SISTEM KEKAYAAN NEKO

SISTEM KEKAYAAN NEKO
BAB 10 : KENYATAAN


__ADS_3

Ternyata suara itu dari Arthur. Di sana terlihat ia sedang berusaha berdiri, sambil menyeka hidung yang mengucurkan darah.


"Hey bocah. Kau tak perlu ikut campur. Aku bisa. menyelesaikan mereka sendiri. Sekalipun bertiga, tetap tidak akan bisa mengalahkanku.... mantan juara tinju nasional," kata si pelatih dengan suara penuh kebanggaan.


"Kau mungkin bisa mengalahkannya dengan tinju. Tapi kau tidak bisa menang melawan hukum," sahut Arthur pada pelatih Mike.


"Lalu apa mau mu?"


"Aku akan menyelesaikan masalah kalian berempat"


"hah bocah kecil yang babak belur dengan dua pukulan, mau menyelesaikan masalah kami. Jangan mimpi!" teriak mike meremehkan.


"ayo sini duduk sebentar, kita bicara"


"Ah banyak bacot. Jangan ganggu urusan kami," kata salah satu penyerang sasana, yang bergerak maju kearah Mike.


sekonyong-konyong dari atas sesuatu jatuh ke hadapan mereka.


"Tap... tap.. tap"


suasana yang panas itu tiba-tiba hening, ternyata yang jatuh adalah beberapa gepok uang


Mereka semua melongo. Arthur melemparkan uang itu dan nyatanya adalah cara yang paling cepat untuk menghentikan perkelahian.


"HAH ! apa maksudmu melemparkan uang pada kami ?!" pelatih Mike murka di bawah. Dia merasa direndahkan dengan uang itu.


"Aku ingin menghentikan kalian. Tapi kalian tidak mau mendengarkan. Itu uang dua puluh lima juta, untuk membayar hutang Mike sekaligus bunganya. Silahkan ambil, lalu pergi dari tempat ini"


Semua penyerang Mike yang awalnya marah di bawah ring, terlihat diam saling menatap. Mereka kemudian memungut uang itu dan pergi tanpa suara. Dalam pikiran masing-masing, untuk apa bertarung, toh mereka tidak mungkin sanggup mengalahkan si pelatih.


Mike hanya diam melihat mereka pergi. Perlahan-lahan sikapnya terlihat lebih tenang. Wajah amarahnya karena merasa direndahkan, sudah lebih mencair.


Arthur berjalan sambil tertatih, menuju kursi yang terdapat di samping pelatih Mike.


"Maafkan atas kelancanganku," kata pria yang babak belur itu pelan.


"Apa yang kau mau? mengapa membantuku"


"Aku perlu pertolonganmu. Bersediakah kau mendengarkan sebentar"


Pelatih Mike hanya mengangguk pelan. Kemudian ia berjalan ke ruangannya, mengambil kursi dan sebungkus tisu. Kemudian Mike duduk di depan Arthur dan memberikan tisu itu padanya.


"Terima kasih," kata Arthur sambil menyeka darah di wajahnya.


Arthur kemudian bercerita alasan mengapa dirinya memaksa berlatih tinju adalah karena hutangnya dan keinginan untuk membalas pemukulan para anak buah Richard.


"Bantuan apa yang bisa kuberikan?"


"Aku mau minta kau menemaniku membalas dendam pada Richard dan kawan-kawan"


"Untuk itu aku tidak bisa memutuskannya. Aku tidak pernah mendapatkan pekerjaan semacam ini."


"Kau akan kuberi uang tambahan 25 juta, yang bisa kau gunakan untuk keperluan lain." kata Arthur mencoba melakukan negosiasi.

__ADS_1


Pelatih Mike kemudian memandang di sekitarnya. Pria itu ingin merenovasi tempat ini, tapi tidak punya biaya. Dengan tambahan uang dari Arthur, mike rasa itu akan cukup untuk melakukan sedikit perbaikan pada sasana itu.


".......... "


Setelah diam sejenak akhirnya ia menjawab,


"baiklah aku setuju. Nanti juga akan kubawa beberapa orang murid yang dulu pernah berlatih di tempat ini"


Arthur nampak puas dengan jawaban Mike, kemudian ia berkata,


"jadi rencananya begini..."


Arthur kemudian menjelaskan apa yang mesti dilakukan untuk besok. Setelah itu mereka berpisah, kemudian Arthur pulang menuju kontrakannya.


...----------------...


Sejak pagi, perasaan Arthur tidak menentu. Gugup, bersemangat dan kemarahan bercampur menjadi satu. Satu bulan penuh penderitaan dan petualangan akan segera berakhir.


Usai menghubungi kelompok Mike dan menaruh uang di dalam koper, kemudian Arthur keluar dari kontrakan menuju markas Richard, di tengah kota. Kantornya terdapat di lantai tiga sebuah gedung.


Begitu sampai, ia masuk ke sana sendiri sambil menenteng sebuah koper dan langsung menuju ke ruang tempat Richard berada.


"tok... tok... tok"


Seorang preman berbadan besar membuka pintu dan kemudian berbicara pada Arthur.


"Mau apa kau di sini?"


