Simpanan Sugar Daddy

Simpanan Sugar Daddy
Menyusuri Pantai


__ADS_3

Pandangan kami bertemu dan menatap tanpa berkedip. Rama mendekati tubuh mungil ini, lalu memegang pundakku dengan kedua tangannya. Aku terkunci oleh tatapan dan sikapnya, mendadak menjadi bingung harus berbuat apa.


“Shinta,” ucapnya yang entah mengapa menaikkan level jantungku ke arah waspada. Senyum yang terlukis di wajahnya mendadak membuatku ingin menikmati bibir tipisnya. Pikiranku bergerilya jauh, mungkin ini efek sudah pernah merasakan indahnya surga dunia.


Rama semakin mendekat dan perlahan kupejamkan mata, bulu kuduk meremang kala wajahnya semakin tak berjarak. Sepertinya Rama akan mendaratkan kecupannya di bibirku.


“Shinta, makan dulu yuk, Sayang.” Suara ibu terdengar dari balik pintu. Entah mengapa aku menjadi sangat kesal dengan beliau. Rama terlihat salah tingkah, dan menggaruk tengkuk belakangnya. Nyengir kuda, itu yang tertangkap jelas di pandangan mata.


Aku menggigit bibir bawah menutupi rasa kesal. Ya, bagaimanapun dia tetap suamiku yang sah. Sudah seharusnya kami melakukannya. Perlahan aku berjalan mendekati pintu. Ibu masih setia di sana.


“Bu, Shinta nggak berselera makan. Kalau kamu, Ram?”


“Ah?” Rama tampak berkedip, lama sekali menjawab, “em, ya. Sebentar lagi saya keluar makan ya, Bu.”


“Baiklah. Ibu mau ke kamar dulu, ya. Kamu temani Rama makan, ya Sayang.” Aku menggangguk dan menutup kembali pintu.


“Em, Shinta. Itu … tadi, aku ….”


Aku mendaratkan ciuman di bibirnya, entah mengapa ia terlihat begitu seksi malam ini. Aku tidak tahan lagi melihatnya yang menjadi begitu tampan. Aku menyapu tangan ke punggungnya, ini benar-benar membangkitkan libidoku.


Ya Tuhan, apa mungkin ini hormon yang sedang meningkat. Sebab, katanya hormon orang hamil itu tidak stabil dan begitu mudah berubah-ubah. Biarlah esok malu dengan sikap malam ini, yang penting sekarang Rama juga menyambut nafsuku yang menggila ini.


Kami tampak mengatur napas yang ngos-ngosan akibat menumpahkannya tadi. Lalu berubah menjadi mode canggung dan berbaring di ranjang dengan saling membelakangi. Meski masih dengan balutan selimut yang sama di tubuh ini.


Aku menepuk-nepuk dahi pelan seraya menyalahkan diri sendiri. Juga berperang dengan hati dan otak. Harusnya tidak memulai semuanya. Aish, entah bagaimana menjalankan hari esok saat melihat wajahnya. Tapi, tunggu! Dia suamiku, nggak ada yang salah dengan ini. Tapi, kenapa aku yang memulai. Ah! Aku menenggelamkan tubuh di balik selimut.


Tiba-tiba perut mengeluarkan suara yang mengusik situasi gila ini. Rama tampak bangkit dan mengenakan pakaiannya yang berserakan di lantai kamar.


“Ram, mau ke mana?”


“Kamu mau makan?”


“Kayaknya nggak kepengen makan masakan Ibu.” Aku beralih duduk dalam balutan selimut yang masih menutupi tubuh yang telanjang ini. Rama duduk di hadapanku dengan melipat salah satu kakinya.

__ADS_1


“Terus kamu pengen makan apa?”


“Em, siomay kayaknya,” kataku hati-hati. Rama menatap jam weker di nakas. Jam sembilan, ia langsung bergegas pergi tanpa mengatakan apa pun. Hanya ponsel dan dompet yang ia bawa keluar dari kamar.


Beberapa menit yang lalu ia pergi, gawaiku berdering. Aku berharap itu adalah panggilan dari Rama. Namun, Abimana dan Om Yip bergantian melakukan panggilan telepon padaku. Aku membiarkannya berada dalam panggilan yang terus mendering di telinga mereka.


Perlahan memungut pakaian dan mengenakannya. Aku hanya berdecih melihat layar sentuh yang terlipat dua itu. Sebuah pesan teks masuk dari Om Yip dan mengatakan telah mengirim uang bulanan dan susu untuk anaknya. Heh! Benci sekali melihatnya menuliskan kata itu.


