Simpanan Sugar Daddy

Simpanan Sugar Daddy
Ketahuan Ny.Lim


__ADS_3

***


Tiga bulan sudah aku menjadi simpanan Om Yip. Uang terus memenuhi isi rekeningku dan entah bagaimana aku menjadi semakin dekat dengan Abimana. Rama, dia sama sekali tidak menjelaskan apa pun sejak kali terakhir membahas pernikahan.


Dia bersikap seperti biasa dan tidak terusik dengan penolakan dariku yang meminta alasannya. Juga tidak memberi tahu apa alasannya dibalik melamarku tempo hari.


Di siang hari ini, Rama mengajakku makan di restoran dekat vihara. Entah ada angin apa, dia tiba-tiba memintaku untuk datang ke sana. Sesuai permintaannya, aku meminta izin pada Om Yip untuk keluar sebentar bersama Rama.


Saat tiba di sana, Rama belum datang. Hanya aku sendiri duduk di meja bulat dengan taplak meja putih berenda itu. Sepuluh menit lamanya aku menunggu, datang seorang wanita berambut pirang dengan sulaman alis warna hijau. Memakai hot pants dan kaos bling-bling, ia duduk di depanku. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan, mungkinkah ia istri Om Yip?


Dadaku bergemuruh, ada rasa takut yang menjalar. Tatapannya sangat tidak bersahabat dan membuatku bergidik ngeri. Terkadang aku memalingkan wajah ke arah lain.


“Lakukan saja apa yang kamu mau. Lagi pula, dia akan tetap menjadi suamiku. Kamu bukan gadis pertama yang menjadi simpanannya.”


“Maaf, saya mengaku bersalah,” ucapku tertunduk malu.


“Tapi ….” Ia memanggil dua pria berbadan kekar untuk menyeretku yang entah akan dibawa ke mana. Aku dipaksa masuk ke dalam mobil, Rama juga berada di sana dengan tangan terikat di belakang.


“Rama.”


Aku didorong masuk dan bersebelahan dengan Rama. Wanita itu duduk di depan kami mengawasi seraya memegang stik golf. “Jalan!” perintahnya.


Mobil melaju dengan cepat, lalu berhenti entah di mana. Tergambar di mataku, halaman luas seperti pergudangan. Banyak truk-truk pengangkutan di sana, sepertinya ini dekat dengan pelabuhan.


“Ram, tempat apa ini?”


“Ini tempat mereka biasanya mengekspor barang. Juga pekerjaan ilegal mereka dilakukan di sini.”


“Lalu, apa hubungannya sama kita?”


Pria berbadan gelap dan berotot ini menarik kami berdua untuk turun dari mobil. Lapangan hijau dengan gawang terlihat dibalik truk-truk itu. Kami berdua diikat di sisi tiang gawang.

__ADS_1


Lalu bola golf melayang setelah dipukul oleh Ny. Lim. “Kamu pasti tahu kalau suamiku sudah memiliki istri, tapi tetap saja kamu melanjutkannya!” teriaknya dengan memukul satu bola lagi yang beruntung tidak mengenai wajahku.


“Maaf, Bu. Tapi ini berlebihan, menurutku.”


“Aku dengan tulus berdoa, semoga air mata darah yang keluar dari matamu yang sok polos itu bisa menggantikan posisiku suatu saat nanti!” teriaknya yang membabi buta memukul bola yang terus mengarah padaku.


Rama berteriak memohon pada Ny. Lim untuk tidak melakukannya. Namun, wajahku sudah penuh dengan darah akibat benturan bola yang mengenai pelipis mata dan hidung. Tak jarang, tubuhku dipukul dengan stik golf.


“Rama, apa dia wanita yang sangat ingin kamu lindungi itu?”


Mataku sayup-sayup melihat wanita tua ini berdiri dan menatap nyalang ke arahku. Mereka berdua terus berdebat dan Rama terus memohon untuk melepaskan aku.


“Wanita miskin yang hanya menginginkan uang suamiku! Sudah berapa kali kamu tidur dengannya, hah!”


“Cukup, Bu! Tidak puaskah Anda membunuh mantan tunangan saya hanya karena satu kesalahan yang bahkan bukan karena ulahnya?”


Aku memandang ke arah Rama yang terlihat meneteskan air mata. Ia terus memohon dan merengek untuk hidupku.


Masih terdengar jeritan Rama memanggil namaku, sebelum akhirnya aku benar-benar hilang kesadaran. Entah aku masih hidup atau sudah mati.


