Simpanan Sugar Daddy

Simpanan Sugar Daddy
Rama Dipaksa Bertanggungjawab


__ADS_3

Senja muncul di ufuk barat, aku menatap keindahan petang lewat jendela kamar rumah sakit. Ibu masih setia menemaniku, suapan darinya baru saja selesai. Begitu tulus dan ikhlasnya ia mengurusku yang berlumur dosa.


“Shinta, kamu makin cantik lho kalau udah sadar begini,” ucap Bu Yuni yang membuatku menoleh ke arahnya dengan membawa rantang dan tas di kedua tangan. Tak perlu menyuruhnya duduk, ia langsung menempatkan bokong di sofa.


“Tau nggak, waktu kamu nggak sadarkan diri, Ibu lho yang ke sana ke sini bantuin ibu kamu. Ya ‘kan Bu, ya?”


“Ya.”


“Tuh, ‘kan bener kata Ibu.”


Senyumku terlukis di sana melihat tingkah dan raut wajah Bu Yuni yang menggelikan. Mata melotot dan mulut yang agak ditarik ke dalam. “Makasih, Bu. Udah jagain Ibu aku.”


“Sama-sama. Hehe, hah!” Aku mengerutkan kening melihat tingkah konyolnya.


Hari belum juga berganti, Bu Yuni dan Om Togar pun masih ada di sini. Ponselku terus berdering tanpa henti. Om Yip, nama itu tertera di layar. Aku mengabaikannya, mungkin inilah waktunya aku mengakhiri semua.


Om Togar dan Bu Yuni pamit pulang. Ibu mengantar mereka sekaligus pulang ke rumah untuk mengambil beberapa bajuku. Sekian menit ibu pergi, Om Yip pun langsung menyelonong masuk.


“Shinta, ini tidak benar. Aku tidak ingin mengakhiri hubungan kita. Aku merindukanmu, Shinta. Bahkan belum ada satu hari aku tidak bertemu denganmu.”


“Lalu? Apa yang bisa Om lakukan untukku?”


“Apa pun yang kamu minta, Shinta. Kamu boleh menikah dengan pria mana pun, tapi tidak dengan mengakhiri semuanya. Kamu minta rumah, mobil, bahkan perusahan, akan saya bangunkan untukmu.”


“Bagaimana jika aku hamil dan itu anak kita?”


“Apa?”


Om Yip terdiam dan menatapku penuh tanya. Sorot matanya mencari kebenaran dari manik cokelat milikku. Ia menggenggam erat bahu ini. “Jangan main-main denganku, Shinta!” geramnya dengan pemikiran yang entah bagaimana menyikapi ucapanku tadi. Aku memberikan hasil tespeck pada Om Yip, yang aku lakukan sebelum kejadian kemarin.


Aku membuang kasar tangannya. Mengalihkan pandangan ke arah lain. Perlahan air mata mengalir  dengan derasnya, aku ingin tenang bersama tangisan  yang semakin menjadi ini. Aku ingin berubah, lelah menjadi simpanan pria tua.

__ADS_1


Rama masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Sontak aku menyapu sisa-sisa bulir bening di wajah. Om Yip masih terpaku di sana dan menyapu pandangan ke arah Rama yang semakin mendekat dengan kami.


“Shinta, aku kemari –”


“Kebetulan kamu datang, Rama.” Om Yip berjalan ke arah Rama seraya menepuk-nepuk pundaknya.


“Kamu harus menikah dengan Shinta.”


“Apa?!” Aku dan Rama serentak bertanya perihal maksud Om Yip. Beliau menjanjikan apartemen yang sama dan bersebelahan denganku, juga memberikan perusahaan untuk dikelola Rama jika ia bersedia menikahiku.


“Apa maksudnya semua ini, Pak?”


“Ya, kamu ‘kan tahu ibu gimana. Apa kamu mau Shinta celaka lagi? Dia hamil anak saya, jadi saya butuh alibi untuk menutupinya. Kamu menikahi Shinta, tapi dia akan tetap menjadi wanita saya. Masalah biaya pesta pernikahan kalian saya yang akan menanggungnya. Bukannya ini kali kedua saya meminta?” Rama mengepalkan tangan, tampak urat-uratnya keluar dari genggamannya itu. Wajahnya seperti siap akan bertarung dengan Om Yip. Aku menautkan alis, mencoba mengartikan permintaan Rama yang tempo hari.


“Om! Jangan libatkan Rama dalam hal ini. Ini antara kita berdua!”


