
Seseorang berjalan menyeruak dari kerumunan yang memberikan tepuk tangan serta sorakan pada Arthur.
"Selamat ! kau telah memberikan harapan kepada masyarakat yang menjadi korban gempa, nak."
Dia adalah komandan tentara yang turut membantu mendistribusikan bahan makanan kiriman Arthur.
"Ini hanya hal sepele pak, kehidupan manusia jauh lebih berharga," kilah Arthur pelan.
"Tidakkah kau tahu bahwa dirimu menjadi viral di media sosial karena membantu kami?"
"emang iya pak? saya tidak membuka handphone sama sekali."
Arthur kemudian memeriksa media sosialnya. Dia menemukan dirinya benar-benar menjadi terkenal. Ia melihat namanya menjadi daftar trending di twitter.
Pria itu baru mengetahui bahwa ada banyak orang yang menyumbang karenanya. Ada perasaan bahagia, hal kecil yang dilakukan bisa membuat banyak orang bahagia.
Ia melihat sekeliling, bantuan dari berbagai pihak mulai berdatangan. Misi berhasil ia laksanakan dan korban gempa pun sudah bisa lebih tenang. Merasa hal itu, Arthur berpamitan dengan semua yang ada di sana dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Meninggalkan pengalaman baru yang tidak pernah ia rasakan.
Arthur mengistirahatkan dirinya begitu sampai di rumah. Badannya sangat lelah, dia tertidur mengorok seperti kerbau, hingga esok harinya.
...----------------...
"Bos ayo bangun..."
Suara Robin mengagetkannya pagi itu.
"Eh kau Robin. Ada apa?" kata Arthur sambil menguap.Tubuhnya masih terasa lelah akibat beberapa hari menjadi relawan di lokasi gempa.
"Ini bos," ujarnya sambil menunjukkan layar hp.
Terdapat berita baru, perusahaan yang mereka beli sahamnya 20% anjlok. Harga saham mereka turun drastis.
Umumnya mereka yang bermain di bidang saham, begitu mengetahui berita ini, maka meraka akan merencanakan untuk melepas sahamnya, atau mereka akan rugi besar.
Sebagai seorang investor yang melihat hal itu, harusnya Arthur menjadi khawatir. Tapi karena tujuannya bukan keuntungan, dia malah menjadi sangat bersemangat.
"Cepat.. cepat... beli semua saham mereka !" perintah Arthur kepada Robin.
__ADS_1
"Kita tidak akan mendapatkan untung dari pembelian ini bos, saham mereka tidak berharga,"
Robin mencoba menolak perintah pimpinannya.
"Kau turuti saja, nanti begitu perusahaannya sudah kau beli. Silakan rekrut beberapa karyawan yang memang paham dalam bidang keuangan. Baru kau jalankan program baru, yang berfokus pada keuntungan." Arthur menyampaikan rencananya pada Robin.
Mendengar hal itu si anak buah tersebut langsung bergerak cepat. Seluruh saham perusahaan itu segera ia beli. Sehingga mereka menjadi pemilik lebih dari 95% saham perusahaan itu.
CEO perusahaan yang sejak beberapa hari ini begitu stress karena kondisi perusahaannya,
melihat Robin yang mencoba membeli seluruh saham yang ada. Dengan cepat ia menyetujui pembelian saham itu. Dia berpikir untuk bekerja dengannya saja, daripada menjalankan perusahaan yang pasti akan bangkrut.
Setelah pembelian saham disetujui, mereka mengundang Robin kembali, kali ini ke rumahnya langsung. Niatnya adalah menyampaikan tawaran agar mereka tetap bisa bekerja di perusahaan itu sebagai karyawannya.
Robin yang menerima undangan itu menyampaikan pada pimpinannya. Arthur menyampaikan padanya bahwa kali ini mereka akan pergi berdua.
...----------------...
"Aku harus mempersiapkan sesuatunya sebelum sampai ke rumah si CEO sialan!"
Arthur berniat membeli item di Neko System yang mungkin memudahkannya untuk mencari informasi.
Seperti rencana yang sudah di susun, Robin terlebih dahulu pergi menuju lokasi undangan. Sampai di sana, Robin memberitahu bahwa ia sebenarnya memiliki seorang bos. CEO itu kaget begitu mengetahui hal tersebut. Ia kemudian menyampaikan pada Robin agar bisa bertemu dengan bosnya.
Robin kemudian berakting seolah menelpon Arthur memintanya datang ke rumah si CEO. Padahal hal itu memang sudah sesuai dengan rencana mereka.
