
Ia berhasil mengobrak-abrik hati yang tidak tahu tengah merasakan apa. Aku memakai hoodie berwarna putih untuk keluar rumah. Terasa sesak udara yang masuk ke dalam dada setelah Rama mengatakan itu.
Aku menjernihkan pikiran dengan berjalan santai menyusuri jalan yang setiap hari dilewati. Rambut cokelat panjang sebatas bahu aku biarkan terurai. Terus melangkah tanpa arah, hingga tersadar aku telah berada di depan sebuah kafe.
Aku masuk dan memilih duduk di bagian pojok kafe dekat dinding-dinding yang berhias bentuk cangkir berisi kopi. Di balik dinding kaca terdapat pemandangan yang membuat bola mataku tidak berhenti menatap takjub.
Ribuan bintang terlukis di angkasa, bertabur cahaya malam yang memanjakan mata. Satu pesanan kopi telah hadir di depanku. Aku teringat akan ayah saat ia masih menemaniku belajar bersepeda. Tak lelah ia mengejar dan kadang membantu tubuhku yang tertimpa sepeda kecil berwarna merah. Lutut yang berdarah, tangan yang tergores cor-coran jalan.
Ah, semuanya indah kala dilihat dari sudut pandang yang membahagiakan. Andai bisa, aku tak ingin menjadi dewasa. Menjadi dewasa itu sulit dan rumit. Ingin menjadi balita saja yang hanya tahu bermain dan menangis.
Kubuka kotak persegi berukuran kecil yang selalu terselip di dalam kantong celana atau tas. Foto gadis kecil dengan rambut diikat satu tengah berada dalam gendongan lelaki berkumis tebal dengan kulit sawo matang.
Kata ibu, itu aku saat berusia tujuh bulan. Ayah begitu sayang padaku. Saat aku lahir, ayah berlari mengetuk pintu semua tetangga untuk mengabarkan bahwa ia telah memiliki anak perempuan yang memang diidamkannya saat ibu awal-awal hamil.
Semua itu hilang sejak lima belas tahun silam, semuanya berubah saat ayah dinyatakan meninggal dalam kecelakaan yang terjadi di persimpangan lampu merah dekat rumah. Aku yang masih menunggu bus melihat kejadiannya tepat di depan mata. Bahkan, ayah meninggal pun di pangkuanku.
Aku berteriak meminta tolong, tapi semua orang hanya sibuk berfoto. Hingga akhirnya Om Togar lewat dan membawa ayah langsung ke rumah sakit. Namun, saat sampai di sana, nyawa ayah sudah tidak tertolong. Ibu yang datang bersama dengan Bu Yuni menangis histeris.
Aku hanya terpatung, shock mengingat kejadiannya. Seragam dan tubuhku penuh dengan darah ayah. Aku berjalan seperti mayat hidup menuju ke jenazah ayah yang masih di ruangan IGD. Lalu terduduk lemah tak berdaya, perlahan bulir bening lolos satu persatu membasahi pipi.
Berteriak memanggil ayah, menjerit sekeras-kerasnya. Terkadang memaki diri sendiri yang tidak punya kekuasaan untuk mengatur orang-orang yang bisa menolong karena kami miskin.
Ponselku berdering, Abimana nama yang tertera di layar. Berkali-kali ia menelepon, tetapi aku abaikan. “Hai,” sapanya yang sudah berdiri di hadapanku dengan handphone dalam genggamannya. Aku menengadah melihatnya acuh.
__ADS_1
Tanpa diminta, ia menggeser kursi dan duduk di depanku. Aku terus menopang dagu memandang ke arah lain. Saat ini aku tidak ingin bersama siapa pun dan melakukan apa pun.
“Aku tahu kamu pasti tidak akan menjawab teleponku. Makanya aku langsung duduk saja.”
“Hem. Terserahlah. Aku sedang tidak bersemangat apa pun. Kalau kamu mau tinggal, silakan. Bye.” Aku berdiri dan akan pergi setelah meletakkan selembar uang lima puluh ribu. Abimana menarik pergelangan tanganku.
