
Alexus begitu bingung pada saat melihat Alexa dililit ular yang begitu besarnya.
"Aduh bagaimana ini, apa yang aku harus lakukan?" dia pun mencoba menghubungi kakek buyutnya lewat telepatinya untuk meminta petunjuk apa yang harus ia lakukan demi menyelamatkan Alexa.
"Kakek buyut, tolong aku. Lexa saat ini di lilit ular besar sekali."
Namun tidak ada jawaban atau petunjuk dari pesan Alexus pada kakek buyutnya lewat telepati tersebut.
"Aduh, aku harus bagaimana ini? tidak ada jawaban sama sekali dari kakek buyut," batin Alexus mulai panik.
Hingga ia tiba-tiba berinisiatif menggunakan kemampuannya dalam mengendalikan sesuatu.
"Hy ular, tolong lepaskan adikku. Kenapa kamu menyakitinya, padahal ia tak berbuat jahat padamu."
"Baiklah, aku akan melepaskan adikmu. Sebenarnya aku tidak menyakiti dirinya tapi tiba-tiba ia pingsan karena melihat ku," ucap si ular terus saja menatap ke arah Alexus seraya melepaskan jeratannya pada Alexa.
"Terima kasih, ular. Kamu memang baik telah melepaskan adikku," ucap Alexus.
"Alex, sebenarnya aku datang kemari karena ingin minta tolong padamu dan adikmu. Karena hanya kalian berdua yang bisa bantu aku," ucap si ular terus saja berdesis menatap ke arah Alexus.
"Katakan saja, ular. Aku pasti akan bantu kamu jika memang aku mampu, meskipun kamu bukanlah manusia," ucap Alexus.
"Panggil aku, Nagin saja. Aku ingin kalian berdua menolong anakku yang saat ini di tangkap oleh pawang ular. Anakku akan di jadikan tumbal untuk menambah kekuatannya," ucap si ular.
"Baiklah, tunjukkan tempat di mana saat ini anakmu di tahan oleh si pawang ular," pinta Alexus.
"Alexa tahu tempatnya, kamu sadarkan dulu dia dengan kekuatan supranaturalmu itu," ucap ular.
Alexus mendekati Alexa yang belum juga sadarkan diri. Entah dorongan darimana, Alexus hanya menyentuh kening Alexa dengan telapak tangannya, saat itu juga ia sadar.
"Ka, ular itu yang....
"Kamu tak usah takut karena Nagin baik, ia datang padamu karena ingin minta tolong saja," ucap Alexus yang mencoba menenangkan adiknya yang ketakutan.
__ADS_1
"Dari mana kakak tahu?" tanya Alexa seraya tak percaya.
"Aku barusan bercakap-cakap dengannya, Lexa."
"Hah, sejak kapan kakak bisa bahasa binatang?" tanya Alexa heran.
"Sudahlah, kamu tak usah bertanya macam-macam. Karena kita harus segera menolong Nagin untuk menyelamatkan anaknya. Katanya kamu tahu tempat dimana saat ini anaknya di tahan," ucap Alexus.
'Hem, baiklah ka. akan aku teraeang sekarang juga dimana keberadaan anaknya Nagin."
Alexa sudah tidak takut lagi, ia pun menghampiri ular besar tersebut dan memegang kepalanya sejenak. Dan ia mulai di beri penglihatan dimana saat ini anak ular itu di tahan oleh si pawang ular.
"Ka, aku sudah tahu dimana tempatnya. Tapi aku rasa keberadaannya jauh di negeri antah berantah. Bagaimana kita bisa sampai di sana, aku tidak yakin, ka." ucap Alexa ragu.
"Tenang saja, biar aku yang antar kalian berdua. Tapi aku minta kamu menunjukkan arahnya ya, Lexa." ucap si ular membuat Alexa terkejut tapi sangat senang.
Ia begitu riang pada saat mendengar si ular berbicara, bagaikan ia memiliki sebuah mainan baru.
