
Seruan azan Ashar berkumandang, aku terbangun dari tidur yang cukup panjang. Ya, sejak pulang dari vihara aku terus merekatkan mata. Capek badan akibat peraduan dua malam berturut melayani Om Yip.
Aku keluar dari kamar dengan meregangkan kedua tangan dan menguap lebar tepat di depan pintu.
“Astaghfirullah, anak gadis nguapnya begitu banget, ya.” Suara itu sangat aku kenal, ditambah lagi dengan ketawanya yang khas mirip pekikan kuda. Aku terlonjak kaget dan langsung menoleh ke asal suara.
“Abimana?” kata itu terlontar dari mulutku saat terlihat ia duduk bersama ibu dan Bu Yuni. Di meja terdapat bingkisan yang berisi buah. Lalu perlahan merapikan rambut yang tengah berserakan dengan cepat.
“Hai,” sapanya dengan lengkungan yang melebar tergambar di wajahnya.
“Ibu nggak disapa? Mentang-mentang pacarnya datang lupa sama Ibu,” ucapnya dengan meledek dan memainkan sebelah matanya. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Yuni.
“Dia datang sama Ibu. Ibu juga yang kasih tau kalau kamu sakit. Tadi itu dia tanya alamat kamu, ya udah Ibu bawa langsung ke sini aja.”
Tangan Bu Yuni meraba ke bahu kekar Abimana, tak jarang ia menempelkan kepalanya di sana. Aku menautkan kedua alis lalu mengangguk pelan. Abimana hanya diam dan menatapku lekat.
“Sini, Nak.”
“Em, Shinta ke kamar mandi dulu, ya Bu. Mau cuci muka,” ucapku dengan menunjuk ke arah belakang. Sedikit salah tingkah di hadapan Abimana. Bagaimana tidak, dia datang di saat yang nggak tepat begini.
“Nggak usah cuci muka, kamu udah cantik. Sama kayak Ibu,” timpal Bu Yuni seraya mengelus-elus paha Abimana. Abimana terlihat menghindari sentuhan itu. Ia memindahkan tangan Bu Yuni ke tempat yang lain, tapi wanita berbadan kurus ini kembali mengulanginya. Dari raut wajah lelaki berhidung mancung ini tampak tidak nyaman.
Aku menggeleng dan berlalu menuju kamar mandi. Aku memukul pelan bak, bergumam sendiri. “Aish! Kenapa dia datang pas wajahku berantakan gini. Ish!” desisku merengek tidak karuan. Belum lagi rambut yang masih berantakan akibat bangun tidur.
“Bu, kapan-kapan boleh saya ajak Shinta pergi?” tanyanya pada ibu, aku masih menguping di sela sekat dapur. Aku terus mempertajam pendengaran, hanya celoteh Bu Yuni yang terdengar ricuh.
__ADS_1
“Shinta, nggak usah nguping-nguping begitu. Entar bintitan lho.”
Hah? Bintitan, bukannya itu untuk orang yang suka mengintip, ya? Ah, terserahlah, suka-suka Bu Yuni, sajalah, batinku.
Aku menjadi salah tingkah dengan ucapan Bu Yuni. Entah bagaimana dia bisa tahu aku berada di balik gorden ini. Abimana terkekeh sebentar, lalu menyapu pandangan ke arahku yang melangkah perlahan untuk bergabung dengan mereka.
Angin berembus lembut seolah mengikuti geraknya burung. Daun hijau ramai melambai tambahkan suasana hatiku yang entah tengah merasakan apa saat sorot mata Abimana memancarkan sesuatu yang lain. Binar di manik coklat itu menyembunyikan rasa kagum dan suka yang sepertinya tertuju untukku.
“Bu, apa Shinta sudah memiliki calon pasangan hidup?” tanyanya lagi pada ibu tanpa aba-aba yang membuatku terperanjat diam menahan napas. Pertanyaan ini membuat jantungku berhenti tiba-tiba, tetapi aku masih hidup.
“Hehe. Shinta itu belum ada kelihatan punya pacar lagi ya Bu, ya?” timpal Bu Yuni yang menjurus tanya kepada ibu. Ibu hanya diam, memandang ke arahku dan Abimana secara bergantian. Entah apa yang dipikirkan ibu. Mungkin ia merasa jika aku bersanding dengan Abimana akan membuatku bahagia. Juga Abimana bisa melindungiku mengingat seragam polisi yang ia kenakan.
