
"Rani besok kalau sudah selesai kerja di sini, temui aku ya. " Pinta Kak Ellen saat aku hendak siap siap untuk pulang, aku menganggukkan kepala tanda setuju. Seneng banget bisa kenalan sama Kak Ellen dan Bu Linda, mereka sangat baik. Tadi aja mereka membelikan aku pizza ukuran besar untuk dimakan, masih ada sisa dan aku bawa. Lumayan bisa dimakan nanti di kos, ngirit buat beli jajan.
Aku kira orang kaya itu sombong, tapi setelah mengenal Kak Ellen dan ibunya. Perasaan itu aku tepis jauh jauh, ini gara-gara Rosi dan geng nya. Dulu aku sempat dihina oleh Mereka, dikatain anak orang miskin tidak pantas untuk kuliah.
Tetapi Mereka berempat yang ngakunya orang kaya, tetap tidak bisa masuk ke Universitas Tunas Harapan Bangsa. Malah memilih masuk ke Universitas Negeri di luar kota, Tuhan memang adil. Mereka memang orang kaya tetapi kekayaan mereka tidak seberapa jika dibandingkan dengan Kak Ellen dan ibunya.
Sepertinya Kak Ellen mau ikut fashion show, mereka berdua tampak sibuk menyiapkan kostum yang akan dipakai. Tapi Bu Linda adalah fashion designer dan punya butik sendiri, jadi gampang lah bagi beliau untuk menyiapkan kostum untuk anaknya.
Melihat mereka berdua aku jadi kangen ibu ku yang ada di desa, minggu ini tidak bisa pulang karena weekend pun aku harus bekerja.
Aku pun menikmati malam di sepanjang jalan Malioboro, menggunakan motor. Melihat para wisatawan asing atau para pejalan kaki menikmati daerah itu tanpa ada halangan dari pedagang kaki lama, kapan-kapan aku bisa menikmati malam di Malioboro.
Aku ingin sesekali duduk nyaman, di pelataran toko sekitar Malioboro. Tidak memikirkan apa yang harus aku makan besok, bagaimana caranya aku mendapatkan uang. Sungguh kehidupan seperti itu yang aku sangat inginkan.
@@@@@@@@@@@
Akhirnya setelah menempuh waktu 15 menit perjalanan menggunakan motor, aku bisa beristirahat juga di kamar kos ku yang kecil. Sambil melihat kos-kosan elite di depan kos ku, sungguh perbandingan yang sangat jauh. Tapi aku tetap bersyukur karena aku disini tidak kepanasan dan tidak kehujanan nyaman sekali.
Tok.... tok... tok...
Pintu kamar diketuk oleh seseorang, aku pun bergegas membuka pintu. Ternyata itu Mbak Putri, dia sepertinya membawa sesuatu untuk ku.
"Ini, Ran. Mbak Putri bawa singkong sama teh anget. Sapa tahu kamu suka. " Kata Mbak Putri sambil menyerahkan sepiring singkong goreng.
"Mau dong mbak, aku laper banget. " Kataku sambil membawa singkong anget itu masuk ke kamar dan mengganti piringnya.
"Makasih ya mbak. " Kataku sambil mengembalikan piring itu, Mbak Putri kemudian kembali ke kamarnya.
Hari ini lumayan aku dapat singkong anget dan pizza dari tempat kerjaku dan mbak Putri, besok bisa sarapan kenyang nih. Pikirku. Untuk malam ini aku tadi membawa nasi goreng, dan memakannya dengan segera. Sambil membuka jendela kos, dan memandang kos depan. Berharap Raka bisa keluar dan aku melihat wajahnya, aku hanya bisa memandang cowok itu dari jauh. Karena aku menyukai nya.
Ternyata doa ku tiba-tiba dikabulkan Tuhan, Raka sedang duduk santai bersama teman-teman kos nya. Walaupun hanya menggunakan kaos santai dan celana pendek, orang ganteng sepertinya tetap kelihatan ganteng.
