
**
Cahaya matahari menyusup masuk melalui jendela, mengusik tidurku. Sepanjang malam aku terjaga tidak bisa terlelap memikirkan kedua pria yang menganggu ketenangan hati dan jiwaku. Kulirik jam di dinding pukul tujuh pagi. Seingatku, pukul tiga dini hari mata ini belum terpejam, entah jam berapa tepatnya manik coklat ini merekat.
Aku mengucek-ngucek mata, lalu meregangkan otot-otot dan pergi ke kamar mandi. Saat keluar kamar, rumah yang tadinya sepi mendadak jadi ramai. Ya, pernikahanku akan digelar dua hari lagi. Beberapa tetangga dan saudara diminta ibu untuk datang membantu.
Bu Yuni langsung melayangkan pukulan di bahuku. Ia berkacak pinggang menatapku nyalang. “Heh, kamu tinggalin Ibu gitu aja. Katanya mau traktir, eh malah kabur. Untung ada Abimana yang bayarin. Kalau nggak, mana ada duit saya!” ucapnya dengan memperagakan komedian yang berkata begitu.
“Hehe, maaf Bu. Semalam ada kejadian yang tak terduga.”
“Nih, handphone kamu.”
“Makasih, Bu.”
Indera penciumanku terasa terganggu dengan bau rempah yang begitu menyengat. Mendadak aku mual dan segera berlari ke kamar mandi dengan menutup mulutku. Suara khas orang muntah begitu nyaring terdengar, beberapa kali aku mengeluarkan bunyi itu.
Saat keluar dari kamar mandi, semua mata tertuju padaku memandang penuh curiga. Ya, kecurigaan mereka yang selama ini diperkuat dengan sikapku tadi. Kini jelas, mereka menyebutku hamil di luar nikah. Ibu dan Bu Yuni saling pandang.
Aku segera kembali ke dalam kamar. Mengusap-usap perut yang masih belum menunjukkan diri kalau tengah berbadan dua. Hanya payudara yang mulai sedikit membengkak. Aku mengintip tenda yang telah terpasang di depan rumah.
Cantik, andai ini bukan pernikahan yang dibayar Om Yip pasti aku akan sangat bahagia. Juga, andai aku menikah karena inginku takkan ada penyesalan dalam hidup. Rama orang yang begitu baik, kenapa ia harus ikut hancur bersama denganku.
Aku membuang napas kasar. MUA yang kami sewa datang untuk mendekor pelaminan. Ibu yang mengurus semuanya dibantu oleh Bu Yuni. Biaya pernikahan telah diberikan Om Yip pada ibu saat aku kembali dari rumah sakit. Rama, ia juga memberi uang pada kami sebagai ganti uang susu, begitu istilah di sini.
__ADS_1
Tidak banyak, kami juga tidak meminta. Bahkan, uang yang diberikan Om Yip telah lebih dari cukup. Seratus juta, total yang akan ibu gunakan untuk keperluan pesta. Tiga puluh juta ibu berikan padaku, tetapi kutolak. Biar beliau saja yang menyimpan.
Rama memberikan uang sekitar sepuluh juta. Perkara hal ini, ia tidak bertanya atau kompromi denganku. Katanya, ibunya yang memberi sebagai bentuk menghargai. Bu Yuni terlihat menghampiri MUA yang sering kami sebut dengan bidan pengantin.
Setelahnya, bidan pengantin yang bernama Mbak Sri itu datang ke kamar. Katanya sebelum mendekor kamar ia akan meremajakan tubuhku. Dengan body scrub yang ia keluarkan dari dalam tasnya ia memintaku untuk berbaring.
Pijatan lembut sambil membaluri tubuh ini dengan scrub khas wangi mangir. Cukup merelekskan tubuh dan pikiran, jemari Mbak Sri begitu memanjakan diriku. Aku pun kembali terlelap, entah kenapa belakangan ini aku kerap mengantuk dan malas.
Besok, Rama akan mengucap janji sehidup semati denganku. Hatiku tidak tenang. Pikiran-pikiran aneh memenuhi isi kepala seperti rasa bersalah, takut dan menyesal. Semua bertumpuk menjadi satu dalam diri ini.
Abimana, sebenarnya nama itu sempat mengisi hatiku. Namun, entah bagaimana menjelaskan ini semua. Kutulis pesan di aplikasi hijau.