“Shinta, kalau ada masalah ceritakan. Shinta, tidak peduli bagaimana sikapmu padaku, aku akan selalu ada untukmu dalam keadaan apa pun.” Aku membuang tangannya kasar dan berlalu pergi.
Kumandang azan Subuh sayup-sayup terdengar, aku mengucek-ngucek mata perlahan. Terdengar gemericik air dari kamar mandi. Aku melongok di depan pintu, ibu berjalan dari lorong sempit rumah kami.
Wajahnya yang basah bekas air wudu membuat hatiku sedikit terusik. Telah lama aku meninggalkan salat dan selalu berbuat maksiat bersama Om Yip. Ibu menatapku intens, senyum terlukis di sana.
“Mau ikut salat?”
Pukul tujuh pagi aku berangkat ke halte bus. Walau uang yang diberikan Om Yip cukup untuk membeli sepeda motor baru dan tunai. Namun, aku masih belum ingin menunjukkannya begitu jelas.
“Eh, Shinta. Pagi-pagi udah cantik aja. Eh, tau nggak Abimana itu tanyai kamu terus lho sama Ibu. Kenapa nggak diterima aja? Nih, ya. Kalau Ibu jadi kamu, pasti ibu mau. Udah ganteng, kulitnya sawo matang. Uh, kesannya macho gitu lho. Apalagi ….” Deheman dari Om Togar membuat Bu Yuni terdiam dan menyapu pandangan ke arah suaminya yang berdiri di depan pintu.
Aku terkekeh melihat mereka berdua. Bu Yuni langsung menghampiri Om Togar dan mencolek-colek dada bidangnya genit. Aku pamit pada mereka berdua.
Duduk di halte bus dengan ponsel dalam genggaman. Rama datang menghampiriku, seperti biasa dengan kemeja dan memegang tas di sisi kiri. Aku yang malas langsung berdiri dan mengalihkan wajah.
“Shinta, kamu masih marah dengan kata-kata aku kemarin? Itu semua ada alasannya, Shinta.”
__ADS_1
“Kamu dari kemarin bilang ada alasannya, tapi apa?”
Dia memandang lurus ke depan, tapi mengabaikan pandanganku yang tertuju padanya. “Ayo, busnya udah sampai.”
Masuk ke dalam bus, disambut dengan lagu karo yang memang tidak asing di telinga kami.
Oh si kacang koro, ari turang turang
Oh si kacang koro.
Oh si kacang koro ari turang turang, oh si kacang koro
Begitu liriknya terdengar, cukup menghibur hariku yang dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang pria yang ada di sampingku ini. Mengapa dia begitu rapi menyimpan banyak teka-teki.
Aku tersenyum simpul ketika tiba-tiba ponselku berdering. Nama dan fotonya terpampang di layar benda pipih dalam genggamanku ini. Entah mengapa, ia mengatakan akan selalu ada untukku dalam keadaan apa pun.
Kusapu tombol hijau dan mengangkatnya, sekilas aku melirik ke arah Rama. Berbicara sedikit berbisik dan menjauh sebentar dari pria misterius ini.
“Shinta, aku melihatmu di bus bersebelahan dengan seorang pria. Jujur, aku cemburu!” aku menoleh mencari keberadaan Abimana, “aku di persimpangan lampu merah di depanmu,” lanjutnya yang melambaikan tangan saat bus melintas di dekatnya.
Seragam polisi lengkap dengan topi menambahkan kesan gagah dan tampan padanya. Namun, aku sedang tidak berhubungan dengan siapa pun. Hanya Om Yip, ya hanya dia saat ini. Bus pun tiba di halte dekat vihara.
Aku berjalan beriringan dengan Rama yang sejak tadi diam. Aku mencoba menghentikan langkah dan diam di tempat, tapi dia terus melangkah. Tak menghiraukan diri ini yang berdiam di tempat yang sama.
__ADS_1
Di hari ini aku sadar, dia marah. Namun, amarahnya bukan memudar tapi sepertinya perlahan mulai menyerah.