
Sementara di dalam tidur si kembar, mereka bertemu dengan kakek buyutnya.
"Prok prok prok prok"
Kakek buyut bertepuk tangan seraya tersenyum menghampiri si kembar.
"Kakek benar-benar tidak menyangka jika kalian ini akan secepat ini bis mengalahkan musuh bebuyutan kakek. Padahal dari dulu kakek tidak bisa melawannya. Tetep hanya sekejap mata saja kalian telah berhasil membuatnya musnah menjadi asap."
Mendengar apa yang dikatakan oleh kakek buyut. Baik Alexa maupun Alexus tersenyum riang. Mereka pikir, si kakek berjubah hitam itu hanya kalah sesat saja.
"Serius kek?"
"Iya, cu. Kakek serius dengan apa yang Kakek katakan. Kini Kakek juga sudah bisa pergi dengan tenang. Karena sudah tidak ada lagi musuh kakek yang akan berniat jahat yakni ingin menghancurkan dunia ini dan utama ingin menghabisi keturunan kakek."
"Berarti sudah tidak ada bahaya lagi, kek?" tanya Alexa.
"Bahaya akan selalu ada di sepanjang kehidupan orang tua kalian. Karena mereka orang yang sukses. Hingga banyak yang tidak suka dengan kesuksesan mereka," ucap si kakek.
"Kami pikir sudah tidak ada lagi bahaya?" ucap Alexus sedikit kecewa.
"Alexa-Alexus, ingat pesan kakek yang terakhir ya. Karena setelah ini kakek sudah tidak bisa lagi menemui kalian. Karena kakek sudah di minta kembali ke alam kakek."
"Kakek berpesan supaya selamanya kalian ini menjadi orang baik. Dan gunakan kehebatan kalian ini untuk selalu menolong orang yang membutuhkan."
"Kakek minta bukan hanya untuk menolong keluargamu saja. Karena kekuatan yang kalian miliki bisa saja hilang untuk selamanya jika kalian gunakan untuk kejahatan."
"Musuh di depan kalian masih banyak terutama dari pihak orang tua kalian. Jadi selalu waspada ya, supaya tidak terjadi hal buruk pada orang tua kalian."
"Tak perlu lagi kalian panggil Kakek, karena kakek sudah tidak bisa lagi menemui kalian. Bijaklah dalam memaksi semua alat yang menopang kesaktian kalian."
"Jika tidak begitu penting, jangan kalan gunakan alat kesaktian kalian seperti kipas, peniti, atau pun Nagin dan anaknya."
"Sudah ya cucu, kakek sudah di minta kembali sekarang juga. Selamat tinggal dan ingatlah pesan dari kakek selalu."
__ADS_1
Saat itu juga kakek buyut terbang ke angkasa raya seraya melambaikan tangannya dan tersenyum puas.
Baik Alexa maupun Alexus ikut tersenyum. Dan seketika itu juga mereka terbangun. Kebetulan Rose saat ini ada di kamar Alexa dan Michelson ada di kamar Alexus.
"Sayang, kamu sudah bangun?" sapa Ross seraya mengusap surai hitam Alexa.
"Iya, mom. Kok mommy ada di sini?" tanya Alexa seraya menguap.
"Mommy memang sengaja di sini ingi menemsni dirimu. Dan Daddy sedang menemani kakakmu. Mommy lihat tidurmu tersenyum, apa kamu mimpi indah?" tanya Rose seraya menaik turunkan alisnya.
"Mommy tahu saja dech, memang aku dan Ka Alex baru saja mimpi indah. Kami bertemu kakek, dan ia sangat senang karena kami bisa mengalahkan musuh bebuy kakek."
"Kakek berpesan banyak hal pada kami. Supaya kamu selalu waspada karena di sekitar mommy dan Daddy banyak musuh yang ingin menjatuhkan."
"Kakek berpesan supaya kami tidak takabur, dengan menggunakan kekuatan kami untuk hal yang tidak baik. Karena semua kekuatan kami akan musnah hilang jika hal itu terjadi."
