Si Jenius Alexus & Alexa

Si Jenius Alexus & Alexa
Kehebatan Bungsu Alice


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa kini Rose sedang dalam proses melahirkan. Rose memilih melahirkan dengan cara normal.


Proses melahirkan pun tak begitu lama, beberapa menit kemudian telah lahir putri bungsu pasangan Rose dan Michelson.


Dan anak itu langsung di beri nama, Alice.


"Asik, aku punya teman perempuan. Hhee tidak dengan Ka Alex," ejek Alexa terkekeh pada saat melihat adik kecilnya telah lahir.


"Hem, justru tugasku berat sekarang. Karena sebagai seorang kakak. Harus jaga kalian berdua. Dan ingat ya, kalian itu harus selalu patuh loh denganku," ucap Alexus menaik turunkan alisnya.


Sejenak tingkah Alexus membuat Michelson dan Rose tergelak dalam tawanya.


Beberapa saat kemudian Rose telah diizinkan untuk pulang ke rumah karena kondisinya yang telah terlihat sehat.


Semua orang menyambut bahagia baby Alice, apa lagi baby Alice bukan lagi seperti baby yang baru lahir. Karena sudah bisa merespon candaan gurauan dari orang sekitarnya yang membuat semua orang merasa sangat senang, dan tak ada hentinya silih berganti semua orang yang ada di dalam rumah menggendong Baby Alice.


"Syukurlah ya dad, anak kita sudah lahir dengan sangat sempurna. Aku lega rasanya," ucap Rose tersenyum puas.


"Hem, tapi beberapa bulan lagi kita berproses lagi kan sayang? kita buat banyak anak supaya rumah ini ramai," bisik Michelson.


"Hem, nggak maulah. Sudah cukup tiga anak saja. Jika anak-anak kita semuanya memiliki supranatural yang ada tiap hari hati ini bergetar khawatir," ucap Rose.


"Astaga, jadi kamu tak ingin punya anak lagi karena semua anak kita punya kelebihan yang anak lain tidak punya?" tanya Michelson memastikan.


"Seharusnya, kamu itu bangga dan senang mommy. Karena Yang Kuada memilih keturunan kita mempunyai suatu kelebihan," ucap Michelson kembali.


"Hem, ya aku tahu itu Daddy. Aku nggak akan khawatir jika yang di lawan oleh anak-anak kita bukan monster seperti yang sudah-sudah. Aku ngeri jika ingat akan hal itu," ucap Rose.


Michelson menginginkan banyak anak karena dia sudah pernah merasakan jika tidak punya kakak atau adik hidup terasa hampa. Sepi di rumah hanya seorang diri saja, makanya ia ingin suasana rumah ramai dengan banyaknya anak.


Tetapi keinginannya bertolak belakang dengan keinginan Rose, ia merasa dengan memiliki tiga anak saja sudah cukup baginya.

__ADS_1


"Pokoknya ya Daddy, aku sudah nggak mau punya anak lagi. Aku akan menggunakan alat kontrasepsi supaya aku tidak hamil lagi," rajuk Rose.


"Ya sudahlah terserah kamu saja, mommy. Asal kamu bahagia, aku tidak akan memaksakanmu untuk memiliki keturunan lagi yang terpenting kita sudah memiliki tiga anak."


Akhirnya Michelson yang mengalah, tidak memaksakan istrinya untuk kelak memiliki keturunan kembali.


*********


Lima tahun kemudian....


Alice tumbuh seperti kakaknya. Ia benar-benar menjadi anak yang jenius sama seperti kedua kaksnya yang kini telah berusia sebelas tahun.


Mereka bertiga selalu kompak dalam melawan tindak kejahatan yang ada di sekeliling mereka. Kekuatan Alice melebihi kekuatan kedua kakaknya.


Dia memang tidak memiliki pusaka apa pun. Hanya mengandalkan kekuatan yang ada dalam dirinya saja. Ia bahkan memiliki kemampuan seperti kdu kakaknya.


