Simpanan Sugar Daddy

Simpanan Sugar Daddy
Terpaksa Melayani Om Yip


__ADS_3

“Om, tolong jangan lakukan ini.” Aku beringsut menjauh dan terus memohon pada pria bertubuh ceking usianya sekitar enam puluh tahun yang akan memangsaku dengan buas.


Napasku tercekat, begitu berat barang menelan ludah. Kami tengah berada di ruangan berukuran enam meter dengan fasilitas kasur bersprei putih dilengkapi home teater.


Pergerakanku terhenti di sudut sofa warna abu, aku menangis takut. Tapi tak seorang pun ada di sana, hanya ada kami berdua. Pria bermulut seperti joker ini terus melucuti pakaiannya.


Lelaki ini tidak bergeming atau bahkan memiliki sedikit perasaan iba padaku.


Rasa takut yang besar mendominan isi kepalaku. Om Yip terus mendekat dengan dada yang sudah bertelanjang jemari telunjuknya bermain mengitari wajahku. Tak jarang mengisap jari telunjuknya, dadaku semakin naik turun melihat ekspresinya yang menjijikkan.


Kedua tangannya *******-***** bahuku, bulu kuduk sontak meremang. Beliau mencium pipiku lalu mengembuskan napas kasar.


Dadaku bergemuruh naik turun tak jarang tersentak dan sedikit menolak semua perlakuannya. Pria beretnik Tionghoa ini seperti singa kelaparan yang tengah mendapat mangsa yang cukup bagus.


“Kamu tahu ‘kan berapa banyak yang telah saya habiskan untukmu,” bisiknya seraya menjulurkan lidahnya di daun telingaku. Aku menahan napas dan mengigit bibir bawah kuat. Bahuku sedikit naik menolak, tapi Om Yip mencengkeram bahuku lebih erat.


Jika bukan karena hutang budi, tidak akan aku terjebak dengan pria tua ini. Sudah terlalu banyak uang yang ia keluarkan untuk pengobatan ibu. Hari itu hujan jatuh membasahi kota Medan.


Aku yang tengah mencari pekerjaan ke sana kemari sejenak berteduh di halte bus dekat menara PDAM Tirtanadi yang merupakan ikon kebanggan kota ini.


Berpakaian rapi dengan bermodalkan ijazah SMK, aku melamar ke mana-mana, berharap ada perusahaan yang bisa menerimaku sesuai dengan skill dan jurusan yang aku pilih. Bermimpi mendapat pekerjaan sebagai sekretaris, mengingat itu jurusan yang aku pilih saat sekolah dulu.


Sekeras apa pun aku mencari, tidak satu pun perusahaan yang aku datangi menerimaku. Berpenampilan menarik dengan tubuh proposional saja tidak cukup membantuku untuk menembus lapangan pekerjaan yang aku mau.


Kebanyakan perusahaan meminta tamatan diploma sebagai kandidat. Sungguh sial diri ini yang tidak bisa melanjutkan ke jenjang kuliah karena keterbatasan ekonomi. Keberuntungan tidak berpihak padaku hari ini. Adit meninggalkanku setelah pacaran selama enam bulan, di saat hati lagi sayang-sayangnya. Huh!


Alam pun seakan ikut menertawakan diri ini dengan segala kesialannya. Petir menyambar menambah dramatis situasiku yang kacau saat ini. Payung, jangan ditanya aku pasti tidak membawanya. Tas dalam genggaman aku pakai untuk melewati hujan menuju halte bus.


Setelah mendapatkan bus, hujan tak kunjung reda. Aku berlari mempercepat langkah menuju rumah. Sedan hitam melintas di genangan air dan tubuhku menjadi tempat pembuangannya.


Aku terlonjak kaget dan sedikit kesal, tetapi aku hanya bisa diam dan menyapunya dengan tangan. Pria muda berperawakan tegap turun dari mobil dan meminta maaf padaku. Aku terus sibuk dan menyeka air yang juga terkena di wajahku.


