
Aku masih mengagumi sosok Dewi, dia ini bidadari banget. Kulitnya putih dan rambutnya yang diwarna pirang membuatnya semakin cantik, hidungnya mancung dan dia tinggi. Membuat siapapun pasti terpesona dengannya, sejak OSPEK kemarin dia yang menjadi pusat perhatian. Walaupun aku tidak terlalu *ngeh* sebenarnya waktu OSPEK kemarin, bagaimana bisa *ngeh*. Banyak sekali tugas yang harus dipikirkan, yang nyari tanaman lah. Yang buat ini itu lah. Mungkin ini yang membuat para kakak senior banyak yang ngulang OSPEK nya, karena banyak sekali tugasnya yang membuat kepala ini menjadi pusing. Dan sekarang bidadari ini berada di depanku, walaupun dia tidak berbicara denganku. Tapi dia sedang bicara dengan gengnya, yang cantik cantik semua. Aku aja yang perempuan lihat kecantikannya Dewi aja melongo apalagi yang cowok, pasti makin tambah terpesona.
" Ayo, lho! Kamu ngapain? " Kata Edo sambil mencomot mendoan yang ada di depanku, aku pun memukul tangannya.
Ini kan makanan kesukaanku, dan harusnya Edo tahu jika aku makan ini tidak bisa diganggu gugat. Mukaku sudah ku tekuk kayak baju yang baru selesai aku setrika, jadi gak kusut kusut banget.
"Nanti aku ganti, mau makan mie ayam atau bakso? " Kata Edo, aku pun tersenyum senang.
Karena aku hari ini mau ditraktir sama Edo, mungkin dia sudah merasa kali ya. Kalau sahabatnya ini lagi terkena kanker alias kantong kering, walaupun aku dagang sambil kuliah. Tetap saja aku harus berhemat, apalagi ayahku hanya seorang PNS golongan 3 yang gajinya sedikit. Jadi aku harus pintar pintar mengatur uang, kalau gak begitu uangku juga tidak cukup untuk bayar kos dan uang makan ku sehari-hari.
"Gak ah, Do! Kalau aku makan mie ayam dan bakso gak kenyang, kalau nasi soto plus sate telur boleh gak Do?" Kepalaku pun di jitak sama Edo, dalam hati aku pun berkata aku pasti nanti akan mengganggu Edo dengan menjitak kepalanya juga. Tapi aku harus sabar, jangan sampai traktiran ku ini nanti musnah.
"Maunya, ya sudah sana. Pesan di kantin nanti aku yang bayar. " Kata Edo sambil asyik membaca buku ku.
"Makasih, Edo. " Kataku sambil menuju ke meja etalase kantin, di sana banyak sekali menu yang enak-enak. Ada cap jay, ca brokoli, ada ayam woku, ada rica-rica ayam.
Banyak sekali menu masakan manado yang ada di kantin, karena memang tante pemilik kantin asli orang Manado. Tapi soto ayamnya enak, makanya aku paling suka dengan soto ayam.
Bagaimana gak suka, kan sudah komplit ada nasi, ayam dan kuah. Jadi kenyang, dan minumnya es teh. Semua itu dibayari sama Bos Edo. Setelah aku pesan soto ayam, aku kembali ke mejaku. Dan ternyata di sana masih ada Bos Edo yang masih asyik makan tempe mendoan ku, tapi aku gak marah kok. Kan sudah diganti dengan nasi soto ayam plus sate telur dan minumnya es teh, karena harga tempe mendoan lima tidak sebanding dengan harga makanan yang aku pesan. Kataku dalam hati.
__ADS_1
"Lho, mana makanannya? " Tanya Edo heran karena aku tidak membawa apapun, setelah dari meja etalase makanan.
" Nanti, mbaknya disini nganterin. " Kataku sambil menarik kursi dan duduk di sampingnya Edo.
" Kamu, tadi ngapain sampai bengong begitu? " Tanya Edo penasaran sambil masih asyik membolak balik buku yang dibacanya.
Kayaknya asyik betul dia baca Novel Huckleberry Finn, mungkin dia mau mengumpulkan tugas extensive reading. Aku juga suka novel itu, karena ceritanya tentang seorang budak dan tentang rasis. Yang membuat aku suka.