Alexa dan Alexus langsung naik punggung ular yang sangat besar itu. Lantas ular pun mendesis melesat terbang. Hal ini membuat si kembar sempat terhenyak kaget. Karena baru kali ini mereka alami terbang di atas punggung ular.
"Nagin, satu meter lagi kita belok ke kiri dan jika sudah melihat ada sebuah pohon beringin yang besar kita turun," ucap Alexa.
"Nagin, bagaimana kamu bisa terbang sedangkan kamu ini adalah seekor ular?" tanya Alexa.
"Hhheee, karena aku ini bukan ular sembarang ular. Makanya aku bisa terbang dan bisa bicara serta bisa mengecil atau membesar," ucap Ular.
Tak berapa lama, sampai juga mereka di sebuah pohon beringin yang sangat besar.
"Aku baru pernah melihat pohon beringin sebesar ini, Lexa."
Alexa dan Alexus lekas turun dari punggung si ular. Sedangkan si ular tiba-tiba menjelma menjadi ular mainan. Dan Alexus mengantongi ular mainan tersebut.
"Lexa, kita kemana lagi?" tanya Alexus yang tak tahu apa-apa karena ia tak bisa menerawang.
__ADS_1
"Ka, di balik pohon ini ada sebuah persembunyian dari pawang ular itu, tetapi ia tidak sendirian karena banyak anak buahnya," ucap Alexa.
"Lantas bagaimana kita bisa masuk ke dalam pohon beringin sebesar ini?" tanya Alexus bingung.
"Ka, pejamkan mata dan pegang tanganku serta Kaka cium cincin pemberian kakek buyut," pinta Alexa dengan bahasa batinnya.
Keduanya saling bergandengan tangan dan memejamkan matanya dan tak lupa mencium cincin pemberian dari kakek buyut mereka. Saat itu juga mereka menghilang bak di telan bumi. Tanpa terasa mereka sudah ada di tempat tujuan mereka yakni di dalam pohon beringin besar.
"Heh, siapa kalian? kenapa bisa ada di tempat pertapaanku, apa kalian ingin cari mati!" bentak si pawang ular tersebut.
"Kami ingin minta dengan halus anak ular yang anda tahan!" ucap Alexus.
"Enak saja! aku sudah susah payah menangkapnya, kalian seenaknya akan mengambilnya!" bentak si pawang ular tersebut.
Sepintas mata Alexa dan Alexus menelisik di sekitarnya mencari keberadaan anak ular. Dan mereka melihat ada sebuah kandang di dalamnya terdapat seekor ular.
"Lexa, kita gabungkan kekuatan kita untuk merubah pawang ular itu menjadi sebuah batu kerikil," ucap Alexus dengan bahasa batinnya.
Selagi pawang ular itu lengah, saat itu juga Alexa dan Alexus mengacungkan cincin mereka ke arah pawang ular dan langsung saja berubah menjadi batu kerikil.
"Heh, kurang ajar kalian! kenapa kalian bisa merubahku seperti ini, cepat bebaskan aku sekarang juga!"
Namun baik Alexa maupun Alexus tidak menghiraukan permintaan dari pawang ular yang telah berubah menjadi batu kerikil. Justru Alexus mengantongi batu kerikil tersebut.
Lantas Alexa membebaskan anak ular yang ada di dalam kandang dan ternyata kandang itu telah diberi sebuah mantra.
Saat Alexa sudah bisa membebaskan anak ular, ia pun meminta Alexus meletakkan batu kerikil tersebut ke kandang itu. Kandang yang telah di beri mantra oleh pawang ular itu sendiri.
"Terima kasih kakak berdua, kalian telah menolongku dari sekapan pawang ular itu," ucap anak ular.
"Kita harus lekas keluar dari tempat ini karena tempatnya akan hancur lebur."
Saat itu juga secepat kilat anak ular juga berubah menjadi ular mainan, dan di kantongi oleh Alexa. Alexa dan Alexus bergandengan tangan seraya memejamkan mata dan berkomat kamit. Mereka pun menghilang dari tempat itu.
__ADS_1