
Saat akan menuju kamar mandi, bahuku dicengkeram kuat. Aku melirik ke jari Om Yip yang terlihat sedikit berkerut itu. Aku menggerakkan pundak ke arah belakang dan menepis tangan kasar itu. Namun, Om Yip yang sepertinya tidak senang dengan sikapku langsung merobek lengan baju berwarna putih itu.
“Tidak perlu ke kamar mandi. Cukup ganti di sini.”
Aku menatap tajam dan semakin menunjukkan wajah tidak suka. Tetapi pria bermata sipit ini justru terlihat semakin tertantang. Ia kembali mengoyakkan lengan baju satunya lagi.
“Om Yip!” bentakku berusaha menghentikan aktivitasnya.
Om Yip mengambil langkah dan berdiri tidak berjarak denganku. Aku berpaling muka, membencinya. Bahkan sangat membenci! “Kamu ingin pekerjaan, ‘kan?” bisiknya sambil menjulurkan lidahnya di kuping.
Terasa sangat jijik saat air liurnya membasahi daun telingaku. Benar memang, aku sedang membutuhkan pekerjaan juga uang. “Puaskan aku malam ini. Besok kau langsung bisa bekerja di Viharaku!”
Deg!
Jantungku serasa berhenti berdetak mendengar penuturannya. Dunia seakan runtuh beserta diriku yang ikut terkubur di sana. Pikiranku kacau, demi sebuah pekerjaan aku menggadai tubuhku.
Bukan, lebih tepatnya menjual dan menjadi simpanannya. Belum lagi aku menjawab dan mengiyakan perkataan Om Yip kembali ia berkata, “Juga, ini ....” Ia melempar amplop cokelat ke atas kasur. Mataku mengikuti pergerakannya.
“Jumlahnya sepuluh juta. Itu akan sangat cukup untuk biaya pengobatan Ibumu,” tandasnya.
Om Yip membuka paksa kemeja yang aku kenakan dengan merobeknya menjadi dua bagian. Kancing bajuku jatuh berhamburan. Kini, hanya menyisakan pakaian dalam yang terlihat menutupi bagian diri ini.
Lidahnya terlihat menggeliat di area bibirnya, tertangkap jelas di netraku ia begitu menginginkan daun muda sepertiku. Pandangannya yang tajam seperti elang yang tidak ingin melepaskan mangsanya. Harus dihabiskan tak tersisa.
Kenapa tidak lari atau menolak, mungkin itu yang dipikirkan banyak orang tentang keadaan seperti ini. Bagaimana mungkin dan bisa, saat pria berwajah malaikat tapi berhati iblis ini memintaku melayaninya.
Jika bisa, aku jelas akan menolaknya mentah-mentah. Tapi, bagaimana dengan kondisi ibu. Belum lagi Om Yip memintaku untuk mengganti biaya rumah sakit yang telah ia keluarkan untuk ibu.
Aku sudah berusaha mencari ke mana-mana untuk mendapatkan uang. Namun, tak seorang pun percaya padaku yang pengangguran ini. Meski batin dan hati terus memberontak, tapi keadaan memaksa untuk menerima semuanya.
Sempat Om Yip mengancam akan membeberkan fotoku tanpa busana yang entah dari mana ia mendapatkannya. Juga, ia akan memberitahukan pada ibu jika aku simpanannya, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
__ADS_1
Ini kali pertamanya ia memintaku melayaninya. Pria iblis ini terus mengancam dan mengiming-imingi dengan berbagai kemewahan. Hingga akhirnya aku pun setuju demi kesehatan ibu.
Aku tidak ingin menjadi pelacur yang akan leluasa Om Yip jual pada siapa pun, entah itu teman atau koleganya yang lain. Aku meminta perjanjian hitam di atas putih. Ya, walau hanya sebagai simpanan.
Kami saling menandatangani lalu beranjak menuju hotel, tempat saat ini aku berdiri kaku. Perlahan aku membuka celana jeans yang melekat di tubuhku diiringi deraian air mata.
Om Yip terus memandang tanpa kedip dengan melipat kedua tangan di depan dada. Lalu berjalan menghampiriku yang hanya tinggal mengenakan ****** *****.
Tangannya bergerilya menjalar ke area terlarang milikku. Kaget, mataku membulat sempurna, bulir bening lolos dari tengah pelupuk mata. Sesaat memejamkan netraku dan menarik napas dalam. Terasa sedikit sakit, saat ia mencoba bertualang di sana.
“Akh,” rintihku seraya berpikir apa gunanya lingerie yang ia berikan ini, jika melihatku setengah bugil sudah seperti singa kelaparan. Om Yip mendadak menjadi buas dan langsung menciumi anggota tubuhku dengan kasar.
Perlahan ia membuka satu persatu pakaian yang masih melekat di badan ini. Aku hanya diam mematung, membiarkan pria yang seumuran dengan Ayahku menikmati setiap inci lekukan diriku.