Dari balik jendela, sambil makan singkong goreng dan minum teh tentunya. Aku melihat banyak sekali anak-anak kos itu yang membawa sesuatu, seperti sosis, nugget dan bakso. Ah, seandainya di kosan ini juga seperti di kos an depan pasti menyenangkan. Harus banyak banyak bersyukur Rani, bukannya kamu sudah dapat singkong goreng. Itu sudah sesuatu yang WOW banget lho.
Sepertinya mereka sedang berpesta, aku kemudian membayangkan menjadi orang kaya. Pasti lebih enak.
__ADS_1
Setelah puas melihat mereka dan kenyang, aku pun berlanjut ke alam mimpi, merebahkan diriku, menikmati menjadi seorang yang kaya raya.
@@@@@
Siang hari setelah pulang kampus...
"Kamu mau ke mana, Ran? " Kata Edo sambil mau menyerah kan buku.
"Aku buru buru, Do. Mau bekerja di butik. " Kataku sambil mengambil buku yang diberikan Edo, aku pun langsung meninggalkan Edo yang masih kelihatan kaget dengan jawabanku.
Untung tadi kelas Bahasa Jepang dasar sudah selesai, dan menutup perkuliahan ku hari ini dengan sempurna.
Aku pun sudah sampai ke butik milik Bu Linda, mamanya Kak Ellen. Tanpa basa basi aku pun mulai mengganti bajuku dengan baju dinas, lengkap dengan bando kelinci. Kelihatan imut juga aku pakai bando ini, memuji diri sendiri itu ibadah.
Hari ini butik rame pengunjung, aku sempat kewalahan menghadapi pembeli, tetapi juga menyenangkan karena aku bisa membantu mereka memilihkan baju yang cocok dengan badan mereka.
"Hai, Rani. Kamu mau pulang. " Kata Kak Ellen mengagetkan ku. Aku pun menjawab pertanyaan Kak Ellen dengan anggukan kepala, tampak raut wajahnya sangat sedih mendengar jawabanku.
"Padahal aku mau mengajak mu ke cafe dekat butik ini, mau ya? " Ajaknya. Aku sebenarnya sudah capai, tapi aku tidak tega dengan raut wajahnya Kak Ellen yang kelihatan menggemaskan.
" Tenang aja, ayuk aku bantuin. " Kata Kak Ellen sambil memasukkan semua barang ku ke dalam tas, aduh aku gak enak kalau dilihat orang lain. Masa anak bos bantuin pegawainya masukin barang, tapi cewek itu memang gak bisa di cegah.
Setelah selesai membereskan barang ku kami berdua berjalan menyusuri malamnya Malioboro, baru kemarin aku bilang kalau aku ingin menikmati malamnya tempat ini. Malam ini aku menikmati nya bersama dengan Kak Ellen salah satu orang yang sangat aku kagumi di kampus, Tuhan memang baik mengabulkan doaku secepat ini.
Kami berdua pun memasuki sebuah cafe yang bertuliskan Star, baru kali ini aku masuk kedalam cafe. Ini bukan cafe yang ada di pikiran orang, tapi ini cafe sekaligus tempat makan dan juga ada live musik nya. Bukan cafe remang remang yang ada di daerah daerah, yang banyak wanita malamnya.
"Kamu mau makan apa, Ran?" Tanya Kak Ellen sambil menyerahkan menu,
" Terserah Kak Ellen aja. " Kataku karena aku bingung makanannya banyak banget, lagipula aku kan di traktir.
"Okay, lemon juice dua sama spaghetti dua, dan steak ayam dua. Terimakasih. " Kata Kak Ellen ke pelayan cafe tersebut, dan si pelayan pun meninggalkan kami berdua.
"Kamu seneng gak, makan di sini? " Kata Kak Ellen menanyakan hal itu, aku mengangguk kan kepala. Mana pernah aku makan di cafe seperti ini, biasanya juga warteg depan kampus. Kata ku dalam hati.
" Aku sebenarnya pingin cerita sama kamu, Ran. Tentang aku. " Kata Kak Ellen, aku hanya bisa terdiam. Bagaimana mungkin seorang Ellen bisa cerita dengan rakyat jelata seperti aku, Maharani.
