tetap melihat ke arah kos-kosannya Raka.
__ADS_1
"5000, neng. Kamu lihatin apa sih, kok kayaknya heboh banget? " Citra pun ikut menengok ke arah kos-kosan mewah itu.
"Gak apa apa kok Cit. Yuk, kita balik! " Ajakku sambil menarik tangan Citra,
"Sebentar, aku belum bayar. "Aku pun menunggu Citra membayar gorengannya, sambil masih melirik kos-kosan mewah itu.
" Kamu tadi kok melirik ke Pondok Namira ada apa, Ran? " tanya Citra saat kami sedang jalan menuju ke kos kami.
" Enggak, kok. Aku cuma penasaran aja dengan Pondok Namira. Kok kamarnya harganya mahal ya? " Citra pun menggeleng pelan sambil tersenyum ke arahku.
" Di situ kan tempatnya anak orang kaya semua Ran. Aku dan kamu mana mungkin bisa kos disitu, harga kamarnya aja mahal sama dengan uang SKS kita. " Aku pun mengangguk pelan mendengar perkataan Citra tadi, seharusnya sih aku tetap bersyukur karena aku boleh kuliah di kampus ini dengan jalur prestasi. Setidaknya nanti aku bisa bercerita kepada anak cucuku nanti, bahwa aku pernah bersekolah UTHB kampus paling bonafit di Kota Yogyakarta, kota pelajar ini. Tapi dalam hatiku yang laling dalam, sebenarnya aku penasaran dengan Raka. Kok keingintahuanku sama seperti saat aku jatuh cinta dengan Panji, sebenarnya Raka dan Panji mempunyai banyak kesamaan. Mereka sama sama tampan dan mereka sama sama anak orang kaya. Aku sudah tidak ingin memikirkan Panji, namun aku tidak pernah lupa akan perilakunya kepadaku waktu SMA dulu. Apakah aku mulai jatuh cinta dengan Raka? Apakah perasaan ini datang lagi? Semoga tidak. Karena aku berharap aku tidak ingin merasakan sakit yang sama lagi, jika aku merasakan sakit yang sama lagi. Apakah aku harus pergi? Bagaimana dengan janjiku ke Bapak?
__ADS_1