Abimana tidak henti dan menyerah akan hubungan yang entah disebut apa. Di pesta kemarin ia begitu membiarkan aku berlalu di samping pria lain. Meski tatapannya mengatakan ia tengah kecewa. Tidak cukupkah dengan mengatakan ia akan pergi? Haruskah ia kembali lagi setelah semuanya terjadi.


“Hem,” jawabku malas setelah berkali-kali ia menelepon.


“Shinta, aku telah berjanji akan mendampingimu saat apa pun kondisimu.”


“Terus?”


“Aku kembali hanya untukmu, Shinta.”


Aku langsung mengakhiri percakapan itu yang akan tahu ujungnya seperti apa. Mungkin benar, aku wanita yang serakah. Ingin memiliki keduanya, tapi bagaimana dengan hati? Logika? Pernikahan ini?


Suara pintu berdecit terdengar, aku segera menyambut pria yang telah basah kuyup oleh keringat dengan membawa kantong plastik putih dalam genggamannya. Ia langsung menuju dapur dan mengambil piring untuk menyajikannya.


“Ram, kamu basah kuyup gitu? Itu keringat semua?”


Napasnya masih terlihat ngos-ngosan. Tapi senyum masih terus mengembang, matanya terlihat menyipit dan berbinar. Ia bercerita bagaimana ia berlari ke sana kemari untuk mencari tukang siomay yang masih buka saat jam segini.


“Ayo kita makan, Shin.” Aku mengangguk dan duduk berhadapan dengannya. Mataku terus tertuju padanya. Perlahan aku memasukkan satu persatu siomay yang dibeli Rama. Aku menyudahi makanku.


Rama berhenti mengunyah dan menatapku intens. “Udah makannya?”


Aku mengunci bibirku rapat-rapat, menarik napas dalam dan menghelanya panjang. “Ram, maafin aku, ya. Karena aku, kamu ….”


Ia menyapu lembut punggung tanganku. “Sama seperti kamu, aku juga merasa canggung dan bersalah. Plis, stop minta maaf. Aku nikah sama kamu karena memang pilihan aku, bukan karena paksaan dari siapa pun.”

__ADS_1


“Tapi, Ram –”


“Ssst! Nanti ibu kamu dengar. Gimana kalau besok kita pergi ke pantai, kamu mau?” Aku tersenyum simpul menjawab tanyanya.


**


Aroma pantai menyeruak memenuhi rongga hidung, bau amis bercampur dengan asinnya air laut. Embusan angin menerpa dedaunan dan pohon-pohon di bibir pantai. Tidak jarang mayangku ikut menyibak dibuatnya. Kami berjalan menyusuri pasir putih dengan bertelanjang kaki. Kadang air menyapu jejak kaki yang tertinggal.


Gaun putih bermotif bunga kecil di atas lutut aku kenakan, bergerak ke sana kemari disapu sejuknya udara. Rama memberikan jaketnya untuk menutupi setengah pahaku. Setelah selesai mengikatkan hoodie berwarna coklat di pinggangku, ia meminta izin untuk menggenggam jemari ini.


“Shinta, boleh aku menggenggam tanganmu selagi kita berjalan menyusuri pantai?”


Aku melihat ke arah tanganku, lalu memberikan padanya. Tapi aku tarik kembali untuk menggoda dan berlari kecil di sana. Rama mengekor dan berusaha menangkapku. Renyah tawa menghiasi hari ini yang tanpa terasa hampir petang.


Senja selalu indah di ufuk sana. Apalagi di ujung pantai begini. Rama mengabadikan momen ini di ponselnya. Aku hanya berdiam dan berdiri menatap nabastala yang menampakkan sinar jingga di sana.


“Yuk, kita pulang. Nggak baik, ibu hamil Magrib masih berkeliaran di luar. Pamali katanya.”


“Em, kalau kita nginap di sana aja, gimana?” tunjukku ke arah hotel atau wisma yang berada di dekat pantai ini. Rama mengikuti arah jari telunjukku.


“Nggak ah, itu pasti mahal.”


“Udah tenang aja. Itu upah untuk kamu beliin siomay tadi malam.”


“Hem.”


“Nikmatin aja uang Om Yip, sebelum kita menghancurkannya,” bisikku dan langsung menarik lengan Rama untuk check in.


“Hei, Shinta. Kita nggak ada bawa buku nikah, KTP kita juga masih status lajang. Kalau digrebek polisi gimana?”


“Masih ada Abimana.” Rama mengerem mendadak. Oh, rupanya dia akan kembali dengan mood esnya. Tidak aku biarkan untuk kali ini. Aku terus menarik dan mendorong tubuh Rama agar turut serta. Jika tidak bisa, jurus terakhir aku keluarkan.


“Aw, Ram! Perutku,” rintihku seraya memegang perut.

__ADS_1


__ADS_2