Si Itik Buruk Rupa di Geng Cantik

Si Itik Buruk Rupa di Geng Cantik
Edo si Rambut Kriwil


__ADS_3

"Hai, kenalkan namaku Edo kamu siapa? " Tanya seorang cowok yang mengagetkanku saat aku ingin registrasi ulang, diapun mengulurkan tangan pertanda ingin kenalan denganku.


"Aku, Rani." Jawabku sambil salaman dengan Edo.


"Kamu asli sini, Ran?" Tanya Edo sambil duduk di sebelahku.


" Iya, aku asli Gunung Kidul. Tapi aku ngekos juga disini. "


 


"Oh, kalau aku dari NTT. Kupang. Tepatnya kelihatan kan dari rambutnya, keriting. "Kata Edo sambil tersenyum simpul ke arahku, anak ini beda dengan teman-teman cowok ku lainnya. Dia tidak ada basa-basinya saat melihat ku, langsung mengajakku berkenalan. Begitulah awal perkenalanku dengan Edo, anak yang sangat menyenangkan. Seumur hidupku aku belum pernah mempunyai sahabat pria, sekarang malah ada Edo yang selalu dekat denganku. Dia anak yang baik, selalu menghiburku saat aku sedang dilanda kesusahan. Walaupun aku sering jutek dengannya tetapi dia tidak pernah marah kepadaku, bahkan dia juga pernah datang ke rumahku di Gunung Kidul hanya untuk bisa bertemu dengan orang tuaku.


 


"Nduk, siapa temanmu yang suka main kesini? " Tanya Ibu kepadaku, saat aku sedang ada di rumah. Memang setiap hari Sabtu dan Minggu aku pulang, karena rumahku dekat hanya seputaran Yogya saja. Tetapi aku lebih memilih kos, karena aku tahu kalau aku adalah orang yang tidak bisa bangun pagi. Sedangkan Gunung Kidul dan Yogya kota jaraknya jauh sekali.


 


"Oh, nggih bu. Namanya Edo. Kenapa bu? " Tanyaku ke Ibu, tumben-tumbenan ibu tanya soal sahabatku ku itu. Mungkin ibu merasa bahagia, saat tahu kalau anaknya ini punya teman laki laki.


 

__ADS_1


"Nggak apa apa nduk. Kamu kuliahnya yang rajin ya, supaya kamu bisa membahagiakan ibu dan bapak. " kata ibu sambil membelai rambutku. Akupun mengangguk pelan, dalam hati aku berkata bahwa aku tidak akan mengecewakan ibu dan bapak yang sudah susah payah membimbingku. Bapak dan Ibu sebenarnya sudah senang kalau aku bisa kuliah, dan yang membuat mereka lebih bangga lagi adalah aku bisa kuliah di tempat yang bagus. Yang tidak pernah diprediksi bapak dan ibu. Bahkan teman-teman sekampungku tidak menyangka kalau aku bisa kuliah di kampusku sekarang. Bahkan Panji pun tidak menyangka kalau seorang Maharani Putri bisa masuk di UTHB, sekolahnya anak konglomerat. Kenalannya sekarang banyak anak pejabat. Dan itu adalah pembalasan yang paling indah untuk mereka.


 


@@@@@@$$$$$$$$$


Edo, adalah anak yang pintar menurutku. saat kuis dan tes dia mendapatkan nilai yang sangat tinggi, dia adalah sainganku. Tetapi yang tidak kusangka kalau dia tidak pernah menganggap aki saingan, dia yang pertama kali mengajak aku kenalan. Dari segi fisik, Edo ini sangat menarik. Dia berkulit hitam tapi tidak terlalu legam. Lebih dari itu aku suka sekali lihat hidungnya Edo, tipikal orang timor yang mempunyai hidung mancung. Tidak seperti aku yang hidungnya mancung ke dalam alias pesek, Edo mempunyai rambut keriting. Tipikal rambut keriting yang kecil-kecil, hingga nyaris kribo. Aku senang mempermainkan rambutnya karena gemes, kadang-kadang dia marah sama aku. Tetapi senang banget kalau lihat dia marah, tambah ganteng.


