Simpanan Sugar Daddy

Simpanan Sugar Daddy
Pelacur, katanya!


__ADS_3

Aku masih setia memeluk guling menatapnya kagum. Sepertinya ia sadar aku tengah memandanginya, ia bangkit dan melipat sajadah. Aku berbalik berusaha menyembunyikan diri dengan memejamkan kembali mata ini.


 “Kamu nggak salat?” aku hanya diam, “aku tahu kamu udah bangun, nggak usah pura-pura.”


Aku menghadap ke arahnya. Ia duduk berselonjor di ranjang, dengan melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu bener mau lepas dari Om Yip?”


Aku langsung bangkit dan terduduk penuh semangat di depannya. “Gimana? Kamu udah dapet caranya?” Aku mendekatinya hingga tak berjarak. Rama memandang mataku, terdiam untuk sesaat. Jakunnya terlihat naik turun, seperti menelan saliva berat.


“Belum,” ucapnya yang langsung mengalihkan pandangan dan dengan segera beranjak dari kasur lalu keluar kamar.


“Huft!”


Aku mengekor langkah Rama yang tampak pergi menuju ke teras. Harusnya kami berdua pagi-pagi begini mencuci peralatan dapur selesai pesta, begitu adat kami orang jawa di sini. Namun, ibu menyuruh orang untuk mengerjakannya.


Aku berleha dengan duduk di kursi rotan, entah mengapa perutku mulai tampak membuncit. Kata orang setelah akad nikah kehamilannya begitu jelas terlihat. Entah mitos ini benar atau tidak.


“Shinta, aku jalan-jalan ke depan sebentar, ya. Kamu mau ikut?”


“Enggak, ah.”


Berselonjor kaki dengan memandang langit yang terlihat indah berlapis embun pagi. Salah seorang tetangga pria berumur empat puluhan datang menghampiri.


“Kamu pelacur! Ya, ‘kan?” ucapnya dengan menunjuk-nunjuk wajahku. Tidak lupa ia berkacak pinggang. Aku mengerutkan dahi, bingung. Tanpa ada angin atau hujan tiba-tiba dia datang ke rumahku dan membuat keributan.


Aku yang tidak tahu menahu tentang ucapannya mendadak menjadi emosi, kala diucapkannya kata itu lagi. Aku berdiri mengiyakan tuduhannya.


“Ya, memang aku pelacur! Terus kenapa?”


Lelaki kurus dengan jenggot tebal ini menatap nyalang padaku. Kubalas tatapan itu tidak mau kalah.


“Pelacur sepertimu tidak berhak ada di sini. Kamu akan merusak moral anak gadis di sini! Terutama putriku.”


“Hei, pria tua! Kalau pun aku pelacur, aku nggak akan sudi mengajak anakmu menjadi sepertiku. Terlalu berharga, untuk jadi pelacur kelas kakap sepertiku! Kau mengerti!”


“Kelas kakap? Kau bangga dengan sebutan itu? Heh! Kau sudah dewasa, tapi tidak bisa berpikir pakai otak!”

__ADS_1


Semakin tersulut emosiku mendengarnya berkata begitu, suasana di rumah mendadak menjadi ramai karena kedatangannya dan keributan yang kami buat.


“Hei, kau lebih dewasa tapi kau lebih nggak ada otak dari aku!”


“Hei!” teriak Rama yang muncul entah dari mana. Diikuti Om Togar di belakangnya, wajah Rama tampak memerah. Ia mengambil langkah seribu mendatangi kami yang masih terus berdebat.


“Apa-apaan ini! Sudah tua tapi tidak ada harga dirinya! Bijak dalam bersikap. Pesantren katanya, pesantren taik!” umpat Rama yang baru sekali ini aku melihatnya begitu marah. Tangannya terlihat mengepal, urat-urat tampak menonjol di sana.


Semua orang menyalahkan sikap Anto yang datang menyebabkan keributan. Entah apa masalahnya denganku, jujur harga diriku jatuh saat ia melabrakku tanpa sebab. Rama memeluk pundakku dan membawa diri ini masuk. Lalu pergi entah ke mana.


“Bubar, bubar!” usir Bu Yuni kepada semua tetangga yang ikut menonton.


Bu Yuni juga ikut menemaniku di dalam rumah. Ibu tampak memegangi jantungnya, lalu mencari obat yang dibantu Bu Yuni. “Ada apa ini, Shinta?”


“Shinta, enggak tahu Bu,” ucapku dengan menangis kaget setelah semua orang bubar dari halaman rumah.


