
Malam menjelang, musik terdengar ribut mengiringi tamu yang tengah menyantap. Kami berdua duduk di pelaminan megah bak raja dan ratu. Gaun selayar berwarna biru muda mengembang, juga mahkota yang bertengger di kepala, membuatku bagai putri dari negeri dongeng.
Biduan yang iseng meminta kami naik ke pentas untuk bernyanyi. Sebenarnya aku malas dan mengantuk. Namun, Rama tampak bersemangat ingin menyumbang suaranya di pesta kami. Sikapnya yang kadang pendiam berubah menjadi ceria hari ini.
Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkanku bicara agar kau juga dapat mengerti
Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tahu mengapa, yang kutahu inilah cinta
Rama menyanyikan lagu dari Judika, begitu terdengar liriknya yang menghunus ke jantungku. Ia tidak pernah mengatakan apa pun mengenai isi hati dan pikirannya. Ia membuatku terus menerka-nerka apa yang ada di dirinya. Pikiranku melayang mencoba memahami semua bait-bait lagu yang keluar dari bibirnya.
Setelah kami turun dari panggung, Abimana datang dengan kemeja hitam dan rambut yang tersisir rapi. Dia memberi selamat pada kami berdua, ia menggenggam tanganku lama sekali. Hanya netra yang berbicara. Perlahan air mataku menetes membasahi pipi. Tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang ada di sekitar.
“Jangan menangis,” bisik Rama yang masih tersenyum ramah menyambut kedatangan Abimana. Walau entah bagaimana hancurnya dia, yang mungkin kemarin melihatku dengan Abimana.
“Bi.” Dia tidak bergeming atau mengatakan apa pun padaku. Tatapannya menunjukkan kekecewaaan. Begitu juga denganku, Rama memandangi kami berdua cukup lama.
Kemudian beralih ke arah Rama, memberikan selamat lalu berbisik, “Benar dia menikah denganmu. Tapi aku yang akan selalu ada untuknya. Tolong jaga dia selama aku pergi.”
“Pergi?” tanyaku yang mencoba menatap Abimana. Ia tampak memeluk Rama dan menepuk bahunya.
“Bi, Abimana,” panggilku yang diacuhkannya. Ia terus berlalu, hanya punggung yang berbidang itu yang masih terus tertangkap netraku. Aku mendadak kehilangan tenaga dan terkulai lemas. Lalu pandanganku menjadi gelap.
Aroma minyak kayu putih yang menyengat membuatku sadar. Saat terbangun, aku sudah berada di kamar yang dihias dengan berbagai bunga. Rama, membantuku bangkit dari pangkuannya.
__ADS_1
Kepalaku masih sedikit pusing, aku memijat pelan. Ibu Rama masuk dan mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Aku hanya diam dan tidak ingin menjawab apa pun yang ia tuduhkan padaku.
Biarkan beliau mengungkapkan apa yang ingin dia katakan tentang diri ini. Bahkan, jika ia menyebutku pelacur sekalipun aku tidak akan marah. Benar, tuduhannya memang benar. Aku memang pelacur untuk menyenangkan birahi Om Yip.
“Siapa lelaki itu sampai kamu pingsan begini? Ha! Jangan-jangan dia ayah dari bayi yang kamu kandung, bukannya Rama! Kamu menjebak Rama, ‘kan! Dasar pelacur!”
“Ibu! Cukup!”
Rama tersulut emosi dengan perkataan ibunya, Mondang bersungut dengan bibir yang dimiringkan tidak suka dengan bentakan anaknya. Ia pun keluar tanpa pamit. Rama mengejar Mondang, ia salah karena berkata kasar pada ibunya.
Ibu mengusap pucuk kepalaku dan memeluk tubuh ini erat. Aku meminta maaf padanya karena tidak bisa mengatur hati kala melihat Abimana karena ia berkata akan pergi.
“Bu, Shinta udah buat malu Ibu. Gimana kalau kita pindah aja?”
“Pindah?”
“Ya, Bu.” Ibu tampak menghela napas berat.
“Ini rumah peninggalan ayah, Shin. Terlalu banyak kenangan di rumah ini.”
“Ibu baik-baik aja, asal kamu juga baik.”