"Halo bos, apa kabar?" kata Arthur menyapa mantan bosnya.
"Ka-kau, kenapa kau kesini?" pria itu shock begitu mengetahui Arthur datang.
"Aku adalah bosnya si Robin."
"Tidak mungkin! bukannya kau tidak mampu bayar dengan Richard !?"
"Wow darimana kau kenal dengan Richard?" Arthur terlonjak seolah kaget dengan senyum masih di bibirnya.
"Anu aku....aku.. kau.... " CEO itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
"Akhhhhh..."
Tanpa diduga Arthur menyerangnya, tangan kiri mencekik leher mantan bosnya itu, sedangkan tangan kanannya melayangkan pukulan ke. wajahnya.
"Bukkk...."
"Apa-apaan in...." Tidak sempat si CEO menyelesaikan ucapannya. Tangan Arthur berpindah dari leher ke mulutnya. Lalu dengan paksa, ia meneteskan cairan kejujuran ke mulutnya.
Di sudut ruangan, Robin yang terkejut melihat semua adegan itu, sempat mencoba menangkap Arthur. Tapi ia terlambat, cairan itu sudah masuk ke dalam mulut si CEO. Begitu pria itu menelan item itu, ia langsung lemas dengan mata yang masih terbuka.
"Bos, kenapa ini?" Robin yang tidak mengetahui cerita sebenarnya, takut jika dia dilibatkan dalam perilaku kriminal.
"Orang ini telah menipuku, menyebabkanku hampir kehilangan organ tubuh," kata Arthur mundur sembari membersihkan tangannya dengan sapu tangan.
"Aku tidak mengerti bos..." kata Robin lagi.
"Kau hanya perlu membantuku merekam yang dia sampaikan," ujar Arthur dengan nada yang lebih tenang, begitu ia bisa menguasai diri.
Mereka berdua kemudian melakukan interogasi pada orang itu. Arthur bertanya langsung kepadanya dengan dibantu oleh Robin yang merekam pembicaraan itu.
Dari sana diketahui bahwa ternyata selain Arthur, ada banyak mantan karyawan yang bernasib sama. Mereka semua ditipu dengan modus yang seperti Arthur, dibuat sebuah kesalahan yang seolah mereka lah penyebabnya. Sehingga harus membayar denda pada perusahaan itu.
Selain itu juga diketahui bahwa perusahaan itu ditekan oleh seorang pengusaha kaya di pasar gelap yang bernama Jhon Blake (39 tahun). Karena kesalahan si CEO, perusahaan itu dipaksa untuk membayar uang dengan jumlah yang sangat besar padanya.
Merasa tidak memiliki solusi lain, maka menipu karyawan pun mereka lakukan. Hingga kasus Arthur dan mantan karyawan lainnya terjadi. Mereka juga bekerjasama dengan Richard untuk melakukan tindakan kejahatan, yaitu menjual organ tubuh manusia.
Arthur yang mendengar hal itu, benar-benar murka. Setelah menyuruh Robin untuk berhenti merekam, ia meminta data-data semua karyawan yang turut ditipu oleh perusahaan itu.
Begitu datanya ia pegang, di sana ada informasi bahwa total karyawan yang ditipu mencapai 30 orang. Dan 25 orang sudah meninggal, karena organ tubuhnya diambil. Sedangkan sisanya tinggal menunggu waktu saja.
Marah Arthur semakin menjadi-jadi. Dia ingin sekali menghajar orang itu, tapi kemudian ia berubah pikiran. Dengan bukti yang cukup, orang itu ia bawa ke kantor polisi.
Polisi yang menerima pengaduan Arthur, lalu meminta Arthur menyampaikan bukti-bukti. Rekaman dan data yang ditemukan di rumah si CEO kemudian ia berikan kepada polisi. Setelahnya mereka diminta untuk pulang, sedangkan si pelaku harus mendekam di penjara hingga diputuskan nasibnya kelak di persidangan.
Arthur sangat lega setelah ia menyerahkannya ke polisi.
"Robin, setelah ini kau harus memimpin perusahaan itu. Akan kuberikan modal beberapa miliar untukmu membuat program agar kita bisa mengubah situasi yang rugi ini menjadi mendapat keuntungan." kata Arthur.
__ADS_1
"Kau serius ini bos?" mata Robin terlihat berkaca-kaca
"Tentu saja aku serius, tugasmu hanya perlu melaporkan apa saja yang kau lakukan setiap hari dan mengikuti arahan lainnya dariku"