Entah sudah berapa lama aku terbaring dalam ruangan bernuansa putih dengan tangan yang masih terpasang jarum infus, juga selang oksigen di hidungku. Saat aku membuka mata, terlihat ibu tengah menggelar sajadah.


Menetes air mataku saat kulihat ia mengadahkan tangan setelah menjalankan dua rakaat salat Subuh memanjatkan doa untuk kesembuhanku. Aku memalingkan wajah mencoba menghapus jejak air mata dengan ibu jari. Cukup lama aku menangis dengan mata terpejam, kursi di samping kiriku berdecit halus.


Ibu mengusap pucuk kepala, aku segera menoleh dan menghapus air mataku. “Kamu sudah sadar, Sayang?” ia mungkin mendengar aku terisak, “alhamdulillah, ya Allah. Engkau mendengar doa-doaku selama ini.”


“Bu, maafkan Shinta.”


“Enggak apa-apa, Nak. Ini bukan kesalahan kamu, orang yang membuatmu seperti ini sudah dijebloskan ke penjara.”


Aku berusaha bangkit dari bankar, tapi tangan ibu menahan tubuh ini untuk bergerak. Aku ingin mencari tahu siapa yang disalahkan atas semua ini.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar, ibu mempersilakan dia masuk. Abimana muncul dari sana dengan membawa buket bunga dalam genggaman, tak lama setelahnya Rama juga hadir di belakang Abimana membawa buah.


“Kamu udah sadar, Shinta,” tanya mereka serentak lalu saling tatap. Abimana mengenakan kaos dengan menampakkan otot-otot lengan dan perutnya, cukup seksi. Rama masih sama dengan kemeja yang digulung sampai siku.


“Ibu keluar sebentar, ya.” Aku mengangguk lemah.


Kedua pria ini tampak tidak akrab, bahkan Rama menunjukkan wajah yang sedang kesal. “Shinta, aku kemari bukan sebagai polisi yang menangani kasusmu atau meminta wawancara padamu sebagai korban. Aku datang ke sini, pure ingin menjengukmu setelah Bu Yuni memberi kabar bahwa kamu sudah sadar.”


“Ram, bagaimana semua ini terjadi?”


“Panjang ceritanya, Shin. Nanti aku ceritain, ya.” Abimana menatap Rama intens dan penuh telisik, aku yang masih belum begitu bertenaga hanya mengangguk.


Om Yip masuk bersama dengan ibu, aku terkejut bukan kepalang. “Ibu ketemu Pak Yip di depan tadi, Shinta. Waktu kamu nggak sadarkan diri Bapak ini yang mengurus semua biaya rumah sakit. Dia bos perusahaan kamu, ‘kan?”


“I-iya, Bu.” Aku terbelalak dan menelan saliva berat dengan kehadiran Om Yip ditengah-tengah kami. Rama tampak memutar bola mata malas dan menarik tangan Abimana paksa untuk keluar. Om Yip masih berdiri dan terus memandangku tanpa kedip.


Abimana menolak pergi dari kamar VIP yang aku tempati sekarang. Namun, Rama memeluk lengan kekarnya dan membiarkan kami berdua bicara.


“Apa-apaan kamu! Lepas!”


“Udah, ntar aku jelasin di luar. Kamu butuh saksi, ‘kan? Aku akan jadi saksi mewakili Shinta.” Mereka berdua terus berdebat membuat kepalaku menjadi tambah pusing. Ibu menarik daun telinga kedua pria bertubuh atletis ini untuk keluar ruangan.


Setelah mereka keluar, Om Yip duduk di tepi ranjang. Ia menyelipkan rambut di daun telingaku, mengelus pipi ini lembut. “Maafkan saya, Shinta. Semua ini gara-gara saya. Mulai hari ini saya akan memberikan pengawalan untuk kamu, ya.”


“Enggak usah, Om. Saya akan baik-baik saja.”


Ia menggenggam jemariku, menciumnya lembut. “Saya sudah membelikan apartemen di tengah kota untuk kamu sebagai tanda permintaan maaf saya. Maafkan saya, Shinta.”


“Makasih, Om. Tapi … istri Om gimana? Sebaiknya kita akhiri saja ya, Om.”


“Tidak! Saya tidak akan pernah mengakhiri hubungan ini. Kamu nggak usah mikirin itu, ya. Saya yang akan urus dia, sekarang kamu fokus sama kesehatan kamu. Saya permisi dulu, ya.” Dia mencium pipiku singkat lalu menyelipkan amplop dan kunci apartemen dibalik selimut. Aku diam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2