
Pagi menjelang, suasana sudah kembali normal tidak ada masalah kembali. Sejenak Michelson mengamati di leher istrinya melingkar sebuah kalung tetapi terlihat aneh bentuk kalung tersebut, hingga Michelson terus saja menatap ke arah leher Rose.
"Mommy, sejak kapan pakai kalung? kok bentuknya aneh seperti itu?" tanya Michelson memicingkan alisnya.
"Hem, belum lama Daddy. Pada saat mommy di selamatkan oleh kedua anak kita. Dan setelah itu mommy dan kedua anak kita tidur di kamar kita. Ingat nggak?"
"Iya mommy, ingat lah."
'Nah pada saat mommy tidur, di beri oleh kakek. Ia meminta supaya kalung ini di pakai dan jangan pernah di lepaskan, supaya terjadi hal buruk lagi pada mommy seperti waktu itu," ucap Rose menjelaskan dari mana asal kalung tersebut.
Setelah mengetahui asal muasal kalung yang di kenakan oleh Rose, Michelson hanya berhooh ria. Ia sudah tidak penasaran lagi. Untuk pagi ini, Michelson sengaja meliburkan diri dari urusan kantornya. Ia ingin sejenak menghabiskan waktu bersama isteri dan si kembar.
"Daddy, benarkah pagi ini Daddy yang akan antar jemput kami ke sekolah?" tanya Alexa antusias.
"Benar sayang, daddy yang akan antar kalian dan juga nanti jemput kalian tanpa di temani sopir," ucap Michelson meyakinkan kedua anaknya.
"Asik.. terima kasih ya Daddy. Akhirnya Daddy meluangkan waktu juga untuk kami," ucap Alexus.
Karena selama ini Michelson terus saja berkutat dengan pekerjaannya, hingga ia lupa waktu untuk kebersamaan dengan anak-anak dan istrinya.
"Kalian ini, cuma diantar jemput sekolah oleh Daddy saja senangnya minta ampun seperti di beri hadiah,' canda Rose terkekeh.
"Jelaslah, mommy. Ini sebuah hadiah yang sangat luar biasa bagi kami, iya kan Ka Alex?" ucap Alexa menaik turunkan alisnya menatap Alexus.
"Benar sekali, Lexa. Selama ini kan Daddy jarang sekali ada waktu luang untuk kami karena Daddy sangat sibuk di kantor," ucap Alexus melirik ke arah Michelson.
"Sudah, yuk kita berangkat sekarang. Mommy mau ikut nggak sekalian healing. Oh ya, nanti sepulang sekolah mau nggak kita healing?" tanya Michelson penuh semangat.
"Mau dong, Daddy," serentak jawab si kembar.
__ADS_1
Mereka lekas melangkah bersama menuju ke mobil. Sebelum mereka pergi, Alexus dan Alexa ingat sesuatu.
"Lexa, kita beri penangkal dulu rumah ini supaya semua yang ada di rumah ini aman dan tidak ada yang bisa masuk dengan seenaknya ke rumah kita," ucap Alexus.
"Baiklah, ka."
"Daddy-mommy, sebentar ya. Kami ingin memberikan penangkal buat rumah kita, supaya tidak ada satu makhluk jahat yang bisa masuk ke dalam rumah kita dengan leluasa. Cukup kejadian waktu mommy di culik," ucap Alexus.
Baik Michelson maupun Rose merespon dengan anggukan kepala. Mereka memperhatikan kedua anak mereka yang secara bersamaan memejamkan matanya. Setelah itu keduanya membuka matanya lagi.
"Yuk, dad. Berangkat sekarang juga," ucap Alexa.
Setelah mendapatkan aba-aba dari Alexa, Michelson melajukan mobilnya menuju ke sekolahan si kembar. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai. Segera si kembar berlarian masuk ke gerbang sekolah, tanpa lupa berpamitan pada Rose dan Michelson.
"Mommy, mau kemana? biar Daddy yang antar,' ucap Michelson penuh semangat.
"Mommy nggak ingin kemana-mana, daddy. Hanya ingin istirahat di rumah. Kebetulan mommy ingin sekali ke dapur buat kue," ucap Rose.
