
Setelah mendapatkan petunjuk dari Alexa, pagi itu juga Michelson pergi menyambangi rumah saksh satu asisten pribadinya di kantor. Ia di temani oleh Reyhan.
"Rey, jangan sampai ia kabur ya. Kita harus bisa menangkapnya sekarang juga!" perintahnya.
"Aku juga sudah mempersiapkan beberapa anak buahmu di luar pagar rumahnya," ucap Michelson.
"Ingat Rey, jangan buat ia curiga kalau kita ini akan menangkapnya."
"Siap, bos."
Ting tong ting tong
Reyhan memencet bel yang ada di pintu gerbang rumah salah satu asisten pribadi Michelson.
Munculnya asisten rumah tangga untuk membukakan pintu gerbang rumah tersebut. Karena ia sudah hapal siap yang datang.
"Eh, Tuan Michelson. Tumben sepagi ini datang kemari," sapa Andri asisten yang telah melakukan kecurangan di kantor Michelson.
"Hem, iya. Karena aku ada urusan penting denganmu," ucap Michelson seraya menatap tajam ke arah Andri.
Andri menjadi salah tingkah pada saat di tatap oleh Michelson.
"Kenapa wajahmu menjadi panik seperti itu? apa kamu telah membuat sebuah kesalahan yang fatal padaku? hingga aku tatap saja kamu langsung gelisah seperti itu," tegur Michelson.
"Tuan kenapa bicara seperti itu, seolah tidak percaya saja pada saya. Bukankah saya telah bekerja cukup lama untuk anda, Tuan?" ucap Andri mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Bagaimana ini ya? padahal aku saat ini sedang akan membakar semua bukti kejahatan di samping rumah tetapi terlebih dahulu," batin Andri merasa resah dan gelisah.
"Orang yang telah bekerja cukup lama denganku, belum tentu da bisa setia selamanya. Bisa jadi ia menusukku dari belakang," sindir Michelson.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Michelson semakin membuat Andri bertambah panik terlihat sangat wajahnya pucat pasi dan tangannya gemetaran.
__ADS_1
"Maaf Tuan, apakah maksud kedatangan anda kemari?" tanya Andri menutupi rasa paniknya.
Drt det drt drt
Ponsel Michelson bergetaer yang menandakan ada satu notifikasi pesan masuk ke dalam nomor ponselnya.
Secepatnya ia pun membuka notifikasi chat pesan tersebut sebelum dia membalas pertanyaan dari Andri barusan.
[Daddy, lekas ke halaman samping rumah orang itu. Dan lihatlah di sebuah tong besar, karena di dalam tong itu ada begitu banyak bukti kejahatannya Yan sebentar lagi akan ia bakar saat itu juga. Jangan sampai ia membakarnya, Daddy.]
[Iya, Alexa sayang.]
Ternyata yang mengirimkan Cha pesan pada nomor ponsel Michelson adalah Alexa. Ia pun meminta Reyhan untuk tetap duduk di hadapan Andri karena ia yang akan ambil sendiri semua berkas penting bukti kejahatan Andri yang ada di tong di samping rumahnya.
"Rey, kamu di sini saja ya. Aku ingin sejenak melihat desain rumah Andri yang bagus ini. Boleh kan Andri, aku sejenak berkeliling rumahmu ini?" Michelson pura-pura meminta izin.
'Biar saya temani ya, Tuan."
"Tidak usah repot-repot, kamu ngobrol saja dengan Reyhan."
Andri semakin gemetaran, ia semakin bertambah panik saja. Tapi tiap kali ia akan bangkit dari duduknya. Di tahanan oleh Reyhan.
"Duduklah saja, Tuan Andri! jangan sampai saya emosi dan melakukan hal kasar pada anda!" perintah Reyhan ketus seraya melotot padanya hingga dirinya bertambah ketakutan.
Sementara Michelson terus saja menyusuri samping rumah, tapi belum juga menemukan tong besar sesuai petunjuk dari Alexa.
