Simpanan Sugar Daddy

Simpanan Sugar Daddy
Ciuman Abimana


__ADS_3

Kami berdua berjalan bersama dan bercerita apa saja. Bu Yuni tidak ada menyinggung apa pun mengenai kondisiku saat ini. Seperti biasa, ia terus dengan ocehan konyolnya yang kadang sedikit menghibur diriku.


“Bu, aku traktir makan di situ, mau?” Aku menunjuk sebuah restoran ayam dengan burger ternama di Indonesia ini. Outletnya ada di setiap kota besar. Tanpa terasa kami berjalan sudah lumayan jauh hingga berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota Medan ini.


“Hah? Di sana?” tunjuknya ke arah mall yang aku katakan tadi, “ya maulah. Masa’ nggak mau. Haha. Kapan lagi coba ditraktir makanan enak sama kamu, hehe.”


Bu Yuni langsung menggandeng lenganku dan berjalan penuh semangat. Kami pun tiba di lobby mall, tidak peduli dengan celana hot pants dan kaos oblong serta sandal jepit, kami masuk dan menuju restoran tersebut.


“Shinta, Ibu pake daster sama rol rambut begini aneh nggak, sih? Tuh lihat, semua pada pakai baju-baju bagus.”


“Udah, Bu. Masa bodoh aja. Yang penting ‘kan duitnya, Bu.”


“Ya, sih. Tapi, kamu emang punya duit?”


“Ih, sepele kali Ibu, ya. Sini lihat,” perintahku yang menunjukkan dompet kecil padanya. Bu Yuni hanya terkekeh.


Kami mendaratkan bokong di restoran bernuansa terang ini, aku menyuruh Bu Yuni memesan apa saja. Juga tidak melupakan membawa bungkusan nanti untuk Om Togar. Bu Yuni dan Om Togar sudah menikah selama delapan belas tahun, tapi belum juga dikaruniai buah hati.


Sembari menantikan makanan tiba di hadapan kami, aku menopang dagu melihat ke arah jalan raya yang dipadati kendaraan roda dua, tiga dan empat. Pikiranku melayang jauh, berharap ayah hadir di saat penting begini. Peristiwa yang akan mengubah seluruh hidupku hanya dalam satu ucapan dari pria yang bahkan tidak pernah aku bayangkan akan menjadi suami.


Terkadang embusan napas terdengar berat kala memikirkan semuanya. Ingin rasanya menyalahkan takdir Tuhan dan menuntut keadilan. Tiga bulan, hanya selama itu aku mengenal sosok Rama.


“Shinta, hei.” Suara Bu Yuni menyadarkan aku dari lamunan. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung tiba-tiba. Ya, keadaan cuaca di Medan sedang tidak bisa ditebak. Saat siang teriknya menyilaukan mata, beberapa jam kemudian berubah menjadi gelap. Seperti hidupku yang juga mulai terasa gelap.


“Shinta, masih mau ngelanjutin melamunnya ini? Ibu pulang aja, ya.” Bu Yuni mendorong kursi ke belakang dan akan bangkit.

__ADS_1


“Eh, jangan, Bu. Maaf, Bu.”


“Udah nggak usah dipikirin, jalani aja. Petik hikmahnya,” ucapnya menyapu lembut punggung tanganku.


Makanan yang kami pesan pun tiba. Aku hanya memesan es krim, tidak ingin makan apa pun. Mungkin ini yang dikatakan ngidam. Bu Yuni makan dengan lahap dan penuh semangat, aku hanya tersenyum melihatnya.


“Bu, sebenarnya Shinta ….”


“Nanti aja kamu cerita, ya. Ibu mau fokus dulu makan ayam sama hamburgernya.”


Dering ponsel mengiterupsiku untuk mengangkatnya. Malas, itu yang kurasakan. Meletakkan ponsel keluaran terbaru yang dibelikan Om Yip tempo hari di atas meja. Abimana, nama itu tertera di layar ponsel model lipat.


“Kok nggak diangkat?” Bu Yuni melihat ke arah gawai yang berdering, “Abimana? Angkat aja, Shin. Siapa tahu penting.”


Bu Yuni mengusap jarinya ke benda pipih milikku. “Halo, ganteng. Oh, Ibu lagi sama Shinta. Apa? Kamu mau kemari? Oke, Ibu tunggu, ya Sayang.”


