Sistem Bakat Tak Terbatas

Sistem Bakat Tak Terbatas
Bab 30 - Tangan Hitam


__ADS_3

Gin melihat kristal yang tergantung pada kalung dan melihatnya dari dekat.


Itu memiliki warna hijau zamrud mengkilap yang tampak cantik. Ada bentuk pola tertentu dalam kristal itu yang menjadikannya semakin menarik.


Gin yang menerimanya tidak bisa berkata, "Tapi ... Ini kelihatan sangat berharga bagimu Maria-san."


Maria mengangguk dan berbicara. "Itu benar, itu sangat berharga sebab, itu adalah kalung pemberian guruku ketika ia meninggal."


"..."


Gin terkejut dan segera melepaskan kalung itu.


"Mm, kalau begitu, aku tidak bisa menerima kalung ini, karena ini benda yang sangat berharga bagimu Maria-san, tolong ambil kembali." ucapnya sambil menyerahkan kalung.


Maria tidak mengambilnya dan mengelus rambut Gin.


"Tidak apa-apa, itu hanya kalung, lagipula itu sudah 10 tahun bersamaku dan aku sudah bosan memakainya. Kamu bisa memakai atau hanya menyimpannya. Jika kamu masih tidak mau, maka aku akan marah padamu." kata Maria lembut sedikit genit.


Gin tidak bisa menolak paksaan Maria dan menghela nafas mengangguk.


"Baiklah, aku akan selalu memakainya kemanapun aku pergi kalung ini. Terima kasih sekali lagi untuk hadiahnya Maria-san." ucap Gin menundukkan kepalanya.


Maria tersenyum sambil tertawa dan mulai memeluk Gin sekali lagi. Entah kenapa dia merasa bahwa bocah Gin ini sangat menggemaskan.


Setelah beberapa perbincangan harmonis. Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampilkan Marsha yang telah bangun dari tidurnya.


Gin menyambut itu dengan senyuman. Tapi yang tidak diharapkan, Marsha menangis sambil berlari mendekat untuk memeluk Gin.


"Wah~"


"Eh!?"


Gin tidak tahu mengapa reaksi awal Marsha seperti ini, lagipula hal tersulit di dunia ini adalah hati seorang wanita, yah... Meskipun Marsha masih gadis kecil, itu masih masuk kategori wanita, kan?


Gin hanya diam dan membalas pelukan Marsha membiarkan dirinya puas dengan isak tangisnya. Setelah dirasa cukup tenang, Gin bertanya, "Bagaimana perasaanmu saat ini?"


Marsha tersenyum manis, "Mn, aku merasa lebih baik."


Maria yang berada di sudut menyikut siku Kuro, "Apakah kamu sudah memikirkan tentang menantu?"

__ADS_1


Kuro"..."


Kuro memandang Maria dengan aneh dan menatap Gin dan Marsha dengan seksama. Jika harus dikatakan bahwa orang yang setidaknya mengenal Gin lebih dalam selain Ava, tentunya adalah dia. Bahkan mungkin Kuro lebih mengenal Gin dari siapapun.


Ia hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya karena tahu sifat sejati Gin. Bocah ini, apakah dia akan puas dengan satu istri?


Kuro bisa membayangkan bahwa anaknya di masa depan mungkin akan memiliki banyak pasangan di sampingnya. Tidak hanya karena bocah itu memiliki karisma yang unik, tapi memang ia terlahir dengan bakat yang menarik perhatian orang lain.


Maria yang melihat Kuro menggelengkan kepalanya bertanya, "Oh, apakah kamu menolak hubungan mereka?"


Kuro hanya tersenyum. "Tidak, itu terserah Shiro sendiri dengan siapa dia akan berhubungan, aku tidak akan membatasi hal itu."


Kembali ke Gin, setelah dia sedikit bertanya-tanya pada Marsha tentang kejadian setelah hal itu, ia akhirnya tahu banyak hal yang telah terjadi.


Setelah Gin pingsan saat itu, segera Robert Walikota Aresia menyuruh beberapa anak buahnya yang masih sanggup bekerja, untuk membersihkan pertempuran yang ada.


Dan setelah tahu bahwa Kuro juga orang yang telah mencegah invasi Beast ke kota, ia tidak bisa berhenti bersyukur dan berterima kasih.


Robert sebenarnya hanya tahu bahwa Kuro hanyalah seorang petualangan peringkat S yang tinggal di dekat kota, karena saat namanya terdaftar pada Guild Petualangan sebagai petualangan non-kontrak, ia memiliki peringkat penilaian seorang petualangan S.


Tapi siapa yang mengharapkan bahwa Kuro menyembunyikan kekuatannya dan ia bahkan jauh lebih kuat. Mengetahui bahwa ada orang sekuat itu melindungi kotanya ia tidak bisa gembira.