"Kakek sudah tenang, mom. Ia saat ini sudah kembali ke alamnya karena musuhnya yang berniat ingin hancurkan dunia ini sudah musnah oleh kami."
"Kenapa kalian tidak gunakan saja untuk berpura-pura berbuat jahat. Supaya kekuatan kalian hilang. Karena mommy ingin anak-anak mommy itu biasa saja," ucap Rose.
"Astaga, mommy. Kenapa berkata seperti ini, justru seharusnya mommy senang dan bersyukur kedua anak mommy ini punya kekuatan super. Hingga kami bisa selalu menjaga mommy dan Daddy," ucap Alexa.
"Hem iya sayang, mommy kan hanya bercanda nggak usah manyun seperti itu.Yuk kita makan siang," ajak Rose mengulurkan tangannya pada Alexa.
Saat itu juga Alexa menggapsu tangan Rose, dan ia pun bangkit dari pembaringannya.
"Mom, kok sudah siang saja ya? padahal aku tidur dari pagi ya? maaf ya mom, kamu jadi bolos sekolah gara-gara ada gangguan." Alexa menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Sudah, tak usah kamu pikirkan hal itu. Lagi pula kalian ini anak-anak pintar dan bisa mengejar pelajaran yang tertinggal. Nanti kita bisa ke rumah Bu gury untuk menanyakan materi pelajaran yang tadi di ajarkan," ucap Rose menghibur gadis kecilnya yang cubby.
Sementara saat ini Alexa juga sudah bangun dan ia bersama Michelson sedang melangkah pula ke ruang makan. Di mana sudah berkumpul seluruh anggota keluarga untuk makan.
Oma Berta dan yang lain merasa senang pada saat melihat kondisi si kembar yang sudah segar.
__ADS_1
"Awas ya, kalian jangan seperti tadi pagi. Masa iya sedang sarapan kok tahu-tahu tidur begitu saja," ucap Oma Berta terkekeh.
"Iya, kalian sempat bikin panik tahu nggak? jantung Ka Rey serasa mau copot," canda Reynaldi terkekeh.
"Halah, Ka Rey mah bohong."
"Ka Rey, seharusnya mengatakan hal itu pada pacarnya bukan pada kami. Pake mengatakan jantung mau copot segala."
Sontak saja perkataan si kembar membuat semua orang yang ada di meja makan menjadi ngakak. Sementara Reynaldi tersipu malu.
"Oh ya, Rey. Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Oma Berta.
"Pacar belum ada, Oma. Hanya saja saat ini memang aku sedang pendekatan dengan seorang gadis tapi gadis itu terlalu cuek padaku, Oma," ucap Reynaldi.
"Hem, pasti gadis itu sifatnya mirip istrimu ya?" tanya Michelson penasaran
"Maksudnya apa, om?" Rey malah balik bertanya.
"Mommynya anak-anak kan barbar, apa seperti ini?" Michelson terkekeh seraya menunjuk ke arah istrinya.
Rose hanya melirik sinis ke arah Michelson. Sementara si kembar dan yang lain hanya tersenyum.
"Michelson, jangan seperti itu. Justru mamah bangga loh punya menantu seperti Rose. Apa kamu sudah lupa perjuangan Rose dahulu pada keluarga kita?"
'Berkat Rose, mamah bisa bersamamu. Berkat Rose juga kematian tak wajar Papahmu terungkap dan bahkan mendapatkan hukuman setimpal."
"Jika kamu tak bertemu dengan, Rose. Belum tentu juga kamu bertemu dengan mamah."
Mendengar akan yang di katakan oleh Oma Berta, Michelson malu dan raut wajahnya berubah menjadi bersemu merah.
"Ya, mah. Sayang, jangan marah ya. Aku hanya bercanda kok," ucap Michelson membujuk istrinya supaya tidak ngambek lagi.
"Hem, nggak apa-apa. Daddy mah sudahl biasa seperti ini. Bukan hanya sekali dua kali, mengatakan hal ini. Memang aku barbar, tetapi kamu mau juga kan padaku?" Rose menaik turunkan alisnya menatap suaminya.
__ADS_1