SISTEM KEKAYAAN NEKO

SISTEM KEKAYAAN NEKO
BAB 1 : BABAK BELUR


__ADS_3

"Tok tok tok"


Suara pintu diketuk dengan keras. Membangunkan Athur Demetrio (27 Tahun) dari tidur. Kepalanya masih pusing akibat menenggak anggur semalam. Dengan malas, ia berdiri.


Agar bisa menuju pintu, botol-botol dan beberapa bungkus snack yang berhamburan, disingkirkannya dengan kaki. Abu rokok serta plastik mie instan, yang berserakan di lantai, diinjaknya begitu saja.


"Huaaaah tunggu sebentar." Kata Arthur membuka pintu sambil menguap lebar.


Belum sempat ia mengetahui siapa yang datang, tiba-tiba sepasang tangan menyerbu ke arahnya. Satu tangan ke mulutnya, satunya lagi ke leher.


"Heh sialan, kau berjanji pada bosku untuk membayar hutang. Kucari kemana-mana tidak nampak batang hidungmu. Ini sudah jatuh tempo lebih dari sebulan" Teriak seseorang yang ternyata adalah penagih utang.


Terlihat dua preman berwajah garang, sudah berada di dalam kostnya. Mereka adalah sekumpulan Anak buah Richard. Rentenir tempat Arthur pernah berhutang.


"Mmmmmppph." Ia tidak bisa bicara, karena mulutnya dicengkram orang itu. Sesaat kemudian tanpa aba-aba, preman yang satunya maju, melayangkan tinju ke wajah Arthur.


Menerima tinju itu, ia terhuyung ke belakang. Kemudian datang lagi tendangan, mendarat tepat di bagian ulu hati. Arthur jatuh terjungkal ke belakang beberapa meter. Dua orang tadi lalu menghajarnya secara bersamaan.


"Maaf ampun ampun." Teriak Arthur berkali-kali sambil memohon dan memegang kaki keduanya. Tapi mereka tidak menggubrisnya.


"Gara-gara kau, kami disemprot bos terus terusan"


"Selama sebulan ini kami yang kena getahnya. Pintar sekali ya kau lari." Kata orang itu mengungkapkan kekesalannya. Sambil memukuli Arthur tanpa henti.


Setelah puas, mereka akhirnya berhenti. Wajah Arthur benar-benar hancur, badannya memar dan robek sana-sini.


"Sini jempol mu." Seorang anak buah Richard memegang ibu jari Arthur. Kemudian diangkat dengan paksa dan dioleskan ke luka yang terdapat di bibirnya. Sedangkan preman yang satunya mengeluarkan dua lembar kertas. Kedua kertas itu kemudian dibubuhi darah dari jempol Arthur.


"Oke tugas kami selesai, dengan ini kau sudah setuju." Kata preman yang memegang kertas, sambil melemparkan selembar nya ke Arthur.


Setelahnya, mereka pergi begitu saja.


Arthur yang babak belur mencoba bangun, tapi seluruh tubuhnya sakit tidak mau bergerak. Akhirnya ia hanya merebahkan diri di sana, sambil mengaduh kesakitan.


Sekitar satu jam kemudian, ia mencoba bangun kembali. Kali ini ia berhasil duduk dan kemudian menyandarkan badan ke dinding. Ditatapnya dengan nanar kamar yang awalnya berantakan, kini menjadi lebih berantakan dengan darah di mana-mana.


"Sial sekali hidupku." Pikir Arthur sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. Kemudian matanya melirik ke arah botol minuman sisa tadi malam.


"Mungkin dengan ini bisa sedikit mengobati." Pikir Arthur.


"Gluk gluk gluk arrghhhh." Mulutnya mendesah, diguyur beberapa tegukan anggur.


Begitu minuman itu selesai masuk ke perut, tak sengaja pandangan matanya mengarah pada kertas yang dilempar preman tadi.

__ADS_1


"Apa sih ini." Gumam Arthur.


...SURAT PERJANJIAN...


Dengan ini pihak pertama (Arthur Demetrio) berjanji kepada pihak kedua (Richard Hamington) :


1. Membayar hutang dan bunga sebanyak 100 juta dalam waktu 30 hari sejak perjanjian ini dibuat.


2. Pihak pertama merelakan aset ekonomi yang berharga serta bagian tubuhnya yang vital (jantung, sumsum tulang belakang dan ginjal) sebagai pengganti jika pihak pertama gagal memenuhi poin pertama.


Demikian surat perjanjian ini dibuat dan disetujui oleh kedua pihak dengan keadaan sadar dan tanpa ada paksaan siapapun di atas materai yang berkekuatan hukum.


...(PIHAK PERTAMA)...


...ARTHUR DEMETRIO...


"Deg deg deg.... "


Suara jantung Arthur berdetak kencang, sampai terasa akan lepas, begitu ia selesai membaca.


"Astagaa, ini gila!" Teriak Arthur karena sangat kaget.


Di negara itu, bagaimanapun isi surat perjanjiannya, semua akan sah berdasarkan hukum jika dibubuhi materai serta tanda tangan atau cap jempol.


...----------------...


6 minggu sebelum kejadian.


Arthur adalah seorang karyawan sebuah perusahaan berbasis keuangan. Karena sesuatu hal yang dianggap keteledorannya, ia terkena sanksi dan harus mengganti sebesar 500 juta.


