Simpanan Sugar Daddy

Simpanan Sugar Daddy
Tembakan Terakhir


__ADS_3

Enam bulan kemudian…


Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk bercerai dari Rama sesuai pesan terkahir ibu. Ya, ibu meninggal usai mengetahui semuanya dari berita yang viral. Ini semua karma untukku yang menerima semua uang dari hasil yang tidak baik.


Om Yip, dijebloskan penjara oleh Abimana yang tengah menyelidiki kasus perdagangan manusia yang dilakukan Om Yip dan istri dengan berkedok rumah ibadah. Bersyukur, aku dijadikan simpanannya bukan dijual ke penikmat wanita muda di negara lain.


Rama mendapat perusahaan yang dijanjikan Om Yip sebelum beliau tertangkap tangan. Kini, ia menjadi pengusaha muda yang mengembangkan produk kecantikan lokal. Nama brandnya sedikit ke barat-baratan, Shawn, katanya terinspirasi dari wajahku.


Abimana, ia memang terus gencar mendekatiku, tapi hati tidak bisa menerima pria yang telah menepati janjinya untuk selalu ada untukku dalam keadaan apa pun. Bahkan, saat aku terpuruk dan titik terendah dalam hidupku.


Om Togar dan Bu Yuni kerap datang menemani sebagai pengusir sepi. Ya, mereka yang paling tahu tentang perjalanan hidupku. Tingkah konyol suami istri ini mengundang gelak tawa yang menghiasi wajah ini.


Harusnya, aku memilih salah satu dari kedua pria itu. Tapi, tidak kulakukan. Karena mereka terlalu berharga untuk mendampingi hidupku yang kacau ini. Tidak pantas berlian seperti mereka mendapatkan sampah sepertiku.


Jujur, aku telah mencintai Rama karena sikap tulusnya. Abimana,hanya namanya yang tersimpan rapi di sudut hati yang tidak ingin aku ubah dan ganti. Namun, tidak pula ingin kumiliki. Aku terlalu egois bukan?


“Assalamualaikum.” Suara khas Bu Yuni membuatku membuyarkan lamunan. Aku menjawab salamnya.


“Masha Allah, cantik banget kamu Shinta. Ibu pangling, lho.”


“Ini masih coba-coba kok, Bu.”


“Kenapa nggak dilanjutin? Siapa tahu istiqomah dan dapet hidayah.”


“Amiin. Tapi untuk sekarang, kayaknya belum dulu Bu. Takut nggak bisa jaga lisan dan akhlak.”


“Lho, heh! Itu nanti dibenerin pelan-pelan. Insya Allah, Allah kasih jalan.” Aku melepas jilbab yang aku coba sebentar tadi dan memilih pergi keluar untuk menghirup udara segar.


Aku duduk termenung sambil menatap senja setelah Bu Yuni pulang. Teringat akan ucapan Rama, senja menghilang untuk digantikan malam yang lebih indah, juga awal yang baru dan lebih baik. Aku menarik napas dalam, andai semuanya tak terjadi di awal. Mungkin kini, aku telah bersama dengan Rama membina hubungan yang bahagia.


“Shinta,” panggil Rama yang tampak ngos-ngosan dan peluh yang penuh keringat.


“Rama?”


Ia langsung menggendong tubuhku dan membawanya di pundaknya seraya berkeliling halaman. Aku memukul pelan bahunya meminta untuk diturunkan. Namun, pria yang mengenakan setelan jas ini tidak bergeming.


Rambut yang tersisir rapi, membuatnya semakin tampan. Sepertinya ia telah meninggalkan kemeja kotak-kotaknya dan ransel yang selalu dibawanya ke mana-mana. Moodnya juga sepertinya berubah, tidak lagi sedingin es jika ada masalah.


“Ram, turunin aku! Kalau nggak aku jitak nih kepala CEO geblek ini!” perintahku yang langsung memukul kepalanya kuat hingga ia meringis kesakitan.