Preman itu memeriksa badan Arthur, mencari sesuatu yang berbahaya. Ketika tidak ditemukan apa-apa, akhirnya ia dipersilahkan untuk masuk. Sampai di dalam, Richard duduk di kursi kerjanya, dengan dua kaki di atas meja.


"Hei Arthur apa kabar ? apa kau datang dengan membawa uangku ? atau kau datang kesini hanya untuk mengantarkan organ tubuhmu" ujarnya sambil tersenyum licik.


Arthur menyodorkan tas koper yang berisi uang.


"Ini uangmu. Hutang ku bayar lunas beserta bunganya" kata Arthur sambil memperlihatkan banyak lembaran seratus dan lima puluh ribu di dalam koper.


"cih... bisa juga kau mendapatkan uang. Padahal aku harap kau gagal haha."


Richard tertawa dengan nada yang meremehkan.


"Ngomong-ngomong mana anak buahmu yang menagih hutang padaku sebulan yang lalu?" kata Arthur seolah tidak peduli.


"Mereka kusuruh membeli sesuatu, ada perlu apa kau"


"aku akan membalas perlakuan mereka padaku," kata Arthur dengan enteng.


Richard mengernyitkan dahinya. Apa orang ini sudah gila, pikirnya. Apa dia lupa kalau sedang berada di sarang harimau.


ketika Arthur dan Richard sedang berbicara, dari depan pintu terdengar suara ketukan,


"tok... tok... tok"


"Panjang umur, baru saja dibicarakan mereka sudah datang." Ucap Richard senang.Kemudian ia menggerakkan jari tunjuknya, untuk memerintahkan preman di sampingnya untuk membuka pintu.

__ADS_1


Ketika si preman membuka pintu, dari depan beberapa pukulan menyerangnya.


"Buk... bukk... buk"


Ternyata itu Mike dan kawan-kawan. Mereka menyerang preman itu dengan semangat. Akhirnya ia jatuh dalam keadaan bersujud.


"Apa-apaan ini?" tanya Richard kaget.


"Aku sudah bilang, kan. Ingin membalas perlakuan anak buahmu kepadaku"


"Hei kalian sialan, apa yang kalian lakukan pada temanku!!" terdengar teriakan dari depan pintu. Rupanya orang-orang yang disuruh Richard membeli sesuatu sudah kembali.


"Wusshhhh"


Langsung saja mike menyerbu dan menyerang mereka. Dua preman tadi kaget, dalam sekejap mereka memasang kuda-kuda.


Hanya saja, lawannya adalah seorang juara tinju tingkat nasional. Dalam satu menit, tiga preman sudah berhasil mereka ikat, dengan wajah dan tubuh yang babak belur.


"Sekarang tinggal kau seorang," tunjuk Arthur.


"Kalian mau apa HAH !!?" Richard mengeluarkan pisau dari pinggangnya.


Tapi kelompok Mike tidak gentar. Mereka tetap maju. Richard kemudian menusukkan pisaunya ke arah depan. Setelah beberapa kali mengelak, mudah saja pria yang tidak memiliki basic bela diri itu dilumpuhkan.


Usai meringkus mereka semua, Mike kemudian menatap Arthur, bertanya apa lagi yang harus dilakukan selanjutnya.


"Aku sudah menunggu momen ini dalam sebulan. Sini pisaunya biar ku cincang mereka." Dengan pisau di tangan Arthur mencoba menakut-nakuti komplotan itu. Meski dia tidak ada rencana untuk melukai mereka.


"Jangan kau coba lakukan apapun padaku. Aku juga disuruh seseorang." Kata Richard ketakutan begitu pisau Arthur tempelkan di wajahnya.


"hah... apa maksudmu disuruh orang?" tanyanya begitu mendengar kata-kata itu..


"I-iiya, perusahaan tempat kau bekerja dulu, telah menjebakmu. Mereka mengatur semuanya, hingga akhirnya kau berhutang di tempatku"


"dari mana ku tahu bahwa kau bicara jujur?"


"silahkan cek hp ku, maka kau akan temukan screenshot chatku dengan bosmu dulu"


Arthur kemudian mengambil hp Richard di atas meja. Kemudian memeriksa galerinya.


Yang ia temukan mengagetkannya, banyak foto-foto perempuan yang tidak senonoh. Korban mereka yang berhutanh pada Richard.


"Sialan kau setan! jahat sekali kau menjebak wanita-wanita ini !" Arthur sangat marah melihatnya. Ia menendang Richard yang tengah terikat.


"Aduh.... ampun" kata Richard mengaduh.


Usai menendang, kemudian Arthur mencari screenshot yang dimaksud, hingga ia menemukan foto yang dimaksud.


Begitu melihat tulisan di gambar itu, tak terasa air matanya menetes di pipi.


Dirinya merasa sudah bekerja sangat keras di perusahaan itu. Waktu, tenaga dan segalanya sudah ia curahkan. Tapi yang terjadi malah seperti ini. Emosi, sedih, lelah ia rasakan. Perasaannya menjadi bercampur aduk.


"Kenapa...kenapa... Mereka jahat sekali padaku."

__ADS_1


__ADS_2