
Setelah sehari istirahat di rumahnya, Gin bangun pagi dengan cukup puas dan wajah segar.
Dalam enam tahun hidupnya di dunia ini, ia merasakan bahwa tidur sebelumnya adalah tidur terbaik yang pernah ia rasakan. Setelah melepaskan penat dalam perjalanan, ia setidaknya telah melihat sedikit tentang dunia, dan itu sangat menambah visi Gin tentang dunia ini.
Namun Gin tidak terpengaruh lama dan segera beranjak karena hari ini adalah hari yang istimewa bagi dirinya. Ini adalah hari ulang tahun keenam Gin.
Seluruh villa dalam kegembiraan, dan setiap sudut ruangan diberi hiasan yang bagus. Meskipun keluarga Gin tidak mengundang orang-orang luar, tapi tentunya demi menyambut ulang tahun Gin, itu harus cukup meriah.
Setiap orang menampilkan pakaian yang bagus. Para pria mengenakan jas glamor dan wanita menggunakan gaun yang cantik. Meskipun para pelayan juga ikut dalam pesta, tapi mereka juga tidak melalaikan tugas dengan pembagian yang sudah ditentukan.
Di aula utama.
Sudah ada banyak orang yang berkumpul dan berbincang-bincang.
Adelyn terlihat tengah sibuk minum bir, ia saat ini mengenakan gaun hitam yang cantik, menampilkan lekuk tubuhnya yang matang, porsi itu tidak kalah dengan Maria. Kulitnya yang putih dan wajahnya cantik menarik perhatian, apalagi tempramen yang dibawa dengan sikapnya hampir membuat para pria tidak bisa berhenti menatapnya.
Di sisinya ada Ana yang juga hampir serupa dengan Adelyn, bedanya ia mengenakan kacamata hitam, dan tidak kalah dibandingkan.
Mereka berdekatan hampir serupa! Bahkan agak aneh menyebutkan mereka ibu dan anak, mereka terlihat lebih seperti adik dan kakak.
Sementara itu, di sisi lain, Maria dengan cerutunya mengenakan gaun merah yang hampir terbuka. Sosoknya benar-benar tidak akan lepas dari para pria, dia cantik dan memiliki tubuh yang panas, itu lebih tampak seperti madam di rumah bordil.
Di tambah wajahnya yang genit benar-benar membuat banyak pria berkeringat sebab tidak kuasa menahan godaan Maria.
Meski demikian tidak ada yang berani mendekatinya karena Maria adalah sahabat tuan mereka.
Maria tidak sendirian, di sampingnya ada Marsha yang juga tampil dengan cantik. Siapa yang mengira bahwa gadis kecil montir ini akan bisa berpenampilan feminim, meski dia hanya gadis kecil, tapi sosoknya yang memiliki wajah imut benar-benar manis.
Ia mengenakan gaun kuning yang pas dengan ukuran tubuhnya. Menambahkan kualitas keimutannya yang periang.
Ava dan Kuro datang bersama. Tidak perlu dikatakan bahwa Ava masih biasa akan tampil anggun dan cantik, ia mengenakan gaun putih yang panjang.
Sedangkan Kuro, pria itu masih tampil membosankan dengan yukata khas miliknya. Sungguh Kuro benar-benar pria tanpa estetika dan tidak pernah memikirkan penampilannya. Bedanya itu tampak lebih bagus dan tidak terlihat terlalu buruk.
Saat itu suara langkah kaki terdengar dari atas tangga.
Itu Rose G. Goshiro.
Gin saat ini terlihat berbeda dengan penampilannya sebelumnya.
Jika Gin sebelumnya tampak seperti bocah aristokrat eropa, maka saat ini Gin seperti orang Shinto.
__ADS_1
Ia mengenakan yukata merah coklat yang agak besar dari tubuhnya di bagian atas, mengenakan celana lebar hitam seperti seorang samurai. Rambutnya yang perak agak panjang sebahu di kuncir kepang kebelakang. Ia juga mengenakan anting dengan pola matahari terbit hitam hadiah ulang tahun ayahnya setahun yang lalu.
Jika Gin mengikat pedang di pinggangnya maka dia akan benar-benar lengkap seperti seorang samurai.
Kuro tersenyum melihat anaknya dan menampilkan jempol, "Kamu keren anakku."
Gin melihat ke bawah dan tersenyum, langkahnya tidak cepat atau lambat saat berjalan dan itu membawa aura kesombongan khas milik Gin sendiri. Ia kemudian menghampiri kedua orang tuanya.
Di tengah-tengah meja pesta, ada kue ulang tahun yang cukup besar dengan tiga tumpukan krim putih.