Semua yang Alexa bisa, Alice pun bisa. Dan semua yang Alexus bisa, Alice pun juga bisa. Tidak dengan Alexa, apa yang Alexus bisa, Alexa tidak bisa dan sebaliknya.


"Hem, tanya saja pada daddy boleh atau tidak?" untuk hal ini Rose tidak berani untuk memutuskannya sendiri.


Sejenak Michelson hanya diam tak menjawab apa yang di katakan oleh istrinya. Hingga membuat Alice terus saja merengek pada Daddynya.


"Ayohlah, Daddy. Boleh ya, please..." rengeknya.


"Hem, iya dech. Tapi kalian bertiga yang hati-hati ya? harus bisa saling menjaga dan jangan lengah karena di jalanan itu ramai banyak lalu lalang kendaraan," pesan Michelson pada ketiga anaknya.


Alexa dan Alexus lebih suka ke sekolah dengan mengendarai sepeda. Mereka selalu beralasan sekaligus untuk olahraga. Hal ini membuat Alice ingin hal yang sama, hingga ia membujuk orang tuanya. Dan langsung saja mereka mengizinkan.


"Alice, kamu akan ikut siapa?" tanya Alexa.


"Berangkat aku sama, Ka Alexa. Nanti pulangnya sama, Ka Alexus. Jadinya adil," canda Alice terkekeh.

__ADS_1


Saat itu juga ketiga anak Michelson berangkat ke sekolah tanpa pengawalan sama sekali. Baik Rose maupun Michelson percaya si kembar mampu menjaga si bungsu.


Pada saat baru seperempat jalan, tiba-tiba laju seoeda mereka di hadang oleh tiga orang preman. Hingga terpaksa mereka menghentikan laju sepedanya.


"Ka, untuk sejenak kita akan bermain-main dahulu nech. Asik juga ada permainan baru," ucap Alice.


Baik Alexa maupun Alexus terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Alice.


Sementara tiga preman ini merasa di ejek, hingga mereka pun bertambah marah.


"Heh, kenapa kalian malah menertawakan kami, hah? seharusnya kalian ini takut!" bentak salah satu preman.


"Untuk apa kami takut dengan kalian bertiga, hah? aku mampu melawan kalian bertiga tanpa bantuan siapapun!' ucap Alice tak gentar.


"Haaaa...Hay anak kecil! kamu terlalu banyak nonton film super hero ya? hingga sok pahlawan seperti ini!" ejek salah satu preman.


"Ka, biar aku yang bermain-main dengan mereka bertiga ya? kakak berdua tinggal menonton pertunjukan yang akan aku tayangkan sekarang juga," ucap Alice.


Baik Alexa maupun Alexus, hanya tersenyum saja seraya mengacungkan ibu jarinya. Mereka percaya dengan kemampuan, Alice.


Sejenak Alice mengacungkan jari telunjuk ke arah salah satu preman. Dan preman tersebut melayang tinggi, dan pada saat jari telunjuk Alice di putar-putar,


preman tersebut juga memutar-mutar sendiri.


Setelah itu Alice mengacungkan telunjuk ke arah jauh, dan preman yang memutar di angkasa langsung terpelanting jatuh. Kemudian mata Alice memancarkan cahaya berkilau ke arah dua preman yang lain. Dan dia preman itu juga di lemparkan begitu bsaja kekuatan mata Alice.


Setelah itu barulah ketiga preman itu berlari tunggang langgang ketakutan sekali. Mereka sudah tidak mengganggu ketiga anak Rose.


"Wah.. keren Alice. Yuk kita lanjutkan perjalanannya ke sekolah," ajak Alexus. setelah sejenak memuji kehebatan sang adik.


Ketiganya langsung berangkat ke sekolah lagi dengan penuh suka cita dan canda ria. Tidak pernah ada rasa duka di hati ke tiga anak Rose. Mereka selalu saja roang dan gembira.

__ADS_1


Hingga tak berapa lama sampai juga di sekolahan. Mereka memang satu gedung sekolah yang sama, hanya saja beda ruangan saja. Karena gedung sekolah itu terdiri dari paud, TK, SD, SLTP, SLTA.


__ADS_2