“Hei, Sayang. Kamu nggak perlu berteriak begitu, saya akan tetap menjaga kamu dan bayi kita. Kamu ingin ibu kamu tahu semuanya? Lagian, saya sudah pernah mengatakan hal yang sama pada Rama. Ya ‘kan, Ram?” Rama menarik kerah baju Om Yip dan akan melayangkan satu pukulan di sana. Namun, knop pintu tampak bergerak, Rama pun mengurungkan niatnya dan membuat keadaan seperti tidak terjadi apa-apa.


“Tahu apa, Pak?”


Kami bertiga saling pandang, bingung akan menjelaskan apa pada ibu yang membawa tas kecil dan meletakkannya di meja.


Om Yip senyum semringah menanggapi tanya ibu, tapi tidak dengan kami berdua. Kami hanya diam mematung menyaksikan pria iblis ini berinteraksi dengan ibu.


“Em, begini Bu. Shinta dan Rama ternyata sudah berpacaran sejak tiga bulan terakhir. Kini, ia tengah hamil. Jadi, saya akan memberikan mereka hadiah yaitu untuk menanggung semua biaya pernikahan mereka. Hal ini yang akan saya beritahukan kepada Ibu, tapi mereka bilang jangan dulu. Menurut Ibu gimana?”


“Ya Allah, hamil di luar nikah itu dosa, Nak. Kenapa kamu melakukan ini pada Ibu?”


“Maafkan Shinta, Bu.” Tangis ibu pecah, ia meratapi diri sendiri yang telah gagal menjaga putrinya. Aku turun dari bankar dengan bantuan Rama, memohon ampun pada ibu karena telah mengecewakan hatinya.


“Bu, saya akan bertanggungjawab.”

__ADS_1


Ibu menampar Rama. “Kau, teganya kamu lakukan ini! Kamu tahu itu dosa, ‘kan?”


Rama hanya tertunduk tanpa menjawab, aku masih terduduk di dinginnya lantai dengan terus menangis. Om Yip tersenyum penuh kemenangan, seraya memakai kacamatanya, ia pamit meninggalkan kekacauan yang telah ia buat.


“Bu, ini bukan salah Rama. Ini salah Shinta, Bu. Shinta yang nggak bisa jaga diri.”


Ibu terduduk di sofa dengan penuh rasa kecewa, tatapannya kosong. Air mata pun tak mampu lagi membasahi wajah ayu ibu. “Kalian harus menikah!” perintahnya tanpa memandang kami berdua.


“Bu, Shinta nggak mau, Bu. Jangan bawa-bawa Rama. Ini kesalahan Shinta, Bu.”


“Terus? Siapa yang akan bertanggungjawab? Apa kamu pikir ada lelaki di luar sana yang mau menikahimu? Dia, ayah bayi itu jadi dia harus bertanggungjawab!”


“Baik, Bu. Saya akan datang bersama keluarga saya untuk menentukan tanggal pernikahan. Permisi.”


**LA**


Pesta pernikahanku akan diadakan beberapa hari lagi. Desas-desus tetangga yang menyudutkanku terus terdengar, bahkan sampai ke kampung sebelah tempat tinggal Abimana. Tak jarang ibu-ibu di sekitar rumah memperhatikan gerak-gerikku saat aku melintas di depan mereka.


Dari yang aku dengar, mereka tahu aku tengah hamil di luar nikah. Sebab, tanpa ada angin atau hujan aku mendadak mengadakan pesta pernikahan. Bahkan, pacar saja aku tidak punya. Semua menyebutku pendosa dan melanggar norma agama.


Memang, sejak kali aku keluar dari rumah sakit aku selalu mengenakan kaos longgar. Kehamilanku memasuki sepuluh minggu. Saat keluarga Rama datang, para tetangga terus menerka-nerka dengan kondisi tubuh ini.


Hari ini, aku keluar rumah karena merasa bosan. Aku tidak diizinkan kerja oleh Om Yip, biaya susu dan segalanya dipenuhi olehnya. Bisa dikatakan Rama nantinya hanya suami di atas legalisir. Om Yip tidak membiarkan aku lepas begitu saja darinya.


“Shinta.” Aku menoleh ke asal suara, Bu Yuni berjalan ke arahku yang tidak jauh dari rumahnya.


“Kamu mau ke mana?”


“Ke depan, Bu. Bosan di rumah terus.”


“Ibu temeni, ya.”

__ADS_1


“Enggak usah, Bu. Shinta lagi pengen sendiri.”


“Udah, nggak apa-apa.”


__ADS_2