Aku langsung meminta Abimana untuk pulang, juga Bu Yuni. Raut wajah keduanya tampak bingung. Aku menghela napas sambil menatap ke arah jendela. Bu Yuni dan Abimana terlihat melangkah pergi perlahan, Bu Yuni mengoceh tiada henti.
Pandangan Abimana terus menatap ke arah rumah lusuh milikku. Aku menundukkan kepala berusaha untuk menahan segala rasa. Tidak pantas wanita simpanan menjadi pendamping seorang polisi. Belum lagi keluarganya yang akan menentang keras hubungan kami nantinya. Juga proses panjang yang akan dilalui untuk menikah sah secara hukum negara.
“Enggak apa-apa, Sayang.”
**LA**
Aku berdiri memeluk diriku sendiri. Terdengar suara hujan yang jatuh di atas atap rumah. Rintiknya mengingatkanku pada kenangan pilu di hari itu. Kenangan yang menghancurkan masa depanku. Sayup-sayup kudengar derap langkah mendekat di pelataran gubuk tua ini.
Suara ketukan pintu terdengar, aku sontak membukanya. Pria tinggi sekitar 180 centimeter ini berdiri di hadapanku seraya menyapu pelan bajunya akibat tetesan air hujan. Kemeja panjang yang digulung sampai siku, juga caranya memegang tas itu ciri khas Rama.
Diam-diam aku menarik satu senyum lebar, seakan aku memang menantikan kehadirannya. “Masuk, Ram.”
__ADS_1
Dengan lesung pipi di kedua sisi wajahnya itu membuatku memiliki getaran lain di dada. Dia bekerja serabutan di vihara Om Yip. Namun, ia sering menemani Om Yip bertemu dengan para investor dan menanangi beberapa kegiatan yang diadakan di vihara.
Aku mempersilakan ia masuk, mengambilkan segelas teh untuk sekadar menghangatkannya. Rama terlihat duduk di kursi memanjang seraya menyapu pandangan ke sekeliling dinding papan yang ditempelkan beberapa fotoku di sana.
Rama menangkupkan kedua tangan yang berada di atas paha, lalu tertangkap netra memandangku intens.
“Shinta, ada yang pengen aku omongin sama kamu.”
Aku mengerjap lalu mencari posisi duduk yang nyaman tanpa mengalihkan pandangan darinya. Wajahnya begitu serius, tak jarang ia merapatkan bibir bawahnya gusar.
Aku mengerutkan dahi. “Kenapa, sih? Ngmong aja, Ram?”
“Jika aku mengatakan sebuah kebenaran, apa kamu mempercayaiku?”
Aku mengangguk. “Kenapa nggak?”
Rama tampak mengembangkan senyum di wajahnya. Perubahan ini membuatku sedikit bingung dan bertanya-tanya tentang apa maksud dan tujuannya datang kemari saat hari tengah hujan begini.
“Aku ingin menikahimu, Shinta.”
“Apa? Gila! Kamu bener-bener gila, tahu nggak!” umpatku lalu berdiri dan mengusir Rama.
“Shin, aku bilang gitu ada alasannya. Dengerin aku dulu.”
“Alasan? Apa?” Rama terdiam, entah apa yang disembunyikannya, “Kenapa diam? Kamu nggak bisa jawab, ‘kan?” aku mendorong tubuhnya dengan jari telunjuk berkali-kali. Namun, Rama tetap diam seribu bahasa dan tertunduk seraya memegang tasnya.
__ADS_1
Aku menarik napas panjang, mengusap wajah gusar. “Sebaiknya kamu pulang Ram. Aku nggak tahu kamu ada alasan apa bisa ngomong kaya gitu. Aku nggak paham dengan semua ini. Aku minta kamu pulang.” Rama pun pergi tanpa ada lagi kata yang keluar dari bibirnya.
Tidak ada kalimat yang mampu aku jabarkan mengenai perasaan saat ini. Kosa kata para pujangga pun tak bisa mewakili keresahan segala hati. Bagaimana aku menggambarkan deretan kata yang terlontar dari mulut Rama, yang memang berhasil mengacaukan pikiran.