Seharusnya si Edo bisa mengalahkan ketampanan Raka, tetapi Raka lebih ganteng daripada Edo. Dan aku baru sadar ternyata ada yang aneh dengan temen cowokku satu-satunya, biasanya Edo ini suka jahil kepadaku. Aku pun mulai membuka topinya Edo, seperti biasanya Edo mulai risih karena tahu siapa yang datang.


" Kamu kenapa sih Do? Kok mukanya cemberut gitu? " Tanyaku ke Edo, tapi yang ditanya malah pura-pura tidak tahu. Tapi aku tidak kehabisan akal, aku kelitikin aja badannya.


" Udah, ah Ran. Geli tahu. "


" Aku belum makan Ran. " Akupun tertawa terbahak bahak, melihat ada saja tingkah laku si Edo.


" Mau ditemenin ke kantin? Tapi traktir ya? " Kataku sambil mengedipkan mata ke arah Edo.


" Ya sudah, ayo." Akupun tersenyum mendengar tawaran Edo. Lumayan ngirit uang, enakkan punya temen kayak Edo. Teman-teman yang lain suka mengira kalau aku dan Edo pacaran, padahal aku sama Edo hanya temenan tidak lebih dan tidak kurang. Karena Edo itu tidak bisa dijadikan pacar, Edo adalah sahabatku. Si kriwul yang baik hati, penolongku di saat aku susah.


Pertemuan ku dengan Edo memang tidak sengaja, saat itu kami berdua memang sama sama datang untuk registrasi ulang. Kami sama sama tidak tahu dimana letak Fakultas Bahasa Inggris, karena memang aku baru menginjakan kaki di Universitas ini. Sedangkan Edo baru datang dari NTT.

__ADS_1


Kami berdua habis dari BAAK mengurus administrasi kami, aku lihat si Edo bayar full semua administrasi nya. Sedangkan aku sudah mendapatkan Beasiswa di kampus ini full sampai empat tahun ke depan. Ada rasa iri sebenarnya dengan teman temanku yang lain, mereka anak orang kaya semua. Seandainya orang tuaku kaya, pasti aku tidak perlu beasiswa ini. Bahkan semua anak yang di sekolah ini merupakan anak anak konglomerat di Jogja bahkan luar pulau, aku seneng banget bisa sekolah di sini karena setidaknya aku bisa sedikit menjauh dari masa laluku di SMA yang sangat menjemukan.


Semua teman teman SMA ku menganggap aku adalah teman yang hina, apalagi sejak kejadian waktu aku suka dengan Panji. Seorang anak konglomerat seperti Raka, tetapi kalau aku lihat dia tidak sekaya Raka.


############


"Yakin, Ran. Mau masuk ke UHTB? " Tanya sahabatku saat SMA. Namanya Niken. Dia sahabat dekatku di sekolah. Dia adalah gadis biasa sama sepertiku, yang termasuk siswa biasa saja.


"Yakin, Niken... Memang kenapa? " tanyaku ke Niken.


" Mereka kan anak orang kaya semua. " Aku pun tertegun saat Niken mengatakan itu.


Bukan salah Niken sih, tapi memang anak anak di sini saja kurang suka kepadaku. Apalagi saat aku nanti kuliah di UHTB, Yang notabene kampus paling elit se Yogyakarta.


" Gak apa apa Niken, memang sudah tujuan ku masuk kesana. Sayang beasiswa nya" Kataku meyakinkan Niken, dan dia pun mengangguk kan kepala tanda setuju.


"Enak ya kamu Ran, dikasih Tuhan otak yang cerdas sehingga kamu bisa masuk ke UHTB. Sedangkan aku, belum tahu mau lanjut kuliah atau kerja. " Kata Niken sambil mendesah.


Aku hanya bisa tersenyum saat mendengar penuturan Niken, dan aku selalu mengucap syukur atas apa yang Tuhan beri kepadaku.


Aku kehilangan Niken, sejak saat kelulusan dia tidak bisa ditemukan. Dan aku sangat sedih mendengarnya, apa dia kerja ke luar kota ya? Atau melanjutkan pendidikan di luar kota juga? Entahlah, yang pasti aku merindukan Niken sahabatku. Dan aku percaya suatu hari kami bisa bertemu dengannya.

__ADS_1


 


__ADS_2