Gin berdiri di depannya dan mengambil pisau untuk memotong. Tidak ada gerakan istimewa saat memotong, tapi Gin terlihat sangat ahli dan lihai saat melakukannya.
Orang-orang bersorak karena dengan ini pesta telah dimulai. Semua tampak harmonis dengan beberapa orang berbicara satu sama lain, tawa meriah terus datang karena hari ini adalah hari yang menggembirakan.
Gin yang melihat itu semua tidak bisa menahan senyum. Jujur bagi dirinya bahwa di kehidupan sebelumnya ia bahkan tidak berpikir bahwa ulang tahunnya akan dilaksanakan dengan cara semeriah ini, dulu ia bahkan tidak pernah berpikir dalam benaknya untuk membuat pesta ulang tahun, karena ia tidak punya uang dan tidak memiliki seseorang untuk diajak merayakannya.
Tapi di kehidupan ini, Gin bisa mendapatkan itu semua, dan ia tidak bisa berhenti lega karena telah lepas dari kehidupan busuk sebelumnya.
"Baiklah sesi selanjutnya, kita akan berdansa!" Kakek Clause menarik perhatian publik dan menyuruh pemusik untuk memainkan lagu.
Kuro dan Ava sudah menari sendiri mengabaikan orang lainnya. Maria dan Adelyn tidak bisa mengerucut melihat pasangan itu seperti di dunianya sendiri.
Gin melihat hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum masam, ia hanya duduk sambil minum jus melihat beberapa orang berdansa.
"Mm, Gin-san ... "
Itu adalah Marsha yang tampak menghampirinya dengan cara yang malu, wajahnya memerah dan tidak berani menatap Gin secara langsung.
Gin tersenyum melihat gadis imut dan bertanya, "Ya, apa yang bisa saya bantu?"
Marsha sangat malu saat hendak berbicara dan ia seperti menampilkan kepulan asap di kepalanya. Ana yang sedari tadi di samping Gin membisikkan sesuatu.
"Tuan Muda, mungkin ia ingin berdansa denganmu."
Gin memiliki mata sedikit terkejut tapi segera menampilkan senyum, ia mengalihkan perhatiannya pada Marsha dan berdiri.
Dengan sikap layaknya bangsawan, Gin meminta tangan Marsha dengan cara yang elegan.
"Apakah kamu mau berdansa denganku?"
Marsha sedikit malu tapi masih menerima tangan Gin.
__ADS_1
"Tβtapi ... "
Gin sudah menarik tubuh Marsha dekat dengannya dan itu sontak membuat gadis itu terkejut.
"Tapi apa?"
Marsha menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya.
"Itu ... Aku tidak bisa berdansa."
Gin akhirnya menyadari itu dan tersenyum.
"Tidak apa-apa, kamu hanya perlu mengikuti arahanku. Berdansa tidak sesusah itu kok." Gin memberikan instruksi pada Marsha untuk menempelkan tangan kanannya pada pundak kiri Gin, dan tangan kirinya mencengkram erat pada tangan kanan Gin.
"Kamu hanya perlu mengikuti kakiku saja oke. " Gin melangkah secara perlahan maju dan mundur.
Meski pada awalnya Marsha sedikit tersandung dan tidak beraturan, tapi secara perlahan, ia bisa mengikuti langkah kaki Gin.
"Bagus, sekarang ayo buat ini sedikit bervariasi." Gin kemudian melepas pelukan tangannya di pinggang Marsha dan melemparkan dengan salah satu tangannya masih berpegangan.
"Wah!" Marsha kaget.
Gin dengan sigap menarik kembali Marsha dan memutar tangannya membuat Marsha berputar sesuai arahannya.
"Oh! Luar biasa!"
"Mm, mereka berdansa dengan baik."
"Ha! Aku tidak mengira gadis itu bisa berdansa dengan cepat."
Gin mendengar sorak sorai tidak bisa tersenyum, tapi ia masih fokus pada Marsha. Sedangkan Marsha ia tampak panik dan hanya membiarkan dirinya mengikuti ritme Gin.
Akhirnya setelah akhirnya lagu, mereka membuat pose di mana tangan mereka saling menarik dan itu membuat tepuk tangan banyak orang.
"Wahhaa! Luar biasa!"
"Apakah aku juga boleh ikut berdansa?"
Tiba-tiba sosok tak terduga datang dengan jatuh langsung dari langit. Ia bertengger di sisi tangga duduk seolah mengabaikan orang-orang yang menatapnya.
Gin memiliki wajah merengut dan bertanya, "Siapa kamu?"
__ADS_1
Pria itu tertawa aneh dan menjilati pisau putihnya.
"Aku River."