“Mbak, maaf. Mbak nggak apa-apa.”


“Enggak apa-apa, Mas.” Di dalam mobil duduk seorang pria paruh baya yang tengah melihat kami secara intens.


“Maaf ya Mbak, saya tadi nggak lihat kubangan itu.”


“Oke, nggak apa-apa, Mas.”


Pria paruh baya itu membuka kaca mobil setengah dan berkata, “Udah selesai?”


“Tunggu di sini, ya. Sebentar.” Pria itu masuk ke mobil lalu memberi nomor teleponnya.

__ADS_1


“Mbak, kalau butuh minta ganti rugi bisa hubungi saya, ya.”


**LA**


Mobil sedan itu pun pergi, pria paruh baya itu terus memandangku tanpa berkedip. Aku pun pulang dengan bersungut dan terus menyapu pakaianku. Tidak lama aku berjalan kendaraan roda empat itu kembali dan menghalangi jalanku.


Pria muda yang masih belum kuketahui namanya itu turun dengan membawa kantong plastik dan menyerahkannya padaku.


“Mbak, ini bentuk ganti rugi dari Bos saya,” ucapnya seraya melihat ke arah om-om yang berada di belakangnya.


“Eh, nggak usah Mas. Rumah saya juga udah dekat, kok. Saya permisi.”


Dia menghalangi jalanku dan berdiri tepat di depanku. Wajahnya terlihat murung dan menunduk. Sepertinya ia takut dimarahi oleh bosnya. Akhirnya aku pun mengambil kantong itu dan berlalu pergi.


“Sebentar, Nona. Boleh saya mengantarmu pulang.” Aku menoleh ke asal suara. Suaranya berat dan kulihat pria paruh baya itu turun dari mobil.


“Maaf, Pak. Jalan ke rumah saya terlalu sempit untuk dilalui mobil. Terima kasih atas kemurahan hati Bapak,” ucapku lalu pergi.


Sesampai di rumah, aku mengetuk pintu rumah. Namun, tak kudengar jawaban dari ibu. Perlahan membuka pintu dan kudapati ibu tengah tergeletak di depan pintu kamar.


Aku berteriak meminta tolong. Sekuat tenaga aku menjerit, tidak jarang keluar memanggil siapa saja yang bisa memberikan pertolongan.


Pria paruh baya itu terlihat tergopoh menghampiri kami. Entah mengapa dia bisa ada di sekitar rumahku. Aku terdiam memandangnya bingung di depan pintu. Sedangkan dia, telah lebih dulu masuk ke dalam. “Kamu tunggu apa! Ayo bawa Ibu kamu ke rumah sakit!” perintahnya yang kini tengah menggendong tubuh lemah ibu.


Aku tidak punya pilihan lain saat ini. Hanya ada dia yang bisa menyelamatkan ibu. Aku duduk di bangku belakang meletakkan kepala ibu di paha sambil terus memanjatkan doa, linangan air mata terus membanjiri perjalanan ke rumah sakit.


Dokter mengatakan bahwa ibu terkena serangan jantung ringan, juga hipertensi. “Apa kamu walinya?” tanya dokter pada pria itu.


“Bukan. Memangnya kenapa, ya Dok?”


“Ada yang harus saya bicarakan mengenai keadaan pasien. Ini masalah serius.” Aku samar-samar mendengar percakapan mereka dan langsung membuka tirai penutup.


“Saya anaknya, Dok,” potongku dengan cepat dan penuh rasa khawatir.


“Baiklah. Mari ikut ke ruangan saya.”


“Tapi, Dok. Siapa yang akan menjaga Ibu saya di sini. Tidak bisakah kita berbicara di sini saja?”


