Si Jenius Alexus & Alexa

Si Jenius Alexus & Alexa
Bangga


__ADS_3

Sesampainya di pelataran rumah Michelson langsung berlari kecil menuju ke dalam rumah mencari keberadaan Alexa. Begitu ia bertemu dengan Alexa, segera ia mengangkat tubuh anaknya gadisnya itu tinggi-tinggi.


"Daddy, apa yang Daddy lakukan? turunkan aku, Daddy," pinta Alexa.


"Daddy, kenapa terlihat bahagia sekali?" tanya Rose memicingkan alisnya pada saat melihat aksi Michelson mengangkat tubuh Alexa tinggi-tinggi.


"Putri kecil Daddy yang baik, pintar, dan jenius. Terima kasih ya sayang, berkat bantuan dari dirimu, Daddy berhasil menangkap pengkhianat yang ada di dalam kantor," ucap Michelson begitu sumringah.


Michelson menceritakan semuanya kepada Rose bagaimana cerdiknya Alexa dalam mengungkap penghianat yang ada di dalam perusahaan Michaelson.


Rose hampir saja tidak percaya mendengar cerita dari suaminya. Betapa tidak, seorang anak kecil yang baru berusia lima tahun bisa membongkar kejahatan salah satu asisten pribadi suaminya yang ada di perusahaannya.


"Masa sih Daddy, kok mommy sama sekali nggak tahu aksi hebat putri kecil kita ini," puji Rose.


"Mommy, aku ini sudah besar. Sebentar lagi juga mau di panggil kakak, masa iya mommy mengatakan aku ini masih kecil? aku nggak terima loh, mommy."


Wajah Alexa berubah menjadi murung karena ia tak suka jika di panggil dengan sebutan putri kecil.


Michelson yang mendengar akan hal itu pun terkekeh. Sedangkan Rose hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya mommy lupa, maafkan mommy ya sayangnya mommy. Kakak Alexa."


Rose langsung menciumi dan memeluk Alexa supaya tidak marah lagi.


"Kena dech, aku mana mungkin bisa marah sama mommy ataupun Daddy. Kalian berdua ini malaikatku," ucap Alexa.


"Hem, jadi kamu hanya isengin mommy ya?" Ucap Rose manyun pura-pura ngambek.


"Duh...anak cantik...di larang ngambek dong," goda Alexa seraya terkekeh.

__ADS_1


"Alexa... ayok cepat...nanti kita terlambat ke sekolah..." panggil Alexus dari dalam mobil.


"Ya Ka Alex...ini lagi jalan kok.""


Alexa berlari kecil menuju ke pelataran rumah seraya melambaikan tangan kepada Rose dan Michelson.


"Mommy, aku benar-benar heran. Anak-anak kita benar-benar jenius. Awalnya aku tidak percaya dengan kemampuan Alexa. Pada saat dia datang mengetuk pintu ruang kerjaku."


'Bagaimans ia bisa tahu, jika aku sedang ada masalah di kantorku. Dan bahkan ia membantuku menyelidiki kasusku yang ada di kantor."


"Awalnya aku menolak bantuan Alexa, mom. Pada saat ia memintaku mengeluarkan laptop dan memintaku membuka sandi untuk data kantor."


"Nah Alexa begitu cepat dan mahir dalam memainkan laptop. Bahkan aku aja tak tahu apa saja yang di pencet-pemcet oleh Alexa karena saking cepat gerakan tangannya dalam mengetik laptop."


"Pokok nya luar biasa sekali dech. Ia begitu pintar eh bukan hanya pintar tapi begitu cerdas eh jenius luar biasa dech."


Terus saja Michelson memuji kepintaran Alexa karena ia saja tak bisa menguak penjahat di dalam perusahaannya. Akan tetapi Alexa begitu mudahnya melakukan hal itu.


Dia pun lekas berpamitan pada Rose untuk segera kembali ke kantornya. Karena ia juga ingin menyelesaikan kekacauan yang telah terjadi di kantor akibat ulah salah satu asisten pribadinya.