Ibu menarik napas dan mengeluarkannya perlahan, itu dilakukannya sebanyak tiga kali. Lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi ruang tamu.


Dentingan suara pintu terdengar nyaring, terlihat Rama masuk dan langsung menuju dapur meneguk air dengan cepat. Ia tampak begitu kehausan. Aku menghampirinya, lalu ia berjalan menuju kamar.


Ia duduk di tepi ranjang dengan menunduk, aku mencoba melihat raut wajahnya. “Ram,” panggilku hati-hati.


Ia mendongak dan menatapku sendu. Ada kecewa yang tersimpan di balik pupil matanya. “Laki-laki tadi—”


“Ya, kenapa dia?” Rama menarik bibir lalu tersenyum simpul, kembali terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya.


“Ram, Rama, Ramadhan,” panggilku yang mencoba mencairkan es batu ini. Entah mengapa ia terlalu senang dengan mode senyap dan penuh rahasia.


“Dia lulusan pesantren, juga anaknya terlalu terobsesi dengan semua yang ada padamu, Shinta. Makanya saat anaknya diminta mengikuti jejaknya untuk masuk sekolah pesantren dibantah keras sama anaknya.”


“Heh! Salahin anaknya lah, kenapa nyalahin aku! Pesantren? Pesantren busuk kalau begitu modelannya!” tandasku yang langsung bangkit dan berkacak pinggang di depan Rama. “Emang dia orang mana, sih? Kenal dengannya juga enggak, seenaknya aja datang nyelonong marah-marah.”


“Dia tetangga dekat rumah aku,” aku mengepal tangan kuat, geram. Rama mengelus pundak ini lembut, “aku tadi sudah marah juga padanya. Tidak pantas rasanya dia datang dan memarahimu tanpa sebab. Kita laporin ke polisi, ya.”


“Kamu yakin?”

__ADS_1


“Ya, untuk kasih efek jera.”


“Gimana kalau minta bantuan Abimana aja?”


“Nggak!” Belum juga aku selesai menyampaikan pendapatku, Rama langsung membantah dengan lantang dan keras, “nanti kalian ciuman lagi,” desisnya hampir tak terdengar.


“Apa? Ciuman? Jadi kamu lihat? Terus kamu cemburu?” cercaku menatap Rama intens, Rama langsung berpaling muka. Telinganya tampak memerah, tak jarang bergoyang ke belakang sedikit.


Rama mendadak menjadi sibuk menghitung semut yang berbaris di dinding. Terkadang mencoba menangkap nyamuk yang dari pandangan mataku tak terlihat jejaknya. Aku mencium pipinya.


“Sebagai sahabat,” ucapku yang langsung keluar melihat kondisi ibu. Om Togar tampak bersemangat ingin menjadi saksi di kantor polisi jika masalah ini aku ambil ke jalur hukum.


“Gimana Shinta? Kita laporkan dia ke polisi? Aku udah siap ini jadi saksi.”


“Heh, Bang. Main lapor-laporin aja, korbannya itu ‘kan Shinta. Gimana Shin, Ibu juga siap jadi saksi,” timpal Bu Yuni dengan senyum yang melebar di wajahnya, “oh ya, minta bantu Abimana aja!”


Deheman Rama membuat Bu Yuni terdiam dan mendadak menjadi hening. Wajah masam jelas tergambar di sana. Om Togar terlihat menyikut pundak Bu Yuni, mulut Bu Yuni sontak komat-kamit nggak jelas.


“Nggak usah dibawa-bawa ke polisi ya, Nak. Jantung Ibu nggak kuat kalau harus memperpanjang masalah ini.”


“Gimana, Ram?”


“Oke.”


**LA**


Senja mulai berpendar, mentari beranjak ke peraduan perlahan tapi pasti. Nuansa jingga menggores di cakrawala, lalu malam mulai muncul dan menenggelamkan matahari yang menyinari siang. Kupandang langit yang memancarkan gemerlap bintang dari balik jendela.


“Entah mengapa, aku begitu sedih melihat matahari terbenam.”


“Kenapa?”


“Ya, matahari menghilang di balik awan dan memudarkan cahayanya. Seakan semua ikut hilang bersama dengannya yang tenggelam di ujung sana.”


“Kamu salah, Shinta. Justru, matahari tenggelam dan berganti dengan suasana yang baru. Dia esok akan terbit lagi dan mengganti harimu yang gelap untuk bersinar lagi,” ucap Rama yang membuatku semakin kagum dengan pemikirannya.

__ADS_1


__ADS_2