
Jam weker berbunyi membangunkanku dari tidur. Badan terasa begitu lelah sejak pertempuran yang memacu adrenalin bersama Om Yip tadi malam. Aku bangkit dengan memijat-mijat pelan pundakku.
“Shinta,” panggil ibu yang tengah duduk di sofa ruang tamu dengan sedikit terbatuk. Aku menghampirinya.
“Ibu, kok udah bangun? Ibu ‘kan harusnya istirahat.”
“Ibu udah nggak apa-apa, Shinta. Kamu dapat uang dari mana untuk membayar rumah sakit?”
Aku tertunduk diam, bingung akan menjawab bagaimana. Tidak mungkin jika aku jujur. Aku menarik napas dalam lalu berkata, “Shinta udah dapet kerja, Bu. Shinta cerita masalah kita, terus perusahaan mau bantu.”
“Alhamdulillah, Allah Maha Baik.”
“Ya, Bu. Ya udah, Shinta siap-siap dulu, ya Bu. Ini ‘kan hari pertama Shinta.”
Aku beranjak dan langsung menuju ke kamar mandi. Setelah selesai aku pun berangkat. Tidak lupa pamit pada ibu dan meninggalkan beberapa ratus uang untuk beliau. Aku tahu dan paham, jika itu uang haram.
“Aku pergi, ya Bu.” Aku mencium tangannya takzim. Sebuah lengkungan terbit di wajah ibu yang menambah semangat pagiku meski harus menelan pil pahit kenyataan ini.
Aku melangkah keluar dan bergegas menuju ke halte bus. “Shinta,” panggil ibu dari depan rumah.
“Ya.”
“Ibu pengen punya menantu,” ucapnya dengan menyunggingkan senyum simpul.
Aku berbalik dan mendorong tubuh ibu pelan membawanya masuk. “Ibu kok ngomongnya yang enggak-enggak, sih. Shinta baru juga kerja, Bu.”
Aku menarik napas panjang dan segera berlari ke halte bus takut ketinggalan. Entah mengapa, tiba-tiba ibu ingin aku menikah. Mana ada yang mau menikah dengan simpanan om-om, batinku. Lima menit lamanya menunggu, bus pun akhirnya tiba.
Aku duduk di sudut dekat jendela. Seorang pria duduk di sebelahku dengan melingkarkan earphone di leher. Aku memandang sekilas ke arahnya, pria yang tempo hari bersama dengan Om Yip. Segera aku memalingkan wajah, tak ingin dikenali olehnya.
Bus pun berjalan santai, jemariku menutupi wajahku. Entah apa yang terjadi di depan sana, mobil dengan tinggi dua meter ini pun mengerem mendadak.
“Aw!” pekikku yang terantuk kaca. Aku mengusap-usap kening yang sakit seraya meringis.
__ADS_1
“Hei. Kamu yang tempo hari, ‘kan?”
Aku mengangguk lemah, juga membuang napas pelan. “Hai, aku Rama. Kamu?”
“Shinta.”
“Wah, kita udah kayak cerita wayang, ya. Rama dan Shinta, bisa kebetulan begini.” Aku hanya nyengir bingung. Dia terus bertanya ini dan itu. Aku menjawab sekenanya. Sejujurnya dia lumayan tampan. Apalagi, pagi ini dengan hoody berwarna cokelat dan rambut yang tersisir rapi terlihat lebih enak dipandang dari pada hari itu yang mengenakan seragam.
Bus pun berhenti, tepatnya aku yang telah sampai. Rama juga ikut turun dari sana. Dengan menggendong ransel ia mengikuti langkahku.
“Oh ya, ngomong-ngomong kamu kerja?”
“Ya.”
“Di mana?”
Ponselku berdering, segera aku mengeluarkannya dari tas. Om Yip, nama itu tertera di sana.
“Em, aku ada di Vihara Buddha Satya.”
“Kamu mau ke Vihara Buddha Satya. Itu tempat kerjaku juga. Wah, bisa kebetulan begini, ya.”
Aku hanya diam dan tidak merespons apa pun ocehan Rama. Om Yip telah berada di halaman Vihara. Rama langsung memberi salam pada bosnya itu, aku hanya diam dan menjadi penonton.
“Ram, tolong kamu ajak Shinta berkeliling Vihara dulu. Nanti, saya akan kasih tahu tugas selanjutnya, ya. Shinta kamu bekerja sebagai sekretaris saya, ya. Oke, saya tunggu di kantor saya setelah Rama menjelaskan tugas kamu dan vihara ini, ya.”