Selama dalam perjalanan menuju ke kantor ia masih saja terkagum-kagum dengan kehebatan anaknya sendiri, karena menurutnya itu adalah suatu hal yang langka di mana anda sekecil Alexa yang baru berumur lima tahun sudah mampu melakukan hal besar seperti itu.


Tak berapa lama ia telah sampai di kantor dan ia sengaja mengadakan meeting untuk seluruh karyawan dan karyawatinya di kantor beserta seluruh asisten pribadi kepercayaan Michelson yang lainnya. Dia ingin mengumumkan hal yang telah terjadi di kantor tersebut di mana salah satu dari asisten pribadinya melakukan kecurangan.


"Perlu saya tegaskan di sini jika salah satu dari kalian mencoba melakukan kecurangan seperti yang telah dilakukan oleh salah satu rekan kalian, yang saat ini sudah berada di kantor polisi. Aku pastikan kalian akan mendapatkan hukuman yang lebih berat darinya. Jadi kalian harus ingat baik-baik ya jangan pernah mencoba untuk berkhianat denganku sekali saja aku mengetahuinya tidak akan ada ampun lagi," ancamnya dengan wajah serius.


Semua karyawan atau karyawati mengangguk serentak mereka tidak akan berani melakukan kesalahan seperti rekan mereka yang saat ini telah ditangkap oleh aparat polisi.


Karena mereka juga pikir berulang kali jika ingin melakukan kesalahan tersebut mereka tidak ingin mendekam di dalam penjara dalam jangka waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Setelah beberapa menit mengadakan meeting untuk menasehati semua para karyawan-karyawati dan para anak buahnya yang lain, Michelson pun melanjutkan aktivitasnya di kantor begitu pula dengan karyawan-karyawati yang lainnya juga seperti itu.


Michelson bisa bernafas lega, setelah permasalahannya di kantor telah terselesaikan. Kini ia akan lebih berhati-hati lagi dalam mempercayakan segala urusan kantor pada anak buahnya.


Dia mengakui sendiri jika selama ini kurang teliti hingga akhirnya tertipu oleh anak buah kepercayaannya sendiri.


Aktifitas di kantor begitu padatnya, hingga Michelson melupakan waktu makan siangnya. Karena banyak sekali yang harus ia tangani.


Hingga sore menjelang, ia baru merasakan jika asam lambungnya kambuh.


"Aduhhhh...sakitnya perutku. Aku lupa jika aku sudah tidak bisa teledor dalam urusan makan. Aku tidak boleh telat makan, jika lupa ya seperti ini."


Michelson terus saja memegang perutnya yang sakit karena asam lambung kambuh. Ia pun meminta Rey untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah dengan segera.


Sesampainya di rumah, Michelson twts saja Meri tuh kesakitan dan bahkan keluar keringat dingin dari tubuhnya. Ia merasa lemas hingga memibta tolong Rey memapah dirinya hingga sampai kamar.


Rose yang melihat akan hal itu menjadi penasaran dengan apa yang telah terjadi pada suaminya.


"Daddy, apa yang terjadi? biar aku telpon dokter segera ya?"


Belum juga Michelson menjawab apa yang di tanyakan olehnya. Ia sudah bertindak cepat dengan menelpon dokter pribadi keluarga tersebut untuk segera datang ke rumah.


Hanya beberapa menit saja, dokter sudah datang dan belum juga memeriksa, ia sudah tahu terlebih dahulu jika saat ini asam lambung Michelson kambuh.


"Sudag ragu tidak boleh telat makan, akhirnya seperti ini kan?" ucap dokter yang tak lain adalah teman Michelson semasa sekolah dulu.


"Jadi suami saya asam lambungnya yang kambuh, dok?" tanya Rose memastikan kembali yang barusan dikatakan oleh dokter.


"Iya, saat ini asam lambungnya kambuh," ucap sang dokter.

__ADS_1


Saat itu juga, sang dokter pribadi memberikan resep obat untuk Michelson.


__ADS_2