Kebetulan saat itu ia sudah tidak punya uang. Semua tabungannya digunakan untuk kekasihnya Eliena Andrea (24 tahun) yang terus menerus merayu, minta dibelikan mobil.


Selain pacar, ia tak punya teman satupun untuk dimintai tolong. Sejak kecil ia merupakan pribadi yang sangat susah bergaul. Ditambah dengan kesehariannya yang sibuk bekerja dan lembur hingga malam. Orang-orang di kantor yang ia kira bakal kasihan, malah memilih menjauh karena takut terseret kasusnya.


Akhirnya, dalam keadaan bingung, Arthur meminjam ke rentenir dengan bunga 25% dan diberi tempo selama sebulan. Sebuah pilihan frustasi karena tak ada satu orang pun yang mau membantu.


Uang itu kemudian digunakannya untuk membayar sanksi. Arthur takut jika permasalahan itu dibawa ke polisi. Ketidakberuntungan nya terus bertambah. Pihak kantor yang tidak mempercayainya lagi, kemudian memecat Arthur tanpa pesangon.


Dengan ketiadaan uang, akhirnya hutang tak mampu ia bayar. Karena takut jika rentenir mencarinya, Arthur kabur dari kost dan menginap di rumah kekasihnya.


Pada suatu malam saat Eliena pergi. Arthur yang tak pernah keluar rumah, karena takut bertemu rentenir, merasa sangat bosan. Kemudian ia mencoba ke halaman rumah untuk mencari angin segar.


Ternyata di depan pagar ada mobil yang ia belikan untuk kekasihnya. Didorong rasa penasaran, akhirnya ia mendekat dan kemudian menjenguk dari kaca. Yang ia temukan adalah Eliena sedang melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria di dalam mobil.

__ADS_1


"Ngapain kamu, buka bukaa." Teriak Arthur dengan emosi sambil menggedor pintu mobil.


Mendengar suara Arthur, mereka terdiam kaget. Tapi kemudian Eliena dan pria itu tetap meneruskan perbuatannya. Arthur yang melihat itu berteriak-teriak di luar hingga menangis dan terjatuh.


Begitu selesai, mereka kemudian mengenakan bajunya masing-masing. Dengan santainya pintu mobil dibuka, menemui Arthur yang sudah lemas terduduk di tanah.


"Ada apa ?" tanya Eliena tak merasa bersalah.


"Ka-kau berani melakukan ini padaku." Sahut Arthur sembari menangis.


"Kenapa tidak, kau kini hanya pengangguran dengan hutang yang banyak. Di rumahku, kerjamu hanya tiduran saja. Dasar pria bangkrut tak berguna" Kata Eliena dengan pandangan merendahkan.


"Aku mencintaimu buktinya mobil kubelikan untukmu, lalu kenapa kau melakukan ini." Rintih Arthur.


"Loh itu kan hadiah untukku. Surat-suratnya pun atas namaku. Aku sudah tidak menyukaimu lagi. Lelaki ini jauh lebih kaya darimu"


"Secepat itu kau berubah"


"Aku tidak berubah. Kau yang keterlaluan, dulu katamu kau bakal berikan segalanya untukku. Aku sampai merayu berkali-kali hanya untuk sebuah mobil"


"Tapi itu semua hasil dari uang tabunganku, tidak kah kau menghargainya ?"


"Aku tidak peduli, itu urusanmu mau uang dari mana. Yang perlu kau tahu adalah, aku telah memutuskanmu dan memilih lelaki ini. Hidupku akan lebih terjamin dengannya." Sahut Eliena dengan nyaring. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah.


Kemudian perempuan itu kembali, dengan semua barang-barang milik Arthur dan melemparkannya ke jalan.


"Sana pergi, kita sudah bukan siapa-siapa."


Kata Eliena sembari menyeret Arthur keluar, dibantu pria yang tadi bersamanya, lalu mereka meninggalkannya di luar pagar yang telah terkunci.


Arthur yang kesal karena diusir, mengguncang-guncang pagar minta dibukakan. Tapi tak ada respon. Karena kemarahan yang memuncak. Diambilnya beberapa batu, lalu ia melemparkan batu itu ke kaca mobil Eliena yang masih terparkir di luar.


Dengan perasaan marah, ia mengambil semua barang-barang miliknya yang dilempar Eliena. Pemuda itu memutuskan pergi dari sana.


Hanya beberapa langkah berjalan, orang itu terlihat berputar kembali ke arah rumah mantan kekasihnya. Arthur baru sadar, dirinya sudah tidak punya uang lagi. Kemudian ia berpikir sejenak, lalu mengambil dengan paksa dua spion mobil Eliena. Sebagai ganti rugi, pikirnya.


Selanjutnya Arthur pergi ke bengkel terdekat untuk menjualnya. Pihak bengkel bersedia membeli dengan harga jauh di bawah standar.


Sehabis mendapatkan uang, dia pergi sebentar ke bar membeli beberapa botol minuman keras. Setelah itu, Arthur mampir ke minimarket untuk membeli rokok, snack dan beberapa bungkus mie instan.


Selesai belanja ia tidak tahu harus kemana. Akhirnya ia beranikan diri pulang ke kost dan berniat kabur besok paginya sebelum rentenir datang.


Malang tak bisa ditolak. Pria itu terlalu banyak minum dan kemudian tidur terlelap hingga pagi hari.

__ADS_1


__ADS_2