
“Pak, boleh saya masuk?” terdengar suara berat seorang pria. Sepertinya itu Rama, pikirku mencoba menerka seraya merapikan kancing baju yang sempat dibuka oleh Om Yip. Juga menyisir rambut yang sedikit berantakan tadi.
“Masuk,” sahut Om setelah memintaku membuka kunci. Beliau siap di posisinya yang mencoba menulis entah apa.
“Pak, saya lupa menyampaikan bahwa awal bulan ini kita akan mengadakan kegiatan amal. Bapak ingin kegiatan ini di konsep bagaimana? Apa kita membagikan beras dan uang atau kita bisa berkeliling ke rumah-rumah untuk mendata warga yang perlu pengobatan gratis?”
“Terserah kamu saja bagaimana baiknya. Kamu buat proposalnya nanti saya tinjau ulang dan saya tanda tangani. Kasih tahu juga pada Shinta mengenai jadwal saya yang belum diurutkan biar nanti dia yang mengatur semuanya.”
Rama mengangguk lalu berjalan mendekatiku. “Aku ingin kamu selamat, Shinta,” bisiknya yang memberikan secarik kertas padaku.
“Kalian boleh pulang sekarang.”
Rama sepertinya paham dengan situasiku. Namun, tak banyak kata yang keluar dari bibir tebal miliknya. Kami hanya larut dalam perjalanan pulang menuju halte bus. Secarik kertas masih dalam genggamanku, tidak enak jika membacanya saat masih bersamanya.
Di bawah langit yang mulai gelap ditemani senja di ufuk barat, aku teringat akan kejadian semalam bersama Om Yip. Dosa, tapi mau bagaimana lagi semua telah terjadi. Kini, biarlah kupasrahkan pada Tuhan. Biar Dia yang menghukumku.
“Shinta, ayo. Tuh busnya udah dateng.” Aku tersentak dari lamunan dan langsung bergegas pulang bersama dengan Rama.
Satu jam lamanya aku dalam perjalanan, kami pun tiba di perhentian tepat depan gang rumahku. Aku turun dengan keadaan setengah melamun, tanpa sadar sepatuku copot dan terlempar lebih dulu keluar dari bus.
Aku limbung seperti akan terjatuh, tangan kekar dengan sigap menahan tubuhku. Badan ini kaku dan mematung untuk sesaat lalu menghembuskan napas lega. Kulihat si empunya tangan, pria berhidung mancung dengan wajah cantik dan bulu mata lentik Abimana. Nama itu tertera di seragamnya yang berwarna cokelat tua.
“Terima kasih,” ucapku yang langsung melepaskan diri dari pelukannya dan buru-buru mengambil sepatu. Lengkungan senyum tergambar di raut wajahnya, ia pun mengangguk dan ikut turun bersamaku.
Langkah kami beriringan suasana canggung dan kikuk serta aku juga merasa malu akan sikap cerobohku tadi.
“Kamu, tinggal di daerah sini juga?” tanyanya yang memecahkan keheningan sejak tadi.
“Ya.”
“Oh, ya. Kenalin, aku Abimana. Kamu?”
“Ya, udah tau kok.” Ia terlihat bingung dan memiringkan kepalanya mungkin berpikir bagaimana aku mengetahui namanya sedangkan ini kali pertama kami bertemu. Aku menunjuk ke arah dadanya sebelah kanan. Ia terlihat terkekeh dan menggigit bibir bawahnya yang berwarna pink alami.
“Aku Shinta. Oke, aku udah sampe di depan gang rumahku ini. Terima kasih untuk yang tadi.”
__ADS_1
“Oke.”
*LA**
“Assalamualaikum. Bu, aku pulang.” Suara bidadari tak bersayapku terdengar menjawab salam dengan sedikit terbatuk dan langsung menemuiku yang duduk di sofa butut seraya membuka sepatu. Ibu ikut bergabung denganku.
“Gimana hari pertama kamu kerja? Capek, ya?” tanyanya dengan mengusap lembut pucuk kepalaku. Kugenggam tangannya dan mengatakan aku baik-baik saja.
“Ibu udah makan?”
“Udah, Sayang.”
“Oke. Kalau gitu Ibu istirahat, ya. Shinta mau membersihkan diri dulu. Habis itu makan terus tidur.” Ibu mengangguk dan berjalan perlahan menuju kamar.
Badan sudah bersih dan perut juga telah diisi, kini saatnya merebahkan diri di kamar yang berukuran dua meter dengan tempat tidur yang hanya cukup untuk diriku sendiri. Memandangi langit-langit yang tidak berasbes ini seraya memijat-mijat dahi pelan.