__ADS_1
"Kak Ellen yakin mau cerita sama aku? " Tanyaku balik, gadis itu pun menganggukkan kepalanya.
"Kata Dewi kamu orang nya bisa diandalkan, jadi aku percaya sama kamu. " Aku tertegun, kok bisa Kak Dewi ngomong begitu. Padahal kami juga tidak merasa akrab dengan Kak Dewi, hanya mungkin dulu waktu OSPEK kami satu kelompok.
"Kakak mau cerita apa? Siapa tahu dengan cerita ke aku, perasaan kakak jadi lebih lega. " Kataku pelan.
Percakapan kami berhenti sebentar karena makanan yang kami pesan sudah datang, wah. Kapan lagi aku bisa menikmati makanan seperti ini, ibuku dan ayahku di rumah aja jarang masak beginian buatku. Aku sampai menelan saliva karena bau masakan ini sampai ke hidungku, sepertinya enak. Pikirku dalam hati.
"Ran, kamu tahu Dewi kan? " Tanya Kak Ellen tiba-tiba, aku menganggukan kepala ke Kak Ellen. Tanda kalau aku mengangguk setuju dengan perkataan Kak Ellen, memang aku hanya kenal dengan Kak Dewi.
" Dia suka ngomongin kamu, katanya kalau apa- apa ngomong sama Rani aja. " Kata Kak Ellen lagi.
" Masa sih Kak?" Tanyaku tidak percaya, masa seorang Dewi mengagumi aku yang biasa saja ini.
"Iya, kalau tidak percaya kamu bisa tanya sendiri sama Dewi." Kata Kak Ellen sambil meminum minumannya.
Aku jadi tersipu malu, karena seorang Dewi bisa- bisanya memuji seorang Rani. Yang Notabene hanya mahasiswa biasa, yang kuliah karena beasiswa penuh yang diberikan oleh sebuah TV swasta.
"Kakak jangan memujiku berlebihan, aku jadi gak enak hati. " Kataku dengan muka memerah, mungkin kalau dilihat Kak Ellen mukaku ini sudah seperti kepiting rebus.
" Tapi kamu pinter lho Ran, kamu bisa mengalahkan banyak temen-temen mu dan bisa mendapatkan beasiswa. Sampai lulus kuliah." Wah, ternyata gosip ku sudah menyebar ke kampus UHTB. Ternyata Kak Ellen bisa iri sama aku, padahal aku adalah anak pegawai negri biasa. Jika dibandingkan dengan Kak Ellen, sangat jauh sekali.
Kamipun melanjutkan makan, suasana cafe disini sangat menyenangkan. Ternyata hari ini ada live music, ini adalah kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan sebelum nya.
Kak Ellen kemudian cerita tentang kehidupannya, dari yang dia pingin jadi model internasional. Sampai cita- citanya besok yang ingin melanjutkan bisnis orang tuanya di bidang kecantika, aku baru tahu kalau Bu Linda. Mamanya Kak Ellen juga punya perusahaan kosmetik, dan sudah punya omset yang banyak sekali.
Papanya seorang pengusaha yang punya perumahan terkenal di Yogyakarta, jadi kehidupan Kak Ellen memang luar biasa.
Kekayaan nya melebihi kekayaan keluarga Rosi yang sering mem bully ku, yang aku tahu kekayaan Rossi tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki Kak Ellen. Tapi sikap Kak Ellen tidak sombong kepadaku malah cenderung biasa.
Malam sudah semaki larut, kami pun berdua meninggalkan cafe tersebut. Sebenarnya Kak Ellen ingin sekali mengantarkan aku pulang, tetapi aku membawa motor.
Kalau diantar pulang sama Kak Ellen, besok aku berangkat ke kampus naik apa?
Akhirnya malam ini aku memberanikan diri untuk pulang ke kos, untung diberikan kunci pagar oleh ibu kos. Sehingga aku tidak perlu membangunkan beliau, aku bilang kalau aku kerja malam sehingga mengizinkan aku untuk membawa kunci.
__ADS_1
Malam semakin larut dan aku menikmati nya.