"Haduh... apakah ini hanya halusinasi Alexa saja. Dari tadi aku tak menemukan tong besar yang Lexa katakan! jangan-jangan tuh anak hanya iseng padaku, tapi anak-anakku tidak pernah iseng atau usil pada orang apa lagi pada orang tuanya sendiri,"gumam Michelson seraya terus melangkah dan matanya celingukan.
Hingga di ujung langkanya ia benar-benar menemukan sebuah btong besar yang Alexa katakan. Segera Michelson meneliti isi yang ada di dalam tong tertutup itu. Ia lantas membuka tutup tong tersebut.
Matanya membola pada saat ia melihat isi di dalam tong itu.
__ADS_1
"Astaga..... ternyata Alexa itu tidak bohong. Terima kasih anakku sayang, atas bantuan dari dirimu aku bisa menemukan semua bukti kejahatan Andri."
Gumamnya seraya memunguti semua yang ada di dalam tong besar itu.
Setelah ia selesai mengambil semua bukti itu, ia melangkah kembali ke halaman rumah Andri. Dan pada saat Andri melihat apa yang di bawa di tangan Michelson, Andri tak bisa lagi berkutik.
"Ini apa, Andri? padahal selama ini aku selalu baik padamu, tetapi kamu menusukku dari belakang?"
"Seret ia, Rey. Dan saat ini juga kita bawa ia ke kantor polisi!" perintah Michelson lantang.
Andri akan kabur, taoi secepat kilat Reyhan menangkapnya. Dan Rey saat itu juga menangkapnya, mengikat kedua tangannya kepunggungnya dengan sebuah tali yang kebetulan Rey temukan di meja.
"Tuan Michelson, kenapa anda menangkap saya seperti ini dan untuk apa anda ingin melaporkan saya ke kantor polisi?" tanya Andri panik.
"Tak usah banyak bertanya, dan tak usah berlagak bego seperti itu! diam saja, dan sebentar lagi kamu bersiap-siap untuk mendekam di penjara dalam waktu yang lama!" bentak Michelson seraya melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.
Setelah mendapatkan bentakan oleh Michelson, Andri hanya bisa pasrah dan diam saja. Akan tetapi di dalam hatinya di penuhi tanda tanya.
"Bagaimana Tuan Michelson bis tahu tentang kejahatan yang aku lakukan? dan bagaimana pula ia juga bisa menemukan semua bukti kejahatanku yang akan aku baksr di dalam tong. Jika saja Tuan Michelson tidak datang secara tiba-tiba, pasti saat ini aku sudah berhasil membakar semua bukti kejahatan diriku ini," batin Andri.
"Tamat sudah riwayatku, dan aku pasti akan mendekam di dalam penjara dalam waktu yang cukup lama," batinnya lagi sudah mulai terbayang ada di sebuah jeruji besi.
Tak berapa lama Michelson telah sampai di kantor polisi, ia langsung di sambut ramah oleh Letnan polisi kenalannys yang selalu bekerja sama dengan dirinya.
Dia menyerahkan permasalahan itu padanya dan tak lupa memberikan semua bukti pada Letnan polisi tersebut.
"Anda tak usah khawatir, Tuan. Seperti biasa saya akan proses kasus Tuan secepatnya."
"Baiklah, jika begitu saya permisi dulu karena kebetulan masih banyak ang harus saya kerjakan. Berksbsr saja lewat ponsel."
Saat itu juga Michelson pergi dari kantor polisi tersebut dengan meninggalkan semua berkas bukti kejahatan Andri dan juga menyerahkan Andri pada Letnan tersebut.
__ADS_1
"Rey, kita ke rumah dulu. Sepertinya Alexa belum ke sekolah, karena aku ingin bertemu dengannya dulu," pinta Michelson.
Mendengar perintah dari tuannya, segera Reyhan melajukan mobil menuju ke arah pulang apartement Michelson. Michelson ingin mengucapkan terima kasih pada Putri kecilnya.