“Kenapa? Mau mode es lagi kamu,” celaku yang melihatnya menggosok-gosok kepalanya bekas pukulanku.


“Nggak! Kamu kira aku Rama yang dulu? Aku sekarang CEO.”


“Ya lah tuh,” ucapku seraya memeluk tangan di depan dada.


“Shin, aku ….”

__ADS_1


“Apa?”


Dia hanya nyengir tanpa melanjutkan kata-katanya. Sekuat tenaga aku menghindari Rama dan membiarkan ia melanjutkan hidup yang sesuai dengan keinginan hati dan ibunya. Namun, entah mengapa, pria ini terus datang lagi dan lagi.


“Ya udah kalau nggak mau bilang. Duduk dulu, Ram. Biar aku ambilin minum buat kamu.”


Aku beranjak masuk, Rama memeluk tubuh ini dari belakang. Aku terperanjat dengan perlakuannya. Aku berusaha melepaskan tangan Rama dari tubuh ini.


“Sebentar saja, Shin. Aku ingin memelukmu walau hanya semenit, tidak sedetik pun sudah cukup untukku.”


“Ram, ini udah satu menit. Please, lepas. Nggak enak dilihat tetangga.”


“Tetangga kamu ‘kan Bu Yuni, biarin aja. Ya ‘kan Bu Yuni!” teriaknya yang membuat Bu Yuni langsung keluar dari rumah dan melihat kami masih dengan posisi tadi.


“Wuih, kembali lagi, ya? Ibu dukung lho kalian.” Aku langsung membuang tangan Rama.


Dor!


Suara tembakan terdengar begitu memekakkan telinga dan mendadak gempar di sekitar lingkungan rumahku. Rama terlihat mendelik dan darah segar bercucuran dari punggung belakangnya. Aku dan Bu Yuni terbelalak kaget dan segera menampung tubuh Rama yang telah limbung. Warga mengerumuni kami.


Aku meminta Bu Yuni memanggil ambulance. Air mata mengucur deras dan berdoa agar Rama selamat. Om Togar terlihat berlari mengejar seseorang yang berada tidak jauh dari kami.


“Ram, bertahan ya. Aku tahu kamu kuat. Bertahan demi aku, Ram.” Tangan Rama menyentuh pipiku yang penuh deraian air mata. Aku meletakkan kepalanya di pahaku.


“Shin, jika aku selamat. Maukah kau menikah denganku lagi?”


Kami pun tiba di ruang IGD rumah sakit yang langsung disambut perawat dan dokter di sana. Abimana mendekatiku yang tampak berantakan dan shock. Entah urusan apa ia bisa berada di rumah sakit ini. Ia mengelus pundakku, aku segera berhambur ke pelukannya. Menumpahkan semua tangis di sana, juga mengoceh mengenai keadaan Rama.


“Bi, Rama ditembak seseorang. Aku takut, Bi. Aku takut kalau Rama meninggal, Bi.”


“Kamu tenang, ya. Oke? Aku akan selidiki semuanya.” Aku mengeratkan pelukanku.


 


**LA**


“Shin, aku udah tahu siapa dalang dibalik penembakan Rama.”


“Siapa, Bi? Apa ada hubungannya dengan Om Yip?”


“Ya, dia anggota Om Yip yang masih buron dan menjadi DPO pihak kepolisian di wilayah ini. Aku juga tengah kejar dia.”


Rama berusaha bangkit dari bankar dan kubantu untuk duduk bersandar di dinding rumah sakit. Rama masih belum sembuh total meski sudah dua bulan berada di sini dengan melewati masa kritis tempo hari. Bersyukur, peluru itu tidak menembus ke tulang rusuknya.


Aku terus berada di sisi Rama, merawatnya hingga ia tersadar. Tak henti-hentinya aku menjaga dan mengajaknya berbicara saat ia koma beberapa waktu lalu. Tidak bisa kubayangkan jika harus kehilangan dia lagi.