Aku hanya memainkan sendok di gelas es krim, terkadang menyapu pandangan ke arah mana saja. Menghindari kontak mata dengan Bu Yuni. Sepatu sport tertangkap netraku berdiri di dekat kami, aku mendongak melihat si empunya tubuh. Kaki jenjang dengan memakai celana jeans berwarna denim, juga kaos hitam polos dengan logo tertentu di sisi kiri dadanya.


Abimana berdiri dengan tegak, membawa buket mawar merah dalam genggamannya. Belum sampai lima menit sejak ia menelepon tapi ia sudah datang tepat di sini. Pandangan kami beradu, tatapannya sendu dan penuh luka. Begitu pun denganku, ada jarum yang menusuk ke hatiku, terasa sakit.


“Lho, kok cepet kamu sampe?”


“Ya, Bu. Kebetulan saya sedang jalan-jalan ke sini. Lihat Ibu sama Shinta.”


“Kamu kebiasaan nggak angkat telepon aku, ya. Ini.” Ucapannya menjurus padaku seraya menyodorkan bunga yang ia bawa. Topi yang bertengger menambah kesan seksi padanya. Aku beranjak dari tempat duduk.

__ADS_1


“Bu, Abi, aku permisi ke toilet sebentar, ya. Kamu kalau mau makan pesan aja.”


Aku berjalan menuju ke kamar mandi, meninggalkan ponsel di sana. Ternyata berpura-pura kuat itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan beban hidup yang sedang kualami sekarang. Aku mencuci tangan beberapa kali, lalu menutup wajah dengan kedua tangan bentuk frustasi. Tak jarang meremas rambut kuat.


Cukup lama aku berdiri di depan kaca bening berukuran besar ini. Kaki terasa pegal, aku putuskan untuk kembali bergabung bersama mereka. Dengan langkah gontai dan berjalan lunglai, aku dikejutkan dengan kehadiran Abimana yang tengah bersandar di dinding dekat toilet wanita.


“Shinta,” ucapnya yang membuatku berdiri mematung, ia melangkah mendekat dan semakin dekat denganku hingga tak berjarak. Abimana memegang pipiku lembut, menatap mataku tajam. Aku terkunci dalam tatapannya yang membuatku tidak bisa berpikir jernih.


Dadaku naik turun seperti roller coster. Jantung berpacu kencang, aliran darah mengalir cepat hingga ke ujung kepala. “Shinta, katakan kau tidak menyukaiku. Katakan, Shinta.”


Aku membuang kedua tangannya lalu berusaha pergi, Abimana mencengkeram pundakku. Abimana mengambil posisi tepat di depanku. “Shinta, aku menyukaimu sejak kali pertama kita bertemu.”


“Semua sudah terlambat, Bi. Beberapa hari lagi aku akan menikah dengannya.”


“Apa kau mencintai Rama?”


“Aku ….” Abimana mengunci mulutku dengan mendaratkan bibirnya di sana. Aku hanya diam dan perlahan memejamkan mata. Entah ini benar atau salah, rasa yang bagaimana menjabarkan situasi ini. Tangan Abimana merayap ke pinggang rampingku dan membawa diri ini mendekat padanya.


Setelah selesai, ia menyapu lembut bibir pink milikku dengan ibu jarinya. Lalu mencium kening ini lama. “Aku akan selalu ada untukmu, Shinta. Bahu ini akan kusiapkan hanya untukmu bersandar dan menangis.”


Aku berlalu meninggalkan Abimana, berjalan dengan penuh rasa tanya dan bingung. Rama tiba-tiba berada di ujung lorong pusat perbelanjaan ini, juga membawa setangkai bunga mawar di tangan kanannya. Ia menatapku datar, entah itu rasa cemburu, marah atau perasaan yang lainnya. Ia begitu rapi menyembunyikan hati yang entah bagaimana saat ini.


“Ram, Rama.” Aku mengambil langkah seribu mengejarnya yang berjalan dengan begitu cepat. Namun, ia tidak bergeming dengan panggilanku yang terus menyebut namanya.


“Shinta, hei kamu mau ke mana?” teriak Bu Yuni yang tidak aku hiraukan, “astaghfirullah, gimana bayarnya. Aku nggak bawa uang.” Terdengar ocehannya di telingaku yang masih belum begitu jauh.

__ADS_1


__ADS_2