"Enggak, aku tadi lihat Dewi dan teman-teman gengnya. " Kataku sambil ngambil nasi soto ayam yang sudah datang, akhirnya makananku datang.
"Memang kamu kenapa ngelihatin Dewi seperti itu? " Tanya Edo penasaran.
Aku pun melanjutkan makananku, daripada aku berdebat dengan Edo pasti tidak akan pernah berujung. Setelah makan aku melanjutkan membaca Novel The Adventure of Huck Finn, dan nanti aku akan membuat resensinya karena ini tugas dari Miss Wanda. Tugas ini harus selesai hari ini, dan aku ingin mendapatkan nilai bagus. Edo pun juga asyik membaca novel yang dipilih.
@@@@@@@@
Dewi sang bidadari kampus tanpa aku duga ternyata sekelas denganku di kelas Creative Writing, mungkin dia belum mengambil kelas ini jadi masuk kelas ini.
Atau mungkin dia mengulang kelas ini agar mendapatkan nilai bagus, tapi masa iya cewek secantik ini mengulang mata kuliah. Setahuku cewek cantik itu pinter.
Tapi ah aku tidak mau berspekulasi dengan pikiran-pikiranku sendiri, mungkin dia belum mengambil mata kuliah ini.
__ADS_1
Toh aku melihat banyak sekali kakak kakak kelas yang mengambil mata kuliah dasar ini, sepanjang mata kuliah banyak sekali anak-anak yang melihat si Dewi.
Mungkin Dewi terlalu mencolok di antara teman-teman yang lain, padahal setahuku yang bersekolah UTHB ini anak-anak terpopuler di Kota Yogyakarta kalangan highclass semua. Paling tidak mereka dan Dewi ini seimbang, atau mungkin karena kecantikannya yang sesuai dengan namanya Dewi artinya bidadari. Dan aku tahu sepanjang kuliah aku bisa melihat ada raka di degan jendela kelas. Melihat Dewi dengan penuh tatapan cinta, kok aku jadi cemburu ya? Padahal aku tahu kalau sebenarnya Raka itu suka dengan Dewi, dan mereka itu serasi. Yang satu ganteng dan yang satu cantik, bagaikan pangeran dan bidadari.
Mungkin gosip di kampus ini benar. Kalau sebenarnya mereka saling suka. Aku harus tahu diri kalau aku ini si itik buruk rupa, dan aku tidak ingin sampai peristiwa setahun lalu terjadi lagi. Sudahlah, kalau peristiwa itu terjadi lagi bagaimana? Aku harus melarikan diri ke mana lagi. Padahal tujuanku aku tidak ingin bertemu dengan siapapun, jadi waktu ada program beasiswa dari UTHB aku memberanikan diri untuk ikut program ini dan ternyata berhasil. Akupun mulai melanjutkan catatanku, agar aku bisa fokus di mata kuliah ini. Dan lulus dengan nilai terbaik dan bisa membahagiakan ibu dan bapak.
Bayangan ku beberapa tahun yang lalu saat aku masih SMA pun terulang lagi, untung tidak.
"Hai aku boleh pinjem catatanmu gak? " Aku kaget setengah mati, saat Dewi mengajak ku ngobrol.
"Hai juga kak. Boleh, tapi tulisanku jelek lho kak. " Kataku sembari menyerahkan catatan ku.
"Ah, gpp rapi gini kok... Aku pinjam dulu ya. Oh, ya namaku Dewi. Kamu Siapa? " Katanya sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
" Aku, Rani kak... " Aku masih syok karena aku bisa memegang tangan Dewi, sang bidadari kampus.
" Ok, Rani aku pinjam dulu ya. " Kata Dewi sambil berlalu.
"Kami lihat kan Do. " Kataku ke Edo yang saat ini sedang melihat ke arahku. Edo hanya menganggukkan kepalanya sambil masih fokus ke tugasnya. Ah, Edo gak asyik ah masak dia lebih asyik dengan tugasnya. Kan aku lagi seneng. Kataku dalam hati, memang sungguh bahagia itu yang kurasakan sekaran.
__ADS_1