Mengenai masalah aset bengkel, itu dikembalikan lagi pada kakek Marsha karena memang itu miliknya sebelumnya. Dan berbicara tentang Diaz, pria itu sudah tidak terlihat lagi saat invasi beast menyerang, mungkin ia menjadi salah satu petualangan yang kabur.


Tentang kekhawatiran Robert dengan Organisasi Gelap, untungnya Kuro memberikan keyakinan bahwa itu tidak akan menimbulkan masalah pada kota, dan itu benar-benar membebaskan Robert dari tekanan masalah yang akan datang.


Saat setelah berbagai masalah terselesaikan, Kakek Marsha kemudian pergi ke bengkel untuk mengaktifkan kapal terbang yang diciptakan anaknya.


Ia dengan senang hati memberikan kapal itu kepada Gin karena telah menyelamatkan dirinya dan para anak panti asuhan. Karena Gin saat itu masih pingsan, jadi Kuro yang menerimanya.


Marsha saat itu juga sudah membulatkan tekadnya bahwa dia akan menjadi rekan Gin, sekaligus, ia ingin menjadi ahli kapal mekanik dan mewarisi tekad ayahnya.


Karena itu, mereka saat ini telah berada di kapal terbang untuk kembali ke rumah Gin di pedalaman hutan.


Setelah tahu kebenaran itu semua, Gin tidak bisa menghela nafas.


"Perjalanan kali ini benar-benar dipenuhi warna."


Gin tidak bisa mengingat masa lalu di mana dia saat datang kesini dimulai dari kejadian bertemu dengan Marsha dan Beast King ular raksasa. Kemudian dilanjut dengan berbagai masalah yang terus berdatangan membuat perjalanan Gin tampak tidak berjalan dengan mulus.

__ADS_1


Yah, bagaimana pun ia saat ini akan tenang dengan bisa kembali ke rumahnya.


Gin sudah menantikan ulang tahun keenam yang akan diadakan sebentar lagi. Sebenarnya pesta besar yang diadakan seharusnya ulang tahun pada tahun lalu, tapi karena Kuro tidak sedang berada di rumah, itu kemudian ditunda.


Baru kali ini karena kelengkapan keluarga, Gin bisa merayakan dengan orang-orang yang dia sayangi.


Meskipun ulang tahunnya tidak mengundang orang-orang dan hanya keluarga Gin dan para pelayanan yang ada, tapi Gin antusias dengannya. Kali ini, mungkin akan ada tambahan orang yang ikut merayakan seperti Adelyn, Maria, dan Marsha.


Memikirkan itu Gin berharap agar cepat sampai di rumah.


***


***


***


Sementara itu, di suatu tempat di Pegunungan Rosia.


Di dalam sebuah gua yang gelap dan sunyi, seorang pria paruh baya berambut putih dengan pakaian berjas mewah dengan mantel unik bordir emas tengah duduk di batu sambil menyangga dengan tongkatnya.


Di sisi lain seorang pria dengan wajah pucat sadis berambut pirang dan memiliki luka jahitan memanjang di pipinya tengah memainkan pisaunya sambil menjilatinya.


"Kukuku, apakah makalah yang kamu dapatkan itu benar-benar salah satu dari harta karun legenda?" tanya pria pucat itu.


Pria berjas mengangguk, "Bisa dikatakan begitu, tapi ini hanyalah dua dari ketiga bagian yang telah aku kumpulan, tinggal satu jika ini menjadi harta yang lengkap."


Pria pucat itu tampak meremehkan, "Heee~ Apakah seluar biasa itu? Makalah itu hanya bisa digunakan untuk mengontrol para beast, kan?"


Pria berjas hanya melirik dan dengan tenang mengangguk, "Itu benar, ini mampu mengontrol pikiran para beast untuk dikendalikan sesuka hati, tapi kontrolnya tidak akan bisa lengkap tanpa makalah terakhir.


Ditambah, bahasa yang digunakan di dalamnya adalah bahasa Kuno yang sudah lama hilang dan sulit dipelajari, hanya salah satu anak buahku yang bisa menerjemahkannya."


Pria pucat itu bersikap bosan dan seolah-olah apa yang dicari pria berjas itu sangat membosankan.


"Tch, aku tidak tertarik dengan harta karun atau apalah itu? Ngomong-ngomong sampai kapan pria itu datang!?" keluh pria pucat sambil berteriak.


"River! Diamlah!" Tiba-tiba suara datang dari sudut gua yang gelap dan menampilkan seorang pria gagah bermantel besar.


Pria pucat atau River hanya mendecakkan lidahnya seolah kesenangannya di ganggu. Matanya menatap pria yang baru datang dan berkata.

__ADS_1


"LaBeouf G. NewYear."


__ADS_2