Si Itik Buruk Rupa di Geng Cantik

Si Itik Buruk Rupa di Geng Cantik
Kak Sonya


__ADS_3

Hari ini aku masih nongkrong di gazebo, tempat anak-anak kampus nongkrong nongkrong. Karena datang kepagian jadi aku memutuskan untuk duduk duduk di sana, harusnya hari ini ada mata kuliah Kewarganegaraan jam sembilan. Walaupun kami mahasiswa sasing atau Sastra Inggris, tetap mendapatkan mata kuliah umum. Seperti Kewarganegaraan, Bahasa Indosia, Ilmu alam Dasar, Ilmu sosial Dasar dan mata kuliah umum lainnya. Aku datang jam delapan, kepagian memang. Tentu saja teman-teman yang lain belum datang, hanya aku sendirian di sini.


Kampus kalau pagi -pagi begini sepi sekali, hanya tim basket yang sedang pemanasan. Sedangkan Mahasiswa lainnya belum datang, rasanya aku pingin sekali tiduran di gazebo saking ngantuk nya. Tadi malam tidur jam dua belas malam, maklum butik lagi rame - rame nya setelah Borobudur Festival. Jadi semua pegawai di butik kerja lembur, termasuk aku.


Aku melihat beberapa mahasiswa yang tergabung dalam tim basket kampus mulai latihan, dari gazebo melihat mereka yang sedang latihan basket sepertinya mereka akan bertanding sebentar lagi. Oh, iya. Sebentar lagi kan ulang tahun Universitas dan akan diadakan pertandingan persahabatan antar fakultas, makanya aku sekarang melihat anak-anak basket latihan sepagi ini.


Aku tidak menghiraukan banyaknya cewek cewek yang teriak teriak di dekat lapangan, memang ganteng-ganteng sih sehingga membuat para cewek sangat mengagumi mereka. Postur tubuh para pemain basket yang tinggi-tinggi membuat kaum hawa merasa jatuh cinta, bukan hanya anak anak fakultas ini saja. Tetapi dari fakultas lain, padahal tim basket dari fakultas Ekonomi yang menurutku sangat berkelas dan lebih tampan. Mungkin karena aku sering melihat mereka, jadinya mereka tidak terlalu tampan menurut ku.


"Kamu tidak gabung dengan anak cewek-cewek itu? " Edo mengagetkan ku dengan suaranya yang berat, memang ya anak itu suka sekali membuat tubuhku melonjak karena kaget.


"Enggak lah, enakan disini duduk duduk sambil membaca. " Aku pun menunjukkan buku yang sedang ku baca, daripada aku hanya diam di gazebo mending membaca buku yang aku pinjam dari perpus. Bukan novel yang berbahasa Inggris, tetapi novel Indonesia karangan NH. Dini. Penulis yang sudah menetap di Belanda itu adalah novelis kesukaanku, gaya bahasa nya yang ringan membuat ku suka membaca novel itu.


" Kamu kok kepagian, bukannya nanti kelas nya jam satuan? " Tanya Edo sambil duduk di sebelahku, padahal masih banyak bangku kosong. Tetapi Edo masih tetap memilih satu bangku dengan ku, kalau aku sih tidak masalah karena memang kita berdua sangat akrab.


"Jam Satuan? Bukannya jam sembilan. " Kataku ke Edo sambil membatin, ini anak agak geblek kali ya. Kan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan jam 9.


" Oh, iya ya. Jam sembilan, aku masih mengantuk nih. " Edo menguap lebar, sepertinya nyamuk bisa masuk ke mulut Edo yang lebar itu.


"Aku salah lihat jam, aku kira kuliah nya jam delapan ternyata jam sembilan. " Kataku datar sambil masih asyik mem bolak balik halaman buku, Edo ingin mengambil novel ku. Aku kemudian menepis tangannya, Edo hanya bisa tersenyum.


Sepertinya memang dia lagi mencari perhatian ku, entah apa yang dilakukan dengan tanganku. Mulai membaca sampul depan dari buku ku, terus toal toel lenganku. Memang anak ini beda dari yang lain, ada aja kelakuannya untuk menggangguku.

__ADS_1


"Daripada kamu menganggu ku, mending kamu bawain aku makanan. " Edo tersenyum kecut, aku hanya bisa tersenyum memandang wajah cowok itu. Yes! Berhasil. Kataku dalam hati.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan anak-anak mata kuliah Kewarganegaraan sudah semua nya masuk ke kelas, aku pun juga masuk ke kelas. Sengaja aku duduk dekat jendela agar tidak merasa bosan, karena nanti kalau dosennya sudah ngomong ngalor ngidul. Aku bisa melihat anak-anak yang lewat dari jendela, dan tentu saja si Edo duduk di sampingku. Aku sih tidak terlalu masalah, kan memang dia sahabatku di kampus ini.