"Boleh, mommy senang sekali jika Daddy mau bantuin mommy. Sekalian kita ajak mamah bantuin di dapur pasti akan tambah seru," saran Rose.
"Wah, benar sekali mom."
Michelson melajukan mobilnya arah pulang, dan tanpa ada halangan apa pun. Mereka langsung menjalankan rencananya dengan langsung berkutat di dapur tanpa lupa mengajak mamah Berta.
"Kalian tahu nggak? jika kita sedang ada di dapur seperti ini, mengingatkan masa kebersamaan mamah dengan almarhum papah. Ia dulu juga senang sekali berexperimen di dapur. Walaupun mamah malas, selalu saja di paksa untuk menemani di dapur,' ucap Mamah Berta.
'Hem, berarti saat ini mamah sedang malas juga ya?" tanya Michelson terkekeh.
"Nggak lah, mamah kan sedang menceritakan tentang kisah semasa hidup almarhum Papahmu,"ucap Mamah Berta seraya mencubit lengan Michelson.
__ADS_1
"Aaauhhhhh .. mamah kalau mencubit sakit sekali," Michelson mengaduh seraya mengusap lengannya yang di cubit oleh Mamah Berta.
Rose yang melihat itu hanya bisa tersenyum saja seraya menggelengkan kepalanya.
Mereka pun sesekali bercanda serata asik membuat kue.
Ketiganya berkutat di dapur dalam waktu satu jam lamanya. Tanpa mereka sadari, ada suatu kekuatan yang mencoba menerobos masuk ke dalam rumah bahkan baru di sekitaran bangunab apartement Michelson, tidak bisa.
Kekuatan jahat yang sedang mengincar bayi yang ada di dalam kandungan Rose. Untung saja, sebelum si kembar berangkat sekolah telah memberikan penangkal di rumah mereka.
"Sialan, kenapa aku tidak bisa masuk ke dalam rumah itu! seperti ada sesuatu kekuatan gaib yang sedang mengelilingi rumah itu! bagaimana aku bisa menculik wanita hamil itu jika seperti ini?"
Terus saja pria yang berujud raksasa dan berwarna hijau itu mencoba mengerahkan segala kekuatannya, akan tetapi malah kekuatannya terserao oleh penangkal yang di pasang oleh Alexa dan Alexus.
Hingga penangkal itu semakin kokoh menjaga rumah Michelson. Kekuatan jahat yang saat ini terus saja mencoba menerobos masuk buaa di rasakan oleh Alexa walaupun ia saat ini sedang berada di dalam sekolahnya.
"Hem, ada gunanya juga aku membuat penangkal di sekitar rumah. Semakin kamu mencoba untuk masuk ke dalam rumah, semakin kekuatanmu akan terserap habis oleh energi yang aku dan Ka Alex letakkan di sekitar rumah," barun Alexa tersenyum sendiri membuat Alexus merasa heran dengan sikap adiknya.
"Lexa, kamu kenapa tersenyum sendiri?" tanya Alexus dengan bahasa batinnya.
Alexa menceritakan semuanya apa yang ia lihat barusan dengan bahasa batinnya pada Alexus. Seketika itu juga Alexus ikut menyunggingkankan senyuman.
Sementara Raksasa tersebut akhirnya menyerah juga karena kekuatannya sudah habis. Ia pun pergi menghilang begitu saja.
Tak terasa waktu pulang sekolah telah tiba, tetapi Michelson sengaja mencebut si kembar lebih awal. Si kembar belum keluar dari pintu gerbang, Michelson sudah sampai di sekolah.
"Daddy, sudah dari tadi ya?" tanya Alexus.
"Hem, Iya Daddymu susah di sini dari tiga puluh menit yang lalu," ucap Rose melirik sinis ke arah Michelson.
__ADS_1
"Hah, pantas saja mommy murung dan bibir manyun seperti itu," ucap Alexa terkekeh.
Si kembar langsung masuk kedalam mobil dan Michelson langsung melajukannya ke arah cafe karena ia ingin mengajak anak-anak dan istrinya makan siang di cafe bersama.