Aku teringat akan secarik kertas yang diberikan Rama. Astaga, aku juga baru ingat tuh anak tadi berhenti di mana. Kenapa aku bisa lupa begitu saja. Ah, terserahlah. Besok juga akan ketemu lagi dengannya, pikirku.
Kubuka kertas yang Rama selipkan di tanganku.
Aku mengambil ponsel lalu menyimpan nomor Rama dan mencoba menghubunginya. Namun, belum sempat aku menekan kontak Rama, Om Yip terlebih dulu meneleponku dan meminta untuk bertemu.
Aku harus siap kapan pun dia menginginkan sentuhan. Aku tidak berdandan, hanya mengenakan celana hot pants dan kaos oversize. Make up tipis saja untuk menghindari kecurigaan para tetanggga yang terkadang usil dengan kehidupanku. Om Yip menunggu di depan gang.
Aku dengan segera masuk ke mobil sedannya. Kali ini ia mengemudi sendiri, hanya kami berdua yang ada di dalam kendaraan mewah ini.
“Saya ingin kamu melayaniku malam ini. Tapi saya tidak punya banyak waktu, saya takut jejakmu diketahui istri saya.”
“Jadi gimana, Om?”
“Kalau dilakukan di mobil aja gimana?”
“Hah?”
"Kenapa? Kamu nggak mau? Waktu saya cuma sepuluh menit.” Aku melongo bingung, tidak pernah melakukan hal itu di dalam mobil. Om Yip memainkan jarinya di depan mata membuatku tersentak.
__ADS_1
“Hei, kok melamun? Saya nggak punya banyak waktu.”
“Ta-tapi gimana caranya, Om? Kita berhenti di sini dulu gitu?”
“Udah kamu ikut arahan saya saja, ya. Sekarang kamu naik ke pangkuan saya, biar mobil terus melaju. Kamu ambil kemudinya.
“Tapi, Om?”
Om Yip langsung menarik lenganku dan kini aku berada di pangkuannya. Terserah Om Yip melakukan apa yang dia mau. Aku hanya mengikuti permainannya. Puas ia menumpahkan hasratnya, kami berhenti di persimpangan lampu merah.
“Kamu turun di sini, ya. Saya nggak bisa antar kamu ke tempat yang tadi saya jemput. Kamu nggak apa-apa, ‘kan?”
Aku mengangguk menjawab tanyanya. Ia mencium pipiku juga meremas nakal paha mulus yang terpampang di depannya. Lalu menyelipkan sebuntal uang ke dalam saku celana. Ia pun pergi setelah aku turun.
Berjalan dengan menghela napas berat, terkadang menendang batu-batu kerikil yang ada di hadapanku. Kedua tangan aku masukkan ke dalam kantong celana seraya memandangi langit yang penuh dengan bintang.
“Huh! Malam ini begitu indah, tapi kenapa harus melayaninya di gemerlap bintang ini,” ucapku pada diri sendiri.
“Shinta.” Suara pria yang masih terasa asing di pendengaran. Ini bukan suara Rama, aku menerka-nerka siapa dia, lalu berbalik menoleh ke arahnya berdiri.
“Em, Abimana?”
Hai,” sapanya yang kini telah berada di sampingku. Ingin aku lari saja darinya, sebab mungkin dia melihatku dengan Om Yip. Aku merapatkan bibir dan mencari cara untuk menghindarinya.
“Em, aku kayaknya harus pulang sekarang deh. Ibu di rumah sendirian.”
"Ya udah, bareng aja. Aku juga mau pulang. Daripada sendirian ‘kan mending ada temennya. Lagian, kamu juga perempuan ‘kan nggak baik kalau jalan sendirian di tengah malam begini.”
Dalam perjalanan, aku melihat seorang kakek dengan pakaian compang-camping tengah terduduk lemas di bawah pohon. Aku menghampiri lalu berlutut mensejajarkan diri. Bertanya pada pria tua itu.
“Kakek udah makan?” tanyaku saat terlihat ia memegangi perutnya. Ia menggeleng lemah, aku merogoh saku celana. Mengambil selembar uang kertas berwarna merah dari sana.
“Nih, untuk kakek.”
“Makasih, ya. Murah rezeki.” Wajahnya begitu semringah, berkali-kali ia mengucapkan terima kasih padaku. Abimana terlihat menghentikan langkahnya, sepertinya ia menungguku.
__ADS_1
“Kamu nggak kebanyakan ngasih kakek itu uang segitu? Dia bisa aja bohong.”