Acara pernikahanku pun telah selesai digelar. Pukul dua dini hari, Rama masih belum juga menampakkan tanda-tanda pulang. Entah seburuk apa hubungannya kini dengan Mondang. Seharusnya aku tidak memaksakan diri untuk menikah dengan Rama. Ah, kenapa kehidupanku menjadi serba rumit begini.
Aku merebahkan diri dengan perasaaan gelisah. Memang, aku belum mencintainya tapi sebagai manusia. Aku juga punya hati untuk khawatir dengan keadaannya. Derap langkah terdengar di teras, aku segera membuka pintu.
Rama membawa koper kecil dengan wajah yang tertunduk. Lalu memandangku dengan tatapan sendu. Hati ini semakin campur aduk melihat raut wajahnya yang tidak seperti biasanya. Aku bingung harus berbuat apa.
“Ram, kamu nggak apa-apa?” Hanya anggukan yang menjadi jawaban atas tanyaku, “itu koper?”
Dia diam, Rama mulai lagi dengan mode senyap. Ya Tuhan, dosaku begitu banyakkah hingga kau pilih pria misterius ini untuk menemani hari-hariku nantinya yang entah sampai kapan.
__ADS_1
“Masuk dulu, Ram.” Aku menuntunnya ke kamar, ia pun mengekor langkahku. Setelah aku perintahkan untuk duduk di tepi kasur, aku bergegas mengambil segelas air untuknya.
“Shin, gimana kalau kita pindah ke apartemen aja?”
“Apartemen?”
“Ya, Om Yip kasih aku apartemen di sebelah kamu.”
Aku menyatukan kedua alis menatapnya bingung. Ada apa ini? Kenapa dia tiba-tiba mengajak pindah. Belum juga satu hari aku menikah dengannya. Rama mengeluarkan gawai dari tas yang selalu ia bawa saat bekerja.
“Ini perjanjian aku dan Om Yip. Kamu dengerin, ya. Aku lelah menyembunyikan semuanya.”
Ia tampak memainkan jemarinya di ponsel. Lalu memberikannya padaku. Suara rekaman percakapan antara dia dan Om Yip.
“Kamu harus menikahi Shinta dan menjadi ayah biologis anaknya, hanya dalam KK (Kartu Keluarga). Tidak boleh menyentuhnya.”
“Tapi, Pak –”
“Tidak ada tapi-tapian! Itu perintah mutlak dari saya. Sebagai gantinya, ini. Tinggallah di sebelah Shinta, agar kamu bisa menjaganya 24 jam. Satu lagi, kamu tidak boleh marah jika saya masuk ke apartemen Shinta kapan pun yang saya mau. Oh, ya. Satu lagi, perusahaan akan saya bangun untuk kamu dan Shinta, kalian akan bercerai setelah anak itu lahir.”
“Baik. Saya boleh bertanya tentang sesuatu, Pak?”
“Apa? Katakan.”
“Jika kami tidak bercerai, bagaimana?”
“Tidak apa-apa, tapi satu yang pasti, saya akan membunuhmu!”
Aku mengerutkan alis mendengar penuturan Om Yip. “Oh, ya Pak. Bagaimana Ibu bisa mengetahui tentang Shinta dan menyekap saya kemarin?”
“Dia menyadap pesan saya. Itu memang mutlak kesalahan saya. Saya bercumbu dengannya dan membayangkan wajah Shinta. Juga, berdesis menyebut namanya dalam kenikmatan. Tapi kamu nggak perlu khawatir soal istri saya. Saya sudah membangunkan butik di mall termewah di kota ini untuknya. Lagian, dia tidak akan mungkin curiga lagi soal saya dan Shinta. Saya sudah memberitahunya kalau kalian sudah menikah dan akan pergi jauh dari sini. Juga handphone lain.”
__ADS_1
“Biadab! Dia pula yang mengatur kehidupanku. Iblis ini juga yang menjebak kita berdua!” geramku dengan mengepal kedua tangan kuat, “Ram, aku ingin terlepas dari cengkeraman pria tua itu. Aku nggak mau lagi jadi simpanannya, Ram.”
Cukup lama kami terdiam mencari cara bagaimana agar terlepas dari bandit tua ini. Hingga tanpa sadar aku tertidur. Saat membuka mata Rama terlihat duduk bersila dengan baju koko dan peci, tangannya menengadah memanjatkan doa.