
“Terserah dia berbohong atau tidak, yang penting tujuanku membantunya dengan ikhlas.” Kami hening dan larut dalam pikiran masing-masing.
Kala saling bertatap, aku nyengir kuda seraya mengerutkan kedua alis. Tak jarang mengomel sendiri dan mengusap kening. Rencanaku menghindarinya gagal.
“Aku antar kamu sampe depan rumah, ya?”
“Eh, nggak usah. Sampe sini aja, ya. Bye.”
“Shinta, aku minta nomor handphone kamu. Boleh?”
Aku segera meminta ponselnya dan menuliskan nomorku di sana. Biar semua cepat dan tidak ada lagi pertanyaan ini dan itu. Lalu memilih pergi setelahnya dengan mengambil langkah seribu.
Salah seorang tetangga memergokiku dengan Abimana. “Shinta,” panggil Bu Yuni. Wanita yang selalu ikut campur setiap urusan siapa pun. Terkenal dengan julukan ‘miss kepo’ gang ini. Aku terus berlalu malas meladeninya.
“Shinta, kalau dipanggil orang tua itu jawab dong. Masa’ diam-diam begitu aja, kayak nggak pernah diajari sama orang tuanya aja.”
Aku menarik napas dalam dengan mengepal tangan kuat, lalu berbalik dengan mengembuskan napas kasar.
“Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu.”
“Enggak ada apa-apa, sih. Eh, itu tadi Ibu lihat kamu sama cowok. Pacar kamu, ya?”
Aku tersenyum mengerikan dan merapatkan bibir. “Bukan, Bu,” jawabku dengan geraham yang menyatu.
“Oh bukan pacar kamu, ya. Kenapa nggak dijadiin pacar aja. Ganteng lho itu tadi, kalau Ibu masih gadis nih, udah ibu gebet itu.”
“Ya udah kalau Ibu mau, ambil aja,” jawabku geram tapi masih terus berusaha senyum.
“Haha. Ya nggak mungkinlah. Om kamu itu mau ditaruh mana. Nih, ya,” dia memintaku untuk mendekat ke arahnya, “Om kamu tuh cinta gila sama Ibu. Kalau Ibu tinggal dia bisa gila,” bisiknya yang membuatku merasa menjadi orang paling bodoh karena mendengar ocehannya.
“Oh, pantes cinta gila, ya,” sambungku menahan tawa.
Muka penuh dengan jerawat dan rambut yang selalu memakai rol itu menjadi cinta gila suaminya. Dalam hati aku tertawa geli, tapi aku mencoba percaya aja apa yang dia katakan. Terlihat Om Togar keluar dan meminta istrinya itu untuk masuk.
“Ingat kata Ibu tadi, ya. Jadikan dia pacarmu,” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya dan menjulurkan lidah berkali-kali. Setelah dia masuk ke dalam rumah aku tertawa terbahak-bahak.
Rumahku hanya berjarak dua rumah dari rumah Bu Yuni. Aku masuk ke dalam rumah masih dengan terkekeh.
“Shinta, apa yang begitu lucu?” tanya ibu yang sepertinya ia terbangun karena suaraku yang tidak bisa berhenti tertawa.
“Nggak ada apa-apa kok, Ibu. Tadi ada adegan lucu aja di depan. Ibu kok belum tidur?”
“Ibu terbangun karena suara kamu. Kamu dari mana, Shinta?” tanyanya yang masih terbatuk sedikit-sedikit.
“Nggak dari mana-mana, Bu. Duduk di depan aja tadi sebentar. Ibu tidur lagi, ya.” Aku memeluk bahu ibu dan membawanya ke kamar.
**LA**
Drrrttt … Drrrttt … Drrttt!!!
__ADS_1
Lamunanku terpecah setelah ponsel dalam genggaman bergetar. Kupandang layar, terpampang nomor tanpa nama. Aku berpikir sejenak dan kutekan tombol hijau.