Seakan sadar dengan rintihanku tadi, Om Yip langsung menghentikan aktivitasnya. Lalu berdiri tegak membelakangiku. “Pergilah ke kamar mandi, pakai itu. Juga, bersihkan dirimu. Aku ingin membawamu menikmati indahnya malam bersamaku.”
Cih! Menjijikkan mendengarnya berkata begitu. Tanpa rasa apa pun, bagaimana bisa menikmati malam. Terlebih lagi dengan dia, pria iblis yang bertopeng malaikat.
**LA**
Keluar dari kamar mandi, mataku terbelalak melihat apa yang ada di hadapanku. Juga, tingkah Om Yip yang di luar nalar. Mengapa dia melakukan itu, batinku bertanya-tanya dengan jantung yang sudah lepas entah ke mana.
Ya, hampir mati saat melihat meja biliar dikelilingi pedang yang sudah tertancap di sana, juga lilin yang menghias di antara pedang-pedang itu.
Mengayunkan satu langkah dari pintu kamar mandi. Om Yip yang sadar akan kehadiranku tersenyum dan melambaikan tangan untuk mendekat ke arahnya yang kini berada di depan meja biliar.
Entah kapan dia menyiapkan ini semua. Napasku tercekat di kerongkongan, kadang berpikir mungkin aku akan mati jika memberontak sedikit saja.
Aku semakin dekat dengan Om Yip. “Kamu sungguh cantik mengenakan itu, Shinta,” ucapnya seraya mengusap rambutku.
Aku hanya melirik sekilas, dadaku naik turun seperti roller coster yang tengah bermain. “Naiklah,” pintanya. Di saat seperti ini, barulah aku ingat Tuhan. Dosakah? batinku.
__ADS_1
Sesampai di atas, ia memintaku untuk menari. Musik eksotis ia putar untuk menambah suasana yang entah bagaimana bisa aku gambarkan.
“Saya tidak bisa menari, Om.”
“Menari saja apa yang kamu bisa. Lama-lama juga kamu akan terbiasa dan lihai,” ucapnya dari bawah sambil mendongak melihatku dengan jari telunjuk di depan bibir. Lama-lama? pikirku, berarti akan ada lagi adegan seperti ini?
Aku menggoyangkan pinggul ke kanan dengan kaku. Om Yip tertawa melihatnya. Kini gerakan ke kiri, sama hasilnya. Om Yip pun akhirnya ikut bergabung denganku.
Ia mengambil posisi berada di belakangku dengan meletakkan tangan kirinya di perut lalu menjalar ke paha. Lebih dapat digambarkan ia menyapu tubuh ini dengan tangannya. Bulu kuduk sontak menari ikut bersama dengan sentuhannya.
Sekujur tubuhku diraba olehnya. Aku menggeliat resah. Wajar dan normal apa yang aku rasakan. Bagaimana mungkin hasrat di dalam jiwa tidak bergejolak mendapat sentuhan seperti itu.
Walau, aku belum pengalaman dengan adegan begituan. Om Yip terlihat membuka kancing kemeja biru lengan panjangnya satu persatu sambil terus menjilati pipiku.
Setelah lepas semua, ia membuang bajunya ke lantai. Ia berganti posisi, kini berada di depanku. Tali pinggangnya, sekarang ia lempar jauh ke bawah.
Mendaratkan bibirnya yang lebar seperti Joker di bibirku. Tidak mungkin lagi aku menolak, libidoku juga sudah tinggi sekarang. Kubalas ciuman itu seraya mengalungkan tangan di lehernya.
Om Yip semakin menggila. Aku diminta tidur di atas meja penuh pedang itu. “Om,” bisikku melepas sesaat ciuman itu, “Aku takut terbakar dan terkena pedang itu,” lanjutku.
Om Yip yang masih sibuk melepas celananya tidak bergeming. Sepertinya pedang dan lilin ini sebagai penambah hasratnya. Aku telah terlentang sempurna di atas meja. Tidak jarang menoleh ke kiri dan kanan takut, rambut atau anggota tubuhku terbakar.
“Tenang saja, kamu tidak akan terluka karena pedang atau lilin itu.” Om Yip menindih tubuhku dengan sempurna.
Pergulatan antara aku dan Om Yip terus terjadi hingga peluh memenuhi tubuh kami berdua. Om Yip terlihat begitu ngos-ngosan. Bahkan, napasnya tinggal satu-satu. Begitu jelas terdengar di telingaku.
“Kamu ternyata sudah tidak perawan,” ucapnya menyunggingkan senyum.
“Apa itu penting sekarang?”
“Tidak. Aku tidak peduli dengan itu, sekarang aku telah puas atas layananmu. Besok jam delapan, datang ke Vihara, temui aku.”
__ADS_1