
“Shinta, aku panggilin ambulance ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”
“Nggak usah, Ram. Aku cuma perlu istirahat aja yang cukup.”
“Oke.”
Rama langsung menggendong tubuh ini menuju hotel dan melakukan check in, aku tersenyum penuh kemenangan. Dan duduk bersantai di sofa lobby hotel sambil menunggu Rama yang mengurus semuanya.
Tujuanku mengajak Rama ke tempat privasi begini bukan hanya semata memuaskan nafsu birahi, tapi ingin mengatur strategi agar terlepas dari Om Yip.
Baju satu pasang yang kami kenakan telah terlepas dan berserakan di kamar hotel. Entah mengapa, harum aroma tubuh Rama menjadi candu tersendiri untukku. Bahkan embusan napasnya saja menggairahkan seluruh sel-sel nafsuku.
Dada bidang Rama ditambah dengan bulu halus di sekitarnya membuatku ingin langsung menuju ke tengah-tengah permainan dan rela mati di sana. Namun, Rama berbeda dengan Om Yip saat bercinta.
Om Yip yang selalu terburu-buru dan tidak ada rasa dalam diri ini untuk melakukannya terus dan terus. Hanya demi uang, aku melakukannya. Walaupun bertabur kalimat romantis dan sikap manis juga menegangkan yang kerap ia lakukan kala ada waktu di hotel.
Puas bermain dengan Rama, aku ingin menikmati malam di pantai dengan taburan bintang yang indah di cakrawala. Duduk berselonjor di dekat lobby hotel. Tangan bertumpu pada kursi panjang.
“Aku cemburu melihat kamu digendong sama dia!”
Aku terlonjak, kaget bukan kepalang mendengar suara berat lelaki yang entah sejak kapan muncul di sampingku.
“Abi?” Aku menatapnya penuh tanya. Wajahnya datar dan memandang lurus ke depan.
“Aku tahu dia suamimu sekarang, dan dia pantas untuk melakukan itu padamu. Tapi, bagaimana dengan hatiku?”
“Hatimu bukan urusanku. Kau yang memilih untuk mencintaiku.”
Dadaku naik turun dengan cepat, seperti seorang pacar yang tengah kepergok selingkuh dengan pria lain. Aku berusaha menghindari Abimana dengan melangkah pergi. Abimana memelukku dari belakang erat, erat sekali. Terlihat buket bunga mawar dalam genggamannya.
“Katakan Shinta, bahwa kau tidak mencintainya. Kumohon, katakan sekali saja.” Menetes air mata ini, mendengarnya yang seputus asa itu. Aku sendiri tidak tahu akan bagaimana dengan situasi yang begini. Tuhan, aku tahu aku wanita yang Kau anggap kuat. Aku wanita spesial yang kau pilih untuk menjalani ini semua.
“Ada misi yang harus aku selesaikan dengannya, Bi. Setelah itu, aku akan bertanggungjawab atas hatimu.” Perlahan pelukan Abi melemah dan tangannya terlepas dari tubuhku.
__ADS_1
Aku mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi seraya berjalan meninggalkan Abimana. Luruh cintaku, dan entah akan bagaiamana dengan kisah ini. Buket bunga mawar yang ada dalam genggaman Abimana seakan layu sebelum kuterima.
“Oke. Aku tunggu pertanggungjawabanmu, Shinta!” teriaknya yang tidak aku hiraukan. Namun, mengabaikannya dan seolah tak peduli dengan kondisinya. Mengapa ia kembali setelah mengatakan akan pergi. Ingin rasanya kukubur cinta yang kupunya dan segala rasa yang ada. Tapi aku tidak cukup kuat.
Entah mengapa jalan hidup menjadi serumit ini. Lagi, lagi Rama berdiri di saat yang tidak tepat. Aku hanya berlalu meninggalkan semuanya dan menuju kamar. Terserah Rama akan bersikap apa, dan bagaimana. Mungkin akan kembali dengan yang sedingin salju akibat kecewa.
Sesampai di kamar aku langsung merebahkan diri, memeluk ujung selimut. Berpikir cukup keras tentang semua ini. ketukan pintu kamar membuatku terpaksa membukanya. Jika Rama, ia pasti tinggal masuk saja karena pintu tidak aku kunci.
Lagi suara ketukan dibarengi oleh suara orang dari balik sana. “Permisi, maaf mengganggu. Tapi, pria yang bersama Anda tadi tengah terlibat perkelahian di luar.” Aku segera membuka pintu saat mendengar penuturan petugas hotel.
“Apa?!” aku menarik napas panjang, memijat dahi pelan lalu, “oke, saya akan segera ke sana. Terima kasih infonya.”
Aku mengambil langkah seribu mendatangi lokasi mereka berkelahi. Saat tiba di sana, mereka telah duduk berhadapan dengan tatapan saling benci. Sudut bibir Rama terlihat mengalir darah segar. Sedangkan Abimana, terlihat menggerak-gerakkan pipinya.