“Hai,” ucap seseorang dari seberang sana. Dari suaranya aku sepertinya tahu dia siapa. “Aku Abimana,” tambahnya. Ya, aku sudah tahu, pikirku.
“Oh. Hai.”
“Lama ya angkat telepon dari aku?”
“Em, maaf. Aku tadi lagi melamun yang nggak jelas, sih.”
“Shinta, bus kita datang. Ayo cepat masuk!” ajak Rama seraya menarik tanganku tanpa peduli aku masih menerima telepon.
“Halo,” panggilku memastikan Abimana masih di sana setelah aku duduk di kursi pilihan Rama.
“Ya, kamu sepertinya lagi sibuk, ya. Oke, nanti aku telepon kamu lagi. Save nomorku, ya. Awas kalau nggak di save, ntar aku tilang.”
“Tilang?”
“Oke, bye.” Abimana langsung mengakhiri panggilan telepon. Rama terlihat diam. Aku bertanya kejadian semalam yang dia menghilang begitu saja bak ditelan bumi. Namun, ia hanya menjawab sekenanya.
Satu jam lamanya kami di dalam bus, kini kami tiba di vihara. Rama tidak seperti biasanya yang terus mengoceh ini dan itu. Entah dia lagi ada masalah atau mungkin tengah sariawan.
“Ram, kamu kok diem aja? Lagi sariawan, ya?”
Dengan memegang sebelah tasnya ia berkata, “Shin, aku sudah bilang padamu ‘kan. Aku ingin kamu selamat.”
“Ya, terus?”
Semilir desir angin meremangkan bulu kuduk. Suara lalu lalang orang berpergian mendadak terdengar ricuh. Rama terus berjalan tanpa menoleh ke arahku yang tertinggal di belakang. Sekelebat peristiwa tadi malam teringat membuatku terbelenggu dalam sesal dan malu.
Semula perjalanan kami biasa-biasa saja. Namun, entah kenapa Rama memulai kata itu sebagai pengawalannya di pagi hari ini. Aku berjalan tanpa semangat. Ponselku kembali berdering, hanya memandangi layar tujuh inch itu. Aku masih tak sanggup menghadapi keaadaan hidup yang amat menjijikkan.
Sedari tadi ponselku terus mendering dalam panggilan seseorang. Masih adakah kiranya yang peduli dengan pendosa sepertiku? Adakah yang mau terima diri ini, wanita simpanan pria beristri? Bosan dengan panggilan yang tiada henti itu, akhirnya kusapu tombol hijau di layar.
“Kamu di mana, Shinta? Saya dari tadi menunggumu. Satu hari saja tidak melihatmu, saya rasa hampir mati. Aku merindukanmu.”
Aku memijat dahi pelan. Dia rindu akan semua yang ada di tubuh dan wajahku. Bahkan seseorang pernah berkata, ‘Janji suami orang itu palsu. Istrinya sendiri saja dibohongi yang jelas sah secara hukum dan agama, apalagi janji yang hanya dibuat di atas ranjang. Itu semua bulshit!’
“Sebentar lagi Shinta sampe kok, Om.” Dengan cepat ia mengakhiri panggilan. Rama telah jauh di depan sana tanpa menoleh ke belakang.
Mungkinkah dia membenciku? Atau dia akan mengadukan semuanya pada istri Om Yip?
Aku berlari mengejar Rama. Tapi sepertinya Rama menghindar. Benar, aku bersalah dalam hal ini tapi haruskah ia menjaga jarak denganku? Hanya dia yang aku kenal di vihara ini selain Om Yip. Tidak biskah dia memberikan waktu untukku menjelaskan semuanya nanti?
“Ram, Rama,” panggilku yang terus menempel padanya. Dia bersikap acuh dan tidak peduli.