“Baik, Pak,” jawab kami serentak.
“Ih, kita samaan ya jawabnya, jangan-jangan kita jodoh lagi,” ucapnya dengan menyenggol bahuku juga menaikkan kedua alisnya. Aku hanya memutar bola mata malas. Terserah dia sajalah mau mengoceh apa pun.
Kami berkeliling mengitari vihara juga kantor-kantor bagian keuangan dan pemeliharaan. Terkadang vihara ini mengadakan pengobatan gratis untuk umum. Juga menerima donatur untuk membantu warga yang kesusahan.
Vihara ini didominasi dengan cat warna merah muda untuk seluruh ruangan. Rama juga menjelaskan Om Yip kerap keluar negeri untuk bertemu pengurus Vihara dari berbagai negara.
__ADS_1
Sudah lewat tengah hari, aku duduk berselonjor dekat pendopo taman belakang Vihara, memandangi hujan yang jatuh perlahan membasahi atap vihara. Juga membiarkan kaki telanjang ini terkena tetesannya.
Secangkir kopi beraroma capucino hadir tepat di wajahku. “Ini, minum. Mumpung cuma kita berdua yang ada di sini.”
Ya, seharian ini aku hanya berkeliling dan diperkenalkan sebagai sekretaris Om Yip. Besok baru aku duduk di kantor mengerjakan tugasku yang seharusnya.
“Shin, aku boleh ngomong sesuatu?”
“Ngomong aja.”
“Setahuku ‘kan, Pak Bos tuh nggak pernah punya sekretaris. Nih, ya. Selama lima tahun aku kerja sama dia nggak pernah mau ada sekretaris, apa lagi kalau perempuan.”
“Emang kenapa?”
Rama mengganti posisi duduknya menatapku lekat. “Kamu belum tau sih istrinya gimana. Istrinya itu cemburuannya minta ampun. Amit-amit, deh.”
Aku mengerutkan dahi. Wajar saja jika seorang istri menjadi cemburu melihat suaminya yang masih begitu parlente. Masih dengan kebingunganku, Rama melanjutkan ucapannya.
“Pernah nih, Pak Bos ketahuan godain pembantunya yang di rumah. Tau nggak sama istrinya diapain tuh pembantu?” aku menggeleng cepat dan mempertajam pendengaran juga berhati-hati kalau-kalau suatu saat bertukar posisi dengan sang pembantu.
“Dia dipukul pakai stik golf sampe berdarah-darah mukanya.” Aku menelan saliva berat, mendadak aku berkeringat dingin. Lalu meneguk kopi yang dibawa oleh Rama.
“Shinta.” Suara itu menyapa ketika aku tengah larut dalam lamunan. Rama sontak berdiri dan memberi hormat. Begitu pun denganku, Om Yip memintaku untuk ke ruangannya. Aku mengekorinya.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Rama pulang seperti biasa juga para staf yang lain. Menyisakan aku dan Om Yip berdua. Ya, hanya kami berdua dalam ruangan dan Vihara lantai dua ini.
Aku berdiri tegak dengan sedikit menunduk di hadapannya. Om Yip menyelipkan rambutku di daun telinga dan memberi embusan napas penuh nafsu di sana. Aku bergidik, bulu kuduk meremang. Lalu tersadar menempatkan diri yang masih di kantor.
“Tidak akan ada yang tahu, Shinta. Kini hanya tinggal kita berdua,” ucapnya dengan mengunci pintu kantor.
Om Yip mencium bibirku buas dan kubalas sama liarnya. Terus berbalas hingga akhirnya kami sampai tersudut di dekat meja. Om Yip menggendong tubuhku dan meletakkan tubuh ramping ini di atas benda persegi dengan kaca gelap ini.
Rok di atas lutut membuat Om Yip begitu leluasa melampiaskan hasratnya yang begitu merindukan daun muda. Kemeja lengan pendek yang menampakkan body goals milikku seakan memberinya pikiran-pikiran kotor untuk mencicipi semuanya.
__ADS_1
Om Yip mulai membuka resletingnya. Namun, suara ketukan pintu menghalanginya untuk menuntaskan hasratnya. Tak jarang ia berdecih dan marah akan gangguan yang entah dari mana dan siapa gerangan yang datang menganggu kesenangannya.