Sebenarnya aku dekat juga sama anak - anak lain yang satu angkatan denganku, walaupun mereka sombong tapi masih ada beberapa yang masih berteman denganku. Tidak seperti anak-anak di SMA ku yang dulu, mereka tidak mau berteman denganku karena aku miskin. Padahal mereka juga tidak terlalu kaya, menurutku. Lebih kaya para mahasiswa UHTB yang setiap hari kamu lihat membawa mobil keluaran terbaru, tas branded terbaru, HP keluaran terbaru. Menjadi bukan hal yang baru lagi buat para mahasiswa di sini.


Pak dosen sedang menerangkan mata kuliah, tetapi pandanganku ada di luar jendela. Aku melihat Kak Sonya dengan teman temannya, kebetulan bukan dengan geng cantik. Tumben biasanya mereka berempat tidak bisa dipisahkan, hari ini ada yang berbeda. Kak Sonya tidak bersama mereka, ada mungkin ada sesuatu yang terjadi dengan mereka. Batinku dalam hati.


Aku pun menyimak pelajaran dengan seksama, takut ketinggalan mata kuliah ini. Jadi aku mulai fokus lagi dengan matkul ini, biar tidak mengulang. Sayang beasiswa nya yang sudah aku dapatkan dengan susah payah, sekali lagi aku harus fokus mendapatkan IPK yang memuaskan agar terus bisa kuliah di tempat ini hingga aku lulus.


@@@@@@@@


Aku memasak satu kali untuk sayurnya, sebagian disimpan untuk makan siang. Kalau untuk makan malam biasanya aku makan di butik. Karena Bu Linda sering mengajak karyawannya untuk makan bersama, mungkin karena Bu Linda hanya berdua dengan Kak Ellen jadi beliau merasa kesepian.


Kak Ellen juga sering makan dengan para karyawan butiknya, kadang kami mengobrol dengan santainya di butik sambil lesehan. Tidak ada batasan antara karyawan dan bos, sungguh nikmat dunia.


"Kamu gak ke kantin, Ran? " Tanya Edo sambil berlari kecil menuju ke arahku, ini anak memang sukanya ngagetin deh. Batinku dalam hati.


"Aku sudah makan kok, Do. Ini buktinya. " Aku memperlihatkan tempat makan ku ke Edo.


" Tumben, yakin gak mau soto?" Aku menggelengkan kepala, Edo sudah terlalu baik kepadaku dengan mentraktir makan siang. Masa aku merepotkan dia terus.

__ADS_1


"Aku sudah beli peralatan makan eletrik, sayang kalau tidak dipakai. " Edo mengangguk pelan, tanda setuju.


"Kalau begitu, kapan - kapan kamu masakin aku. " Aku terkejut mendengar perkataan Edo, lalu aku jitak kepalanya. Enak aja main nyuruh - nyuruh.


"Sakit tahu. " Edo sambil memegang kepalanya yang tadi aku jitak, kayaknya kesakitan.


"Syukurin." Kataku ke cowok berambut keriting itu. Edo ingin membalas dengan menjitak kepalaku, tetapi aku segera menepis tangannya. Enak aja mau menjitak kepala ku, tidak bisa saudara.


Aku tidak peduli dengan para mahasiswa yang melihat aksi kami, mungkin kalau dilihat kami seperti orang yang berpacaran. Tapi kami sebenarnya hanya teman biasa, Edo yang keterlaluan masa ingin menjitak kepalaku. Nanti kalau otak ku ini tiba - tiba terluka bagaimana, aku tidak bisa dapat beasiswa lagi dong sampai lulus kuliah.


Saat aku sedang melancarkan aksi ku untuk membalas Edo, tanpa sengaja aku melihat Kak Sonya. Sepertinya dia sedang bersama cowok seangkatannya yang bernama Alex, apakah mungkin Kak Sonya berpacaran dengan Kak Alex.


Sebenarnya Kak Alex orang baik, dia juga anak seorang pengusaha yang terkenal di Jakarta. Kalau soal kekayaan, Kak Alex sejajar dengan geng cantik.


Soal sifat, Kak Alex bukan seorang berandalan. Dia orang yang lembut, punya band juga. Dengar - dengar dia juga mau debut sama seperti Kak Titin. Mengapa aku bisa tahu soal Kak Alex, karena di kampus ini gosip sekecil apapun pasti terdengar.


"Kamu lihat siapa? " Tanya Edo mengalihkan perhatian ku soal Kak Alex dan Kak Sonya, aku pun menggeleng.


"Yuk, pergi dari sini. Sebentar lagi kan ada kelas. " Aku pun segera membereskan buku - buku ku lalu memasukan nya ke tas, Edo pun membantuku merapikan dan memasukan buku - buku ku ke dalam tas ku. Dan kami berjalan menuju ke kelas kami yang kebetulan dekat dengan gazebo.


Tanpa Edo dan Rani sadari ternyata Alex dan Sonya mengawasi mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2