“Aw!” pekikku yang tersandung batu dan terjatuh di paving blok vihara, lututku berdarah. Aku meniupnya pelan. Sebuah punggung berada di hadapanku.
“Ayo, naik!” Belum aku menjawab, Rama mengalungkan kedua tangan ini ke lehernya.
__ADS_1
Melewati lorong-lorong vihara, Rama menurunkan aku di taman belakang lalu bergegas mengambil kotak P3K.
Rama kembali dengan kotak putih dalam genggaman. Ia menyiram alkohol untuk mensterilkan luka lalu perlahan memberi salep dan plester di sana.
“Kamu bisa jalan?”
“Bisa.”
“Yakin?”
Aku mengangguk dan mulai berdiri walau masih dengan sedikit menjinjit. Rama pun berlalu pergi setelah mengatakan itu.
“Ram. Kamu nggak ingin mendengar penjelasanku terlebih dahulu? Kenapa aku melakukan itu?”
“Itu pribadimu, Shinta dan aku tidak berhak mengetahui alasan dibaliknya.”
“Terus, kenapa kamu marah?”
“Aku hanya tidak ingin kamu menjadi korban kebuasan Ibu yang tidak bisa mentoleransi perselingkuhan.”
Om Yip menunggu di ujung lorong setelah melihat Rama pergi. Om Yip menghampiriku dan bertanya tentang aku dan Rama.
“Silakan jika ada pria yang mencintaimu, tapi kamu masih harus tetap menjadi simpananku.”
'Mencintaimu adalah inginku, memilikimu adalah dambaku. Menjadi simpananmu, itu pilihanku.'
Entah apa yang harus aku lakukan di saat situasi seperti ini. Om Yip mengizinkan aku untuk pulang setelah membawaku ke rumah sakit untuk memeriksa luka yang hanya sebuah goresan kecil.
Tak mampu kuelakkan semua yang terjadi dalam hidup ini. Juga, tak ingin menyalahkan keadaan yang membuatku menghancurkan masa depan yang entah bagaimana. Om Yip memberikan uang saku lagi yang dimasukkannya ke dalam tasku.
Seperti biasa sebelum ia pulang, mencium pipi dan meremas paha mulusku. Itu sebabnya aku diminta mengenakan rok mini kala bekerja. Aku turun dari mobil tepat di depan gang.
Rintik hujan tengah mengguyur perjalanan pulangku. Berpayung tas aku menyusuri jalan yang terlihat licin.
Sengaja aku meminta Om Yip berhenti di depan gang. Aku juga masih menjaga nama baik ibu. Kupercepat langkah menuju rumah, tapi lagi-lagi aku bertemu dengan Bu Yuni bersama beberapa tetangga yang lain berkumpul di rumahnya.
“Lho heh, Shinta. Kamu kok udah pulang? Bukannya baru pergi, ya?” tanya dengan penuh curiga, “kamu kenapa? Sakit?” sambungnya dengan memegang dahiku.
“Ya, Bu.”
“Yang mana yang sakit? Coba kasih tau Ibu.” Beberapa ibu yang lain hanya memandangi kami berdua seraya berbisik-bisik.
“Jiwa saya, Bu,” jawabku asal. Sontak ia tertawa terbahak-bahak seraya tangannya yang memukul-mukul bahuku. Aku izin pamit padanya untuk istirahat.
“Hei, Shinta. Kalau yang sakit jiwa itu Ibu, bukan kamu. Haha.” Aku menggelengkan kepala tertawa geli meninggalkannya bersama ibu-ibu yang lain.
“Bu, aku pulang.”
“Kok kamu udah pulang?”
__ADS_1
“Ya, Bu. Pimpinan perusahaannya izinin Shinta pulang. Shinta nggak enak badan, Bu gara-gara ini,” ucapku menunjukkan kaki yang tengah diplester. Sebelum ibu bertanya lebih lanjut, aku menjelaskan semuanya.
“Ya udah, kamu istirahat, ya.”