“Bi, aku lebih memilih menghilangkan perasaan daripada mengungkapkan semuanya di waktu yang salah. Apa yang aku rasakan sekarang itu adalah anugerah dari Tuhan. Aku tidak tahu berjodoh dengannya atau tidak, biarkan aku menyimpan cinta ini yang harusnya tidak bertandang. Maafkan aku.”
Sinar mentari sore berpadu apik dengan sedikit awan. Bulir bening menetes dari pupil mataku, saat kulihat Abimana datang berjalan menuju ke arahku duduk. Aku sontak bangkit, menyapu pelan air yang sempat membasahi pipi.
“Abimana?”
“Mana Rama?”
Aku tak menjawab hanya saja pikiranku berkecamuk sendirian. Kedatangannya bagaikan petir di siang bolong dan mengundang tanya semua orang yang ada di sana. Tatapan kami bersitegang, hanya larut dalam pikiran masing-masing.
“Eh, Abimana. Pestanya masih besok loh, kok udah datang aja,” sapa Bu Yuni yang sepertinya mencoba mencairkan suasana. Abimana mengalihkan pandangan ke arah Bu Yuni dan mengubah raut wajahnya yang tampak dipenuhi amarah tadi.
__ADS_1
“Saya ingin ngomong sama Rama, Bu.”
“Loh, Rama nggak ada di sini. Mereka berdua ‘kan lagi dipingit, nggak boleh ketemu dulu. Cari Ibu aja, kenapa? Yang nggak ada kok dicariin. Haha.”
“Kalau begitu saya permisi, Bu.” Masih dengan seragam polisi ia pun pamit meninggalkan semua orang yang memandang kami bertiga. Ia tidak terpengaruh dengan pendapat orang, wajah tegasnya menunjukkan tidak ada yang ditakutinya.
“Saya terima nikahnya Shinta Anggraini binti Dedi Sumarno dengan emas sepuluh gram dibayar tunai.”
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah!”
“Alhamdulillah.”
Suara Rama begitu lantang mengucap ijab qabul. Satu tarikan napas dan menggenggam erat tangan penghulu, aku telah sah menjadi istrinya. Rona wajah kedua ibu tampak begitu berseri, dalam balutan kebaya berwarna putih dengan hiasan kepala, aku duduk di sebelah kirinya.
Mencium tangannya takzim. Ia mencium keningku malu dan sekilas saja. Rasa haru, sedih, sesal semua bercampur menjadi satu. Sesi foto pun diambil untuk mengenang momen ini. Setelah selesai berfoto, kami berganti pakaian untuk melanjutkan acara ‘nemokkan’ dalam adat Jawa. Kami dipisahkan dan akan dipertemukan nanti setelah kedua mempelai bertemu dengan membawa kembar mayang juga sirih untuk mempelai saling melempar.
Serangkaian acara gendong manten, sungkeman dan tepung tawar pun dilakukan mengingat kedua orang tuaku yang bersuku Jawa. Betapa sedihnya aku yang sudah tidak memiliki ayah. Semua menangis kala melakukan tepung tawar. Ini seperti pengingat dosa yang kita buat selama ini.
Prosesi adat jawa telah selesai, kini adat batak. Ibu Rama berdarah batak, hanya mangulosi (memberi ulos) dan menari batak untuk mendapat tupak. Begitulah kira-kira yang aku pernah dengar. Tarian kelima jari bergoyang mengikuti irama, lalu diselipkan uang di sana seraya mengikuti alunan musik. Namun, itu bukan serangkaian adat dari awal katanya, hanya mengikuti syarat saja. Ya, ayah Rama sama dengan kami, berdarah Jawa.
Aku yang tengah berbadan dua terlalu mudah lelah. Tak jarang kepalaku mendadak pusing dan membutuhkan istirahat. Rama berkali-kali menanyakan keadaanku. Menjelang Magrib, serangkaian acara adat telah selesai dilakukan. Sanak keluarga Rama beberapa sudah pulang meninggalkan acara.
__ADS_1
Kini waktunya bagi teman-teman kami yang datang untuk merayakan momen yang harusnya bahagia untuk kami berdua. Meski badan ini sudah terlalu lelah, tapi aku paksakan diri menebar senyum kepada para tamu undangan.