Security mengawasi mereka berdua, aku meminta dia untuk pergi karena ini urusan pribadi di antara kami bertiga. Aku berkacak pinggang dan berjalan mondar-mandir sambil memegang jidat. Kuatur napas, sebanyak tiga kali. Lalu mulai pembicaraan.
“Kalian bukan anak kecil lagi, kenapa kalian begini.”
“Udah, udah! Kamu, Ram. Kenapa kamu pukul dia? Coba lihat,” pintaku pada Rama yang memegang ujung dagunya. Lalu membuangnya kasar, seraya menekan kuat lukanya hingga ia meringis tidak bersuara.
“Kamu, Bi. Apanya yang sakit?” Abimana hanya menaikkan kedua alisnya juga memainkan lidahnya di pipi bagian dalam.
“Ada zatnya kalian berdua begini? Merugikan diri sendiri, tau nggak! Terutama kamu, Bi. Kamu polisi, sempat ini viral gimana? Reputasi kamu yang mengayomi masyakarat bakalan jelek. Semua orang akan ngejudge kamu menyalahgunakan kekuasaan.”
“Tapi mereka akan mengerti kalau aku ngelakuin ini demi cintaku untuk kamu, Shinta.”
“Apa? Cinta? Aku suaminya Shinta. Kamu nggak pantas bilang cinta di depan aku.” Kedua pria tampan ini berdiri dan saling membusungkan dada.
“Cukup! Aku nggak mau dengar lagi apa pun alasan dari kalian! Kamu sebaiknya pulang, Bi. Dan kamu, urusan kita belum selesai. Tunggu aku di kamar!”
Aku mengantar Abimana hingga ke tempat parkir. Sedangkan Rama, aku minta terlebih dahulu untuk masuk ke kamar. Meski dengan wajah yang bersungut dan mulut yang komat-kamit, ia pun melangkah pergi.
“Shinta, aku merindukanmu. Tidak bisakah kita pulang bersama malam ini?”
__ADS_1
“Bi, please! Ngerti posisi aku.”
“Hmm, oke.”
Setelah menutup pintu kamar hotel, aku duduk di samping Rama yang tertangkap di netraku ia memalingkan wajah dan tubuhnya dari pandanganku. Memainkan ponsel seraya terkadang melirik ke arahku.
“Ram, aku nggak mau kalian bertengkar gara-gara aku. Dan, maaf aku nggak belain kamu tadi.”
Ia diam seribu bahasa, hanya suara napasnya yang terdengar. Ponselku berdering, Om Yip menelepon untuk pertama kalinya setelah aku menikah.
Ia meminta kami untuk tidak datang ke acara peresmian butik Ny.Lim. takut, jika istrinya akan memperlakukan kami seperti kejadian kemarin dan justru memperkeruh keadaan dan menjatuhkan harga dirinya di depan para kolega bisnisnya.
Justru ini kesempatan bagus untukku bisa lepas dari jeratan bandit tua ini. Aku meminta Rama untuk menyusun strategi menjatuhkan mereka secara bersama. Peresmian yang akan diadakan esok lusa itu membuat kami bersemangat mengatur rencana.
**LA**
Hari H pun tiba, aku berjalan dengan anggun di balik baju-baju branded yang tergantung untuk memancing Ny.Lim menghampiriku. Aku berjalan hingga ke ruang ganti, tepat dengan dugaanku. Wanita bersulam alis ini mengekor dan hanya ada kami berdua di dalam bilik persegi ini.
Ia langsung menampar pipi ini dengan kuat, aku menelepon Rama yang telah siap dengan microphone yang langsung tersambung dengan loudspeaker di dalam butik. Aku hanya diam menerima gambaran pipi bekas tangan Ny.Lim.
“Kau, beraninya datang ke sini!” teriaknya yang membabi buta.
Aku mendekat dan berbisik, “Aku kemari atas undangan dari lelaki yang menyimpanku.”
Ia menjambak rambutku hingga kepala ini mendongak. “Wanita ******! Kau selingkuhannya, mengapa berlagak menjadi nyonya! Lancang sekali datang dan mengharap cinta dari suamiku! Kau, hanya cinta di atas ranjang untuk memuaskan birahinya.”
“Ya, kau benar. Tetapi, aku bisa memuaskannya. Kini, aku tengah hamil anaknya,” balasku dengan mengusap lembut perutku.
Satu pukulan ia layangkan di perutku hingga spontan aku menjerit dan Rama langsung datang saat aku hampir pingsan kesakitan. Om Yip tampak menampar Ny.Lim kuat, matanya melotot penuh amarah.
Semua mata tertuju padaku saat Rama menggendong lemah tubuh ini dan berteriak meminta dipanggilkan ambulance. Perlahan darah mengalir di kaki jenjangku. “Shinta, bertahanlah.”
“Anakku, Ram,” ucapku lemah dan mataku mulai terpejam.
__ADS_1