Abimana sering datang berkunjung menghibur diri ini yang terkadang meneteskan air mata kala Rama tak kunjung bangun. Abimana seakan mengerti dan sadar diri dan posisi untuk tidak menunggu hati ini yang sempat terisi olehnya dahulu.

__ADS_1


“Ram, kamu fokus sama kesehatan kamu, ya. Aku akan kejar terus dan ungkap kasus ini hingga tuntas. Cepat sehat, Bro. Kasihan Shinta, nangis terus karena kamu. Aku permisi dulu.” Aku melototi Abimana, Rama terlihat menyapu pandangan ke arah kami berdua.


“Ram, aku antar Abimana ke depan dulu, ya.” Ia pun mengangguk.


Kami berjalan menyusuri ruang-ruang rumah sakit seraya berbicara mengenai hubungan ini.


“Bi, aku minta maaf, ya. Aku nggak bisa balas hati kamu. Juga, makasih udah selalu ada untukku.”


“Hem, mau bagaimana lagi. Kamunya sih nggak kasih kesempatan untukku lagi,” ucapnya menarik napas panjang dan mengulum senyum.


“Aku senang bisa ada untuk kamu, Shinta. Asal kamu bahagia, aku juga bahagia. Ya, walaupun nggak bisa dipungkiri, aku juga kecewa.”


“Bi!”gerutuku dan membulatkan mata pada Abimana yang mulai dengan kisah sedih hatinya yang patah karenaku. Ia terkekeh dan mengerti arti tatapan itu.


“Oke, oke. Jaga dia, ya. Aku tahu, dia tulus sama kamu. Tapi bener, ya kata orang, yang berjuang akan kalah dengan yang beruang!” tandasnya yang segera berlari saat kami akan menuju tempat parkir motornya.


“Abi! Kamu kira aku matre, hah!” teriakku yang langsung mengejarnya, para staf dan orang-orang yang ada di sekitar melihat tingkah kami. Tak jarang terdengar mereka berteriak untuk kami berhenti.


“Kamu kalah. Aku yang menang, jadi kamu harus turuti permintaanku yang tadi, ya.” Aku menutup mata dan mengangguk.


Setelah Abimana pergi, aku kembali ke ruangan Rama yang terletak di lantai tiga. Ia terlihat berdiri di luar menatap awan yang memang tampak indah. Langit yang cerah, juga angin sepoi-sepoi. Aku mengambil langkah seribu, segera mendekat ke arahnya.


“Ram, kamu kok di luar?”


“Aku bosan, Shin di dalam terus.”


“Tapi, harusnya kamu tunggu aku.”


Ia tersenyum simpul, manis sekali. Rambutnya tampak sudah mulai panjang, janggut dan kumisnya rajin aku mencukurnya. Rama mengambil tanganku yang berada di samping paha.


“Shin, aku ingin kamu bahagia. Aku nggak mau kamu menderita lagi karena menunggu pria penyakitan sepertiku.”


“Ram, aku telah memilihmu. Aku akan bertanggung jawab atas pilihanku.”


“Tapi, Shin. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.”


“Benar, akan ada yang lebih baik darimu. Tapi, mereka bukan yang terbaik buatku. Please, Ram. Jangan paksa aku untuk mengerti semua ini, karena aku nggak mau. Oke?”


Ia mengangguk dan memelukku. Satu kecupan hangat ia daratkan di rambut panjangku.


“Terima kasih, Shinta. Sepulang aku dari rumah sakit, kita menikah lagi, ya.”


Kami menatap senja dari koridor rumah sakit, tak jarang bersenda gurau dan ia mengatakan sedikit cemburu melihatku dengan Abimana yang tengah kejar-kejaran tadi. Ya, Tuhan, pria es ini masih saja cemburu dengan Abimana.


Semoga orang-orang Om Yip cepat ditangkap dan menghilang dari muka bumi ini. Agar tidak ada lagi korban sepertiku dan Rama.


End 

__ADS_1


__ADS_2