Dokter terlihat melirik ke arah pria paruh baya yang belum kuketahui namanya itu. Aku yang mengerti maksudnya langsung berkata, “Saya tidak mengenal beliau, Dok. Beliau hanya menolong saya tadi.”


Dokter pun mengangguk dan berjalan sedikit menjauh beberapa meter dari posisi ibu terbaring. “Apa sebelumnya Ibu kamu pernah dirawat di rumah sakit atau berobat jalan?”


“Enggak pernah, Dok. Memangnya kenapa, Dok? Setahu saya, Ibu hanya ada riwayat hipertensi, Dok.”

__ADS_1


“Ibu kamu sudah komplikasi. Ada pembengkakan jantung, diabetes, juga ginjal yang sudah memiliki gejala akibat diabetes.”


“Apa?”


Dokter mengusap bahuku mencoba menguatkan diri ini. “Sebaiknya, beliau rawat inap untuk beberapa waktu di sini.”


“Tapi, saya tidak punya cukup uang, Dok. Untuk hari ini saja, saya bingung akan membayar pakai apa,” ucapku tertunduk dalam. Dokter terdengar menghela napas panjang lalu pamit meninggalkanku.


Aku berjalan tanpa semangat ke arah ibu. Kupandangi tangan gempal ibu yang telah dipasang selang infus, bagaimana bisa beliau menyembunyikan penyakitnya selama ini, lirihku dalam hati.


Pria yang terlihat bersamaku entah pergi ke mana. Mungkin ia sudah pulang. Ibu belum juga sadarkan diri, entah efek obat atau yang lain aku juga tidak begitu mengerti mengapa sampai saat ini ibu belum juga membuka matanya.


Kuputuskan bangkit, berjalan mendekat ke arah kasir. Ingin tahu berapa biaya untuk satu malam, jadi bisa menyiapkan uang yang entah akan dicari ke mana.


“Mbak, berapa ya biaya untuk pasien yang di ranjang itu,” tanyaku menunjuk tempat tidur ibu.


“Namanya, Mbak?”


“Mariana. Tadi belum sempat daftar, sih, Mbak.”


“Hem. Tadi apa saja yang diperiksa?”


“Kurang tahu, sih, Mbak. Tadi dokternya sempat bicara ke saya di sana,” jelasku menunjuk tempat kami bicara tadi.


“Oh, dr. Ridwan. Sebentar, ya saya cek dulu. Mbak ada bawa KTP?”


Aku menyodorkan tanda pengenalku padanya. Ia pun terlihat sibuk di layar monitor di depannya sesekali melirik ke tanda pengenal. Setelah selesai, ia menyebutkan totalnya.


“Enam juta lima ratus ribu rupiah, Mbak.”


“Hah? Enam juta lima ratus ribu, Mbak?”


“Ya,” jawabnya tegas. Aku mengangkat pandangan lalu berpikir keras akan ke mana mencari uang segitu. Bagiku, uang itu cukup besar jumlahnya.


“Mbak, mau bayar sekarang?” tanyanya membuyarkan lamunanku.


“Em, bentar lagi, ya Mbak. Saya masih tunggu orang.” Kuputuskan meninggalkan tempat itu. Lalu duduk menunduk dalam di dekat ibu.


Satu tangan menyodorkan bungkusan tepat di hadapanku. Aku mendongak menatap ke arahnya. “Anda?”


“Makanlah dulu,” ucapnya dengan berdiri tegak menyelipkan tangan di saku celana.


“Terima kasih.”

__ADS_1


Ia pun pergi lagi. Sekian detik kemudian ia kembali dengan menyodorkan kwitansi pembayaran rumah sakit beserta kartu namanya.


“Ini kartu nama saya, jika perlu sesuatu kamu bisa menghubungi saya. Jangan sungkan,” ucapnya yang juga menyapu pundakku. Aku melihat kartu namanya, Timotius Yip, owner Vihara Budha Satya. Ia bagai malaikat penolong bagiku saat itu.


__ADS_2